Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
MENGEMBANGKAN PERASAAN


__ADS_3

"Lalu bagaimana dengan yang lain?Apakah ada yang terluka?Apa para penyusup itu tertangkap?"


"Aku tidak tahu,aku hanya tahu ada orang yang sangat berusaha keras ingin menyerangku. Untunglah jendral muda Wang melindungiku.Dia bahkan mengorbankan keselamatannya." ucap Huang Meilan muram.


"Lalu kemana mereka?Apakah para penyusup itu melarikan diri?Atau dipenjara di istana saudara ke empat?" tanya pangeran pertama penuh kekhawatiran.


"Aku tidak tahu.Aku merasa seperti sedang bermimpi.Kakak tanyakan saja pada kakak ke empat." putri Meilan memberi saran.


"Ya,aku akan pergi ke istananya untuk mengucapkan selamat dan mengantar hadiah pernikahan.Aku juga ingin melihat adik ipar baruku."


"Tadi sore mereka baru pulang dari sini.Kakak datang sedikit terlambat." "Ya,sangat disayangkan." ucap pangeran pertama penuh sesal.


"Baiklah,aku pergi dulu.Badanku sangat lelah dan ingin segera diistirahatkan." pangeran pertama bangkit dari duduknya.


"Kakak,kau melupakan sesuatu." putri Meilan menarik lengan baju sang kakak lalu menengadahkan tangannya dengan mata yang berkedip-kedip lucu.


"Kau ini..." pangeran pertama yang bernama Huang Qianfan itu langsung memberikan kantong kecil berisi ratusan tael perak pada adik bungsunya itu.


"Kakak pertama yang terbaik." ucap gadis itu sambil memeluk sang kakak."Istirahatlah sana!" ucapnya sambil mendorong tubuh sang kakak.


"Setelah mendapatkan apa yang kau mau,kau mengusirku hm?" ucap pangeran pertama sambil menarik hidung adik perempuan satu-satunya itu,kemudian dia berlari meninggalkan paviliun persik sebelum si pemilik memukulnya karena hidungnya yang ditarik.


****


Shuwan yang tertidur sejak dikereta,perlahan membuka matanya.Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar berwarna putih dengan garis-garis berwarna emas.


"Ini...dikamar?Aku tidur selama itu?" saat dia mengedarkan pandangannya,dia melihat Huang Zixin sedang duduk dibangku yang menghadap meja sambil memegang buku.


Tunggu...!Buku itu? Shuwan segera bangkit lalu menghampiri pria yang telah menjadi suaminya itu.


"Sudah bangun?Ini sudah waktunya makan malam.Ayo makan dulu." ajak pria tersebut dengan lembut.


"Buku itu?" Shuwan menunjuk buku yang sedang dipegang oleh suaminya. "Oh ini?Ini hadiah dari kakak ketiga.Dia bilang aku harus mempelajarinya." jawab Huang Zixin acuh tak acuh.


"Kau juga mendapatkannya?" Shuwan menganga tak percaya dengan kelakuan calon penerus kaisar itu.Ternyata bukan hanya dirinya yang diberi buku itu,tapi juga suaminya.

__ADS_1


Dan yang membuat Shuwan lebih tak bisa berkata-kata adalah Huang Zixin yang tampak serius mempelajari buku itu.


"Apakah zaman ini benar-bemar sangat kuno?Apakah dia benar-benar pria suci yang belum pernah menyentuh wanita?Hingga dia benar-benar mempelajari buku itu?" berbagai pertanyaan muncul dibenak Shuwan.


Dia hanya bisa menatap kosong pada suaminya itu.


"Kenapa melamun?Mau makan apa?" Huang Zixin telah meletakan buku itu diatas meja.Dia mengajak sang istri untuk makan malam.


"Mau makan disana atau dibawa ke kamar makanannya?" "Disana saja." Shuwan langsung berjalan kearah pintu untuk keluar dari kamar itu.


Sepasang suami istri baru itupun menikmati makan malam hanya berdua.Para pelayan telah menyingkir atas perintah kepala pelayan Yun.


Pria paruh baya itu telah mengatur makan malam itu agar spesial untuk pengantin baru tersebut. Selain selir Xuangqi dan kekuarga Wang,dialah yang paling bahagia atas pernikahan pangerannya itu.


Dia sangat ingin junjungannya itu merasakan kebahagiaan seperti pangeran yang lain.Memiliki pasangan dan pangeran atau putri kecil yang melengkapi hidupnya.


Agar sang pangeran tak selalu menghabiskan waktunya di barak militer atau di medan perang.


Setelah menyelesaikan makan malamnya,Huang Zixin mengajak Shuwan berjalan-jalan di taman belakang.


"Wan'er,kau belum menjawab pertanyaanku." Shuwan mengernyit mendengar ucapan pria yang berdiri disampingnya.


"Pertanyaan apa?" mendengar pertanyaan Shuwan,Huang Zixin mengubah posisinya menghadap gadis itu.Dia juga mengubah posisi Shuwan hingga kini mereka berhadapan.


"Kenapa kau tidak mau menatap wajahku?Apakah wajahku begitu buruk?" mendengar ucapan suaminya,Shuwan hanya bisa menggerutu dalam hati.


"Aih,pria ini begitu pendendam dan perhitungan. Perkara tidak mau menatap wajahnya saja,dia tidak mau melepaskanku."


"Mungkin lebih baik aku mengatakan yang sebenarnya saja,supaya dia tidak menanyakan hal ini terus sepanjang waktu." putus gadis itu akhirnya.


"Aku hanya... Malu...pada anda pangeran." ucap Shuwan sambil menundukan wajahnya,dan wajahnya tampak sudah memerah.


"Malu?Malu kenapa?" tanya pria itu penasaran. Shuwan hanya bisa menghela napas. "Aku malu karena..di malam penculikan itu aku hilang kendali dan....dan...."


Huang Zixin menaikan sebelah alisnya mendengar ucapan gadis itu.Tanpa Shuwan melanjutkan ucapannya pun,dia tahu ke arah mana ucapan gadis itu.

__ADS_1


Pria itu menarik sudut bibirnya. "Ternyata seperti itu?Bukan karena kau menyukai pria lain dan tak menyukaiku hingga kau tak mau menatap wajahku?" tanya Huang Zixin ingin memastikan.


Shuwan hanya mengangguk dengan wajah yang semakin memerah.Dan tanpa dia duga,pria itu menarik tengkuknya hingga bibir mereka beradu, dan pria itu langsung m*ny*s*pnya dengan rakus.


Kepala pelayan Yun,Yuwen,dan dua orang pelayan yang berada di pinggir taman,berdiri tak jauh dari mereka,langsung berbalik badan membelakangi kedua majikannya itu.


Mereka berada disana karena berjaga-jaga bila kedua majikannya itu membutuhkan sesuatu, mereka siap melayani.Siapa yang menyangka kedua pasangan itu malah....


Wajah mereka bahkan telah memerah karena tadi sempat melihat apa yang pangerannya lakukan pada istri kecilnya itu.


Shuwan yang terkejut dengan perubahan peristiwa yang tiba-tiba,berusaha melepaskan diri,namun pria itu menahan tengkuknya dan tak membiarkan dia lepas dari jeratannya.


Tiba-tiba gadis itu ingat pada kata-kata Yu zi saat sedang menggodanya dulu, "Bahkan pangeran tidak bisa melepaskan diri karena kau menahannya dengan kuat."


"Apakah seperti ini yang aku lakukan padanya waktu itu?" wajah gadis itu semakin memerah karena merasa malu atas perbuatannya sendiri pada pria itu.


Ya...meskipun saat melakukan hal itu dia tidak menyadarinya karena dalam pengaruh ramuan cinta,tapi Yu zi telah mengatakan dengan sangat jelas apa yang telah dia lakukan pada pria yang sekarang telah menjadi suaminya itu.


Huang Zixin melepaskan tautan bibir mereka.Dia melihat bibir gadis itu memerah dan agak sedikit bengkak karena perbuatannya.


Namun hal itu justru semakin membuatnya tergoda dan ingin menyesapnya kembali.


Dengan gerakan yang sangat cepat,Huang Zixin menggendong Shuwan ala bridal style lalu membawanya ke kamar pribadi mereka.


Melihat hal itu,tak ada satupun dari pelayan atau pengawalnya yang berani mengikuti sang pangeran.


Secara kasar mereka telah menebak apa yang akan dilakukan oleh majikannya itu.


Kepala pelayan Yun hanya tersenyum melihat hal itu.Tampak jelas kebahagiaan menghiasi wajah pria paruh baya itu.


"Semoga putri atau pangeran kecil segera hadir meramaikan istana ini dan membuat kami sibuk." doa kepala pelayan Yun sambil tersenyum.


Huang Zixin telah berada didepan pintu kamarnya.Pria itu me dorong pintu kamar dengan salah satu kakinya dan melakukan hal sama untuk menutup pintu itu.


Pria itu meletakan tubuh Shuwan diatas tempat tidur dengan sangat hati-hati,lalu mengungkungnya dibawah tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2