
"Apakah dia bisu?Atau,dia patung yang bisa bergerak?"
Ucapan Shuwan membuat semua orang yang ada disana terkejut
"Gadis ini,memanggil mautnya sen..."
Sraing...wuss... Tiba-tiba sebuah pedang melintas didepan leher Shuwan.Beruntung refleks gadis itu sangat luar biasa.
Dia langsung menghindar begitu merasakan sesuatu mendekat ke arahnya.jika tidak...
"He kusir! Kenapa patung hidupmu ini menyerangku?" Shuwan berteriak kesal ke arah Yuwen.
Pria itu kembali menebaskan pedangnya ke arah Shuwan.Dengan cepat Shuwan menghindar.
Dia segera mengambil katana nya dari ruang dimensi dan menggenggam gagangnya dengan erat.
"Pria sialan ini!" gadis itu menggeram kesal.
pria itu kembali menhunuskan pedang ke arahnya.
Trang.suara besi beradu dengan keras.Shuwan menangkis pedang pria itu dengan katana nya.
Untung dulu dia membuat katana nya dari bahan berkualitas tinggi,kalau dari bahan biasa mungkin sudah patah oleh pedang pria itu.
Pria itu semakin gencar menyerang Shuwan.Dia melesat cepat sambil mengarahkan pedangnya pada tubuh gadis itu.
Trang...trang...gadis itu bukan hanya menangkis dan bertahan,dia juga melakukan serangan balik pada pria yang terus menyerangnya.
Minghao dan teman-temannya melihat pertarungan Shuwan dengan jantung yang terus berdegup kencang.
Mungkin hari ini akhir dari hidup gadis itu.Begitulah pikiran mereka.
Menyadari pria itu sungguh-sungguh ingin membunuhnya,Shuwan mengerahkan semua kemampuan bertarung dan bertahannya.
"Aku tidak boleh kalah dari pria ini.Aku tidak boleh mati ditangannya." gumam Shuwan penuh tekad.
Mereka terus bertarung tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.Gerakan mereka sangat indah seperti sedang menarikan tarian pedang,namun sangat mematikan.
Itu adalah pertarungan dua orang yang penuh dengan tekad
Si pria dengan harga diri yang menjulang tinggi ke langit,dia merasa harga dirinya ternoda bila tidak bisa membunuh gadis kecil yang mengatainya patung yang bisa bergerak/patung hidup
Sedangkan si gadis yang menjadi lawannya hanya berusaha mempertahankan nyawa satu-satunya yang dia miliki,yang hendak direnggut oleh pedang si pria.
Bila dia kalah,bisa dipastikan dia akan berpindah alam.Maka dia harus terus berjuang.
Trang....trang ...sreet.....pedang si pria berhasil menggores punggung si gadis saat dia berputar untuk menghindar.
"Shuwan." "Nona Shu " "Nona." teman-temannya berteriak bersamaan saat melihat pedang si pria menggores punggungnya dan darah membasahi baju yang dia kenakan
Shuwan mengernyit merasakan sakit dipunggungnya."Pria sialan!" Shuwan menggeram marah.
Syuut..syut..syut...Shuwan melemparkan beberapa jarum beracun ke arah pria itu.
Saat pria itu sibuk menghindari dan menangkis jarum-jarum beracun,Shuwan melesat dengan cepat ke arah si pria dan menebaskan katana nya.
Sraakk.Dia berhasil menggoreskan katana nya pada dada pria itu.Dia melihat sedikit cairan merah menempel di katana nya.
__ADS_1
Shuwan menyeringai.Sepertinya pria itu terluka.Hanya perlu menunggu sebentar lagi.Itupun jika tubuhnya tidak kebal terhadap racun
Yuwen menatap tak percaya pada kedua orang yang sedang bertarung. "Gadis kecil itu,melukai yang mulia?"
Baru kali ini dia melihat sda seorang gadis kecil yang bisa mengimbangi tuannya dalam bertarung,bahkan berhasil menggores tubuhnya.
Dirinya sendiri tak yakin mampu melukai tuannya bila bertarung
Keduanya masih bertarung namun tak sesengit tadi.Sepertinya racun dari senjata si gadis mulai bekerja pada tubuh si pria.Serangannya mulai melemah dan melambat.
Bruk.Pria itu tiba-tiba jatuh dengan posisi berlutut.Dia merasakan sakit di dada dan.....lengan kirinya?pria itu mengernyit heran.
"Bukankah gadis itu hanya melukai dadaku?" dia meraba tangan kirinya yang berdenyut sakit,dia mendapati satu jarum menancap di tangan kirinya.
Yuwen dengan cepat menghampirinya "Yang mulia.Apa yang terjadi?" Yuwen tahu betul ketahanan tubuh tuannya itu.Satu tebasan senjata tak mungkin menumbangkannya.
"Cepat pulang!" mendengar perintah sang tuan,Yuwen langsung memapah tuannya ke dalam kereta,lalu dia duduk ditempat kusir dan mengendalikan kuda melaju dengan cepat
Sedangkan gadis itu dan teman-temannya sudah pergi sejak tadi.
Sesampainya di kediaman sang tuan,Yuwen langsung membawanya ke dalam kamar, "Cepat panggil tabib!" Yuwen berteriak pada penjaga gelap sang tuan.
"Yang mulia.Apa yang terjadi?" Yuwen memeriksa dada sang tuan.Lukanya tidak seberapa,namun luka itu sudah menghitam."Racun?gadis kecil itu " Yuwen menggertakkan giginya menahan amarah
"Yang mulia,maaf, aku harus membuka pakaian anda" pria itu hanya mengangguk.
Bukan hanya perih dan berdenyut di dada nya,nafasnya mulai sesak,pria itu juga merasakan kebas di lengan kirinya.
"Apa ini?kenapa lenganku sulit digerakkan?" batin pria itu yang terus mencoba menggerakkan lengannya. "Gadis kecil itu."
"Ada apa? Yuwen bertanya dengan cemas.
"Racunnya sangat berbahaya jendral,bila besok pagi belum diobati,nyawa yang mulia..." si tabib tak bisa melanjutkan kata-katanya
"Bagaimanapun caranya,kau harus menyelamatkan yang mulia!" perintah mutlak Yuwen pada sang tabib
Tabib sudah berkeringat dingin.Bukan hanya tidak memiliki penawarnya,dia bahkan tidak tahu racun apa itu.Bila dia tidak bisa menyelamatkan sang majikan,itu juga berarti hari kematiannya.
***
Di kediaman Shuwan
Wei tak kalah panik.Dia segera membaringkan nona nya dalam posisi telungkup.Dia merobek pakaian sang nona bagian punggungnya.
Luka sayatan pedang itu panjang dan agak dalam.Wei bangkit dari tempat tidur sang nona dan hendak keluar.
"Mau kemana Wei?" "Nona,saya akan meminta tuan muda memanggil tabib."
"Tidak perlu Wei.Apakah lukanya besar?" gadis pelayan itu mengangguk.
"Kemarilah! Aku akan memandu mu." Wei kembali mendekati nona nya yang berada di tempat tidur.
"Bersihkan lukanya dengan ini!" gadis itu memberikan sebotol alkohol dan kapas.
"Basahi kapasnya,lalu oleskan untuk membersihkan lukanya!" Wei melakukan perintah sang nona.
"Kau bisa menjahit pakaian,Wei?" gadis itu mengangguk.
__ADS_1
Shuwan memberikan benda kecil dengan bentuk melengkung yang memiliki ujung runcing,dan ujung satunya memiliki lubang, yang sudah terdapat benang dilubangnya.
Gadis itu juga memberikan satu botol anastesi spray.
"Semprotkan ini pada lukaku Wei!" Shuwan memberikan botol kecil itu pada Wei.Wei melakukan perintah sang nona.
Setelah menunggu beberapa detik,Shuwan memberikan jarum jahit luka pada gadis itu.
Dia memilih benang yang dapat menyatu dengan jaringan kulit hingga tidak perlu dilepaskan bila lukanya telah sembuh nanti
"Jahitkan luka ku Wei!"
"Tapi saya tak bisa nona."
"Lakukan seperti kau menjahit pakaian!" Wei mengambil jarum itu dan menusukkannya pada punggung Shuwan diujung lukanya.
"Apakah sakit nona?" Wei ngilu sendiri saat menusukkan jarum itu ke punggung sang nona.
"Tidak Wei.Obat yang tadi kau semprotkan adalah penghilang nyeri.Teruskan jahitnya sampai ujung lukanya!" Wei menjahit luka sang nona dengan tangan bergetar.
Setelah beberapa menit,Wei bisa bernafas lega karena kegiatannya telah selesai.
Dia mengembalikan semua benda tadi dan mengganti pakaian sang nona.
Diluar kamar,Li Minghao,Li Jingmi dan Wang Xuemin menunggu dengan gelisah.
Gadis itu menolak dipanggilkan tabib,tapi sampai sekarang kedua gadis itu belum keluar juga dari kamar.
Ingin sekali mereka menerobos masuk untuk mengetahui keadaan gadis itu,tapi pintunya dikunci dari dalam.
Setelah beberapa lama Wei membuka pintu kamar. "Bagaimana keadaan nona Shu?" tanya mereka bersamaan. "Nona baik-baik saja tuan muda."
"Kalian pulanglah! Aku ingin istirahat!"
"Tidak.Kami akan tetap disini menjagamu." ucap mereka bertiga.Benar-benar kompak
"Wei,bantu aku kesitu!" Wei memapah nona nya ke ruang tamu dan duduk disebuah kursi.
Dia tidak mungkin membiarkan para pria itu memasuki kamarnya,jadi dia yang keluar dari kamar
Shuwan duduk dengan hati-hati agar punggungnya tidak menempel pada sandaran kursi.
Punggungnya masih terasa berdenyut walau dia sudah meminum obat penghilang nyeri.
"Siapa pria sialan itu?Dia hampir menebas leherku dan membuatku berpindah alam.Padahal aku tidak menyinggungnya."
Shuwan tampak penasaran dengan pria yang bertarung dengannya tadi hingga membuat mereka gagal pergi ke pelelangan
"Dia adalah panglima perang negeri ini,pemimpin pasukan di perbatasan utara,dia merupakan pangeran ke empat,putra kaisar penguasa negri,namanya Huang Zixin."
"Dia juga sepupu Wang Xuemin." Li Minghao menjelaskan dengan sabar.
"Benarkah?" gadis itu melirik Wang Xuemin sekilas.
"Dia bukan hanya panglima perang dan pemimpin pasukan,tapi juga malaikat pencabut nyawa.Raja neraka di dunia,dan julukan paling terkenal untuknya adalah Dewa Kematian."
"Sepertinya dewa kematian itu akan mati malam ini." Shuwan tersenyum sinis lalu menyeringai,membuat para pria itu merinding sekaligus penasaran.Apa maksud gadis itu?
__ADS_1