
Dentingan suara pedang yang beradu memecah kesunyian di pagi itu, makin lama suaranya makin kencang, terlihat dua orang gadis satu berbaju merah muda dan satu nya lagi berbaju hijau, mereka saling jual beli serangan beradu keindahan ilmu pedang sepertinya kalau di lihat gadis berbaju merah muda sedikit lebih unggul, ketenangan dan kecepatan nya begitu merepotkan lawan, walaupun gadis yang berbaju hijau memiliki pertahanan yang bagus dan kokoh tetapi di serang terus menerus akhirnya mulai terdesak juga.
Memang terbukti selang berapa menit pedang dari gadis yang berbaju hijau terlepas dan ujung pedang gadis berbaju merah muda pun menempel di lehernya.
Terdengar tepuk tangan dari arah belakang mereka.
"Cukup latihan buat pagi ini anak anak ku..sahut seorang wanita paruh baya, yang sudah berada diantara kedua gadis yang berlatih tadi itu.
"Kalian bersihkan badan habis itu temui guru di pondok". tambah nya lagi.
"Baik guru,, jawab mereka serempak, sembari memberi hormat dan berlalu ke belakang.
Siapa kah sosok wanita separuh baya dan kedua gadis itu,,? Wanita separuh baya itu sebenarnya adalah seorang pendekar wanita yang dulu cukup di segani di dunia persilatan, sudah dua puluh tahunan ini dia telah mengundurkan diri dan memilih menyepi dan menetap di lereng gunung Kerinci ini.
Nama nya adalah nyai Purbani dan bergelar pendekar Walet putih, sedangkan gadis yang berbaju merah muda namanya Melati suci telah berumur delapan belas tahun adalah keponakannya sendiri, putri dari Adipati bantar angin yang mana selama sepuluh tahun ini tinggal bersama dia, yaitu semenjak sang ibunda nya sekaligus adik satu satunya dari nyai Purbani meninggal, dan sang Adipati sudah kawin lagi.
Paling dia dua tahun sekali pulang melihat ayahandanya itu dan terkadang tuan Adipati sendiri yang menjenguk dia kesana kalo merasa rindu terhadap putri kesayangannya.
Melati suci tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan lembut,,mirip sekali dengan mendiang ibunya, tapi jangan terkecoh di samping kecantikan dan kelembutannya itu tersimpan kekuatan yang besar semua ilmu dari nyai Purbani telah di serap habis oleh nya, di samping ilmu dari adipati sendiri yang sangat di segani itu.
__ADS_1
Sedangkan gadis yang satunya lagi bernama Anggun sunyi yang berbaju serba hijau, dia setahun lebih muda dari Melati, dia seorang yatim piatu keluarga serta desa tempat dia tinggal musnah di bantai kawanan perampok sepuluh tahun yang lalu.
Waktu itu dia ditemukan nyai Purbani di sebuah sumur di perkampungan yang sudah hancur, mungkin karena dia masuk ke dalam sumur itu makanya dia bisa selamat dari amukan perampok yang ganas dan kejam itu, sewaktu itu nyai Purbani sepulang dari perjalanan dari Kadipaten Bantar angin menjemput keponakan nya Melati, dan dia mendengar tangisan anak kecil di sebuah desa yang telah hancur, setelah berkeliling mencari sumber suara itu akhirnya dia menemukan seorang anak perempuan umur tujuh tahun menggigil kedinginan di dalam air setinggi perut di dalam sebuah sumur, lalu nyai Purbani pun menolong dan membawanya ke sini.
Hubungan kedua gadis ini sangat dekat seperti saudara kandung, walaupun sama-sama cantik sifat ke dua gadis ini sungguh bertolak belakang, Anggun sunyi seorang gadis yang pemalu dan sangat pendiam, berbeda dengan Melati suci kebalikan dari sifat Anggun tadi.
Begitu pun dalam ilmu beladiri Anggun ketinggalan dari Melati yang lebih tua itu, ternyata Anggun ini lebih berbakat dalam mendalami ilmu pengobatan, karena walau gimana pun dulu nya nyai Purbani selain sebagai pendekar pedang terkenal dia juga terkenal sangat ahli dengan ilmu pengobatan.
Setelah membersihkan diri, kedua gadis cantik itu pun beriringan berjalan ke arah pondok.
"Ada apa ya kak, tidak biasanya guru menyuruh kita berkumpul pagi pagi gini,? Anggun yang berjalan di belakang bertanya.
Akhirnya mereka pun saling diam karena berbagai pikiran berkecamuk di kepala mereka, dan setelah sampai di depan pondok mereka pun masuk ke dalam,
terlihat nyai Purbani sudah duduk disana menunggu kedatangan mereka.
"Kalian pasti penasaran kan guru panggil pagi ini,, nyai Purbani membuka suara setelah kedua gadis tersebut duduk di depan nya,
sudah sepuluh tahun kalian disini, kalian sudah ku anggap seperti anak sendiri tanpa membedakan bedakan di antara kalian dan semua ilmu yang guru punya sudah di turunkan kepada kalian.. sambung nya.
__ADS_1
Besok pagi pas matahari tinggi kalian harus meninggalkan tempat ini dan turun gunung. tegas nya.. terlihat ke kagetan dari kedua gadis tersebut.
Kedua mata gadis itu mulai basah, setegar apapun mereka nama nya manusia adalah insan yang memiliki perasaan dan kelemahan.
"Anggun mau disini saja guru melayani guru terus, lagian Anggun tidak punya siapa siapa lagi, jadi izinkan Anggun menetap disini guru,, ucap nya sambil menangis.
Melati pun tidak mau bibi,, biarkan Melati bersama Anggun melayani bibi guru disini,, timpal Melati itupun air mata nya mengalir terus tanpa bisa di tahan nya.
Ternyata sungguh berat untuk berpisah dengan orang yang kita sayangi itu, apalagi hubungan batin diantara ketiganya sungguh sangat dekat, nyai Purbani walaupun orang nya keras dalam melatih dan mendidik mereka di satu sisi dia pun hanya seorang wanita juga yang memiliki kasih sayang kepada kedua gadis itu bagai kepada anak-anak nya sendiri. Tiada satu pun yang di beda bedakan walaupun Melati suci adalah keponakan kandung nya sendiri, bagi nya kedua nya sama saja tiada sedikit pun perbedaan.
Ini perintah dari guru, gunakan lah ilmu yang kalian dapat dari sini bantu lah mereka yang membutuhkan, kalian harus mengamalkan semua ilmu yang kalian dapatkan itu,, ucap nyai Purbani tegas, padahal di hatinya pun menangis, cuma dia masih bisa menahan biar air matanya tidak jatuh.
Setelah cukup lama meyakinkan kedua gadis itu, akhirnya nyai Purbani pun beranjak ke dalam bilik nya dan kembali sembari membawa peti kecil yang panjang satu meter lebih, dan dia pun membuka isi nya.
Terlihat dua bilah pedang di dalam nya satu berwarna putih dan satu nya berwarna hijau di dalam peti itu, hulunya bergambar kepala burung walet.
Itulah dua pusaka pedang walet yang dulu sangat menggemparkan dunia persilatan di zaman nya, dan dua duanya punya keampuhan buat penawar racun.
Melati suci kebagian pedang yang berwarna hijau sedangkan yang putih untuk Anggun sunyi. Setelah menerangkan tentang sejarah pedang itu, dan memberikan petuah panjang lebar guna bekal perjalanan bagi gadis gadis itu nanti, dan tanpa terasa hari pun mulai beranjak sore, nyai Purbani akhirnya menyuruh kedua gadis itu untuk istirahat dan mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan mereka besok, sementara dia sendiri melanjutkan semedi di bilik nya...
__ADS_1