Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
8. TERUNGKAP


__ADS_3

Shuwan baru saja tiba di ruang kerjanya.Baru saja dia duduk,ponselnya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk.Segera dia lihat layar ponselnya,ternyata dari william yang mengatakan akan menjemputnya siang nanti untuk makan siang bersama di restoran tempat mereka bertemu kemarin.Dia hanya membalasnya dengan kata oke.Singkat,jelas dan padat.


Shuwan masih sibuk memeriksa beberapa berkas hingga tak menyadari bahwa sudah waktunya makan siang.Dia bahkan tak menyadari layar ponselnya terus berkedip sejak tadi,mungkin ada pesan atau panggilan masuk.Dia memang mengaktifkan mode silent agar ponselnya tidak berisik.


Tok tok tok,terdengar suara pintu diketuk dari luar. "Masuk!" ,tak lama Liana menghampiri meja bos nya, "Nona,tuan William sudah menunggu anda di lobi." "Oh,dia sudah datang.Terimakasih Liana" Shuwan bangkit sambil mengambil tasnya lalu keluar dari ruangannya.


Sesampainya di lobi,dia langsung disambut oleh William. " Selamat siang nona Shuwan." sapa nya ramah. "Ya,selamat siang" jawab gadis itu singkat. "Saya sudah menghubungi anda sejak tadi." "Saya sibuk tuan" "Oh ya ampun kenapa gadis ini sangat irit bicara?menatapku saja bahkan tidak,sangat berbeda dengan gadis-gadis lain yang selalu menatapku penuh puja." batin William.


Dia merasa pesonanya tak ada artinya dihadapan gadis ini.Biasanya dia yang cuek dan dingin pada gadis-gadis yang menyukainya,sekarang dia mendapat lawan yang sepadan. "Tuan,apakah anda akan tetap disini?" pertanyaan resepsionis menyadarkannya dari lamunan. "Oh,eh." dia celingukan mencari gadis pujaannya."Nona muda sudah keluar tuan." ucap sang resepsionis itu lagi.


Pria itu langsung berlari keluar dari bangunan itu,dia berpapasan dengan Shuwan yang akan masuk kembali ke dalam kantornya." Nona,anda mau kemana?" tanya William cepat "Masuk,saya kira anda tak jadi pergi." "Maaf nona.Ayo kita pergi.Silahkan" pria itu meminta Shuwan memasuki mobilnya


Makan siang berlangsung dengan tenang,hidmat,sunyi senyap,hanya terdengar suara denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring."Apa aku ini makhluk astral tak kasat mata yang tak terlihat oleh matanya?" William hanya bisa membatin


"Nona,bisakah nanti malam kita makan malam bersama?" tanya William membuka obrolan. "Tidak tuan,saya sudah ada janji." jawaban Shuwan membuat William tampak kecewa.William mengira gadis itu akan pergi dengan pria lain,padahal janjinya adalah akan bertarung dengan Yura di arena latihan.


"Mungkin lain kali tuan William" jawaban Shuwan di detik berikutnya membuat harapannya kembali muncul. "Baiklah,kalau begitu saya akan.." "Tidak perlu diantar,saya sudah memanggil sopir saya untuk menjemput.Ada meeting di kantor,jadi saya harus segera kembali.Terimakasih untuk makan siangnya." gadis itu melenggang pergi


Gadis itu pulang dalam keadaan lesu.Sang kakek yang menyambutnya di pintu hanya tersenyum melihatnya. "Setelah berkencan,cucu cantikku ini malah terlihat lesu.Apakah kencan mu melelahkan?" dia menggoda sang cucu sambil berjalan merangkulnya.


"Siapa yang berkencan?aku?berkencan dengan siapa?dengan berkas kantor?" jawab sang cucu."Tentu saja dengan pria Eropa itu" ucap sang kakek sambil menaikturunkan sebelah alisnya. " Grandpa mematai-mataiku?mana mungkin aku berkencan dengan pria yang baru aku kenal." "Jadi maksudmu kau akan berkencan dengan pria yang sudah lama kau kenal?heh,hanya Chen dan Leon yang sudah kau kenal lama.Apa kau akan mengencani mereka?"

__ADS_1


"Kenapa jadi membahas kencan?kalau mau,grandpa saja yang pergi berkencan sana.Grandpa kan sudah lama hidup sendiri,aku mau mandi.Bye" gadis itu berlari ke kamarnya setelah berhasil menggoda sang kakek


"Kenapa jadi aku yang dia suruh berkencan?kalau begini terus,kapan aku punya cucu menantu?sudah berusia 25 tahun,jangankan menikah,berkencan saja belum pernah." gerutu sang kakek.


Selesai mandi dan segala macam ritual lainnya,Shuwan menghampiri sang kakek,"Grandpa ayo kita makan,aku sudah lapar." merekapun menuju ruang makan.Tak lama Chen dan Yura pun datang lalu duduk di depan meja makan."Dimana Ana?kenapa tidak makan bersama?" "Dia pergi mengunjungi Leon,ada apa?" sang kakek yang bicara


"Kemarin aku meminta dia melakukan sesuatu.Aku ingin menanyakan hasilnya sekarang.Nanti saja aku telpon dia,ayo makan."


Selesai makan,mereka pergi ke ruang keluarga untuk bersantai atau sekedar ngobrol.Meskipun Chen,Yura,Ana dan Leon hanya orang yang bekerja pada tuan besar Jun,namun pak tua itu memperlakukan mereka seperti keluarganya sendiri.Apalagi Chen dan Leon dulu dekat dengan Meilin seperti adik dan kakak.


Shuwan memainkan ponselnya,tak lama dia berbicara "Hallo Ana..mana data yang kemarin aku minta tentang Xander Corp?" dia langsung bicara ke inti masalahnya begitu telepon tersambung.Si tanpa basa basi memang. "Oh,baiklah" entah apa yang dikatakan Ana padanya,gadis itu langsung bangkit lalu pergi entah kemana.


"Mereka mengajukan proposal kerjasama.Biarkan dia tahu,dia sudah cukup dewasa Chen.Sudah saatnya dia tahu yang sebenarnya tentang keluarganya." ucap pak tua Jun santai


Didepan kamar Ana,terlihat Shuwan yang masih berdiri di depan pintu sambil memainkan ponselnya."Ana apa sandi pintu kamarmu?sekalian sandi laptopmu." "Baiklah" setelah memasukkan beberapa angka,pintu kamar terbuka dan dia langsung mencari laptop Ana


Setelah menemukan laptop yang dia cari,dia langsung membukanya dan mencari data yang dia inginkan.Ternyata ada beberapa data penting disana.Jiwa keponya yang sangat tinggi membuat dia sangat ingin mengetahui data-data itu dan membukanya.


Dia membuka satu file yang ternyata sebuah video,sepertinya video dari kamera cctv.Saat melihat video itu,dia terkejut karena ada sang daddy disana dan seorang pria yang dipanggil kakak oleh daddy nya."Daddy punya kakak?Aku tidak pernah tahu.Aku juga tidak pernah melihat atau bertemu dengan pria itu" dia semakin penasaran dengan kelanjutan video itu


Shuwan terpaku saat melihat adegan demi adegan dalam video itu.Saat sang pria yang dipanggil kaka itu berkelahi dengan sang daddy,saat beberapa orang memasuki rumah nya dan mengeroyok sang daddy hingga kondisinya mengenaskan.

__ADS_1


Lalu terlihat beberapa orang tumbang disertai suara tembakan dimana-mana.Tak lama mommynya muncul menghampiri sang daddy yang entah masih hidup atau tidak.Mommy nya terlihat heroik dengan membawa katana ditangan kanannya dan pistol ditangan kirinya."Wow,mommy luar biasa.Benar-benar skill tingkat dewa" gumamnya penuh kekaguman.


Namun beberapa orang langsung mengeroyok sang mommy.Pertarungan yang tidak seimbang pun terjadi hingga orang-orang itu melumpuhkan sang mommy,dia tersungkur dengan beberapa lebam diwajahnya.Katana dan pistolnya telah terlepas dari genggamannya,tergeletak tak jauh darinya.


Pria yang dipanggil kakak oleh sang daddy tadi menghampiri mommynya.Pria itu berusaha mencium dan melecehkan sang mommy membuat dada Shuwan bergemuruh penuh emosi.Pria sialan itu benar-benar kurang ajar.


Namun sang mommy tidak tinggal diam,dia menampar dan meludahi wajah pria itu hingga membuatnya murka dan memukul sang mommy hingga tersungkur lagi.


Video terus berputar menampilkan beberapa adegan yang menyayat hati.Terlihat sang mommy dengan sisa tenaganya menebas setengah dari lengan pria itu hingga terpisah dari badannya.Saat Chen datang membantai orang-orang sialan itu dan berusaha membawa sang mommy dari tempat itu.


"Apakah ini kejadian waktu uncle Chen membawaku dan mommy ke rumah singgah Grandpa?Kenapa tidak ada yang mengatakan tentang ini padaku?"


Shuwan membawa laptop itu ke ruangan tadi mereka berkumpul."Kau mendapatkan datanya princess?" "Belum grandpa,tapi aku menemukan hal lain" kemudian dia menunjukkan video itu pada mereka.


"Kenapa grandpa atau uncle Chen tidak pernah mengatakan ini padaku?" dia menatap tajam pada dua pria berbeda usia itu. "Kalian merahasiakannya begitu lama dariku.Aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu karena uncle Chen langsung membawaku ke halipad." terdengar ketidakpuasan dari nada bicaranya.


"Itu perintah dari mommy dan daddy mu princess.Maaf,aku tidak berhasil menyelamatkan orang tuamu" ucap Chen penuh sesal. "Sudahlah.Sekarangkan kamu sudah tahu.Apa yang akan kamu lakukan?" tanya sang kakek.


"Pria sialan itu,aku akan mencarinya.Akan ku pastikan aku sendiri yang menjadi dewi kematian untuknya." ucapnya penuh tekad. "Tidak perlu mencarinya,dia sudah datang padamu." "Dia datang padaku?Apa maksud grandpa?" tanya Shuwan penasaran.


"Xander Corp.Kau belum membacanya?" tanya sang kakek heran.Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya

__ADS_1


__ADS_2