
Setelah pertemuan dengan kedua gadis cantik itu di sungai, Bayu pun mengikuti perjalanan kedua gadis itu dan sampai lah ketika pagi itu terungkap Identitas siapa kedua gadis itu, Bayu cukup kaget ternyata salah satu gadis adalah putri dari adipati bantar angin ini.
Bayu pun sedikit ragu untuk memasuki kota Kadipaten itu, karena setiap orang yang keluar masuk diperiksa dengan ketat, dia pun cukup terkejut melihat situasi di kota Kadipaten itu terlihat pengamanan dan kesibukan prajurit hilir mudik cukup sibuk disana. akhirnya dia memutuskan untuk mencari informasi dulu sembari berbalik arah menjauhi kota Kadipaten itu.
Sementara itu di tempat baginda raja Durataka hari itu, di alun-alun kerajaan tepat nya di bagian depan istana itu, ribuan prajurit bersenjata lengkap memenuhi alun alun kota raja itu. kalo dihitung mungkin sekitar lima belas ribu prajurit, mereka berbaris teratur menghadapi ke panggung yang ada ditengah tengah nya, mereka pun mendengarkan langsung sang raja berbicara di atas panggung dengan di sepuluh orang panglima berdiri di belakang nya.
Atas instruktsi raja nya mereka besok pagi sebelum matahari terbit mereka sudah meninggal kan istana ini untuk bergerak ke Kadipaten bantar angin dengan tujuan Membumihangus kan Kadipaten itu, dan adipati wira sentana harus di tangkap hidup atau mati.
Baginda raja Durataka begitu murka, dia sangat dipermalukan oleh adipati wira sentana, setelah kedatangan kedua utusan nya dari Kadipaten bantar angin kemarin, dan mendengar Jawaban dari adipati itu yang menolak lamaran nya membuat emosi sang raja langsung meledak, sampai kedua utusan itu terlempar ke luar istana di tendang oleh Raja Durataka itu. Dan tanpa perundingan dulu dia memanggil seluruh panglima dan senopati untuk mengumpulkan semua prajurit untuk menggempur Kadipaten bantar angin.
__ADS_1
Seorang pria berumur tiga puluh tahun memacu kudanya dengan kencang, terlihat pakaian dan kudanya begitu kotor sepertinya dia telah melakukan perjalanan berhari-hari, sesampainya di perbatasan dan mau memasuki Kadipaten bantar angin, diapun melompat dari kudanya dan menemui para prajurit yang berada di pos pemantau yang baru berdiri kemarin itu. Cuma sebentar dia berbicara dengan pemimpin kelompok itu dan langsung melanjutkan perjalanan dengan kuda yang baru dan masih segar yang di bawakan prajurit disana tadi, Rupanya dia anggota telik sandi Kadipaten Bantar angin dan dia membawa berita cukup penting untuk adipati.
Anggota telik sandi itupun memasuki gerbang kota dengan memelankan sedikit kudanya diapun memperlihatkan sebuah lencana dengan tangan kiri nya, para prajurit di pintu gerbang itupun mengerti dan langsung memberi jalan orang itu dan langsung ia memacu kudanya.
Dan tidak lama antara nya diapun memasuki kawasan istana Kadipaten itu dan langsung meloncat dari kudanya sembari memberikan kudanya itu kepada prajurit yang berjaga disana. Diapun langsung berjalan ke pendapa istana dan menemui adipati Wira sentana yang sudah berdiri terlebih dahulu melihat kedatangan nya.
Adipati Wira sentana cukup terkejut dengan informasi itu, dia tidak menyangka secepat itu raja Durataka memutuskan untuk menyerang. Akhirnya dia langsung memanggil semua senopati dan panglima nya berikut para pemimpin dari padepokan yang sudah berkumpul disana dia langsung mengadakan perundingan pagi itu.
Dan sebuah keputusan pun di dapat, setelah berbagai macam pendapat terjadi sebelumnya, akhirnya mereka menemukan titik temu yaitu mereka akan mencegat pasukan kerajaan di perbatasan Kadipaten, karena posisi disitu cukup strategis dan mereka cukup di untung kan. karena disitu terdapat padang rumput yang cukup luas dan cuma itu satu satunya akses bagi pasukan musuh untuk ke Kadipaten ini. Di kanan kiri padang itu diapit oleh perbukitan, jadi pasukan di pecah menjadi tiga kelompok, satu sisi bukit ditempati oleh lima ratus regu pemanah dan di belakangnya lima ratus pasukan berkuda jadi di kiri kanan bukit terdapat dua ribu orang pasukan, sementara sisa nya di pasukan induk yang langsung dipimipin oleh sang adipati sendiri.
__ADS_1
Gegap-gempita suara prajurit yang mulai berjejer rapi dengan senjata lengkap berdiri di depan istana Kadipaten bantar angin itu. mereka tinggal menunggu instruksi dari para senopati dan panglima disana yang terlihat masih berunding dengan beberapa pemimpin padepokan yang ikut membantu.
Di tengah kesibukan persiapan perang di depan istana Kadipaten itu, terlihat dua orang penunggang kuda dengan di iringi empat orang perwira prajurit memasuki gerbang istana, ternyata mereka senopati dan seorang panglima perang dari Kerajaan Rokan yang kemarin mengirimkan utusan nya. Adipati Wira sentana langsung menyambut kedua orang itu dan mereka melaporkan pasukan mereka sebanyak tiga ribu prajurit berkuda sudah menunggu dan siap membantu,, soalnya dari laporan telik sandi mereka pasukan kerajaan pagar lembayung sudah bersiap untuk menyerang, makanya kami memilih tiga ribu prajurit berkuda semua, biar bisa cepat sampai disini dan sukur belum terlambat,,,jelas panglima nya itu,,
Sekarang pasukan nya sengaja di tinggal di perbatasan, biar tidak terlalu mencolok katanya.
Adipati pun mengajak mereka bergabung dengan para panglima dan senopati bantar angin untuk menjelaskan siasat perang yang mereka terapkan nanti.
Bersambung......
__ADS_1