Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
MENGIRIM PANGERAN KEDUA KE ALAM BAKA


__ADS_3

"Berjagalah di istana!Aku akan berjalan-jalan dengan Wan'er." ucap Huang Zixin sambil berbalik lalu keluar dari penjara bawah tanah tersebut.


Pangeran ke empat memasuki kamarnya dan melihat sang istri sedang berbaring ditempat tidur namun matanya masih terbuka.


"Kenapa belum tidur?Menungguku?" tanyanya dengan senyum menggoda.Shuwan hanya memutar matanya mendengar ucapan pria itu.


"Bagaimana kalau kita berjalan-jalan?" Tanya pria itu lagi. "Ini hampir tengah malam.Mau jalan-jalan kemana?" tanya Shuwan malas.


"Bagaimana kalau ke istana pangeran kedua?" mata Shuwan langsung berbinar mendengar ajakan sang suami. "Ayo."ucapnya bersemangat sambil bangkit dari tidurnya.


"Apakah perlu menyamar seperti para penyusup?Mengenakan pakaian serba hitam dan penutup wajah?"


"Tidak perlu.Biarkan dia tahu siapa kita." Shuwan hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya.Dia tak masalah penampilannya seperti apa,itu tak terlalu berpengaruh baginya.


Huang Zixin membawa Shuwan ke tempat Heima. Setelah melepaskan tali pengikatnya, Huang Zixin menaikan Shuwan lebih dulu,lalu dia menyusul menaiki punggung Heima.


Setelah keduanya duduk dengan nyaman,sang pangeran memacu Heima dengan cepat menuju istana kekaisaran,lebih tepatnya istana pangeran kedua.


Huang Zixin yang telah menguasai jalan rahasia yang merupakan titik buta dari para pengawal memasuki istana itu dengan leluasa.


Apalagi satu orang anggota Zie shen yang telah disusupkan disetiap kediaman anggota keluarga istana membantu memuluskan jalannya.


Pasangan suami istri itu memasuki kamar pangeran kedua yang keamanannya telah dikuasai oleh anggota Zie shen.


Selir yang menemani sang pangeran dikamar tersebut telah terlelap karena obat tidur yang dicampurkan dalam tehnya tadi.


Kedua penyusup yang merupakan Huang Zixin dan istrinya menghampiri pangeran kedua yang tertidur ditempat tidurnya yang mewah dan besar.


Saat merasakan kehadiran orang lain disekitarnya,pangeran kedua langsung membuka matanya.


Pria itu melebarkan matanya ketika melihat pasangan iblis berada dihadapannya.


"Apa yang kalian lakukan disini?Penjaga!" pria itu berteriak memanggil penjaga namun tak ada satu orangpun yang datang memenuhi panggilannya.


"Yang kami lakukan?Tentu saja membuatmu menderita,atau....mengirimmu pada dewa Yama." Shuwan menyeringai sambil menatap pria yang berstatus sebagai kakak iparnya itu.


"Katakan apa yang harus aku lakukan sekarang!Membuatmu gila,atau langsung mengirimmu ke tempat dewa Yama?"


Shuwan memegang sebuah botol kecil ditangan kirinya,dan belati beracun ditangan kanannya.

__ADS_1


Wajah pangeran kedua penuh ketakutan.Seluruh tubuhnya meremang dan dibasahi oleh keringat dingin.


Entah mengapa dia merasa seperti sedang berhadapan dengan iblis pencabut nyawa.Dia tahu kedua orang dihadapnnya tidak pernah main-main dengan ucapannya.


"Kau melakukan kesalahan karena menargetkanku untuk tujuan yang tidak baik.Kau merencanakan dan melakukan hal buruk padaku."


"Biar kuberitahu sesuatu.Sebenarnya saat anak buahmu menculikku dan menggunakan senikto, saat diperjalanan aku sudah terbebas dari pengaruh senikto itu."


"Tapi karena ingin mengetahui siapa yang menculikku,jadi aku berpura-pura lemah dan tak berdaya."


"Aku bisa saja membunuh mereka dalam sekejap. Tapi bila aku langsung membunuh mereka,aku tidak akan pernah tahu siapa orang dibalik layar."


"Dan aku sengaja menyiksamu dengan melempar jarum beracun ke tubuhmu yang bukan mengandung racun mematikan dalam waktu singkat."


"Kematian dalam waktu singkat terlalu murah hati bagimu.Asal kau tahu,bahkan adikmu yang dijuluki dewa kematian nyaris mati ditanganku, apalagi hanya kau." ucapan Shuwan merendahkan pria itu.


Pangeran kedua tentu saja sangat terkejut mendengar pengakuan Shuwan.Jadi malam itu sebenarnya dia yang dipermainkan oleh gadis itu?


Tiba-tiba dia merasa sangat menyesal karena memprovokasi iblis cantik itu.Dia pikir gadis itu sama seperti gadis-gadis lain yang lemah dan silau akan harta juga kedudukan.


Tapi bukankah penyesalan itu sangat tak berguna?Pasangan iblis itu telah membuatnya menderita dan pasti tak akan melepaskannya begitu saja.


Huang Zixin yang melihat itu mengernyitkan dahinya. "Wan'er tidak ingin menghabisinya?Masih ingin bermain-main dengannya?"


"Racun itu akan membuat dia merasakan sakit yang tak terkira dalam waktu lama hingga akhirnya membuatnya mati dengan sendirinya."


"Yakinlah,besok akan ada kabar duka dari istana kekaisaran.Walaupun kau dibiarkan hidup beberapa waktu,hidupmu sudah sangat tidak berguna bukan?Hanya menjadi beban." Shuwan mencibir kakak iparnya itu.


"Seandainya kau tidak mengusik hidupku, mungkin saat ini kau masih menikmati hidupmu seperti dulu bersama selir-selirmu yang banyak itu."


Setelah mengatakan itu,Shuwan bangkit dan mendekati suaminya. "Ayo pergi,aku sudah selesai." keduanya keluar dari kamar itu melalui jendela lalu kembali ke kegelapan malam.


Mereka menunggang Heima kembali menuju istana pangeran ke empat.


"Apakah Wan'er masih memebutuhkan sesuatu dari pria yang berada dipenjara?" Huang Zixin yang duduk dibelakang Shuwan memeluk sang istri sambil memegang tali kekang Heima.


"Sepertinya tidak,kenapa?" "Dari informasi yang didapatkan Murong,pria itu adalah salah satu elit dan petinggi dalam kelompok mawar hitam.Dia sangat berbahaya."


"Kombinasi Wang Xuemin dan Huanran hanya bisa memberikan luka ringan ditangannya.Malah keduanya kewalahan dan terluka parah.Ini menunjukan bahwa dia merupakan ancaman serius."

__ADS_1


"Kabarnya pemimpin tertinggi mereka masih mencari keberadaan pria itu.Itu artinya dia sosok penting dalam kelompok tersebut."


"Bila Wan'er sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi darinya,kita harus segera menyingkirkannya." ucap Huang Zixin panjang lebar.


"Singkirkan saja!Daripada dia menghambat kita dimasa depan." jawab sang istri ringan.


"Tunggu!Kau bilang Xuemin dan Huanran?Apa hubungan mereka?Aku memang sudah menyangka Huanran bukan pelayan biasa."


"Karena Wan'er adalah istriku,aku akan mengatakannya.Huanran memang bukan pelayan.Dia adalah anggota kelompok rahasia yang aku bentuk."


"Aku menempatkannya sebagai pelayan ibunda setelah seseorang meracuni ibunda.Tentu saja untuk melindungi dan memastikan keselamatan ibunda."


"Dia termasuk yang terbaik.Kemampuannya hanya sedikit dibawah Wang Xuemin." jelas Huang Zixin.


"Setelah melihat mereka beberapa kali melakukan penyerangan,aku merasa kelompok mawar hitam tidak sederhana kelihatannya."


"Sepertinya mereka bukan sekedar pembunuh bayaran biasa.Mungkin mereka memiliki tujuan lain selain menjalankan tugas dari klien." ucapan Shuwan hanya diangguki oleh suaminya.


"Ya,mungkin seseorang dibalik layar yang mengendalikan kelompok tersebut memiliki sebuah rencana besar dengan menggunakan mereka."


"Namun dengan jumlah pasukan yang mati dalam penyerangan ke istana kita dan kediaman Li dulu, seharusnya itu sedikit mengurangi kekuatan mereka." Huang Zixin menimpali.


"Apalagi jika pria bernama Chu Kong itu kita singkirkan,pasti akan sangat mempengaruhi kekuatan mereka." lanjut Huang Zixin lagi.


Heima telah membawa mereka memasuki gerbang istana pangeran keempat.Perjalanan dari istana kekaisaran ke istana miliknya terasa sangat singkat bagi pria itu.


Saat Shuwan hendak turun dari punggung Heima, pria itu memeluk tubuhnya dengan erat. "Aku merasa bepergian seperti ini lebih nyaman daripada menggunakan kereta." ucap pria itu sambil mendaratkan ciuman dipipi sang istri.


"Cepat turun!Aku lelah dan ingin segera tidur." Shuwan menyingkirkan lengan sang suami yang melilit diperutnya.


"Baiklah,ayo segera tidur bersamaku." ucap Huang Zixin sambil tersenyum dengan maksud lain.


****


"Akhh...yang mulia!" suara teriakan perempuan di pagi hari menggetarkan istana pangeran kedua.


Selir yang menemani sang pangeran dikamar itu, terkejut saat membuka matanya dan melihat sang pangeran tengah memuntahkan darah.


"Penjaga,cepat panggil tabib! Yang mulia apa yang terjadi denganmu?" selir Yun yang merupakan wanita pertama yang memasuki harem pangeran kedua,sangat panik melihat kondisi pangeran kedua.

__ADS_1


Pria itu terus-menerus memuntahkan darah hingga wajahnya memucat.


__ADS_2