Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
SENJATA BARU


__ADS_3

"Kelompok mawar hitam." ucap Li Minghao dan Wang Xuemin bersamaaan.


"Kalian mengenal mereka?" tanya Shuwan penasaran.


"Semua orang mungkin tahu tentang kelompok itu.Mereka pembunuh bayaran paling kejam dengan bayaran sangat mahal,karena tingkat keberhasilannya sangat tinggi.98% tugas mereka berhasil." terang Wang Xeumin.


"Tapi mereka dua kali gagal saat bertemu dengan mu nona Shu." ucap Li Jingmi dari tempat kusir sambil tertawa.


"Lalu kenapa hari itu mereka menyerangmu, Minghao?Apakah serangan malam ini juga masih menargetkanmu?" Shuwan tampak memikirkan sesuatu.


"Tapi kereta yang kita gunakan milik kediaman Wang,dan itu bisa dikenali dengan mudah." sela Li Minghao.


"Mungkinkah...?"


"Nona Shu,kita sudah sampai di kediaman mu." suara Li Jingmi dari luar menghentikan ucapan gadis itu yang belum selesai.


"Mungkinkah apa?" tanya Li Minghao dan Wang Xuemin bersamaan. "Nanti saja lanjutkan obrolannya,aku lelah dan ingin segera tidur." Gadis itu langsung turun dari kereta bersama pelayannya.


Li Minghao dan Wang Xuemin yang dibuat penasaran hanya saling pandang dengan pandangan penuh tanya. "Sebenarnya apa yang sedang dia fikirkan?" tanya Li Minghao penasaran.


Wang Xuemin hanya mengedikkan bahunya tanda dia pun tak tahu. "Ayo pulang Jingmi!" Li Jingmi pun langsung mengendalikan kuda agar bergerak ke kediaman Li.


"Menginaplah di kediamanku.Aku takut mereka menyerangmu kembali saat kau sendirian di jalan." Li Minghao mencemaskan sahabatnya itu.Wang Xuemin hanya mengangguk menyetujui saran ucapannya.


"Kenapa mereka menyerangmu waktu melintasi hutan?Dan sekarang mereka menyefang lagi.Mungkinkah seseorang menginginkan kematianmu,Minghao?lalu membayar mereka"


Wang Xuemin mengungkapkan hasil pemikirannya.Sebagai jendral muda,dia sudah terbiasa menganalisis suatu kejadian,terutama yang berhubungan dengan perang atau penyerangan.


"Tapi siapa?Selama ini aku tidak pernah bermasalah dengan orang-orang kalangan atas." Li Minghao tampak berfikir atau mengingat sesuatu.


"Mungkin seorang gadis yang kau tolak,Minghao." sahut Li Jingmi dari tempat kusir sambil tertawa. Mereka tampak berfikir,namun hingga kereta tiba di kediaman Li,mereka belum mendapatkan jawabannya.


Mereka memasuki kediaman Li dan langsung memasuki paviliun Li Minghao.Mereka mengobati beberapa lebam dan luka sayatan pedang yang mereka dapat dari pertarungan tadi.


Orang-orang kelompok mawar hitam memang bukan orang sembarangan.Mereka sangat kuat dan ganas saat menyerang.Mereka juga pantang menyerah sebelum tugas selesai.


Pagi harinya,Li Minghao,Li Jingmidan Wang Xuemin sedang berkumpul bersama keluarga Li. "Hao'er,apa kau sudah membelikan pakaian dan perhiasan untuk Wan'er?"


"Belum bu,aku lupa." Li Minghao menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kenapa kau bisa lupa?Ibua kan sudah bil..hei,kenapa wajahmu lebam?" tanya nyonya Li sambil meneliti wajah putranya itu


"Min'er,kau juga ada disini?Ada apa dengan kalian?" tanya nyonya Li beruntun.

__ADS_1


"Ibu,kalau bertanya satu-satu dulu.Kalau beruntun seperti itu,aku bingung harus menjawab yang mana dulu." keluh Li Minghao pada sang ibu.


Apa uang terjadi pada kalian?" tanya tuan Li dengan santai.


"Tadi malam saat pulang dari lasar malam,kami diserang oleh sekelompok orang berpakaian swrba hitam yang menggunakan penutup kepala dan wajah.Shuwan bilang dia melihat tato bunga mawar hitam di tangan orang itu."


Li Minghao menjelaskan pada ayah dan ibunya. "Kelompok mawar hitam." beo tuan Li.


Ya ayah.Shuwan juga mengatakan orang-orang yang menyerangku saat melewati hutan juga memiliki tato yang sama." tambah Li Minghao lagi.


"Kenapa mereka menyerang kalian?Mereka hanya menargetkan dan menyerang seseorang bila ada yang membayar.Itu artinya ada orang yang menginginkan kematianmu."


Tiba-tiba udara disekitar menjadi dingin.Tuani Li mengelalkan tangannya dengan erat. "Siapa yang sudah berani menargetkan putraku?" geramnya menahan emosi


"Lalu,bagaimana keadaan Wan'er?apa dia terluka?Apa kalian juga terluka?" berondong nyonya Li sambil memutar tubuh putranya untuk memeriksa apakah ada luka atau tidak.


"Kami tak apa-apa bu.Hanya lebam dan,beberapa luka kecil,dan itu sudah diobati tadi malam." Li Minghao


"Paman Li,bibi Li .Aku harus pulang sekarang.Aku takut keluarga ku khawatir karena tadi malam aku tidak pulang."


"Ya.Hati hati di jalan.Kalau kusirmu belum bisa membawa kereta,bawalah kusir dari sini!" nyonya Li tidak pelit pada sahabat putranya itu.


"Ya bibi,tapi kami baik-baik saja.Kami peemisi." Wang Xuemin membungkuk hormat pada tuan dan nyonya Li,lalu mereka keluar dari kediaman Li.


"Ayah,sebaiknya kalian membuat adik perempuan untuk ku.Ibu sangat menginginkan seorang putri." ucapan Li Minghao membuat sang ayah menatap tajam ke arahnya.


"Kami sudah waktunya medapatkan cucu darimu,bukannya membuatkan adik untukmu!" dengus sang ayah kesal.


Li Minghao tak berkutik atas serangan balik yang dia dapatkan dari sang ayah. "Aku lagi kan yang kena,hanya karena aku belum mempunyai istri." keluh Li Minghao ngenes.


*****


Shuwan sedang berendam di danau kecil yang ada di ruang dimensi.


Setelah tadi melakukan olah raga rutinnya,dia memasuki ruang dimensi untuk menemui Yu zi.


Namun melihat air danau yang sangat jernih,dia malah masuk ke dalam danau dan berendam dengan nyamannya.


Tiba-tiba dia merasa kakinya menyentuh sesuatu. Dia mencoba mengangkat benda tersebut menggunakan kaki,namun kakinya malah tergores dan menimbulkan rasa perih.


Dia segera mengambil benda tersebut dengan tangannya.Ternyata itu sebuah pedang.


"Sepertinya aku pernsh melihat pedang ini,tapi dimana?" Shuwan tampak berfikir sambil memandangi pedang yang ada ditangannya.

__ADS_1


Otaknya terus berputar mencari informasi dimana dia pernah melihat pedang tersebut,namun tak kunjung mendapatkan jawaban.


Gadis itu segera keluar dari danau dan menuju rumah untuk mengganti pakaiannya yang basah. Setelah mengganti pakaian,gadis itu mencari Yu zi tanpa melepaskan pedang tersebut dari genggamannya.


"Yu zi,dimana kau?" Yu zi muncul dari kebun herbal lalu mendekati gadis itu. "Ada apa kau berteriak?" kelinci berbulu coklat itu terdengar tidak senang.


"Lihat ini! Aku menemukan pedang ini saat berendam di pinggir danau.Aku merasa pernah melihatnya tapi entah dimana.Aku tidak bisa mengingatnya."


"Itu pedang yang kau beli di pelelangan." Yu zi memberitahu gadis itu.


"Apa?Ini pedang rusak dan karatan itu?Jangan bercanda kamu.Ini pasti pedang yang berbeda."


"Aku tidak bercanda.Itu memang pedang yang kau beli.Aku sengaja menyimpannya di danau."


"Air danau itu bisa memulihkan pedang tersebut dengan energi spiritual yang terkandung didalamnya."


"Itu adalah bentuk asli dari pedang itu." Yu zi menjelaskan panjang lebar.


"Ini bagus sekali.Bobotnya juga pas,tidak terlalu berat atau ringan.Sepertinya aku akan menggunakan pedang ini saat berlatih dan bertarung."


Ucap Shuwan sambil memutar dan mengayunkan pedang itu seperti sedang bertarung.


"Kenapa sekarang kau jarang keluar,Yi zi?Kau bahkan tidak muncul saat kami diserang tadi malam!" Shuwan menatap Yu zi dengan tatapan menyelidik.


"Aku sedang sibuk memulihkan pedang itu agar kau bisa menggunakannya.Aku rasa pedang ini lebih bagus daripada pedang bengkok mu itu."


"Itu namanya katana,bukan pedang bengkok.Itu senjata kesayanganku selain belati kembar." gadis itu mengoreksi ucapan Yu zi.


"Terimakasih sudah memulihkan pedang ini hingga menjadi bagus.Aku keluar dulu Yu zi." gadis itu keluar dari ruang dimensi dan muncul dikamarnya.


"Nona!" terdengar suara Wei memanggil sambil mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa Wei?" Shuwan bertanya pada pelayannya itu setelah membuka pintu kamar. "Ada tuan muda Li di depan."


"Mau apa dia kesini pagi-pagi?" Wei hanya menggelengkan kepalanya.Shuwan pun segera pergi menemui Li Minghao.


"Shu,ibu menyuruhku menjemputmu.Ibu bilang akan mengajakmu ke suatu tempat." ucap Li Minghao tanpa ditanya setelah Shuwan menghampirinya.


"Kemana?" gadis itu bingung dia mau diajak kemana.Li Minghao mengedikkan bahunya.


"Ayo berangkat! Ibu sudah menunggu."


__ADS_1


__ADS_2