Pendekar Kilat

Pendekar Kilat
Bab 54 Kerajaan Indra jaya


__ADS_3

Butuh waktu dua hari bagi panglima Arta sandira dan prajurit di sana untuk mengobati para prajurit dan para kawanan perampok Bujang gila yang terluka, baru lah setelah itu mereka meninggalkan padang rumput tempat mereka yang semula hanya berburu sekarang pulang lebih awal dengan membawa puluhan orang tawanan perampok yang selama ini di cari pihak kerajaan.


Dengan di bantu prajurit dari Kadipaten Guguk tengah maka rombongan panglima Arta sandira yang menunggang kuda itu bergerak pelan meninggalkan padang rumput yang jadi saksi pernah terjadi pertempuran sengit di sana, tuan putri Kumala dewi sendiri berkuda di sebelah panglima yang terlihat gagah dengan pakaian kebesaran kerajaan Indra jaya.


Iring iringan besar itu membuat penduduk kampung yang mereka lewati keluar semua untuk melihat tertangkap nya gembong perampok yang sangat di takuti mereka selama ini, dan mereka pun sangat kagum dan menyanjung tuan putri Kumala dewi serta panglima Arta sandira yang telah berhasil meringkus komplotan perampok yang besar dan sangat meresahkan masyarakat.


Dengan cepat kabar tentang tertangkap nya gembong penjahat Bujang gila ini tersebar di seluruh wilayah kerajaan Indra jaya, hingga berita itu pun sampai juga di istana kerajaan Baginda raja Aria lelono sangat senang mendengar kabar itu, dia pun menyiapkan sepasukan prajurit berkuda menyongsong kedatangan putri nya beserta panglima Arta sandira yang sangat di elu elukan masyarakat karena keberhasilan nya itu.


Setelah dua hari melakukan perjalanan yang biasanya hanya di tempuh dengan sehari perjalanan berkuda iring iringan besar yang telah bergabung dengan rombongan yang di utus untuk menyusul oleh Baginda raja itu pun sampai di gerbang kerajaan Indra jaya dan langsung di sambut oleh Baginda raja Aria lelono itu sendiri beserta seluruh pejabat istana.


Tuan putri Kumala dewi langsung turun dari kuda dan memberi hormat kepada ayahandanya yang langsung di peluk hangat oleh beliau, setelah itu dia di persilahkan untuk menemui Ibunda nya yang menunggu dengan cemas putri semata wayang nya itu. Sementara panglima Arta sandira sendiri setelah memberi hormat langsung oleh Baginda raja di ajak masuk ke dalam ruangan istana yang di ikuti oleh yang lain dan para tawanan telah di pindahkan ke dalam tahanan yang ada di kerajaan, khusus untuk Bujang gila pemimpin gerombolan itu di sediakan sebuah penjara khusus untuk nya yang di jaga ketat oleh para prajurit.

__ADS_1


Setelah berada dalam ruangan istana dengan tidak sabar Baginda raja meminta panglima Arta sandira untuk menceritakan semua hal tentang tertangkap nya gembong penjahat itu beserta semua gerombolan nya, dengan rinci dan tidak di kurang atau pun di tambahi panglima Arta sandira menceritakan dari awal mereka di sergap hingga tertangkap nya Bujang gila tidak lupa dia menceritakan tentang seorang pendekar muda yang datang sebagai dewa penyelamat bagi pihak kerajaan yang datang secara misterius ke tempat mereka bertempur.


Akan tetapi panglima ini tidak menceritakan di sana tentang ciri ciri pemuda itu yang sangat mirip dengan mendiang kakak nya Baginda raja yaitu putra mahkota Jaka anggara yang telah tiada, panglima ini akan menceritakan nanti setelah ada waktu berdua dengan Baginda karena akan terjadi pro dan kontra kalau dia ceritakan tentang ciri pemuda itu di sini.


Setelah dua jam melakukan pertemuan di ruangan istana itu akhirnya panglima Arta sandira di perbolehkan untuk pulang dan pertemuan itu pun di bubarkan setelah mendapat titik terang tentang hukuman bagi gembong rampok Bujang gila, akan tetapi sebelum panglima itu meninggalkan ruangan Baginda raja kembali memanggilnya.


"Sepertinya ada sesuatu yang bersifat pribadi yang ingin kamu sampaikan sahabat ku,,


Ucap Baginda raja pelan yang mengerti akan keadaan panglima sekaligus sahabat nya itu yang menyimpan sesuatu masalah karena dia mengetahui watak dari panglima nya ini.


" Baik Baginda nanti malam hamba ke sana dan memang ada yang hendak hamba utarakan,,, Hamba mohon diri dulu!!!

__ADS_1


Panglima Arta sandira memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan itu yang paling terakhir, dia cukup puas karena junjungannya itu mengerti akan suatu masalah yang di simpan nya semenjak datang ke istana.


Bayu menelusuri keadaan dan kehidupan rakyat di setiap kampung yang di laluinya setelah meninggalkan arena pertempuran dua hari yang lalu, dari pengamatan yang di lihat serta informasi dari penduduk yang di dapat nya Bayu pun mengambil kesimpulan ternyata paman nya itu memerintah dengan cukup adil karena di setiap kampung yang di laluinya kehidupan rakyat di sana cukup sejahtera tidak ada ketimpangan sosial.


Dia pun merasa cukup bersukur ternyata paman nya itu telah berubah sifatnyasifatnya tidak seperti yang selama ini dia dengar dari kakek nya, maka Bayu tidak akan membikin perhitungan dengan paman nya ini seandainya memang benar seperti ini situasi sekarang di kerajaan milik mendiang kakek nya.


Sembari berjalan pelan tidak bosan nya Bayu menatap dan memuji keindahan alam serta kesuburan tanah kelahirannya, dengan ramah dia menyapa para petani yang di jumpai di setiap sawah dan kebun yang di lewati selama perjalanan, dan tidak sedikit dari mereka yang menawarkan Bayu untuk mampir sebentar di gubuk sawah itu karena mereka memaklumi kehidupan seorang pengembara seperti Bayu.


Dengan halus dan mengucapkan terimakasih Bayu menolak semua tawaran dari para petani yang di jumpai selama perjalanan, karena kalau di turutin Bayu takut mengganggu pekerjaan mereka dan lagian dia pun belum merasa haus sebab bumi di tanah kelahirannya itu sangat subur di mana mana gampang menemukan sumber air karena mereka menjaga kelestarian alam nya.


Suasana di dalam ruangan semedi Baginda raja Aria lelono menjadi sepi dan hening setelah sang Baginda mendengar cerita dari sahabat yang sangat di percaya nya itu panglima Arta sandira tentang pemuda yang menjadi sosok penolong pihak nya sewaktu bertempur melawan gerombolan Bujang gila, awalnya Baginda ini tidak percaya tetapi setelah panglima Arta sandira menjelaskan tentang ilmu totokan yang membuat Bujang gila dan para pengikutnya yang ilmu nya telah di punah kan oleh pemuda tersebut baru lah Baginda ini percaya, karena dia sendiri pun mengetahui bahwa yang memiliki ilmu langka itu hanyalah keturunan dari Sesepuh pendekar dewa matahari yang tidak lain adalah mertua dari mendiang kakaknya sendiri yang mati di tangan nya sewaktu terjadi kemelut berdarah di kerajaan Indra jaya lima belas tahun yang lalu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2