Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
ULANG TAHUN KAISAR


__ADS_3

Para tamu undangan telah memasuki aula dan menempati tempat duduk masing-masing.


Mereka memandang heran ke arah keluarga Li. Semua orang tahu bahwa kediaman Li hanya memiliki putra,tidak ada satupun putri disana.


"Apakah gadis cantik itu istri tuan muda Li?" "Tapi tuan muda Li belum menikah." dan masih banyak bisik-bisik yang terdengar di aula tersebut.


"Yang mulia kaisar telah tiba." teriakan penjaga seketika menghentikan mulut mulut yang sedang bergosip tentang gadis cantik yang bersama keluarga Li itu.


Kaisar dan permaisuri,serta tiga orang selirnya memasuki aula dan menempati singgasananya masing-masing.


Disusul empat orang pangeran dan satu orang putri yang langsung menduduki tempat yang telah disediakan khusus untuk mereka.


Seluruh tamu yang hadir langsung berdiri dan memberi hormat, "Salam kepada yang mulia kaisar dan permaisuri.Semoga diberkahi umur panjang." ucap mereka serempak.


"Duduklah! Terimakasih telah bersedia hadir pada pesta ulang tahun Zen malam ini.Silahkan mulai acaranya!" Kaisar Huang Zhuting membuka acara tersebut.


Para penari istana memulai acara dengan menampilkan tarian yang sangat indah,dan mendapatkan pujian dari seluruh tamu yang hadir.


Setelah itu,para nona muda putri-putri bangsawan dan pembesar istana berlomba-lomba menampilkan bakat mereka.


Ada yang menari,menyanyi,membaca puisi,memainkan alat musik.Banyak yang mereka tampilkan.


Selain untuk menghibur kaisar yang sedang berulang tahun,tujuan mereka tentu saja untuk menarik hati para pangeran atau para tuan muda yang hadir di tempat itu.


Orang-orang fokus melihat para nona muda yang menampilkan kepiawaian mereka masing-masing,namun tidak dengan satu orang pria yang sedang duduk dibarisan bangku pangeran.


Dia adalah pangeran kedua,Huang Yu. Pangeran yang terkenal sangat mencintai kecantikan dan mengoleksi banyak selir cantik di haremnya.


Huang Zixin yang tidak sengaja melirik saudara keduanya sedang fokus pada satu titik,merasa penasaran dan mengikuti arah pandang sang kakak.


"Gadis itu?Dia bersama keluarga Li?Apa hubungannya dengan keluarga Li?Apa gadis itu menantu mereka?Aih...Kenapa aku memikirkan itu?" gumam Huang Zixin dalam hati.


Dia menggelengkan kepalanya pelan untuk menghilangkan beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya tadi.


Saat seorang nona telah selesai tampil,dan sedang menunggu penampil selanjutnya,pangeran kedua yang sudah kehilangan kesabaran segera bangkit dari tempat duduknya.


"Tuan besar Li,siapa gadis cantik yang bersama keluarga anda?apakah dia menantu anda?Setahuku,kediaman Li tidak memiliki putri." tanya pangeran kedua pada kakeknya Li Minghao.


"Menjawab yang mulia pangeran,dia adalah Li Shuwan,putri angkat putra hamba Li Hongli dan istrinya." jawab tuan besar Li penuh hormat.


"Aku ingin dia menjadi selirku,tuan Li!" tanpa basa-basi pangeran kedua langsung mengutarakan keinginannya di depan umum.

__ADS_1


Nyonya Li memandang Shuwan dengan sedih.Dia tak rela putrinya di jadikan selir,walaupun itu selir seorang pangeran.


Apalagi pangeran kedua telah memiliki enam selir di haremnya.Dia bahkan mengalahkan kaisar yang hanya memiliki tiga selir.


"Maaf,tapi aku tidak bersedia." jawab Shuwan cepat sebelum tuan besar Li mengiyakan permintaan sang pangeran.


Para tamu undangan langsung riuh begitu Shuwan selesai menyatakan penolakannya.


"Kenapa dia menolak?" "Beraninya gadis itu menolak" "Dia tidak tahu para nona bersusah payah agar dipilih menjadi selir pangeran" dan banyak lagi ucapan-ucapan para undangan yang berdengung seperti suara tawon.


"Beraninya kau menolak! Ini adalah perintah, bukan negosiasi!" hardik pangeran kedua murka.


"Pengawal,seret seluruh keluarga Li ke tengah aula!" para pengawal langsung mendekat dan hendak menyeret keluarga Li.


Namun Li Minghao,Li Jingmi,dan Shuwan langsung menghadang mereka dan melindungi para orang tua keluarga Li.


Bahkan Wang Xuemin yang tempat duduknya terletak aga jauh,langsung mendekat dan bergabung dengan sahabatnya sambil menghunuskan pedang.


Dia yang paling tidak rela kalau gadis idamannya itu dijadikan selir,apalagi oleh pangeran kedua yang terkenal mata keranjang. "Gadis itu adalah milikku" itulah kata hatinya.


"Kenapa kau ingin menyeret seluruh keluargaku,pangeran?Bukankah tadi aku sudah minta maaf karena tidak bersedia dijadikan selirmu?"


Shuwan berbicara dengan lantang dan tanpa rasa takut,hingga membuat pangeran kedua semakin murka.


Saat pangeran kedua hendak menerjang gadis yang sudah menolak dan mempermalukannya itu,suara sang kaisar menghentikan gerakannya.


"Tahan emosimu pangeran kedua! Jangan mengacaukan pesta dan hari bahagia Zen.Masih banyak gadis lain yang mau jadi selirmu." kaisar menatap tajam putra keduanya itu.


"Silahkan lanjutkan acaranya.Maaf atas kejadian barusan.Maaf keluarga Li atas ketidaknyamanannya." kaisar menatap pada keluarga Li.


Bagaimanapun,dia harus menjaga image dan wibanya didepan para bangsawan dan pembesar istana,juga didepan rakyatnya.Hingga dia harus meminta maaf pada keluarga Li.


Shuwan sudah kehilangan minat pada acara itu.


Dia berjalan kearah utara aula setelah meminta izin pada keluarga barunya untuk keluar.


Li Minghao bilang disebelah utara aula itu ada danau dan taman bunga.Jadi dia mengikuti ucapan sang kakak.Dan ternyata memang benar yang dia katakan.


Berbagai macam bunga tengah bermekaran di taman itu.Dia merasa lebih baik disana sendirian daripada didalam aula bersama dengan orang-orang yang penuh kepalsuan.


Saat sedang duduk dibangku taman di pinggir danau,telinga tajamnya mendengar suara langkah seseorang mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Gadis itu tetap diam dan pura-pura tidak tahu akan kedatangan orang itu,meskipun kewaspadaannya meningkat drastis.


Bila orang itu tidak berbuat buruk padanya,maka biarkan saja.Namun bila sebaliknya,maka dia siap meladeni siapapun orang itu.


Suara langkah itu terhenti dijarak beberapa langkah dari tempat duduk Shuwan.


Tempat itu tetap sunyi,hanya terdengar suara binatang dan hembusan angin,seakan tempat itu tak berpenghuni.


Padahal ada dua orang disana,namun mereka tenggelam dalam dunianya masing-masing.


"Kenapa anda disini nona?Bukankah acaranya di dalam aula?" seseorang yang sejak tadi berada di taman itu akhirnya berbicara dengan datar.Ternyata seorang pria.


"Anda sendiri ada disini.Kenapa mencampuri urusanku?" balas Shuwan dingin. "Bukankah lebih baik seperti tadi saja,saling diam dan tidak mengganggu" gumam Shuwan dalam hati.


"Aku tak menyangka,anda begitu berani menolak pangeran kedua." ucap pria itu lebih terdengar mencibir.


"Aku tak sudi menghabiskan sisa hidupku dengan pria tak setia dan beristri banyak.Lagipula aku tak berminat hidup terkekang di istana." Shuwan bicara dengan acuh.


Pria itu mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan gadis itu.


"Padahal para nona muda didalam sana berlomba untuk menarik hati para pangeran dan tuan muda." ucap pria itu lagi.


"Aku tidak tertarik.Aku hanya akan menikah dengan pria yang hanya memiliki satu istri dalam hidupnya.Tak peduli statusnya apa."


Pria itu tersenyum mendengar ucapan gadis itu yang terdengar agak mustahil di zaman ini.Memang ada beberapa orang/keluarga yang tidak memiliki selir,keluarga Li contohnya.


"Hanya memiliki satu istri?mereka bahkan memiliki dua atau tiga selir." ucap pria itu sambil menggelengkan kepala.


Lama-lama Shuwan penasaran dengan pria yang sejak tadi terus bicara padanya.Dia menoleh untuk melihat pria itu.


Dia terkejut saat pandangannya bertabrakan dengan mata setajam elang itu,namun dengan cepat dia menormalkan kembali ekspresinya.


"Oh,aku kira kau patung hidup yang hanya bisa bernafas,ternyata bisa bicara banyak juga." ucap gadis itu sambil mengalihkan pandangannya dari pria tersebut,tanpa merubah posisinya yang masih duduk di bangku taman.


Siapa lagi orang yang dia juluki patung hidup selain pangeran ke empat,Huang Zixin.


"Gadis ini memang berbeda.Bila orang lain,mungkin akan langsung bangkit dan memberi hormat.Tapi dia tetap acuh,malah memalingkan wajah dari pangeran."


Yuwen yang melihat kedua orang itu dari kejauhan,hanya bisa bergumam dalam hati dan menatap takjub pada sikap Shuwan.


"Aneh sekali.Yang mulia mau berbicara banyak dan berlama-lama dengan orang lain,padahal gadis itu belum dikenalnya." Yuwen terus memperhatikan interaksi kedua orang itu.

__ADS_1


__ADS_2