Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
PATUNG HIDUP


__ADS_3

Setibanya di kediaman barunya,Shuwan melihat beberapa orang berpakaian pelayan sedang membereskan rumahnya.Begitu melihat kedatangan mereka,beberapa orang menghentikan kegiatannya lalu menyapa mereka.


"Tuan muda Li,tuan muda Wang,nona Shu." sapa mereka sambil membungkuk hormat. "Lanjutkan saja!" Minghao memerintahkan.Mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Shuwan berjalan ke arah dapur,Wei yang melihatnya langsung menyusul."Nona,anda mau kemana?" "Aku akan memasak agar kita bisa makan bersama."


"Kau bisa memasak?" Xuemin tak percaya seorang nona muda bisa memasak di dapur. "Tentu saja,bahkan masakannya lebih enak dari masakan di restoran." Li Jingmi menjawab dengan antusias.


"Benarkah?Aku tak sabar ingin segera mencicipinya." Xuemin dibuat penasaran oleh ucapan Li Jingmi. "Aku jamin kau akan ketagihan." Li Jingmi semangat sekali,seolah-olah sedang mempromosikan masakannya sendiri.


Setelah beberapa lama,Shuwan dan Wei datang membawa beberapa masakan yang dari aromanya saja sudah sangat menggugah selera.


Para pelayan yang dikirim nyonya Li untuk membersihkan rumah itu menghampiri mereka untuk pamit."Kalian tidak boleh pulang sebelum makan." Shuwan berkata dengan tegas


"Tapi nona,kami..." "Cepat duduk dan makanlah!Aku memasak banyak agar kita makan bersama" para pelayan itu menatap tuan muda mereka seolah sedang bertanya.


Shuwan yang melihat tatapan para pelayan itu terarah pada Li Minghao,langsung mengerti. "Kalian takut padanya?tenang saja,ini kediamanku,bukan kediaman keluarga Li.Aturan disana tidak berlaku disini.Cepat makan!" Shuwan tidak ingin dibantah.


"Makanlah! Jangan membuatnya marah." setelah mendengar tuan mudanya bicara seperti itu,mereka mengambil makanan dan pergi ke ruangan sebelah.Shuwan yang menyaksikannya hanya mendengus kesal.


Selesai makan,para pelayan itu pamit dan langsung kembali ke kediaman Li. "Nona Shu,kau pasti membutuhkan pelayan.Akan ku sisakan satu orang disini untukmu.."


"Tidak perlu tuan muda,ada saya disini." Wei dengan cepat menjawab ucapan Li Minghao


Wei sudah berjanji dalam hatinya,dia akan melayani gadis itu,sejak dia menyelamatkannya dari para perampok di hutan waktu itu


"Nona Shu,masakanmu sangat lezat.Aku tidak keberatan bila harus sering menikmatinya" Xuemin memuji dengan tulus,masakan gadis itu memang sangat lezat dilidahnya.


"Apakah kediaman Jendral besar Wang tidak memiliki koki hingga kau tak bisa makan enak?" Li Jingmi mencibir.


"Ayo kita lihat ke area belakang." Shuwan mengajak mereka untuk melihat ke belakang rumah tersebut.


"Area belakang ini lumayan luas,bisa untuk olahraga dan berlatih." gumam Shuwan dalam hati.Dia sudah merancang banyak hal dan mengatur jadwal kegiatan hariannya.Olahraga dan berlatih sangat penting dan masuk list paling atas dalam jadwalnya.


Tanpa terasa,matahari telah kembali ke peraduannya.Ketiga pria itu langsung pamit pada pemilik rumah.

__ADS_1


"Nona Shu,kami pulang dulu.Anda tidak keberatan bila saya datang lagi kesini?" Xuemin sepertinya benar benar menyukai gadis itu,dan masaknnya.Shuwan hanya mengangguk sebagai jawabannya


"Nona Shu,datanglah ke kediaman Li kapan-kapan,ibu pasti senang dengan kedatanganmu." Li Minghao tersenyum saat mengatakan itu. "Bukan hanya ibu,akupun sangat senang bila kau datang." tapi ucapan itu hanya bisa dia ucapkan dalam hatinya.


***


Shuwan sedang melakukan olah raga pagi.Berlari mengitari halaman belakang yang tak terlalu luas,melakukan gerakan ringan,dilajutkan dengan berlatih beladiri dan berpedang menggunakan katana kesayangannya.


"Nona,anda telah berlatih sejak tadi dan belum sarapan." Wei mengkhawatirkan sang nona. "Ya.Sebentar lagi."


Selesai berlatih,Shuwan menghampiri Wei yang sedang duduk menonton kegiatannya. "Mulai besok,kau harus ikut olah raga dan berlatih beladiri bersamaku! Bila suatu saat bertemu dengan orang yang berniat jahat padamu,kau bisa melawan mereka." Wei hanya mengangguk mendengar ucapan nona nya yang lembut namun tegas itu


"Ya nona,aku berlatih dengan rajin.Aku ingin hebat dan kuat seperti nona." Wei bertekad dalam hatinya.


"Ayo kita sarapan.Dimana Yu zi?Aku tak melihatnya sejak kemarin." "Tadi dia ada disana." Wei menunjuk semak-semak tempat tadi dia melihat Yu zi.


Siang hari,Shuwan mengajak Wei pergi ke pasar.Dia berencana membeli beberapa bibit sayuran dan bahan makanan untuk kebutuhan harian mereka.Meskipun dia memiliki semua benda di ruang dimensi,tapi tidak bisa mengambil dari sana terus menerus.Wei akan curiga


Jadi dia akan menanam beberapa tanaman di halaman depan dan belakang rumahnya.


Shuwan belum tahu dunia yang dia tinggali itu seperti apa,jadi belum ada rencana apa-apa untuk kedepannya.Nikmati saja waktu santainya.Lagipula di zaman modern,dia belum pernah memiliki waktu bersantai seperti ini.


Wei sedang membuat lubang-lubang di tanah untuk menanam bibit,dan Shuwan yang menanam bibit-bibit tersebut saat suara seseorang terdengar dari belakang tubuh mereka


"Apa yang sedang kalian lakukan?" suara seseorang membuat Shuwan menoleh ke sumber suara. "Menanam beberapa tanaman,sayuran,dan beberapa rempah yang bisa dijadikan bumbu.Ada apa tuan muda Li?"


"Panggil Minghao saja agar terdengar akrab.Kita seperti orang asing kalau kau terus memanggilku tuan." Shuwan mengangguk mendengar ucapan Minghao. "Kami akan pergi ke pelelangan.Ikutlah!mungkin kau akan mendapatkan sesuatu disana." lanjut Minghao


"Hei,kalian melupakanku" seseorang muncul dengan raut wajah tak senang.


"Xuemin.Kenapa kau kesini?"


"Memangnya kenapa?tidak boleh? Aku tadi ke kediaman mu,tapi bibi Li bilang kamu kesini.Aku susul saja."


"Kalian mau ke pelelangan?ayo pergi bersama.Aku membawa kereta kuda?"

__ADS_1


"Kami juga membawanya,kau tidak lihat didepan?" Li Jingmi tak mau kalah


"Baiklah,aku ikut kalian saja.Biarkan kusirku pulang." Xuemin lebih memilih bersama mereka daripada sendirian di kereta kudanya.


"Memangnya ada apa di pelelangan?" Shuwan penasaran barang apa yang di lelang di zaman ini. "Banyak.Ada senjata,perhiasan,herbal langka.Apa saja." Xuemin menjawab dengan semangat.


"Baiklah,aku akan mandi dan bersiap dulu.Wei kau juga mandi dan bersiap lah!" lalu kedua gadis itu masuk ke rumah, meninggalkan para pria di halaman belakang.


Setelah kedua gadis itu siap,mereka langsung menaiki kereta lalu berangkat ke pelelangan.


Tiba-tiba kereta terguncang disertai ringkikan kuda didepan. "Ada apa?" Shuwan penasaran.Dia menyibak tirai kereta dan melihat ternyata didepan ada kereta kuda juga tampilannya sangat mewah.


"Apa yang kau lakukan?ceroboh sekali!" bentak seseorang.Kelima orang itu langsung turun dari kereta dan berjalan mendekati kusir.


Saat Xuemin melihat kereta mewah dan kusir yang ada dihadapnnya,dia langsung membungkuk "Jendral Yuwen.Mohon maafkan kami."


Kedua tuan muda Li dan Wei terkejut Mendengar ucapan Xuemin.Jendral Yuwen,mereka tahu betul siapa orang itu.Bukankah dia pengawal pribadi dari...


Meskipun Wei berasal dari kampung,tapi dia telah mendengar dan mengetahui beberapa nama besar yang tidak boleh disinggung bila masih menyayangi nyawa.


Seseorang keluar dari kereta mewah tersebut.Mereka terpaku melihat orang yang baru saja keluar dari kereta.Tiba-tiba suhu disekitar turun drastis.Angin dingin berhembus dengan kencang hingga membuat keempat orang itu menggigil.


Pria tampan berpakaian mewah dengan rambut hitam panjang yang bagian atasnya diikat dan bagian bawahnya dibiarkan tergerai indah,hidung mancung,rahang yang tegas,mata tajam yang dihiasi alis tebal yang melengkung seperti pedang,bibir yang....


Bukan kesempurnaan fisik pria itu yang membuat mereka terpaku,tapi sosok itu.Sosok yang sangat ditakuti oleh hampir seluruh penduduk negri dan orang yang paling mereka hindari.


Suasana tiba-tiba mencekam.Keringat dingin sudah menetes di dahi dan punggung mereka.Ini bukan hal baik


Namun tidak demikian dengan seorang gadis yang berada diantara mereka,dia terlihat acuh dengan suasana sekitar.Siapa lagi kalau bukan Shuwan.Lagipula dia tidak tahu siapa orang itu,jadi tidak memiliki kesan apa apa selain mengagumi ketampanan pria tersebut.


"Ya...yang...yang mulia.. Maafkan kami.." ucap mereka berempat kompak dengan terbata sambil tetap dalam posisi membungkuk.Kecuali Shuwan yang masih saja memandang pria yang baru kali ini dia lihat itu.


Pria itu tak mengatakan sepatah katapun,dia hanya menatap mereka dengan tajam dan mengintimidasi.


"Apakah dia bisu?atau,dia patung yang bisa bergerak?" Shuwan yang kesal karena pria itu tetap mematung,sedangkan teman-temannya masih membungkuk meminta maaf padanya langsung melontarkan kata kata yang mungkin membuatnya kehilangan nyawa....

__ADS_1


Sraing....


__ADS_2