Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
PENYUSUP


__ADS_3

"Wan'er...." terdengar suara seorang pria memanggil nama seseorang.


"Jendral Yuwen,apa anda melihat adikku?" tanya pria tersebut saat melihat Yuwen berdiri di tepi taman.


"Tuan muda Li,apakah itu orang yang anda cari?" Yuwen menunjuk ke arah tepi danau dengan pandangannya.


Pria yang ternyata Li Minghao itu langsung mendekat ke tempat adik angkatnya berada,namun dia terkejut saat melihat ada orang lain didekat adiknya.


"Pangeran ke empat" Li Minghao menunduk hormat pasa pria yang sedang berdiri dengan wajah datar di dekat Shuwan.


"Acaranya sudah selesai.Ibu dan ayah sedang menunggu kita di kereta." Li Minghao langsung mengatakan tujuannya menemui gadis itu.Mengajaknya pulang


"Baiklah" gadis itu bangkit lalu pergi begitu saja melewati Huang Zixin.


"Wan'er,kapan kau akan pindah ke kediaman Li?" nyonya Li memulai obrolan ketika mereka berada di dalam kereta dalam perjalanan pulang.


"Apa aku boleh tetap tinggal dirumahku bu?" tanya Shuwan pada sang ibu.


"Tidak.kamu harus tinggal bersama kami.Ayahmu akan segera mengurus semua dokumen yang dibutuhkan agar kau secara resmi menjadi anggota keluarga Li." jawab nyonya Li tak ingin dibantah.


"Wan'er,apa yang tadi kau bicarakan dengan pangeran ke empat?" tanya Li Minghao penasaran.


"Pangeran ke empat?" tanya tuan dan nyonya Li bersamaan.


"Ya,tadi saat aku menjemputnya di pinggir danau,ada pangeran ke empat juga disana."


Tuan dan nyonya Li menatap Shuwan meminta penjelasan.


"Kenapa kalian memandangku seperti itu?Tidak ada hal serius yang kami bicarakan.Dia hanya mengatakan tak menyangka aku berani menolak keinginan pangeran ke dua,itu saja." jawab Shuwan santai.


"Ya.Yang kau lakukan itu benar.Ibu juga tidak rela putri ibu satu-satunya dijadikan selir,meskipun itu selir seorang pangeran."Putri ibu harus menjadi istri sah dan nyonya rumah."


Nyonya Li mengeluarkan kekesalannya yang sejak tadi dia tahan.Sejak pangeran kedua mengatakan keinginannya.


"Aku tidak ingin memiliki suami yang beristri banyak.Lagipula aku tidak mau hidup terkekang di istana."


"Itu berarti kau harus menikah denganku.Karena para pria di keluarga Li tidaj ada yang mengambil se..."


"Dia itu sudah menjadi adikmu sekarang.Kau masih saja memaksanya menikah dengan mu?" belum sempat Li Minghao menyelesaikan ucapannya,sang ibu langsung mengomeli dan menjewer telinga putranya itu.


"Ayah lihatlah! Sejak memiliki putri,ibu sudah kehilangan kasih sayangnya padaku." Li Minghao mengadu pada sang ayah yang hanya meliriknya sekilas lalu menghela nafas.


"Kalau aku membela mu,bisa dipastikan malam ini aku tidur diluar dan kedinginan." keluh sang ayah dalam hati.

__ADS_1


Kalau saja Li Minghao dapat mendengar suara hati sang ayah,dia pasti berteriak dan mengatakan "Kenapa ayah begitu kejam padaku?"


Mereka tiba di kediaman Li saat waktu telah melewati tengah malam.Shuwan langsung memasuki paviliun yang sudah disiapkan untuknya.


meskipun belum pindah ke kediaman Li,namun nyonya Li telah menyiapkan paviliun yang indah dan nyaman untuk putri angkatnya itu.


Baru saja Shuwan mendekat ke tempat tidur,telinga tajamnya mendengar suara langkah yang sangat halus disekitar paviliunnya.


Dia mempertajam pendengarannya,dan suara langkah itu bukan hanya berasal dari satu orang.


"Ada beberapa orang mendekat kesini.Mereka tidak berniat baik." tiba-tiba Yu zi muncul ditempat tidur sambil melapor.


"Tentu saja.Tak ada tamu baik yang datang di tengah malam dan mengendap-ngendap." dwngus Shuwan dingin.


Dia langsung memakai pakaian luarnya lagi yang tadi sempat dia buka karena akan tidur.


Trang trang.Shuwan mendengar suara senjata beradu di sekitar paviliunnya.


"Penyusup!" seseorang berteriak hingga membuat orang-orang yang telah tertidur keluar dari kamar masing-masing.


Shuwan langsung mengambil pedang barunya dari ruang dimensi.


Saat baru keluar dari paviliunnya,seseorang menebaskan pedang ke leher gadis itu.Untung dia refleks menghindar.


Tanpa ragu-ragu,Shuwan langsung menyerang para penyusup yang memasuki paviliunnya.Ada empat orang penyusup di paviliunnya,mungkin mereka tersebar di kediaman Li.


Setelah membereskan keempat penyusup itu,gadis itu berlari ke pavuliun orang tua angkatnya.Dia mengkhawatirkan mereka.


Namun langkahnya menuju paviliun sang ibu tak mulus.Di sepanjang kediaman,dia selalu bertemu dengan para penyusup dan pertarunganpun tak dapat dihindari.


Sreet sreet.Tanpa belas kasih,Shuwan menebaskan pedangnya pada leher para penyusup itu.


"Mereka kelompok mawar hitam lagi.Sepertinya seseorang menargetkan keluarga Li." Yu zi memberikan informasi pada sang tuan.


"Shu,kau tak apa?" Li Minghao yang juga menuju tempat sang ibu,berlari sambil menggenggam pedang yang telah memerah oleh darah.Mungkin darah para penyusup itu.


"Aku tak apa.Cepat periksa ayah dan ibu!" sambil terus menyerang para penyusup itu,Shuwan juga terus melangkah maju agar segera sampai di tempat sang ibu.


Dari tempatnya bertarung,Shuwan melihat tuan Li sedang melawan tiga orang penyusup yang menyerangnya secara bersamaan.


Sementara Li Minghao sedang menyelamatkan sang ibu,dan berusaha membawanya keluar dari sana.


"Kenapa merena begitu banyak?" Li Minghao merasa sudah lelah dan hampir putus asa.

__ADS_1


"Yu zi,lindungi para orang tua dan wanita.Kumpulkan mereka di tempat yang aman!" perintah Shuwan dalam hati.


Dengan kemampuannya yang luar biasa,gadis itu sangat yakin Yu zi bisa mendengar dan melakukan hal yang dia perintahkan.


Shuwan melemparkan beberapa jarum beracun ke tubuh para penyusup yang masih saja menyerang tanpa rasa lelah.


Banyak bagian bangunan yang rusak akibat pertarungan mereka.


Tuan Li telah terluka dibeberapa bagian tubuhnya oleh sabetan pedang.Li Minghao yang melihatnya segera menghampiri dan menyerang para penyusup yang mendekat ke arah mereka.


Shuwan segera menghampiri mereka dan membantu memapah tuan Li. "Dimana Li Jingmi dan orang tuanya?sejak keluar aku tidak melihat mereka."


"Entahlah.Aku juga tidak melihat mereka." Li Minghao menghela nafas lelah."Lalu dimana Ibu?" Shuwan memandang Li Minghao penuh tanya.


"Sudah diamankan para pengawal." Li Minghao bisa tenang karena sang ibu sudah dibawa ke tempat aman.


"Mungkin sebaiknya kita pergi dari sini." Shuwan memberi usul. "Kemana?" "Ke rumahku."


Li Minghao mengangguk dan kembali memapah sang ayah.


Namun,saat mereka tiba di halaman depan yang luas,para penyusup itu mengepung mereka.


"Kenapa mereka tak ada habisnya?padahal sudah banyak yang kita bunuh." Li Minghao berada diambang keputusasaan saat melihat mereka dikepung oleh puluhan orang berpakaian serba hitam.


"Kenapa kalian menyerang kediaman Li?Siapa yang menyuruh kalian?" Shuwan sangat penasaran siapa dalang penyerangan ini.


"Kau tak perlu tahu gadis kecil.Tugas kalian hanyalah....MATI.hahaha" salah satu penyusup itu tertawa terbahak-bahak.


"Kau pikir mudah membuatku mati?Pengecut seperti kalian tidak akan pernah sanggup menyentuhku,apalagi membunuhku." Shuwan berkata dengan tajam ke arah mereka.


Kali ini gadis itu mengambil katana beracunnya dari ruang dimensi.Dia sudah sangat siap bertarung dengan pedang di tangan kanannya dan katana di tangan kirinya.


Melihat orang yang mengepung mereka mungkin berjumlah tiga puluhan orang atau lebih,Shuwan sangat sadar dia tidak boleh lengah sedikitpun.


Hal yang sangat benar dia menggunakan katana beracunnya.Itu adalah tiket ekspress untuk mengantar para penyusup itu menemui dewa yama.


Saat melirik pada tuan Li,dia melihat disekitar luka ayahnya menghitam. "Senjata mereka beracun."


Shuwan mengambil dua pil penawar racun dan memberikannya pada Li Minghao. "Cepat telan,dan berikan satu pada ayah.Senjata mereka beracun."


Mendengar ucapan adiknya,Li Minghao segera menelan pil tersebut,karena dia juga mendapat banyak luka.Lalu satu lagi dimasukan ke mulut sang ayah.


__ADS_1


__ADS_2