Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
PERSIAPAN PERNIKSHAN 2


__ADS_3

Tak berbeda jauh dengan sang putri,nyonya besar Wang pun sedang mengeluarkan barang-barang berharga yang sudah dia siapkan untuk pernikahan sang cucu.


Beruntung jendral Wang Haocun menyimpan benda-benda itu diruang rahasia bawah tanah,hingga tak hancur saat ada penyerangan di kediamannya beberapa hari lalu.


Berkotak-kotak perhiasan,kain sutra dan brokat mewah,semua sudah disusun rapi dan akan dibawa ke istana pangeran ke empat untuk selanjutnya diserahkan ke kediaman Li sebagai mahar pernikahan untuk Shuwan.


Ketika mereka selesai membereskan barang- barang itu dan akan membawanya ke istana pangeran ke empat,ternyata hari sudah gelap dan sore telah berganti dengan malam.


Terpaksa jendral tua Wang dan istrinya itu bermalam di kediamannya yang perbaikannya sebentar lagi rampung itu.


Tidak memungkinkan pergi ke istana pangeran ke empat dimalam hari,karena jarak yang jauh juga jalan yang dilalui banyak daerah sepi dan tanpa penduduk.


"Suamiku,kenapa rasanya malam ini sangat lama?Kenapa matahari tak kunjung terbit?Aku ingin segera pergi mengantarkan barang-barang ini untuk cucu menantuku."


Nyonya tua Wang gelisah dan tak bisa tidur sepanjang malam.


"Yang akan menikah itu cucumu,kenapa kau yang gelisah dan tidak sabaran?" jendral tua Wang menatap heran pada sang istri.


Huang Zixin sudah berusia dua puluh delapan tahun.Pria lain yang seusia dengannya kebanyakan telah memiliki istri dan anak,namun pria itu masih lajang.


Begitu mendengar dia bersedia menikah,tentu saja membuat keluarganya bahagia dan antusias.


***


Sementara di istananya,pria dingin itu sedang membaringkan tububnya diatas tempat tidur yang sangat nyamana dan mewah


Dia menatap langit-langit kamarnya tanpa henti. Entah yang ada dalam penglihatannya diatas sana.


Pria itu memejamkan mata,dan seketika dia melihat gadis yang sebentar lagi akan dia nikahi sedang menatapnya dengan senyum yang merekah indah diwajah cantiknya.


Pria itu langsung membuka mata,dan yang dia lihat adalah langit-langit kamarnya. "Kenapa seperti ini lagi?"


Kemarin malam dia sudah tersiksa karena tak bisa tidur sepanjang malam.Apakah malam ini dia juga harus mengalami hal yang sama dengan kemarin malam?


Itu terjadi karena setiap dia memejamkan mata,wajah gadis itu yang terlihat dalam berbagai kejadian.


Huang Zixin membalikan tubuhnya menjadi telungkup,dan kembali memejamkan matanya. Namun dia malah melihat gadis itu sedang duduk dibangku taman tepi danau aula kekaisaran.


Pria itu langsung bangkit dan keluar dari kamarnya.Dia berjalan ke sembarang arah tanpa tujuan.

__ADS_1


Namun dia malah berpapasan dengan sang paman,Wang Xingsheng,yang merupakan ayah Wang Xuemin.


"Paman?Kenapa belum tidur?" tanya pria itu pada sang paman.


"Pangeran,paman mengkhawatirkan kakek,nenek, dan ibumu.Mereka bermalam dikediamannya atau kemalaman dijalan?" ucap sang paman penuh kekhawatiran


"Mereka bermalam dikediamannya paman. Pengawal yang melapor mengatakan bahwa mereka membereskan barang-barang hingga matahari terbenam.Entah barang apa yang mereka bereskan?"


Sang pangeran menggelengkan kepala melihat kelakuan para orang tua itu.


Penjelasan Huang Zixin membuat beban berat dihati sang paman seketika menghilang. Kekhawatiran yang menyelimuti hatinya menguap entah kemana.


"Pangeran sendiri kenapa belum tidur?" tanya sang paman menatap keponakannya itu.


"Sudah beberapa malam aku tak bisa tidur paman." "Kenapa?Apa pangeran sakit?" tanya sang paman khawatir.Pria itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Ada apa?Apa ada hal yang pangeran pikirkan?Berbagilah dengan paman,mungkin paman bisa membantu." ucap pria paruh baya itu tulus.


Pria itu menatap sang paman dengan lekat,lalu menghela napas dengan kasar.


"Entahlah paman.Akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh." sang paman menunggu dengan sabar saat keponakannya itu menjeda ucapannya untuk beberapa lama.


"Bukan hal serius paman,tak perlu dipikirkan." ucap Huang Zixin akhirnya,membuat sang paman mengerutkan keningnya.


Dia terbiasa membicarakan segala hal dengan pengawalnya itu,dan tak terbiasa berbicara banyak dengan orang lain.


Malam ini terasa begitu panjang bagi beberapa orang.Terutama bagi nyonya besar Wang,selir Xuangqi,dan tentu saja pangeran ke empat yang tak bisa memejamkan matanya sepanjang malam.


****


Sebelum matahari menunjukkan dirinya,kedua wanita keluarga Wang itu telah sibuk ditempat masing-masing.


Nyonya besar Wang dan selir Xuangqi sama- sama mengawasi para pelayan dan pengawal yang sedang memindahkan barang-barang berharga dari kamar ke kereta kuda.


Mereka berdua ingin segera pergi ke istana pangeran ke empat.


Saking banyaknya barang-barang itu,mereka harus menggunakan kereta khusus untuk barang,tidak bisa dibawa dalam kereta pribadi mereka.


Setelah selesai memuat barang ke dalam kereta, ibu dan anak itu segera menaiki kereta dan pergi ke tempat tujuan yang sama,yaitu istana pangeran ke empat.

__ADS_1


"Kusir,jalan lebih cepat!Kenapa kudanya lamban sekali?" keluh selir Xuangqi dari dalam kereta. Sementara si kusir sangat ingin menangis mendengar keluhan sang majikan.


Apanya yang lambat?Dia sudah mengerahkan kuda agar berlari dengan kecepatan maksimal. Majikannya saja yang tidak sabaran.


Setelah menempuh perjalanan panjang selama tiga jam kurang,kereta selir Xuangqi tiba di istana pangeran keempat.


Wanita itu segera turun dari kereta dan langsung memasuki istana.


Selir Xuangqi sengaja tidak menurunkan barang-barang dari kereta,karena itu akan langsung diantarkan ke kediamana Li.


Tak lama setelah selir Xuangqi masuk ke dalam istana,kereta Jendral Wang Haocun memasuki istana tersebut.


"Rupanya Qi'er sudah sampai lebih dulu." ucap nyonya besar Wang setelah turun dari kereta,dan melihat kereta putrinya telah berada di halaman tersebut.


"Ibu sudah datang?" selir Xuangqi yang membawa baju pengantin untuk putranya menyuruh paman Yun agar menyimpan pakaian tersebut ke kamar sang pangeran.


Huang Zixin memasuki ruangan tempat keluarganya berkumpul.Dia tampak sangat menawan dengan hanfu berwarna navy,dengan rambut panjangnya yang ditata rapi yang diikat dibagian atasnya.


Wajahnya yang selalu datar dan dingin,malah membuatnya semakin tampan dan berwibawa, dan menjadi daya tarik tersendiri.


"Ayo kita berangkat." ajak selir Xuangqi bersemangat ketika melihat semua keluarganya telah berkumpul diruangan tersebut.


Huang Zixin mengerutkan kening mendengar ucapan ibunya. "Berangkat?Kemana?" dia bingung mendengar ucapan sang ibu.


"Tentu saja ke kediaman Li?Kemana lagi memang?" ucap sang ibu tidak puas pada putranya itu.


"Bukankah bisa diantarkan oleh utusan saja?Kenapa harus kita yang pergi?"


"Ibu ingin pergi sendiri mengantarkan barang- barang ini."


"Bu,biar paman Yun dan Huanran saja yang pergi.Ibu bisa menyiapkan hal lain disini." bujuk Huang Zixin.


Selir Xuangqi menatap tajam pada sang putra lalu memasang wajah cemberut.


Dia menyerahkan gulungan dekrit pernikahan pada Huanran."Pakaian pengantin dan seluruh perhiasan yang harus digunakan ada dikereta ku." ucap selir Xuangqi pada Huanran.


"Paman Yun,mari kita pergi.Kami permisi yang mulia." Huanran dan paman Yun membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan tersebut.


Mereka pergi ke kediaman Li menggunakan kereta milik istana pangeran ke empat,diikuti oleh dua buah kereta barang.

__ADS_1


Mereka dikawal oleh beberapa orang pasukan Zie shen yang menyamar sebagai prajurit biasa di istana pangeran ke empat.



__ADS_2