Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
MENDATANGI PANGERAN KEDUA


__ADS_3

"Bagaimana rasanya bibir pangeran ke empat?" pertanyaan Yu zi membuat Shuwan membeku dan menghentikan langkahnya.


"Rasanya bibir pangeran ke empat?Apa maksudmu kelinci coklat?" gadis itu berbalik dan menatap Yu zi dengan mata memicing.


"Mata suciku telah ternoda karena melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat." ucap kelinci coklat itu sambil tertawa dan berlari menjauh dari Shuwan.


"Bibir pangeran ke empat?Mata sucinya ternoda?" Shuwan bergumam dan mengulang ucapan Yu zi, tiba-tiba matanya melotot setelah beberapa lama otaknya berputar mencari jawaban.


Meskipun dulu sewaktu di dunia modern dia belum pernah berkencan,tapi dia sering menonton film-film action atau dracin kolosal favoritnya,dan sering terselip adegan pria dan wanita yang....


Refleks Shuwan menyentuh bibirnya. "Apakah ucapan Yu zi sama seperti yang aku bayangkan?"


"Apa aku melakukan hal itu pada pangeran?" tanyanya tak percaya dan langsung mengejar Yu zi untuk mengkonfirmasi dugaannya.


"Yu zi,cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Shuwan langsung mengangkat telinga kelinci itu saat menemukannya di kebun herbal.


"Kau tidak mengingatnya?Bukankah kau sangat bersemangat saat melakukan itu?Bahkan pangeran tidak bisa melepaskan diri karena kau menahannya dengan kuat." Yu zi sangat bahagia karena akhirnya bisa menggoda gadis itu.


Shuwan menganga tak percaya mendengar ucapan Yu zi."Kau pasti berbohong!" tuduh gadis itu tak terima.


"Mana ada aku berbohong.Kau tahu?Pangeran bahkan harus membuatmu kehilangan kesadaran agar bisa melepaskan diri dari cengkramanmu?"


"Aku sudah tak tahan ingin menceritakan hal ini pada Li Minghao dan Li Jingmi" Yu zi mengatakan hal itu sambil berlari setelah telinganya lepas dari cengkraman gadis itu.


"Yu zi,kau...!!!" gadis itu mengejar Yu zi dan terus berusaha agar bisa menangkapnya.


Dia tidak akan membiarkan Yu zi menceritakan hal memalukan itu pada Li Minghao dan Li Jingmi.


Karena panik dan takut,otak Shuwan tak bisa berpikir jernih.Mana mungkin Yu zi menceritakan hal itu pada kedua tuan muda Li yang sekarang telah menjadi saudara angkatnya itu.Bukankah wujud Yu zi seekor kelinci?


Bagaimana reaksi Li Minghao dan Li Jingmi saat mendengar kelinci coklat itu bicara?Bukannya mendengarkan cerita dari si kelinci,yang ada mungkin mereka berpindah alam karena terkejut dan terkena serangan jantung.


Gadis itu masih mencari Yu zi karena belum berhasil menangkapnya.


"Yu zi cepat turun!Aku harus mengurungmu agar kau tak bisa keluar.Aku tak akan membiarkanmu menemui Minghao dan Jingmi dan menceritakan hal memalukan itu."

__ADS_1


Gadis itu benar-benar kehilangan akal sehatnya untuk sesaat.


"Tapi aku sangat ingin menceritakannya.Kedua saudara mu itu harus tahu." jawab Yu zi dari atas pohon apel.Dia belum berhenti menggoda gadis itu.


"Kalau kejadiannya seperti itu,aku sungguh tak berani bertemu dengannya.Lebih baik aku disini saja.Oh tuhan..Sungguh memalukan." gerutu gadis itu sambil memasuki danau untuk berendam.


****


Hari telah berganti malam.Yuwen baru saja tiba di istana pangeran ke empat.Dia kembali ke ibu kota setelah menerima perintah dari sang pangeran.


Pangeran ke empat bukan hanya memanggil pengawal kepercayaannya itu,tapi dia juga memanggil Murong,Yao Zi dan Mudan.


Mereka bertiga akan ditugaskan mengamankan acara pernikahannya besok.Entah mengapa sang merasa hari pernikahannya tak akan berjalan mulus.


Dia merasa seseorang pasti akan mengacau, entah diperjalanan saat menjemput pengantin wanita,ataupun di istananya tersebut.


"Murong,cari tahu siapa pelaku dan dalang penculikan Shuwan kemarin malam!Aku ingin informasinya sebelum matahari terbit!" perintah sang pangeran setelah ke empat bawahannya berkumpul di ruang kerjanya.


Yuwen tercengang mendengar ucapan sang pangeran,tentang nona Shu yang diculik tadi malam.


"Yang mulia,nona Shu...?" Yuwen sangat mencemaskan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri sang majikan.


"Tapi aku tetap harus menyelesaikan akun dengan pelakunya." udara dingin menyebar diruangan itu seiring tangan sang pangeran mengepal dengan erat saat mengatakan itu.


Murong yang memang sudah menyusupkan satu orang anggota zie shen disetiap istana anggota keluarga kekaisaran,tak membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan informasi tentang penculikan kemarin malam.


Saat tengah malam,Murong datang kembali ke ruang kerja sang pangeran membawa indormasi yang diinginkan oleh sang majikan.


"Yang mulia." Murong menunduk hormat pada pria yang sedang berdiri menghadap jendela di ruang kerja tersebut.


"Hm" jawabnya singkat tanpa mengubah posisinya. "Pelaku penculikan adalah para bandit yang biasa merampok di hutan sebelah barat yang mulia.Dan mereka bekerja atas perintah pangeran kedua."


"Bahkan pangeran kedua yang terjun langsung menjadi eksekutornya." Murong menjeda ucapannya setelah merasakan aura mencekam dari tubuh sang pangeran.


Padahal dia telah bekerja dan mengikuti sang pangeran dalam waktu yang sangat lama,namun dia selalu merasa terintimidasi oleh aura pria yang kini berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Huang Yu.Berani sekali dia menyentuh wanitaku. Sepertinya dia sangat tak sabar mempercepat kematiannya sendiri." pria itu mengepalkan tangannya dengan erat.


"Tapi yang mulia,saat ini pangeran kedua tengah sakit,dan tabib istananya tidak bisa mengobati pangeran."


"Dia seperti mayat hidup yang tak bisa menggerakkan tubuhnya.Dia juga sering berteriak seperti orang kesakitan." laporan Murong sangat terperinci.


"Apakah itu ulah gadisku?" tanya sang pangeran dalam hati.


Mengingat si pelaku saat itu berusaha melarikan diri,dan gadis itu tak mengejar karena kondisinya saat itu.Bukan tidak mungkin gadis itu memberi hadiah perpisahan pada pria brengsek tersebut.


Itulah yang ada dalam pikiran sang pangeran saat ini.Karena hanya gadis itu yang bisa melakukan hal tak terduga.


Pangeran ke empat berjalan dari tempatnya berdiam diri sejak tadi. "Berjagalah diluar!" perintahnya pada Murong.


"Yang mulia,anda..." "Aku akan menyelasikan akun dengan kakak kedua ku itu." ucapnya dingin dan langsung mengambil pedang kesayangannya.


Sang pangeran mendekat ke tempat Heima berada.Dia melepaskan tali pengikat lalu menungganginya dengan sangat cepat. Tujuannya tentu saja istana kakak keduanya.


Istana pangeran ke empat yang jaraknya sangat jauh dengan istana kekaisaran,tak menyurutkan niatnya untuk membuat perhitungan dengan sang kakak.


Sesampainya di istana pangeran kedua,Huang Zixin memasuki kamar sang kakak melalui jendela yang mengarah ke samping bangunan yang jarang dijaga.


Setelah memasuki kamar,Huang Zixin melihat sang kakak terbaring ditempat tidurnya seorang diri.Tanpa penjagaan dari pengawal,tabib ataupun selirnya yang banyak itu.


Huang Zixin mendekat ke tempat tidur.Orang yang sedang tidur itu sepertinya menyadari kehadiran seseorang diruangan tersebut.


Pria itu langsung membuka mata,dan sangat tampak dimatanya bahwa dia terkejut dengan kehadiran seseorang yang tak lain adalah adiknya sendiri yang dijuluki dewa kematian.


"Kakak kedua,bagaimana keadaanmu?" tanyanya datar. "Kau?Mau apa kesini?" pangeran kedua yang bernama Huang Yu itu bertanya dengan wajah penuh ketakutan.


Agar mulut sang kakak tak menimbulkan keributan,Huang Zixin langsung mencari kain untuk menutupnya.


"Emph...emph." pangeran kedua tak bisa bicara setelah mulutnya dililit kain oleh sang adik.Huang Zixin duduk disamping tubuh sang kakak dipinggir tempat tidur.


"Bukankah kau yang menculik calon istriku kemarin malam?" Huang Yu melebarkan matanya saat mendengar pertanyaan adiknya itu.

__ADS_1


Dari reaksi itupun,Huang Zixin tahu bahwa pria brengsek kemarin malam adalah benar kakaknya.


"Dan penderitaanmu ini,aku sangat yakin ini adalah hadiah perpisahan darinya saat kau berusaha melarikan diri dari kami." ucapnya menyeringai jahat.


__ADS_2