
"Xander Corp adalah perusahaan milik Abraham Alexander,grandpa mu di Eropa,yang kemudian diwariskan pada anaknya Jhon Alexander.
Dia adalah daddymu.Saat kau lahir,daddy mu memindahkan semua asetnya atas namamu.Tapi bedebah itu merampasnya dari Alex."
"Namun saat kalian sudah pergi dari sana,dia baru mengetahui bahwa semua aset Alex telah dialihkan padamu.
Dan sejak saat itu dia terus mencarimu untuk disingkirkan.Dia tidak mau kau mengambil semua milikmu itu di kemudian hari." terang pak tua Jun panjang lebar.
"Kau mau tahu siapa pelakunya?" Shuwan mengangguk.Tentu saja dia sangat ingin tahu. "Dia adalah Albert Alexander,ayah dari William Alexander.Pria yang mengajukan kerjasama padamu kemarin."
"Chen sudah berhasil mengakuisisi beberapa cabang Xander Corp yang sebelumnya dibuat collaps oleh mereka.
Sekarang Xander Corp seperti cangkang kosong yang tampak gagah dipermukaan,namun sebenarnya isinya kosong melompong" lanjut pria tua itu sambil tertawa.
"Sepertinya kau akan patah hati princess,hahaha." pria tua itu tergelak dengan ucapannya sendiri.
"Tidak ada apa-apa,bagaimana bisa tiba-tiba patah hati.Darimana datangnya patah hati itu?Dasar orang tua aneh" gerutu Shuwan
Shuwan sangat jengkel pada orang tua itu,yang sayangnya orang tua menyebalkan itu adalah kakeknya sendiri yang telah melimpahinya kasih sayang dan sangat dia sayangi.
Sang kakek yang mendengar cucunya menggerutu hanya tertawa dengan keras.Senang rasanya menggoda sang cucu.
"Lalu apa yang akan kita lakukan grandpa?" "Terserah kau saja,kau yang pegang kendali." jawab sang kakek santai. "Sepertinya kita akan berpesta uncle Chen."
"Ya,aku sangat menantikannya.Kita harus melakukannya dengan meriah." jawab Chen penuh semangat. "Saatnya pembalasan.Albert,I'm coming" ucap Shuwan sambil menyeringai.
"Kenapa dia terlihat mengerikan dengan seringainya itu?" Yura dan Chen yang melihat seringai Shuwan merinding ditubuhnya.
"Princess,tapi kau belum pernah membunuh orang.Aku takut kau merasa tak tega atau malah takut saat berhadapan dengan bedebah itu." ucap sang kakek,antara khawatir atau menyepelekan sang cucu
"Grandpa meragukanku?mau mencobanya?" jawab Shuwan sambil menaikan sebelah alisnya. "Kenapa harus aku?" tanya sang kakek heran,namun dalam hati dia membatin "Kenapa aku merasa terintimidasi oleh tatapannya?"
"Oh ya,tunggu sebentar!jangan ada yang pergi !" perintah pria tua itu.Kemudian dia pergi entah kemana,membuat tiga orang yang ada disana terbengong.
"Katanya jangan ada yang pergi,tapi dia sendiri yang pergi.Dasar grandpa aneh." gerutu Shuwan sambil cemberut.
Sementara Yura yang sejak tadi diam kini bersuara "Kalian tidak akan mengajak ku bersenang-senang?" tanya nya dengan nada tak puas. "Tak masalah.Makin banyak orang makin seru." ucap Shuwan sambil tersenyum.
"Jika melihat kejadian di video itu,sepertinya bedebah itu memiliki banyak orang dibawah kendalinya.Nukan begitu uncle?"
"Ya.Bahkan malam itu orang-orang yang dia bawa seperti tidak ada habisnya.Sepertinya akan lebih seru bila Leon dan Ana ikut bergabung." jawab Chen.
Tak lama pria tua itu datang kembali ke ruangan mereka berkumpul,dia membawa sebuah kotak kayu kecil berukir yang terlihat aga klasik dan sedikit kuno.
"Ini untukmu." pria tua itu menyerahkan kotak yang dia pegang pada sang cucu. "Untukku?"
__ADS_1
"Ya,ini adalah milik ibumu.Pakailah!Mungkin ukurannya pas.Dulu dia selalu memakainya,tapi setelah menikah,benda itu tidak lagi dia pakai.Dia menitipkannya padaku." jelas sang kakek.
Ada jejak kesedihan dimatanya saat mengatakan itu.Mungkin dia teringat putrinya yang telah tiada.
Shuwan membuka kotak kecil itu,ternyata didalamnya ada sebuah cincin bermata merah yang berbentuk bulat aga pipih.
"Waw,sangat indah.Grandpa yang membelikannya untuk mommy?" Shuwan memakai cincin tersebut dijari manisnya dan dia sangat menyukainya,ukurannya juga sangat pas.
"Bukan.Itu pemberian dari nenek buyutnya waktu mommy mu masih kecil.Dulu dia selalu memakainya. "Terimakasih telah menyimpannya grandpa." gadis itu memeluk dan mencium pipi sang kakek.
***
Setelah menemukan video pembunuhan orangtuanya oleh Albert,Shuwan semakin rajin mengasah kemampuannya dalam bertarung,baik tangan kosong maupun bersenjata.
Bukan hanya Shuwan,para mentornya pun tidak bersantai.Mereka juga sibuk berlatih sebagai persiapan untuk menghadapi orang-orangnya Albert.
Karena anak buah Albert bukanlah orang-orang lemah dan tidak tahu apa-apa.Mereka sepertinya terlatih dengan sangat baik.
Terbukti dulu Meilin yang pandai bertarung saja tak sanggup menghadapi mereka,bahkan Chen harus melarikan diri agar bisa menyelamatkan Shuwan.
Ya,walaupun memang waktu itu jumlah mereka yang sangat sangat tidak adil.Satu berbanding dengan puluhan orang
Dia sangat menantikan pertemuan dengan bedebah itu.Apalagi Ana mengatakan kalau pria brengsek itu sedang berada di negri ini.Hanya perlu mengatur waktu agar mereka bisa bertemu.
***
Ini adalah hari minggu,harusnya dia bisa berlama-lama ditempat tidur,apalagi dia baru tidur dini hari tadi karena dia mengahabiskan malam minggunya di arena latihan.
Dengan mata yang masih terpejam,tangannya mencari ponsel yang terus berdering itu,setelah mendapatkan benda yang dia cari dia langsung menjawab panggilan tersebut tanpa melihat id si pemanggil.
"Hallo,kenapa kau mengganggu tidurku?Kau tahu ini hari libur bukan?" ucapnya dengan ketus.
"Shu,kau belum bangun?" tanya sang penelepon yang ternyata seorang pria.Dia langsung melihat layar ponselnya dan disana tertera nama William.
"Oh, Will,ada apa pagi-pagi begini menelpon ku?" "Pagi?hei nona.ini sudah jam 11 siang." "Ya,terserah jam berapa.Ada apa?"
"Temani aku nanti malam di pesta wedding aniversary orangtuaku ya!" pinta William disebrang telpon. "Oke" jawab Shuwan tanpa pikir panjang.Ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali.
Sejak tahu Wiiliam adalah anak si pembunuh orangtuanya,Shuwan memang tidak lagi jutek pada pria itu.Dia terkesan jinak dan mudah didekati.
Tentu saja itu membuat william berfikir Shuwan juga menyukainya.Padahal gadis itu hanya sedang mencari kesempatan untuk mendekati orangtuanya.Dan sekarang kesempatan itu datang.
"Baiklah,nanti malam aku akan menjemputmu.Share alamatmu ya." suara william terdengar lagi. "Tidak perlu.Aku akan datang kesana sendiri.Kau share saja alamat tempat pestanya." gadis itu menolak untuk dijemput.
"Siapa yang kau hubungi Will?kau terlihat senang." seorang pria paruh baya menghampiri William. "Temanku dad,aku mengajaknya ke acara nanti malam,boleh kan?"
__ADS_1
"Kau ini bicara apa?tentu saja boleh.Apa dia calon menantu daddy?" sang ayah menggoda anak lelakinya.Wajah William memerah saat sang ayah menggodanya. "Ternyata putraku sedang jatuh cinta." sang ayah menggodanya lagi
"Bagaimana tempat ini,daddy suka?ini memang tidak semewah rumah di eropa" "Daddy suka,tempat ini bagus dan mewah.Terimakasih sudah menyiapkan acara ini Will" sang ayah memeluk putra sematawayangnya itu.
***
Ditempat Shuwan,dia sedang meeting bersama para mentor yang juga merangkap partnernya untuk acara nanti malam.Bahkan Leon langsung terbang begitu mendapat kabar bahwa 'pestanya' akan dilakukan nanti malam.
"Aku akan pergi sendiri kesana,nanti uncle Leon,uncle Chen dan aunty Yura menyusul.Ana kau memonitor dan menjadi mata kami disana." "Ya nona." jawab Ana singkat.
Shuwan menatap mereka semua yang ada diruangan itu "Apa disini hanya aku yang tumbuh dan menua?kenapa penampilan mereka tidak berubah dan tidak menua,masih sama seperti waktu aku pertama kali kesini saat mommy meninggal." pikiran Shuwan ngelantur ke hal yang tidak perlu
"Jangan pergi sendiri princess!Terlalu berbahaya." "Grandpa tak perlu khawatir,bukankah orang-orang terbaik grandpa akan mendampingiku?" gadis itu menenangkan sang kakek yang mengkhawatirkannya.
"Kau pergi bersama Leon." "Grandpa nanti mereka curiga.Apa mereka tahu identitasku?" tanya Shuwan penasaran. "Sepertinya ya."
"Baiklah.Uncle Leon bersamaku,tapi jangan ikut masuk.Tunggulah dulu dimobil sampai yang lain datang." "Oke" jawab sang kakek sepakat.
Setidaknya Leon masih bisa menjangkaunya bila terjadi sesuatu pada sang cucu.
"Acaranya jam 8 malam uncle,tapi kita berangkat jam 7 saja karena aku belum mencari hadiah untuk dibawa kesana." ucap shuwan pada Leon. Leon hanya mengangguk patuh
Hampir jam tujuh malam.Shuwan keluar dari kamarnya menggunakan gaun selutut berwarna navy yang dipadukan dengan high heels warna senada.Sangat cantik terlihat feminin.
Namun dibalik penampilannya yang feminin itu,dibalik gaun indahnya,sepasang belati cantik dan pistol kesayangannya telah terselip dengan rapi.Benar-benar sudah siap tempur.
Leon sudah menunggunya didekat mobil yang akan mereka gunakan.Saat akan memasuki mobil,sang kakek muncul bersama Chen dan Yura."Berhati-hatilah!Leon,jaga cucuku dengan baik!"
Mereka akhirnya pergi menuju tempat yang telah William beritahukan dipesan singkat.Ana sudah siap diposisinya di ruang monitoring.
Dia sudah berhasil meretas semua kamera cctv dirumah William,tempat diadakannya pesta.Semua sudut dirumah itu sudah terpampang nyata dihadapannya.
Shuwan dan Leon sudah sampai ditempat tujuan.Sudah banyak mobil terparkir di halaman rumah mewah berlantai tiga itu.Sepertinya sang pemilik pesta mengundang banyak tamu.
Saat Shuwan hendak keluar,Leon menghentikannya."Nona berhati-hatilah! Panggil saya bila terjadi sesuatu.Pakai ini!" Leon menyerahkan sebuah earphone,lalu Shuwan memakainya ditelinga sebelah kanan dan menutupinya dengan rambutnya yang tergerai indah.
Saat telah melewati pintu masuk,William yang melihatnya langsung menghampiri "Ayo,aku kenalkan pada orangtuaku." ajak William sambil menggandeng tangannya.
Jantung Shuwan berdegup kencang.Bukan karena tangannya digandeng oleh William,tapi karena dia melihat pria yang berada di video,yang membunuh daddynya,sedang berbincang dengan seorang tamu undangan dikejauhan sana.
"Bedebah Albert.".
" gumam Shuwan sambil menahan amarah
__ADS_1