
"Apa-apaan putra-putri kaisar ini?Kenapa mereka sevulgar ini?" gerutu Shuwan saat membolak- balik halaman buku pemberian pangeran ketiga yang bergambar orang yang sedang ....bercinta?
"Putri,ini santapan anda." Huanran memasuki kamar pengantin sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Shuwan makan nanti setelah suaminya memasuki kamar pengantin.
Huanran meletakkan nampan makanan tersebut diatas meja yang terletak tak jauh dari tempat tidur tempat Shuwan duduk sambil membolak- balik buku hadiah dari kakak iparnya itu.
Huanran melirik sekilas pada buku yang sedang dipegang oleh istri majikannya itu.
"Apa dia sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi yang mulia?" Huanran bergumam dalam hatinya sambil tersenyum.Lalu dia keluar dari kamar tersebut.
****
Sementara diruang perjamuan
Putra mahkota menghampiri pengantin pria yang merupakan adiknya itu,dan mengucapkan selamat padanya.
"Bukankah kakak berada di kekaisaran Zhao?" Huang Zixin mengerutkan kening dan langsung bertanya pada sang kakak.
"Aku memang pergi kesana beberapa hari lalu karena kakek pensiunan kaisar sakit keras.Tapi aku langsung kembali agar bisa tiba hari ini."
"Pernikahan adikku,mana mungkin aku tidak menghadiri dan melewatkannya begitu saja." ucap pangeran ketiga.
Dia memberikan sebuah kotak bludru berwarna biru tua pada adiknya itu.
"Ini adalah hadiah dariku.Pelajarilah dengan baik,aku tahu kau belum berpengalaman dalam hal itu." ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu tertawa.
Huang Zixin hanya bisa menatap kakak ketiganya itu dengan penuh tanda tanya dan curiga.
Para tamu undangan telah kembali ke tempat mereka masing-masing.Hanya tersisa keluarga Wang,putri Meilan yang sengaja ingin menginap, dan para bawahan Huang Zixin.
Mereka menuntun sang pangeran ke kamar pengantinnya. "Sudahlah yang mulia,jangan minum dan berbincang terus,cepat pergi ke kamar!"
Yuwen mendorong sang pangeran agar segera memasuki kamar pengantin.Ini sudah lewat dari tengah malam.
Sejak tadi para jendral senior yang hadir terus mengajaknya berbincang sambil minum arak.Hal itu memang seperti sebuah tradisi dimana mereka menahan pengantin pria agar tidak memasuki kamar pengantin sampai pagi.
Yuwen dan keempat orang perwira Zie shen itu mendorong sang pangeran kedalam kamar,lalu menarik pintu kamar tersebut dan menutupnya dari luar.
Suara ribut yang tadi terdengar dari para pria yang mengantar pengantin pria ke kamar pengantinnya kini telah lenyap sepenuhnya.
Hanya terdengar suara langkah kaki yang mendekat kearah tempat tidur.Dari kain merah yang menutupi wajahnya,Shuwan melihat pria yang dia juluki patung hidup itu sedang berjalan kearahnya.
__ADS_1
Deg deg deg deg.Jantung Shuwan berdetak sangat keras.
"Kau belum makan?" tanya sang pangeran saat melihat makanan yang terletak diatas meja masih utuh.
"Ibu bilang hanya boleh makan setelah pengantin pria memasuki kamar pengantin." jawab Shuwan canggung.
Huang Zixin mengangkat kain merah yang menutupi wajah Shuwan."Sangat cantik." gumam pria itu dalam hati saat menatap wajah gadis yang telah menjadi istrinya itu dengan sangat dekat.
Huang Zixin mengulurkan cangkir kecil lalu menuangkan air dari kendi,juga mengisi cangkir miliknya sendiri.
"Ini adalah arak pernikahan dan ritual terakhir. Minumlah!" setelah mengatakan itu dia menenggak arak dari cangkir miliknya.
Setelah meletakkan kedua cangkir yang telah kosong,pria itu mengambil nampan yang berisi makanan.
"Makanlah!Sudah seharian kau belum makan bukan?" pria itu memberikan mangkuk makanan pada sang istri dan dia duduk disampingnya.
Shuwan melepas kain penutup wajah dan mahkota phoenik yang sejak pagi menghias kepalanya.
Shuwan menerima mangkuk itu sambil melirik wajah pria disampingnya sekilas.Itu hanya untuk memastikan apakah pria itu pangeran keempat atau bukan.
"Apakah ini sungguh si patung hidup?Kenapa nada bicara dan raut wajahnya sangat berbeda?Biasanya wajahnya selalu datar dan nada bicaranya sangat dingin."
"Kenapa sekarang tidak seperti itu?Apakah dia mabuk karena terlalu banyak minum arak?"
Karena ini baru pertama kalinya dia melihat sang pangeran tak berwajah datar dan dingin.
Sepasang pengantin itu membeku saat mendengar keributan dan suara pertarungan disekitar istana.Mereka saling pandang lalu beranjak dari duduknya.
"Siapa yang berani mengacau di istanaku?" suara dingin itu langsung membuat suhu diruangan tersebut turun drastis.
Kehangatan yang terpancar dari wajah dan nada bicaranya tadi lenyap dalam sekejap.
"Tunggulah disini,jangan keluar!" perintah sang pangeran pada Shuwan.
Saat pria itu hendak keluar dari kamar,sebuah anak panah melesat memasuki kamar tersebut dan mengarah pada pria itu.
Merasakan ada bahaya dari belakang tubuhnya, sang pangeran langsung menghindar hingga panah itu menancap di dinding kamar.
Beberapa orang telah memasuki kamar itu dan menyerang kedua pengantin.
Huang Zixin melihat ke arah istrinya.Gadis itu telah melepas lapisan luar pakaian pengantinnya dan menutup setengah wajahnya dengan kain yang dia pakai tadi.
__ADS_1
Gadis itu sedang bertarung menggunakan senjata beracun yang dulu melukainya.Shuwan bertarung menggunakan katana beracunnya.
Senjata itu memang sangat efektif untuk menyingkirkan orang-orang yang menyerang ke kamar tersebut.
Dengan racun mematikan yang terdapat dalam senjata itu,musuh yang terluka akan dengan sangat cepat menghadap dewa yama.
Huang Zixin melihat gadis itu masih kerepotan dengan pakain pengantin yang masih dia kenakan.
Pria itu segera mendekati pengantinnya agar dapat melindunginya dari para penyusup itu.
Kamar pengantin yang telah dihias dengan indah dan disiapkan khusus untuk pasangan pengantin itu,kini telah berubah jadi medan perang.
Karena semakin lama semakin banyak penyusup yang memasuki kamar itu.
****
Yuwen,Mudan,Murong dan Yao Zi sedang bertarung ditempat lain dan berusaha melindungi keluarga Wang,terutama para wanita.
Wang Xuemin yang sedang menyendiri di taman belakang pun tak luput dari serangan para penyusup itu.
Dia yang sedang larut dalam kesedihan dan patah hati,merasa sangat senang karena mendapat sasaran untuk melampiaskan kekesalannya.
Andai para penyusup itu mengetahui isi hati sang jendral muda,yang menjadikan mereka sebagai pelampiasan kekesalannya,mungkin mereka akan segera menjauh dan melarikan diri dari pria itu.
Dengan mudah Wang Xuemin menyelasikan pertarungan dengan hasil kematian seluruh penyusup yang menyusup ke taman belakang istana itu.
Dia teringat pada keluarganya dan bergegas pergi dari taman itu menuju ke dalam istana,tempat keluarganya berada.
Saat menuju ke dalam istana,Wang Xuemin melihat dua orang gadis sedang dikepung oleh para penyusup itu.
Satu orang gadis berpakaian pelayan sedang melawan mereka,dan satu orang lagi dengan pakaian mewah terlihat ketakutan dan terus menempel pada gadis berpakaian pelayan,yang ternyata adalah Huanran.
Srak srak srak.Wang Xuemin langsung menebas beberapa penyusup yang fokusnya tertuju pada kedua vadis itu dan tak menyadari kehadirannya.
Huanran yang melihat kedatangan Wang Xuwmin menghela napas lega.Setidaknya dia tak terlalu kerepotan menghadapi para penyusup itu,karena gadis dibelakangnya selalu menempel padanya dan menghalangi gerakan Huanran.
"Huanran,dimana keluargaku?" sambil terus menahan serangan sekaligus melakukan serangan balik pada musuh,Wang Xuemin yang sangat mengkhawatirkan keluarganya bertanya pada gadis itu.
"Tuan Mudan yang mengurus mereka,jendral." mendengar jawaban Huanran,Wang Xuemin merasa lega dan kembali fokus pada para penyusup itu.
"Huanran,cepat bawa tuan putri ke tempat aman!" mendengar perintah Wang Xuemin,Huanran mengangguk lalu memegangi tangan sang putri,untuk membawanya ke tempat aman.
__ADS_1
Sementara satu tangannya lagi dengan lincah memainkan pedang menangkis setiap serangan yang diarahkan padanya.
Sementara Wang Xuemin menghadang mereka agar tak dapat menjangkau kedua gadis itu.