
Nun jauh di arah barat di seberang daratan Andalas yang luas, tepat nya di sebuah pulau di antara beberapa pulau yang membentengi pulau Andalas dari arah barat oleh terjangan langsung ombak samudera Hindia yang maha besar itu, menggulung apa saja yang berada di depan nya.
Di pulau tersebut jarang ada manusia yang berani untuk tinggal di sana, karena pulau tersebut terkenal akan ke angkeran nya, belum binatang buas dan ular yang memenuhi pulau yang bernama pulau Siberut itu, di sana hutan nya masih alami dan masih berlaku hukum rimba di situ.
Akan tetapi kalau kita masuk lebih ke dalam menelusuri pulau tersebut, maka kita akan bertemu dengan tiga orang manusia di sana yang menjadi penguasa pulau Siberut itu, ya tepat nya di sebuah danau kecil di tengah pulau itu akan di jumpai sebuah rumah terapung di atas nya yang di huni oleh suatu keluarga selama hampir dua puluh tahun ini.
Sepasang suami-istri yang berumur hampir mendekati setengah abad dan seorang putra nya yang berusia sekitar dua puluh tahunan, mereka lah penghuni kepulauan di daerah barat pulau Andalas ini yang tiada satu orang pun mengetahui keberadaan mereka, karena memang mereka adalah orang pelarian dari daratan Andalas dulu nya.
Sang suami ternyata adalah putra tunggal dari Dedengkot golongan hitam sepasang suami-istri Dewa dan Dewi ular yang berdiam di daerah pantai timur Pulau Andalas yang sudah tewas di tangan Bayu di puncak Gunung Singgalang bersama kedua rekan nya kemarin, hubungan nya dengan putri tunggal majikan Padepokan pedang Dewa tidak di setujui oleh kedua belah pihak, baik oleh Dewa ular dan istrinya maupun oleh Pendekar pedang baja karena aliran mereka yang berbeda.
__ADS_1
Akan tetapi yang namanya cinta bisa mengalahkan apa saja, seberat apapun rintangan dan halangan pasti akan mereka terobos, begitu pun juga dengan Burok Palingan putra satu satu nya mendiang Dewa dan Dewi ular ini, dengan nekat dia melawan orang tua nya itu dengan membawa kabur putri tunggal Pendekar pedang baja yang sebelumnya dia sempat terjadi pertarungan di Padepokan Pedang Dewa yang mengakibatkan banyak tewas nya murid Padepokan tersebut.
Selain itu Burok Palingan ini juga sempat mencuri sebuah kitab pusaka orang tua nya, yang membuat kedua orang tua nya itu semakin murka dan memburu nya kemana pun, maka nya dengan nekat dia bersama istri nya Mega Untari putri tunggal Pendekar Pedang Baja meninggalkan Daratan Andalas itu dan terombang ambing cukup lama di lautan dan akhirnya mereka mendarat dan berlabuh di sebelah barat pulau tersebut dan menjalani hidup berdua di sana sampai mereka di karuniai seorang putra.
Ternyata selama dua puluh tahun ini Burok Palingan dan istrinya tidak hanya diam di sana, ternyata mereka terus mendalami ilmu mereka apalagi mereka pun telah mengusai ilmu dari kitab pusaka milik orang tua nya mendiang Dewa dan Dewi ular yang belum sempat di pelajari oleh kedua orang tua nya itu, dan memang kitab itu adalah puncak ilmu dari semua ilmu jurus dan racun ular yang di miliki oleh orang tua nya.
"Dessss.... Braaakkkkkk....
" Bagus anak ku,, Pukulan seribu bisa ular mu sudah sempurna,, ayo kita pulang ibumu sudah menunggu dengan masakan favorit mu,,, kita rayakan keberhasilan mu ini.
__ADS_1
Rupanya tadi yang membuat pohon besar itu tumbang adalah akibat ilmu yang di lepaskan oleh seorang pemuda tanggung putra dari Burok Palingan dan Mega Untari penghuni pulau angker tersebut, dan sekarang putra nya itu telah mengusai sepenuhnya semua ilmu yang mereka miliki, yaitu gabungan ilmu dari Padepokan Pedang Dewa yang lebih banyak menggunakan pedang dan ilmu dari mendiang Kakek dan nenek nya Dewa dan Dewi ular yang sangat ganas karena lebih banyak mengunakan racun dan senjata rahasia.
Nama pemuda tersebut adalah Manik Tembaga memiliki paras yang lumayan tampan dan berkulit kuning langsat seperti ibu nya, akan tetapi memiliki sifat yang sama dengan ayah dan kakek nya, memang kata orang buah pasti jatuh tidak akan jauh dari pohon nya, begitu pun juga dengan Manik Tembaga ini sedari kecil sudah kelihatan sifat nya tersebut.
Semenjak memasuki usia tujuh belas tahun dia sudah ingin meninggalkan pulau yang sepi dan tidak berpenghuni ini, dia sangat ingin mencari orang yang membikin kedua orang tua nya ini menderita hingga lari dan bersembunyi di pulau yang terpencil dan tidak berpenghuni ini, dan semua ilmu kedua orang tua nya pun sudah dia salin semuanya, maka nya dia ngotot untuk segera pergi dari sana karena ingin melihat dunia luar karena sudah sangat jenuh di sana.
Akhirnya karena tuntutan putra nya tersebut yang terus menerus meminta pergi dari sana, maka mereka pun mengizinkan akan tetapi dengan syarat dia harus menamatkan dulu sebuah ilmu puncak dari ilmu yang kitab ular yang belum bisa di sempurna kan oleh kedua orang tua nya karena syarat memiliki puncak ilmu tersebut harus berumur di bawah dua puluh tahun dan harus masih perjaka tulen.
Maka nya hampir dua tahun ini dengan giat dan tekun Manik Tembaga ini melatih ilmu tersebut di bawah bimbingan ayah nya, dan pagi tadi dia berhasil menyempurnakan ilmu kitab seribu bisa ular tersebut, dia cukup senang karena usaha keras nya selama ini berhasil dan dia bisa bebas untuk pergi dari pulau terpencil ini karena syarat dari kedua orang tua nya telah dia penuhi.
__ADS_1
Dengan ilmu meringankan tubuh nya kedua ayah dan anak itu seperti terbang berlari menyusuri hutan yang penuh dengan hewan buas itu, dan ternyata para hewan buas penghuni hutan itu sudah tahu siapa yang melintas, maka nya mereka semua pada bersembunyi ketakutan karena alamat akan binasa jika menghambat atau bertemu dengan pemilik pulau itu, karena mereka tidak akan segan segan untuk membunuh apapun yang menghalangi perjalanan mereka.
Bersambung....