Pendekar Kilat

Pendekar Kilat
Bab 74. Pertemuan Para Pendekar Golongan Putih 2


__ADS_3

Sesuai petunjuk Pak tua pemilik warung makan tadi, maka Bayu pun mengikuti arah jalan tersebut yang ternyata sangat ramai di lalui oleh orang-orang dari golongan Pendekar yang juga menuju kesana, Bayu sengaja menjaga jarak dengan suatu rombongan yang berpakaian serba kuning dengan membawa senjata tongkat di masing-masing tangannya yang berada di depan, sekitar dua puluh langkah dan semua pembicaraan tersebut terdengar jelas oleh Bayu.


Ternyata mereka adalah dari Perguruan tongkat kuning yang dari obrolan yang Bayu dengar murid murid mereka kemarin ada sekitar sepuluh orang di bantai oleh Raja Iblis ini sewaktu menjalankan sebuah misi dari Perguruan, maka nya mereka sangat antusias ketika di Padepokan Tongkat Angin di adakan pertemuan untuk membahas masalah Pendekar sesat tersebut yang semakin meresahkan masyarakat.


Tidak sampai satu jam perjalanan di depan nya Bayu terlihat sebuah pemandangan sebuah Danau yang sangat besar dan kalo di lihat sepintas orang mengira itu adalah suatu lautan kecil yang di kelilingnya oleh daratan, kapal kapal pun banyak yang menyandar di sana dan yang berlalu lalang, ternyata dengan adanya pertemuan tersebut membuat penghasilan para pemilik kapal dan nelayan di sana menjadi lumayan dalam beberapa hari ini, karena rata-rata Pendekar yang datang adalah dari golongan putih yang membayar sewa kapal tanpa terlalu perhitungan.


Bayu pun memilih untuk menyusuri pinggiran dermaga kecil yang lumayan ramai itu, hampir semua orang orang yang datang di sana adalah dari para Pendekar dari berbagai Padepokan, ada yang langsung memboking satu kapal kalau dari Perguruan yang cukup punya uang tanpa harus menunggu kapal itu penuh, dan banyak juga yang harus ikut antri karena mungkin untuk menghemat biaya.


Beruntung di sana yang berdatangan adalah dari para Pendekar golongan putih jadi situasi di Dermaga kecil itu cukup tertib dan tanpa adanya keributan, Bayu baru berhenti ketika sampai di ujung Dermaga dan melihat sebuah perahu kecil yang masih kosong dan di sana duduk seorang pria tua yang berpakaian lusuh yang mungkin menunggu penumpang untuk di antar.


Bayu pun mendekat ke arah Bapak tua yang masih ngelamun melihat kapal besar hilir mudik membawa banyak muatan penumpang.


"Ehemmmm... Bayu batuk kecil yang membuat pria tua tersebut kaget dan ketika menoleh ke arah Bayu dia pun akhirnya tersenyum walaupun sedikit di paksakan.


" Mau nyebrang tuan muda?" Ucap pria tua itu sangat berharap kepada Bayu yang menurut penampilan nya adalah seorang putra Bangsawan karena menilik dari pakaian serta penampilan pemuda tersebut.


"Iya Pak, bisa kan antar kan saya ke Padepokan tongkat Angin seperti tujuan orang orang itu semua!!! Bayu pun mengiyakan sembari melemparkan dua keping uang emas yang langsung di tangkap oleh pria tua pemilik perahu tersebut.

__ADS_1


" Tuannnn... iniii???? Pria tua itu sangat terkejut ketika melihat dua keping uang emas yang berada di tangan nya, padahal biaya untuk menyebrang biasanya hanya dua keping uang perak, dengan tangan gemetar dia pun hendak menyerah kan kembali uang tersebut kepada Bayu.


"Iya itu semua buat bapak" Bayu menggenggam tangan Pak tua itu dan menyuruh nya menyimpan uang tersebut.


"Bisa sekarang kita berangkat Pak??


" Iya iya Tuan,, bisa bisa.. Dengan sangat senang karena mendapat rezeki nomplok, Pak tua itu melepaskan tali pengikat perahu dan dia pun dengan semangat mulai mendayung perahu kecil nya itu, Bayu sendiri memilih duduk di bagian depan perahu sambil menikmati pemandangan yang ada di Danau yang cukup besar itu yang di kelilingi oleh perbukitan yang hijau.


Perahu kecil itu pun mulai melaju di atas Danau tersebut.


" Oh pantesan tuan,, oh ya Danau ini bernama Danau Toba tuan dan tujuan tuan ke seberang itu adalah Pulau Samosir tempat berdiri nya Padepokan tongkat angin."


Dengan panjang lebar dan penuh antusias Pak tua itu bercerita tentang asal usul dan semua mengenai Danau Toba tersebut kepada Bayu yang terlihat sering mengangguk dan tersenyum melihat Bapak tua itu yang dengan semangat nya bercerita.


Obrolan mereka pun terhenti karena adanya suatu gelombang besar yang membuat perahu mereka sedikit oleng.


"Minggir nangkap ikan jangan di sini, di pinggir sana,, hahaha hahahah.... hahaha....

__ADS_1


Sebuah kapal besar dengan berpenumpang para anak anak muda yang meneriaki mereka sambil tertawa tawa mengejek, muka Pak tua pemilik perahu tersebut langsung berubah pucat karena dia mengenali siapa yang berada dalam kapal tersebut.


Bayu menatap tajam para anak anak muda yang usil itu hingga kapal itu mulai agak menjauh dari mereka dan Bayu pun mengetahui ketakutan di wajah Pak tua pemilik perahu itu ketika kapal melintas tadi yang dengan sengaja memepet kan kapal nya supaya tercipta ombak yang bikin oleng perahu kecil yang di tumpangi Bayu.


"Bapak mengenal orang orang yang di atas kapal tadi? Bayu bertanya setelah melihat wajah ketakutan Pak tua tersebut.


" Iya tuan,, mereka adalah anak anak pejabat di Kadipaten ini dan salah satunya adalah anak dari Adipati di sini, begitu lah kelakuan mereka tiap hari selalu berfoya-foya dan pelesiran terus, tuan.


"Jangan nyari masalah dengan mereka tuan, hindari lah karena mereka memiliki banyak pengawal yang tidak segan segan untuk berbuat sesuka hati nya


Bayu mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Pak tua pemilik perahu kecil itu, selama ini memang dia cukup banyak telah mengetahui berbagai sifat manusia termasuk sifat para anak anak pejabat yang sering bertindak sesuka hati nya, dan tidak sedikit juga mereka yang bertanggung jawab menjaga nama baik orang tua mereka.


Di Padepokan Tongkat Angin semakin banyak para tamu berdatangan, karena besok adalah hari pertemuan itu berlangsung, untung nya bangunan di Padepokan tersebut cukup banyak yang cukup menampung para tamu yang datang makin banyak melebihi dari undangan yang tersebar tadinya, karena begitu antusias nya para Pendekar mendengar keganasan dari Raja Iblis yang sangat meresahkan akhir akhir ini.


Bayu sendiri sampai di sana setelah hari hampir gelap, dia sendiri di memilih untuk tidak langsung menuju ke Padepokan Tongkat Angin yang berada tidak jauh dari pinggir Dermaga di pulau Samosir itu, karena bangunan Padepokan itu berada di lereng sebuah bukit yang mengarah langsung ke arah sana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2