Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
KEDATANGAN PANGERAN PERTAMA KE ISTANA


__ADS_3

"Maaf putri,kami akan kembali ke istana pangeran keempat." Yuwen langsung mengatakan hal itu begitu kedua tuannya terlihat mendekat ke arah dia dan keretanya berada.


Yuwen menarik napas lega,merasa sang pangeran dan istrinya adalah penyelamatnya saat ini.Sejak tadi kepalanya dibuat sakit oleh tingkah putri bungsu kaisar itu.


Bibir mungilnya tak berhenti membicarakan atau menanyakan hal-hal yang menurut Yuwen tidak penting.


Andai saja gadis itu bukan adik dari tuannya, mungkin sudah sejak tadi gadis itu kehilangan nyawanya.


"Yang mulia,kemana lagi tujuan kita kali ini?" Yuwen langsung menghampiri Huang Zixin dan Shuwan yang jaraknya semakin dekat dengannya.


Ini adalah kesempatan emas baginya untuk menjauh dari putri Meilan,maka jangan disia-siakan.


"Pulang" jawaban singkat dari sang pangeran langsung membuat Yuwen merasakan kebahagiaan yang sangat besar.


"Akhirnya pulang juga." ucapnya dalam hati sambil menghela napas lega.


Setelah pasangan suami istri itu memasuki kereta,Yuwen langsung duduk di tempat kusir lalu segera melajukan kereta.


Sementara putri Meilan masih berdiri dengan tatalan kosong melihat kepergian Yuwen.


"Apakah mereka memang sangat akrab?" Shuwan membuka obrolan dengan bertanya pada suaminya yang sejak tadi berwajah masam itu.


"Siapa?" tanya sang suami singkat. "Yuwen dan adik bungsumu itu?" tanya Shuwan lagi.Huang Zixin hanya mengedikan bahu tanpa mengatakan apapun.


"Dasar patung hidup." rutuk Shuwan dalam hati. Tiba-tiba dia membayangkan kehidupannya yang sangat membosankan bersama patung hidup itu.


Tiba-tiba dia sangat berharap pria itu segera pergi ke barak militer di perbatasan,agar hidupnya yang membosankan segera berakhir.


Dia ingin segera berpetualang bersama Yu zi ke tempat-tempat yang belum pernah dia kunjungi. Tujuan utamanya tentu saja gunung Shuyun,yang menurut Yu zi merupakan tempat markas kelompok mawar hitam berada.


Huang Zixin menatap heran pada istrinya yang diam saja seperti sedang melamun.


"Sedang memikirkan apa hm?" Shuwan melirik suaminya saat mendengar pertanyaan yang dia ucapkan.


"Aku merindukan kedua kakak ku dan Xuemin. Bepergian bersama mereka sangat menyenangkan.Selalu ada pembicaraan sepanjang perjalanan."


"Pergi denganmu seperti pergi sendiri.Kau seperti patung yang hanya duduk dalam diam." Shuwan cemberut saat mengatakan itu.


Shuwan memang dingin dan acuh pada orang yang belum dia kenal,tapi dia hangat dan bersahabat dengan orang-orang terdekat dan keluarganya.

__ADS_1


Sekarang suaminya malah bersikap seperti sedang bersama dengan orang lain,tetap dingin dan datar.Tentu saja dia merasa kesal.


"Sebagai istriku,kau tidak dilerkenankan memikirkan pria lain!" Huang Zixin memandang Shuwan dengan tajam dan rahang yang mengeras.


Apa yang dipikirkan istri kecilnya sangat membuatnya tidak senang.


"Bisa-bisanya dia memikirkan tiga orang pria sekaligus saat sedang bersamaku." Huang Zixin menggertakan giginya.


Pria itu menghela napas beberapa kali lalu bertanya pada istrinya,"Memangnya apa yang ingin Wan'er bicarakan?"


Shuwan hanya mendengus sambil memalingkan wajahnya,dan menjawab dengan nada yang sangat malas,"Tidak ada,aku ngantuk." dan dia langsung memejamkan matanya.


Huang Zixin melebarkan matanya mendengar jawaban Shuwan."Bukankah tadi dia yang ingin mengobrol?Aku bersedia mengobrol tapi dia malah tidur?"


Pria itu menggelengkan kepalanya dan hanya bisa menghela napas beberapa kali."Kenapa wanita sulit dipahami?" gumamnya pelan.


Shuwan yang awalnya pura-pura tidur karena kesal pada suaminya,malah tertidur didalam kereta.


Dia yang tidur disamping suaminya dalam posisi duduk terlihat tidak nyaman dan terus bergerak. Hingga pria itu meletakan kepala sang istri diatas pahanya dan wanita itu tidur dengan nyaman.


Hingga kereta memasuki halaman istana ke empat,Shuwan masih tenggelam dalam tidur lelapnya.


"Buka tirainya!" Yuwen langsung membuka tirai kereta setelah sang pangeran memberinya perintah.


Huang Zixin turun dari kereta sambil menggendong istrinya yang masih terlelap,ketika Yuwen memegangi tirai keretanya.


Sang pangeran langsung berjalan menuju kamar tidurnya dan meletakan tubuh Shuwan diatas tempat tidurnya yang besar dan nyaman.


Pria itu juga ikut berbaring disamping tubuh istrinya.Baru beberapa tarikan napas dia berbaring,pria itu duduk lalu bangkit menuju meja yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya.


Dia ingat pada hadiah pernikahan yang diberikan oleh kakak ketiganya dimalam pernikahannya kemarin.


Dia belum sempat melihat hadiah yang diberikan orang-orang padanya karena malam itu langsung terjadi kekacauan yang sangat besar di istananya.


Huang Zixin membuka kotak berwarna biru itu. Dia ingat kakak ketiganya itu menyuruhnya untuk mempelajarinya.


"Memangnya apa yang dia berikan sebagai hadiah,hingga aku harus mempelajaringa?Apakah tentang strategi perang?"


Ketika kotak hadiah telah terbuka,Huang Zixin mengernyitkan dahi melihat isi dari kotak itu.

__ADS_1


"Sebuah buku?" Dia membolak-balik buku itu lalu membuka beberapa halamannya.Dia baca setiap tulisan yang ada dibawah gambar.


"Oh...buku tentang hubungan suami istri?" wajahnya tampak serius membaca dan membolak balik halaman buku itu.


Aih..si perjaka ting-ting yang tidak pernah menyentuh wanita itu benar-benar....


***


Istana kekaisaran


Kereta pangeran pertama memasuki halaman istana kekaisaran.Kereta itu terus melaju menuju istana pribadinya yang terletak disebelah timur dari gerbang utama.


Saat dia melewati paviliun persik milik putri Meilan,dia melihat gadis itu sedang duduk dibangku taman di halaman depan istananya.


"Berhenti!" perintahnya pada sang kusir.Pria itu keluar dari kereta setelah kusir menghentikan kereta.


Dia berjalan memasuki gerbang paviliun persik dan menghampiri sang adik yang sedang menikmati angin sore ditemani beberapa pelayan dan beberapa camilan yang tersaji diatas meja.


"Apa yang dilakukan putri kecil disini hm?" putri Meilan mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


"Kakak pertama?Kakak dari mana saja?Kakak bahkan tidak menghadiri pernikahan kakak ke empat." ucap gadis itu cemberut.


Sebagai anak perempuan satu-satunya diantara empat orang anak laki-laki,dia selalu manja pada kakak-kakaknya.


Terutama pada kakak pertama dan kakak ketiga yang selalu memanjakannya.Dia tidak terlalu dekat pada kakak keduanya yang selalu sibuk menghabiskan waktu dengan wanita-wanita cantik.


Begitu juga dengan kakak keempatnya.Mereka tidak terlalu dekat karena pria itu menghabiskan waktunya di barak militer di perbatasan utara,dan sangat jarang berada di ibu kota.


"Ya,bisnis kakak di kota lain ada yang bermasalah, jadi harus segera diselesaikan.Kalau tidak segera diselesaikan takutnya kakak bangkrut dan tidak bisa memberimu tael yang banyak lagi." ucap pangeran pertama sambil tersenyum menggoda adiknya.


"Bagaimana pernikahannya?Apakah berjalan lancar?" sang kakak bertanya dengan antusias.


"Awalnya berjalan lancar,tapi setelah para tamu pulang dan kami hendak beristirahat,tiba-tiba istana kakak keempat diserang orang-orang berpakaian serba hitam." putri Meilan mulai bercerita.


"Diserang?Bagaimana bisa?Siapa yang berani menyerang istana raja perang?Apalagi dihari pernikahannya." pangeran pertama tampak menahan emosi.


"Entahlah,jendral muda Wang bahkan terluka sangat parah karena terus menerus melindungiku.Entah bagaimana keadaannya sekarang." tampak kesedihan dalam nada bicara sang putri.


"Lalu bagaimana dengan yang lain?Apa ada yang terluka?Apakah penyerang itu tertangkap?" putri Meilan menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang kakak.

__ADS_1


Dia memang tidak tahu kejadian diseluruh istana pada malam itu.Dia hanya tahu kejadian yang terjadi didepan matanya.


__ADS_2