Pendekar Kilat

Pendekar Kilat
Bab 39. Gerombolan Serigala merah 8


__ADS_3

Kembali terlihat secarik sinar putih mengarah dengan cepat ke arah nya, akan tetapi kali ini Bayu pun telah siap tidak seperti tadi yang secara curang Datuk itu menyerang nya, untung reflek nya cukup bagus dan terhindar dari pukulan Datuk itu yang bisa menghancurkan tubuh kalau terkena.


Bayu pun menyambut pukulan ilmu kesaktian dari Datuk itu dengan pukulan andalan nya pukulan menyongsong matahari yang sifatnya sama dengan ilmu Datuk itu yaitu sama-sama mengandalkan panas, bedanya kalau ilmu Bayu murni dari hawa inti matahari yang di serap nya sedari kecil dan sudah menyatu dengan tubuh nya, sedangkan ilmu Datuk Sigantang sendiri di dapat secara instan yaitu banyak menyerap dari ritual darah perawan yang banyak di korbankan nya atau terbilang ilmu sesat.


Dan perbedaan dari kualitas ilmu itu pun kelihatan cukup jelas, setelah pertemuan kedua ilmu itu terlihat sinar biru dari pukulan Bayu pun menggulung habis sinar putih dari ilmu Datuk Sigantang yang di andalkan nya itu, terlihat setelah sinar biru pukulan nya melahap ilmu Datuk itu Bayu pun berteriak sambil menyentakan tangan nya sekuat tenaga.


"Buarrrrrrrrr

__ADS_1


Terjadi ledakan yang cukup keras di situ dan bumi pun terasa berguncang asap dan debu tebal pun memenuhi arena pertarungan dua orang jago kanuragan itu.


Setelah beberapa saat para sisa gerombolan Serigala merah tadi yang berada di belakang Datuk itu terlongo dan cukup kaget, mereka seakan tidak percaya kalau pemimpin mereka yang sangat sakti itu ternyata berhasil di kalahkan oleh seorang pemuda yang masih terlihat ingusan itu bagi mereka, dan yang membuat mereka sangat tidak percaya itu adalah karena pemimpin mereka itu tewas dengan tubuh hancur tanpa tersisa apapun karena dashyat nya ilmu pemuda baju putih itu dan mereka melihat itu semua di depan mata mereka sendiri.


Bayu pun sempat termundur beberapa langkah setelah benturan kedua ilmu mereka, dan dadanya pun terasa agak sesak tetapi dia masih bisa mengendalikan diri nya untuk tidak terjatuh, setelah memastiin musuh nya itu binasa akhirnya dia pun sambil berdiri melakukan laku pernapasan untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya akibat benturan Ilmu nya tadi.


Sisa Gerombolan Serigala merah itu setelah melihat pemimpin mereka itu binasa akhirnya mereka pun tanpa di komandoi serempak mengambil langkah seribu dari sana tanpa memperdulikan sesama temannya yang penting diri nya sendiri selamat, mereka pun berlari berhamburan ke segala arah menerobos hutan yang sudah mulai kelihatan sedikit terang karena sang cahaya pagi pun telah tiba.

__ADS_1


Beberapa orang yang berilmu cukup tinggi berhasil menghindar dan melakukan perlawanan terhadap penduduk itu, akan tetapi karena jumlah penyerangan nya sangat banyak maka mereka pun tidak bertahan terlalu lama dan akhirnya tubuh mereka pun berubah menjadi daging cincang oleh penduduk yang sangat marah itu, mereka pun melampiaskan semuanya kekesalan dan dendam mereka yang terpendam beberapa waktu ini.


Setelah berhasil menumpas semua Gerombolan Serigala merah yang tersisa itu, lurah Saketi pun baru tersadar dan melihat sekeliling mencari keberadaan pemuda yang menjadi Dewa penolong mereka, dan dia pun menyerukan kepada semua penduduk yang di situ mencari dan kalau melihat keberadaan pemuda itu, dan setelah beberapa lama mereka berkeliling mencari di sana mereka pun tiada menemukan apa pun tentang keberadaan pemuda itu, akhirnya lurah Saketi pun mengerti bahwa pendekar sejati seperti pemuda itu tidak akan butuh ucapan terimakasih.


Mereka semua pun hanya bisa bersyukur dan berterimakasih di dalam hati masing-masing kepada pemuda sakti itu, dan semenjak itu lah dari mulut ke mulut terdengar kabar tentang seseorang pendekar yang budiman dan mereka juluki dengan pendekar kilat karena kecepatan dari pemuda itu sangat luar biasa tanpa bisa di ikuti oleh mata biasa.


Atas saran dari lurah Saketi mereka pun mengambil dan membawa pulang harta benda yang sangat banyak yang berada di gua markas Serigala merah itu dan mereka pun membagi rata kepada semua penduduk di sana, terlebih lagi bagi keluarga nya yang menjadi korban keganasan dari gerombolan itu beberapa hari yang lalu di kampung nya.

__ADS_1


Setelah mengambil semua harta benda di situ maka lurah Saketi dan semua penduduk pun sepakat untuk menutup pintu gua itu dengan batu batu besar yang ada di sana, biar kejadian seperti ini tidak terulang lagi dan cukup menjadi pelajaran dan kenangan pahit bagi mereka dan untuk menjadi cerita yang nanti nya akan di ceritakan sampai ke anak cucu mereka.


Akhirnya setelah menutup pintu gua itu beramai-ramai, mereka pun pulang ke kampung mereka dengan menunggang kuda yang sarat akan muatan harta benda yang mereka ambil dari markas Serigala merah yang telah hancur itu, dan di sesampai nya mereka di perkampungan mereka pun di sambut dengan tangis bahagia dari semua keluarga yang telah menunggu dengan penuh kecemasan, dan setelah semuanya tenang maka mereka pun menceritakan semua kejadian itu kepada anak istrinya tentang kehancuran gerombolan Serigala merah itu oleh pemuda pendekar yang menjadi Dewa penolong bagi mereka.


__ADS_2