
Huang Zixin dan Shuwan keluar dari paviliun anggrek dengan menaiki kuda dengan posisi sama seperti saat mereka datang.
Mereka langsung keluar dari istana kekaisaran menuju kediaman Li.Gadis itu belum merasa tenang sebelum melihat sendiri kondisi keluarga barunya pasca penyerangan tadi malam.
Sepanjang perjalanan,Huang Zixin menjadi pusat perhatian.Bukan hanya orang yang duduk bersamanya yang menjadi pusat perhatian,tapi juga cara mereka dusuk diatas kuda.
Mereka terlihat romantis dan sedikit...mesra.Begitulah pikiran orang-orang yang melihat mereka.
Hari sudah menjelang sore,ketika kedua orang berbeda gender itu tiba di kediaman keluarga Li.
Kedatangan mereka membuat orang-orang yang ada disana terkejut,namun mereka segera sadar dari keterkejutan lalu langsung membungkuk hormat pada pria yang baru saja datang itu.
"Salam hormat pangeran." ucap mereka serempak sambil membungkuk hormat.
"Ibu" Shuwan langsung berlari menghampiri nyonya Li yang sedang membungkuk hormat pada sang pangeran.
"Putriku,kau baik-baik saja?"
"Berkat bantuan pangeran dan jendral Yuwen,aku baik-baik saja bu.Bagaimana dengan yang lain?" tanya gadis itu sambil mengedarkan pandangannya.
"Kami semua baik-baik saja." Tian dan nyonya besar Li,tuan Li beserta Li Jingmi dan kedua orang tuanya menjawab serempak.
"Pangeran,terimakasih telah menyelamatkan putri kami." tuan Li membungkuk pada Huang Zixin.
"Tidak perlu berterimakasih tuan Li.Aku lebih dulu berhutang nyawa padanya." jawab pria itu datar,namun berhasil membuat mereka semua tercengang.
"Raja perang yang dijuluki dewa kematian,berhutang nyawa pada seorang gadis kecil yang baru tumbuh?" mungkin itulah yang ada dipikiran mereka.
"Kaisar telah mengirim bantuan untuk memperbaiki kediaman kita.Mungkin butuh beberapa hari mereka bekerja disini." ucap nyonya Li saat melihat Shuwan tengah memperhatikan orang-orang yang bekerja disana.
"Oh,syukurlah kalau begitu." jawab gadis itu sambil tersenyum.
"Jangan berdiri terus diluar.Pangeran silahkan masuk." ucap tuan Li ramah.
"Tidak perlu tuan.Saya permisi." ucap pria dingin itu datar.
"Terimakasih untuk semuanya pangeran." ucap Shuwan tulus.Pria itu hanya mengangguk lalu berbalik dan pergi dengan menunggang kudanya.
***
"Shu,bagaimana kau bisa bertemu dengan pangeran ke empat?" Li Minghao tak bisa menahan rasa penasarannya,dan langsung menanyai gadis itu saat mereka sedang berkumpul setelah makan malam bersama.
__ADS_1
"Saat kelompok itu habis terbunuh,aku keluar dengan menunggang kuda.Namun pria yang terakhir aku bunuh menyalakan kembang api untuk memanggil bantuan."
"Sebelum berhasil kabur dari sini,kelompok baru telah datang dan melihatku.Mereka langsung mengejar dan pertarungan tak bisa dihindari lagi."
"Kau tahu,tubuhku sudah sangat lelah karena mereka terus berdatangan.Bahkan ketika aku sudah tak berdaya,aku melihat seseorang mengayunkan pedangnya ke leherku.Lalu semuanya gelap."
"Aku pikir aku telah berada di wilayah kekuasaan dewa Yama,tapi saat membuka mata,aku malah berada dikamar yang sangat besar dan mewah."
"Aku kira aku berada di khayangan,ternyata itu istana pangeran ke empat.Aku baru tahu diselamatkan oleh pangeran ke empat saat tadi pagi tersadar."
"Kau sadar dari pagi tapi baru pulang sore?Kau tahu ibu sangat mengkhawatirkanmu?" Li Minghao tampak sedikit marah pada sang adik.
"Tadi pagi aku mau pulang,tapi pangeran bilang biar tuan Yuwen menyelidiki dulu tempat ini.Takutnya disini tidak ada siapa-siapa."
"Siang hari tuan Yuwen baru kembali,setelah mendengar laporannya,aku mau diantar pulang,tapi...." Shuwan menceritakan semua kejadian itu pada keluarganya.
Saat Huang Zixin membawanya ke tempat tinggal sang ibu,dan semua yang mereka lakukan disana.
Tapi gadis itu tidak menceritakan bagian selir Xuangqi yang ingin melamarnya untuk sang putra.
"Kenapa orang-orang menggunakan racun untuk membunuh?" tanya gadis itu penasaran.
"Mungkin racun lebih efektif dan lebih murah daripada menyewa pembunuh bayaran." jawab Li Minghao asal.
"Kalau para pembesar pelakunya,biasanya mereka mengorbankan pelayan atau bawahan mereka untuk dijadikan kambing hitam."
"Memangnya siapa yang diracuni?Selir Xuangqi?" tanya Li Minghao curiga.Shuwan hanya mengedikkan bahu dan pura-pura tak tahu.
"Kau selalu seperti itu.Hey aku baru ingat!Pembicaraan kita di kereta saat pulang dari pasar malam belum selesai." Li Minghao berseru saat mengingat hal itu.
"Pembicaraan tentang apa?" gadis itu bingung Li Minghao membahas pembicaraan mereka yang mana.
Dia membawa gadis itu ke paviliunnya,agar menjauh dari keluarganya.Diikuti oleh Li Jingmi di belakangnya.
"Setelah kita diserang,diperjalanan pulang kita membahas penyeranganku waktu dihutan oleh kelompok mawar hitam."
"Terus malam itu kita juga diserang padahal kita menggunakan kereta keluarga Wang.Kau bilang 'mungkinkah..' tapi Jingmi memberitahu kalau kita sudah sampai dirumahmu.Ingat?"
"Oh..yang itu.Aku cuma mau bilang mungkinkah tuan muda Li dan tuan muda Wang adalah target mereka." Shuwan menjawab enteng.
"Kenapa bisa begitu?" Wang Xuemin yang baru datang langsung bergabung dwngan dua orang yang sedang berbincang itu.
__ADS_1
"Kalian tidak apa-apa?Kenapa kediaman ini bisa diserang?" Wang Xuemin datang kesana setelah mendengar kediaman Li diserang kelompok mawar hitam.
"Sepertinya ini sudah direncanakan." ucapan Shuwan membuat kedua pria itu saling pandang.
"Kita urutkan kejadiannya.Pertama Minghao dan Jingmi diserang di hutan.Lalu saat pulang dari pasar malam,kita juga diserang,padahal kita menggunakan kereta keluarga Wang."
"Kesimpulannya adalah kalian berdua,atau keluarga kalian adalah target mereka.Mungkin seseorang membayar mereka untuk melenyapkan kalian."
Gadis itu memandang dua orang pria yang ada dihadapannya.
"Tapi siapa?Dan kenapa mereka menargetkan kami?" Li Minghao tampak berpikir.
"Aku tidak tahu.Aku kan baru disini." jawab gadis itu acuh.
"Kau kan jendral,keluargamu juga orang-orang hebat.Masa tidak bisa menyelidiki masalah ini?"
"Ya,ini memang harus diselidiki.Oh ya,lusa aku kembali ke barak.Tadinya aku ingin mengajak kalian bersenang-senang keliling kota.Tapi keadaannya seperti ini,sepertinya tidak mungkin."
"Kau habiskan waktu disini saja besok.Bantu kami membereskan kediaman." Shuwan memberi ide yang sangat menguntungkannya.
"Baiklah,tak masalah." putus Wang Xuemin.Yang penting dia bisa menghabiskan waktu berama gadis pujaannya itu.
"Kalian tidak terluka karena kejadian tadi malam?" Wang Xuemin masih mengkhawatirkan gadis pujaannnya.
"Bukan hanya terluka,aku bahkan hampir berpindah alam dan menemui dewa Yama." ucap gadis itu santai.Seolah itu bukan masalah besar.
"Tapi kau tampak sehat,tidak terlihat hampir mati." Wang Xuemin memindai tubuh gadis itu.Semua tampak biasa saja.
"Itu karena dia ditemukan oleh sepupumu dan pengawalnya yang hebat itu.Kalau tidak,mungkin keluarga ini sedang berkabung." Li Minghao menjelaskan pada sahabatnya itu.
"Sepupuku?" beo Wang Xuemin pelan. "Ya,sepupumu,pangeran ke empat.Memangnya kau punya berapa puluh orang sepupu?" Li Minghao tampak kesal pada sahabatnya itu.
"Kenapa bisa bertemu dengannya?" Wang Xuemin belum mengetahui ceritanya.
"Adikku ini tadi malam melarikan diri,tapi kelompok itu mengejarnya,bahkan mereka memanggil bantuan.Jadilah dia bertarung terus menerus."
"Saat dia nyaris dipenggal,datanglah sepupumu dan pengawalnya itu sebagai pahlawan.Lalu mereka membawa adikku ini ke istananya,dan baru diantar pulang tadi sore."
"Jendral muda Wang Xuemin,sainganmu untuk mendapatkan adikku tercinta ini adalah pangeran ke empat,raja perang tak terkalahkan yang dijuluki dewa kematian. Haahaahaa...."
Li Minghao malah meledek sahabatnya itu dan mematahkan semangat juangnya.
__ADS_1
"Apa kau berani bersaing dengannya?" Li Minghao menaikturunkan alisnya sambil memandang sahabatnya itu dengan tatapan meledek.
"Aku tak peduli." ucap Wang Xuemin ketus.