Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
KUNJUNGAN PANGERAN PERTAMA


__ADS_3

Shuwan yang seorang cucu konglomerat pemilik kerajaan bisnis yang mendunia di dunia modern tentu selalu mendapatkan penghormatan dari para bawahannya.


Namun orang-orang terdekatnya juga bukan hanya menghormatinya,tapi juga melimpahinya dengan kasih sayang.


Saat dia bertransmigrasi ke zaman kuno,dia hidup sebagai orang biasa yang tidak memiliki siapapun,kerabat atau teman dalam hidupnya. Dia hidup bebas tanpa terikat aturan apapun.


Namun setelah bertemu dengan Li Minghao dan Li Jingmi,serta bertemu dengan keluarganya,dia mulai mendapatkan kasih sayang dari mereka.


Apalagi setelah bertemu dengan Wang Xuemin dan seluruh anggota keluarga Wang,kasih sayang yang dia dapatkan bertambah besar.


Shuwan menjadi terbiasa dan nyaman dengan kedekatan dan kasih sayang mereka terhadapnya.


Ketika dia menikah dengan pangeran ke empat, secara otomatis dia diperlakukan berbeda oleh semua orang.


Dan hal itu yang sekarang membuat Shuwan agak sedih dan merasa kehilangan kasih sayang mereka.Merasa mereka memperlakukannya seperti orang asing,hingga dia mengeluarkan uneg-unegnya dihadapan Wang Xuemin.


Wang Xuemin menghela napasnya dengan kasar. Entah bagaimana dia harus bereaksi atas keluhan gadis itu.


"Saat ini statusmu tidak biasa Shu.Kami tidak bisa bertindak ataupun berkata sembarangan terhadapmu.Meskipun dulu kita sangat dekat,bisa berkata atau berbuat sesuka hati kita,tapi sekarang tidak seperti itu lagi."


"Ada batasan yang mengatur kita,bagaimana harus berucap dan bersikap terhadapmu." Wang Xuemin berusaha menjelaskan agar Shuwan mengerti dan tidak menganggap mereka menjauhi dirinya.


"Hanya karena perubahan statusku yang menikah dengan pangeran?Apakah aku bisa meminta pada kalian agar tetap seperti dulu?Aku seperti mendapatkan status putri tapi kehilangan kasih sayang kalian,teman dekat,juga keluarga."


Huang Zixin yang mendengar ucapan sang istri langsung mendekatinya dan mambawa tubuh wanita itu kedalam pelukannya.


"Wan'er hanya belum terbiasa,nanti seiring berjalannya waktu akan terbiasa dengan hal ini. Jangan terlalu dipikirkan!" ucapnya sambil mengusap kepala Shuwan dengan lembut.


Tiba-tiba Wang Xuemin merasakan sesuatu dalam tubuhnya berdenyut nyeri.Bukan luka sayatan yang diberikan Chu Kong yang berdenyut nyeri,tapi hatinya.


Sakit tanpa luka.


Setelah suasana hatinya membaik,Shuwan melepaskan diri dari pelukan suaminya."Aku akan memeriksa luka Xuemin dulu."


"Hanya untuk kali ini.Selanjutnya biarkan tabib yang melakukannya!" ucap Huang Zixin dengan wajah muram.


Dia sungguh tidak rela istrinya melihat atau menyentuh tubuh pria lain,walaupun itu sepupunya sendiri.


"Xuemin,berbaringlah dulu,aku akan memeriksa lukamu." Wang Xuemin langsung berbaring sesuai perintah Shuwan.

__ADS_1


"Panggil tabib kesini agar aku memberitahu cara perawatan lukanya." seorang pelayan yang berada diruangan itu langsung keluar untuk memanggil tabib yang bekerja dikediaman tersebut.


Setelah tabib tiba di kamar Wang Xuemin, Shuwan meminta tabib tersebut memperhatikan apa yang dia lakukan untuk merawat luka Wang Xuemin.


"Bukalah pakaian atasmu!" Wang Xuemin menatap kosong ke arah Shuwan saat mendengar ucapannya.


"Bagaimana caranya aku memeriksa lukamu bila terhalang pakaian seperti itu?" tanya Shuwan kesal.


Wang Xuemin melepaskan tali hanfunya lalu membuka bagian perutnya.Shuwan duduk disisi tempat tidur lalu menyentuh perut Wang Xuemin untuk membuka perban yang menutupi jahitan diperutnya.


Tubuh Wang Xuemin menegang saat jari-jari lentik Shuwan menyentuh perutnya yang rata dan berotot.


Deg deg deg deg.Wang Xuemin merasa mungkin semua orang yang ada disitu bisa mendengar detak jantungnya yang sangat kencang.


"Tenang Xuemin...tenang!Dia telah memiliki suami.Lagipula dia hanya ingin mengobati lukamu." hati Wang Xuemin sedang menenangkan tubuhnya yang tak bisa diajak bekerjasama.


Shuwan membuka perban yang menutupi luka di perut Wang Xuemin.Dia memeriksa luka itu dengan seksama.Takutnya ada jahitan yang terbuka atau cairan seperti nanah.


Setelah memastikan lukanya tidak apa-apa, Shuwan mengoleskan salep agar tidak terlalu gatal nantinya.


Dia kembali menutup luka itu dengan perban,lalu merekatkan plester agar perbannya tidak lepas.


"Usahakan jangan terkena air sebelum jahitannya kering.Ganti perbannya pagi dan sore hari." tabib mendengarkan semua yang dikatakan oleh Shuwan.


Dia harus mengingat semuanya agar tak terjadi kesalahan saat dirinya merawat luka sang tuan muda.


Setelah melihat Shuwan selesai memeriksa dan mengganti perban Wang Xuemin,Huang Zixin menghampirinya dan bertanya dengan lembut. "Apakah sudah selesai?"Shuwan mengangguk sambil tersenyum.


Sementara si tabib membeku saat telinganya mendengar pertanyaan lembut yang diucapkan oleh pria yang berada dihadapannya.


"Apakah pria dihadapanku ini benar-bemar raja perang?Dia baru saja berbicara lembut dan tersenyum pada istrinya?"


"Pria yang selalu berwajah datar dan jarang bicara itu ternyata memiliki sisi lain saat bersama istrinya." gumam sang tabib penuh takjub.


Bila dia mendengar tentang hal ini dari orang lain, bisa dipastikan dia sama sekali tak akan percaya. Dia bahkan masih belum mempercayai penglihatan dan pendengarannya sendiri saat ini.


"Bila sudah selesai,ayo kita pulang." Shuwan mengangguk seperti istri yang patuh saat mendengar ucapan suaminya.


"Xuemin jaga dirimu.Jangan terlalu banyak bergerak agar lukamu tidak kembali terbuka!" Wang Xuemin hanya mengangguk mendengar ucapan Shuwan.

__ADS_1


"Aku pergi dulu.Bibi aku pergi." Shuwan menghampiri ibunda Wang Xuemin dan berpamitan padanya.


"Cepatlah sembuh!Sebentar lagi kita harus segera kembali ke barak." Huang Zixin menghampiri Wang Xuemin dan mengingatkannya tentang barak


"Baik yang mulia." jawab Wang Xuemin lesu.


Suami istri itupun keluar dari kamar Wang Xuemin lalu kembali ke ruangan keluarga Wang berkumpul untuk berpamitan.


"Kakek,nenek,paman,kami akan kembali ke kediaman." ucap Shuwan sambil tersenyum. Sementara pria dingin itu hanya berdiri disampingnya tanpa mengatakan apapun.


Shuwan dan Huang Zixin pun keluar dari ruangan itu menuju kereta yang terparkir di halaman kediaman Wang.


Yuwen yang biasanya terus membuntuti sang pangeran kemanapun dia melangkah,kini hanya menunggu didepan pintu.


Setelah melihat kedua junjungannya keluar, Yuwen pun langsung berlari untuk membukakan tirai kereta.


"Kemana kita akan pergi yang mulia?" tanya sang pengawal setia yang juga sering merangkap jadi kusir saat pergi kemana-mana.


"Langsung pualng saja." Yuwen mengangguk dan langsung duduk ditempat kusir lalu mengendalikan kuda agar segera melaju.


Kereta kuda pangeran ke empat pun melaju meninggalkan kediaman Wang menuju istananya kembali.


Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, kereta yang dikendarai Yuwen memasuki gerbang istana pangeran ke empat.


Yuwen mengernyit melihat sebuah kereta terparkir di halaman istana junjungannya itu.


Yuwen menghentikan kereta lalu turun dan membuka tirai kereta. "Yang mulia,ada kereta pangeran pertama." ucap Yuwen dengan sangat pelan.Huang Zixin hanya melirik sekilas ke kereta tersebut.


Raja perang itu menggenggam tangan sang istri lalu memasuki istana.Mereka memasuki ruangan yang memang dikhususkan untuk menjamu tamu.


Saat memasuki ruangan,dia melihat pria berhanfu hitam itu sedang duduk dengan santai sambil menyesap teh.Dihadapannya tersedia beberapa camilan untuk menemaninya minum teh.


"Kakak" pangeran pertama yang sedang menyesap teh,menatap ke arah asal suara."Kalian baru pulang?Inikah adik iparku?Sangat cantik. Pangeran ke empat sangat pandai memilih istri."


Pangeran pertama memberi pujian sambil matanya terus menatap Shuwan.


Huang Zixin yang melihat tatapan sang kakak pada istrinya memasang wajah datar. "Wan'er pasti lelah.Istirahatlah!"


Dia sangat tidak suka istrinya ditatap sedemikian rupa oleh sang kakak.

__ADS_1


Shuwan yang melihat tatapan pangeran pertama terus tertuju padanya juga merasa risih,dan sama sekali tak menolak ucapan suaminya.Dengan senang hati dia meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2