
Penjagaan di pintu gerbang utama Kadipaten bantar angin semakin di perketat, semua yang lewat tidak pandang bulu diperiksa, pagi itu terlihat cukup rame orang lalu lalang memasuki gerbang utama itu, dan kebanyakan yang lewat adalah orang orang dari persilatan yaitu rombongan dari padepokan di daerah sekitar Kadipaten itu sendiri.
Adipati wira sentana dan para pembantu nya cukup sibuk pagi itu menyambut para pemimpin padepokan yang datang, di bagian belakang yang lebih sibuk yaitu arah dapur, puluhan koki terlihat sibuk meracik makanan buat persiapan sarapan para tamu yang makin banyak berdatangan.
Kedatangan melati dan anggun sempat membikin kehebohan di pintu gerbang utama, karena tidak ada prajurit disana yang mengenali putri kesayangan adipati itu, wajar karena terakhir melati ke Kadipaten itu waktu dia masih berumur 15 tahun yaitu tiga tahun yang lalu sekarang dia telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa dan sangat cantik jadi wajar tidak ada satupun prajurit disana yang mengenal mereka.
Baru setelah melati memperlihatkan kalung pertanda putri adipati mereka pun pada memberi hormat semua, dan mereka pun berniat mengantarkan putri adipati itu memasuki kota, tetapi melati menolak halus niat mereka itu dia pengen menikmati dan sekalian mengajak anggun untuk melihat lihat seperti apa kota Kadipaten karena bagi anggun ini yang pertama kali dia melihat kota besar itu.
Walaupun hati nya sangat senang dan sebentar lagi akan bertemu dengan ayahandanya tercinta tetapi melati merasakan keganjilan dengan keadaan dan suasana Kadipaten ini, mulai dari dia memasuki gerbang tadi dia pun sudah punya pirasat, tidak biasanya penjagaan di gerbang seketat dan seramai itu dan setelah memasuki gerbang diapun semakin curiga karena banyak nya prajurit yang lalu lalang seperti persiapan perang. Akhirnya dia mengajak anggun untuk mempercepat jalan nya supaya cepat sampai di kediaman nya.
"Ayahanda,,,,,, teriak melati sewaktu mereka memasuki pintu halaman istana Kadipaten itu, tanpa menghiraukan suasana di sana yang lagi banyak para prajurit dan orang orang dari partai persilatan yang berkumpul di halaman dan beranda istana itu.
__ADS_1
Adipati wira sentana cukup terkejut dengan panggilan yang terdengar di telinga nya itu, suara yang begitu di kenal dan sangat dirindukan nya, perlahan dia bangkit dan menoleh ke arah suara itu yaitu arah pintu masuk halaman istana....
Dia pun tersenyum bahagia melihat siapa yang datang,,,,
"Melati putri ku,,,, katanya dengan berkaca kaca sambil merentang kan kedua tangan menyambut putri nya yang berlari ke arah nya.
Kedua insan ayah dan anak itupun berpelukan cukup lama, para tamu dan orang orang yang melihat pada terdiam semua, mereka memberi kesempatan kepada sang adipati untuk melepaskan kerinduan nya.
Dan setelah itu adipati wira sentana memperkenalkan putri nya dan anggun kepada semua orang disana, dan setelah itu melati dan anggun di suruh menemui ibu nya istri ayahandanya yang sekarang. Dan adipati wira sentana berjanji secepatnya menemui nya nanti setelah urusan nya selesai.
Sebenarnya melati banyak yang mau di bicarakan dengan ayah nya itu, terlebih lagi dia sudah melihat keadaan Kadipaten dari luar sampai ke istana ini, seperti persiapan sebuah perang dan dia sangat penasaran. Cuma dia cukup mengerti situasi ayahandanya sebagai orang tertinggi di Kadipaten itu dia tidak boleh egois, dengan sabar dia melangkah bersama anggun dengan diantar oleh seorang pelayan wanita.
__ADS_1
"Anakku,, sahut seorang wanita berusia 30 tahunan yang lagi hamil besar sembari berlari memeluk melati dengan erat, terlihat dia menangis. memang walaupun cuma ibu tiri nyai Ratih purwasih begitu menyayangi melati dia sudah menganggap melati seperti putri kandung nya sendiri, walaupun mereka jarang bertemu hubungan keduanya cukup akrab. Ditambah dia cukup lama hampir sembilan tahun dan baru ini dikasih rezeki untuk memiliki anak.
"Oh ya ibu ini anggun saudari seperguruan melati,,, ucap melati memperkenalkan anggun setelah ibunya itu melepaskan pelukan nya.
" Oh ya sini nak, ibu sering mendengar tentang kamu,,, katanya sembari memeluk anggun. Memang nyai Ratih purwasih mempunyai sifat seorang keibuan dan penuh belas kasih, dia sering mendengar dari suaminya tentang saudari seperguruan anak nya ini yang seorang yatim piatu, dia cukup tersentuh dan naluri keibuan nya pun timbul.
"Oh ya anggun kamu harus memanggil saya ibu juga seperti melati ya nak,,,, timpal nya lembut sembari mempersilahkan kedua gadis itu duduk.
Melati pun tidak bisa lagi membendung apa yang ada di kepala nya itu dari tadi, diapun langsung mulai bertanya kepada ibunya itu, terlihat nyai Ratih menghembuskan nafas panjang, sembari menatap keduanya akhirnya diapun menceritakan semua masalah yang dihadapi Kadipaten ini, terlihat melati cukup terpukul walau gimana pun dialah penyebab masalah ini, tetapi dengan lembut nyai Ratih pun menjelaskan alasan ayah nya itu untuk melakukan semua ini, bukan bagi dia semata tetapi bagi segenap rakyat Kadipaten ini.
Setelah melati cukup tenang dan uneg uneg nya telah lepas akhirnya ibunya itu menyuruh mereka untuk membersihkan diri ke belakang dan habis itu mereka disuruh untuk menemui ayah nya.
__ADS_1
bersambung...