
Waktu tu pun beranjak dengan pasti, semakin malam hawa dingin pun semakin menusuk ke tulang, sesekali terdengar lolongan serigala menambah mencekam situasi malam itu. Bayu pun dari tadi semakin mempertajam indera pendengaran nya, karena dia merasakan firasat yang tidak enak dari tadi.
Dengan sembunyi di atas sebuah pohon di pinggir kampung yang aneh itu, mata nya tidak pernah lepas mengawasi keadaan sekitar perkampungan yang kelihatan tidak berpenghuni itu. Dan ketika waktu sampai di pertengahan malam dari jauh Bayu pun mendengar belasan derap langkah kaki kuda yang menuju ke arah situ.
Bayu pun mempertajam penglihatannya dengan menerapkan ilmu mata rembulan yang efek nya dia seperti melihat di waktu siang hari saja, dari kejauhan Bayu pun melihat sekitar lima belas orang berpakaian seperti jubah berwarna serba merah dengan menunggang kuda dan di dada jubah itu terlihat gambar kepala serigala, masing masing dari mereka membawa senjata seperti tombak dengan panjang hampir dua meter tetapi ujung tombak itu seperti sabit, ya sabit yang berhulu panjang.
Kawanan orang orang itupun mulai mendekati kampung itu, tanpa saling berbicara mereka terus memacu kudanya memasuki perkampungan itu, mereka pun melewati pohon tempat Bayu bertengger dan perlahan Bayu pun bergerak mengikuti mereka dengan berloncatan dari pohon ke pohon, tanpa di ketahui oleh orang orang itu.
__ADS_1
Ternyata mereka menuju ke rumah paling besar di kampung itu yang tadi di lewati Bayu, sesampainya di halaman rumah besar itu mereka pun berhenti tanpa satupun yang turun dari kudanya masing-masing.
" Lurah Saketi keluar lah,! Tenggang waktu yang kami berikan sudah habis.... teriak salah satu dari kawanan orang orang berjubah merah itu lantang. Sepertinya dia pemimpin dari gerombolan itu.
"jangan membuat kesabaran ku habis, apa tidak cukup waktu tiga hari yang kuberikan kepadamu,?.. timpal nya lagi dan suara nya lebih keras karena menahan marah.
Tidak berselang lama terdengar teriakan tangisan perempuan dari dalam rumah besar itu, rupanya itu adalah suara dari istri dan anak gadis penghuni rumah yang ternyata adalah kepala desa di kampung itu, rupanya yang membuat seluruh keadaan di desa itu ketakutan adalah dengan datang nya gerombolan orang yang berjubah merah ini ke kampung itu tiga hari yang lalu, mereka memaksa meminta sebanyak tujuh orang gadis perawan untuk di serahkan kepada mereka tiga hari lagi, tetapi yang benar-benar murni masih perawan, katanya untuk persembahan bagi pimpinan mereka yang bermarkas di sebuah gunung yang tidak jauh dari kampung itu, karena beberapa hari lagi adalah bulan purnama yaitu puncak acara persembahan ritual mereka itu.
__ADS_1
Awalnya nya para sesepuh dan penduduk kampung itu yang mempunyai ilmu beladiri melakukan perlawanan mereka tidak Terima dengan tujuan dari gerombolan itu ke kampung nya, tetapi ternyata orang orang yang datang ke kampung nya itu ilmu nya rata rata berada di atas mereka, dengan sangat mudah nya gerombolan itu membantai para penduduk yang berani membangkang kepada mereka, hingga banyak dari pemuda di kampung itu yang meninggal dengan sadis, mereka pun seperti membantai binatang saja pemuda pemuda kampung itu.
Akhirnya gerombolan itu pun pergi dengan meninggalkan pesan supaya tiga hari lagi pesanan tujuh orang gadis yang benar benar masih perawan itu sudah harus ada, kalo tidak mereka mengancam akan membumihanguskan kampung itu, dan mereka pun juga mengancam agar penduduk di sana jangan ada yang mencoba untuk lari atau meminta bantuan ke luar karena mereka telah mengawasi sekeliling dari kampung itu. Jikalau ada yang berani lari maka mereka akan membunuh semua keluarga nya ancam gerombolan berjubah merah itu.
Lurah Saketi adalah orang pertama kemarin itu yang melakukan perlawanan bersama putra laki-laki nya yang akhirnya terbunuh oleh gerombolan itu, sementara lurah Saketi sendiri pria tua berumur enam puluh tahunan yang masih kelihatan kekar dan kuat itu mengalami luka luka yang cukup parah di sekujur tubuh nya dan beberapa orang Abdi serta sesepuh kampung itu juga bernasib sama dengan nya bahkan ada beberapa orang di antaranya yang meninggal.
Akhirnya semua penduduk kampung itu hanya bisa pasrah setelah kepergian gerombolan jubah merah tiga hari yang lalu dari kampung yang dulunya aman dan damai itu. mereka pun tidak punya keberanian lagi untuk melawan mereka, bagi penduduk yang punya anak perawan hanya bisa menangis dan pasrah, mereka hanya bisa berharap dan berdoa supaya datang nya suatu keajaiban dengan datang nya seorang Dewa penolong bagi mereka, hingga magrib tadi sewaktu Bayu melintasi rumah rumah di sana dengan menyapa dan mengetuk ngetuk pintu rumah mereka membuat seisi rumah itu makin ketakutan, disangka nya Bayu adalah utusan dari gerombolan jubah merah yang mereka takuti itu.
__ADS_1
bersambung...