
"Ahh." wanita yang bernama Marry itu menjerit kesakitan saat Shuwan menarik belatinya memanjang ke bawah kakinya.Darah mengalir dari kaki wanita tersebut.
William yang mendengar jeritan sang mommy meradang lalu mendorong Shuwan yang masih berjongkok didekat kaki sang mommy. "Jangan sakiti mommy ku Shuwan.Aku tak akan segan pada mu."
"Aku juga tak akan segan mencabut nyawamu William,bila kau mengacaukan pestaku" ucap Shuwan dingin dengan tatapan tajamnya ke arah William.
Marry terus mengerang sambil memegangi kakinya yang terluka.Dia merasakan luka dikakinya berdenyut seperti ditusuk ribuan jarum.
Tak lama dia merasakan kakinya lemas dan mati rasa.Dia memandang Shuwan dengan tajam
"Apa yang kau lakukan pada kakiku?"
"Melukainya.Bukankah kau melihatnya tadi?" jawab Shuwan santai.
Keributan masih terdengar disana sini.
"Nona,apakah sudah selesai?" Chen berteriak ke arah Shuwan.Dia sedang berdiri dengan salah satu kakinya menginjak punggung Albert yang tersungkur tak berdaya dilantai dengan tubuh penuh lebam dan goresan senjata tajam.
Tanpa rasa sungkan Shuwan menyeret tubuh Marry mendekati Chen yang berada ditengah ruangan. "Apa kau membunuhnya uncle?" Shuwan meneliti tubuh Albert yang sudah tak berdaya.
"Dia tak akan mati selama dewi kematiannya belum mencabut nyawanya.Aku menyisakan nyawanya untuk mu." jawab Chen dengan senyum.Gadis itu mengangguk puas.
Shuwan berjongkok lalu mencengkram rahang Marry dengan kuat. "Sepertinya luka dikakimu tak seberapa" apanya yang tak sberapa?kaki wanita itu sudah tidak bisa digerakkan,mungkin lumpuh,dan lukanya terus mengeluarkan darah serta nanah yang berbau.
Entah racun apa yang dioleskan gadis itu pada belatinya.Yang pasti bukan untuk membunuh dengan cepat,hanya menimbulkan rada sakit yang tak terkira.Itu adalah penyiksaan yang nyata.
Gadis itu mengambil kembali belatinya yang dia selipkan disaku pahanya.Sreeet gadis itu menggores pipi kanan Marry yang membuatnya berteriak histeris.
"Anak kurang ajar!" makinya sambil meringis menahan sakit. "Kau dan suamimu lebih kurang ajar karena membunuh orang tua yang sudah membesarkannya." ucap Shuwan sarkas
Shuwan meninggalkan Marry yang masih merintih kesakitan,dia menghampiri Albert yang tergeletak dilantai.
__ADS_1
"Uncle,kenapa kau membuatnya sekarat seperti ini?padahal aku sangat ingin menyiksanya." gadis itu cemberut pada Chen.
Shuwan melirik Albert yang sepertinya sedang berusaha bangun."Kau ingin bangun?aku bisa membantumu." dia merogoh tempat dia menyimpan belati dipahanya.Ada sebuah pil yang dia ambil dari dalamnya.
"Ini adalah penambah stamina dan tenaga racikanku.Tenagamu akan pulih dalam hitungan detik bila meminumnya.Jangan khawatir,ini tidak beracun.Aku adalah dokter medis,juga ahli pengobatan tradisional.Kau beruntung mendapatkan pil istimewa racikanku." ucapnya sombong sambil memasukan pil itu ke mulut Albert.
Shuwan duduk disebuah kursi yang terletak tak jauh dari tempatnya berada.Dia dengan sabar menunggu Albert bangun.Dia melirik ke arah William yang tubuhnya masih dikunci oleh Leon agar tak mengganggu kesenangan nona nya.
Albert memang merasakan tenaganya pulih dalam waktu yang sangat cepat. "Gadis sialan ini tidak berbohong" ucapnya dalam hati. Perlahan dia bangkit meskipun dengan susah payah.
Shuwan tersenyum melihat Albert bangkit. "Aunty,apa kau membawa katana ku?" Yura yang ditanya langsung melemparkan katana itu ke arah Shuwan,gadis itu menangkapnya dengan cepat.
"Ada yang bisa memberi dia pedang?" tak ada yang menjawab pertanyaan Shuwan atau memberinya pedang.Siapa pula yang membawa pedang kesini?kau pikir ini zaman kuno kolosal yang bertarung dengan pedang dan tombak? Mungkin itu pikiran Yura dan kedua rekannya.
Shuwan melempar katana nya ke lantai lalu menerjang Albert.Dengan susah payah Albert menghindar atau menangkis serangan Shuwan.
"Ternyata pil racikanku tak sebagus yang ku kira.Buktinya bedebah ini masih saja lemah." Shuwan mengeluh tentang pil yang beberapa saat lalu dia banggakan.
"Ini bukan dunia kultivator,yang pil nya bisa menyembuhkan orang dalam waktu singkat seperti novel yang sering kau baca itu,nona." Yura menjawab dengan malas.
Tanpa menunggu lama Shuwan kembali menebas satu lagi lengan Albert yang masih utuh.
Tiba-tiba punggung Shuwan ditendang hingga tubuhnya terhuyung ke depan.Dia berbalik dan melihat William berdiri di hadapannya. "Kau sungguh keterlaluan Shuwan!" William kembali menyerang Shuwan hingga duel pun terjadi.
"Kenapa tidak dari tadi?ini lebih seru daripada melawan pria tua sekarat itu" Shuwan tersenyum membuat William diliputi emosi.
Mereka saling menyerang dan menangkis,tubuh mereka sama-sama menerima beberapa pukulan dan tendangan.Shuwan bahkan tersungkur ke lantai karena tendangan sangat keras yang dilakukan William.
Chen dan Leon langsung bergerak untuk membantu nya,namun gadis itu menggelengkan kepala sebagai isyarat agar mereka tidak bergerak. " Ini pestaku uncle,jangan mengganggu!" ucapnya sambil bangkit.
Sesaat Shuwan melirik ke arah Albert dan Marry yang sudah tak berdaya.Dia mengambil pistol yang terselip di paha,tersembunyi dibalik gaun cantiknya.Dengan cepat dia menembakkan pistol itu ke arah Albert dan Marry tepat di kepala mereka.
__ADS_1
William terpaku melihat yang dilakukan Shuwan.Menembak kedua orang tuanya di titik vital yang bisa dipastikan hasilnya adalah kematian kilat,tepat didepan matanya.
"Kenapa kau membunuh mereka Shuwan?" William mengepalkan tangannya dengan kuat dengan sorot mata penuh kebencian pada gadis itu.Hilang sudah tatapan penuh cinta yang selalu menghias mata William saat memandang gadis itu.
"Kau masih bertanya?dasar bodoh! Tentu saja itu bayaran atas tindakan mereka yang telah menghabisi keluargaku.Kau beruntung William,karena aku menjadikanmu yatim piatu saat kau sudah dewasa.Kau merasakan kasih sayang mereka dan hidup bersama dengan penuh suka cita"
"Sedangkan bedebah itu,dia menjadikanku yatim piatu saat aku masih berumur 6 tahun.Mereka bukan hanya merampas perusahaan daddy ku,tapi juga orang tua ku,kebahagiaan ku,masa kecilku.Andai malam itu uncle Chen tak selamat,aku yakin mereka tak akan membiarkan ku hidup." Shuwan bicara panjang lebar dengan penuh kesedihan.
"Kau tidak perlu membunuh mereka Shu.Cukup penjarakan saja" William mendekap tubuh sang ayah yang sudah tak bernyawa dalam pangkuannya.
"Sudah,dan itu tidak berhasil.Daddy mu bahkan membunuh orangtua ku saat dia berhasil keluar dari penjara.Lagipula hukumannya tidak setimpal bila hanya dipenjara beberapa tahun."
Shuwan masih bersabar menghadapi William.Lagipula dia tahu pria itu tidak terlibat dengan perbuatan orang tuanya.Dia masih berdamai.Bukankah mereka sepupu??walaupun tidak memiliki hubungan darah.
Namun William yang baru saja kehilangan orang tuanya tepat didepan matanya telah dililiputi emosi dan tidak berfikir jernih.Dia melihat sebuah pistol terselip di balik jas sang ayah,tanpa pikir panjang dia langsung menembakkan pistol itu ke arah Shuwan berdiri tak jauh darinya.
Shuwan merasakan sakit diperutnya dan refleks meraba ditempat yang terasa sakit dengan tangan kirinya.Darah terus merembes dan menutupi jari-jari lentiknya.Permata cincin itu berpendar namun kembali redup dalam hitungan detik.
Leon langsung memukul William hingga tak sadarkan diri setelah pria itu menembak nonanya.
Karena acara telah selesai,mereka segera beranjak dari tempat itu.Saat hendak keluar dari rumah besar itu,pak tua Jun dan Ana datang dengan tergesa.
"Cucuku,kau terluka?" pak tua Jun panik melihat cucunya terluka. "Tak apa grandpa,aku baik-baik saja.Ayo kita pulang." Shuwan menenangkan sang kakek.Mereka pun berjalan mendekati mobil
"Naik mobil ini saja,disini ada peralatan medis untuk menghentikan pendarahan pada luka Shuwan." sang kakek mengajak mereka ke mobil yang tadi digunakan olehnya dan Ana menuju tempat ini.
Mereka semua berkumpul disamping mobil tersebut.Pak tua Jun,Shuwan,Yura dan Ana sudah memasuki mobil di bangku penumpang.Chen sudah duduk dibangku kemudi.Sementara Leon akan menggunakan mobil yang tadi dia gunakan bersama nonanya saat berangkat ke tempat ini.
Saat Leon selesai menutup pintu mobil tersebut dan hendak beranjak menuju mobil yang akan dia gunakan,dia melihat seorang pria keluar dari rumah itu membawa senjata besar dan mengarahkannya pada mobil mereka "bazooka." gumam Leon.
"Semuanya cepat keluar!" Leon langsung berteriak lalu menembakkan pistolnya ke kepala sang pria.Namun terlambat,sebelum peluru Leon menembus kepalanya,pria itu telah menembakkan bazooka yang dia pegang.
__ADS_1
Boom duar .Pria itu tumbang berbarengan dengan ledakan yang terjadi dimobil yang ditumpangi oleh Shuwan dan keluarganya.Leon pun tak sempat menghindar.
Terlihat cahaya putih melesat secepat kilat dari arah mobil itu sebelum terjadi ledakan.