Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
KEDATANGAN HUANG ZIXIN


__ADS_3

Melihat bantuan dari pihak musuh datang,salah satu dari penyerang itu menembakkan kembang api yang ledakannya besar ke arah langit.


Semua orang yang ada disana menatap ke atas,ke arah kembang api itu.


"Sial,mereka memanggil bantuan." gerutu jendral Wang Xingsheng.


Mereka yang berada di kediaman Wang saat ini saja sangat merepotkan,sekarang mereka malah memanggil bantuan.Entah apa yang akan terjadi.


Tak lama puluhan orang berpakaian serba hitam itu memasuki kediaman Wang.


Baru saja mereka menghela napas lega karena musuh sudah berkurang,sekarang malah menjadi berlipat jumlahnya.


Pertarungan mulai tidak seimbang.Pasukan jendral Wang telah bertarung beberapa waktu menghadapi musuh yang tangguh dengan jumlah banyak,tentu mulai merasa lelah.


Sedangkan pihak lawan yang baru saja tiba,masih segar dan bertenaga penuh.Apalagi jumlah mereka sangat banyak.


Rasanya agak mustahil meraih kemenangan dalam situasi seperti itu.Melawan imbang saja belum tentu mereka sanggup.


***


Di barak militer perbatasan utara


Yuwen yang menerima kabar tentang kondisi kediaman Wang saat ini langsung memberitahukan hal tersebut pada sang pangeran.


Pria itu langsung bangkit dari duduknya saat mendengar laporan Yuwen.Rahangnya mengeras dengan tatapan tajam dan napas yang memburu.


"Ambilkan Heima!" Yuwen langsung pergi melaksanakan perintah sang pangeran.


Heima adalah nama kuda hitam yang sangat kuat dan gagah milik pangeran ke empat.Kuda itu selalu menemaninya di medan perang.


Yuwen telah menuntun Heima saat sang pangeran berada di tenda Wang Xuemin.


"Wang Xuemin,kita harus segera pergi ke ibu kota!" Wang Xuemin yang mendengar ucapan sang pangeran merasa heran.Bukankah mereka baru tiba dari ibu kota?


"Yang mulia,ada apa?"


"Kediaman Wang diserang sekelompok orang misterius."


Bersamaan dengan itu,Yuwen datang menyerahkan Heima pada sang pangeran.


"Yuwen,jaga barak dan perbatasan!"


Pria itu langsung naik ke punggung Heima dan memacunya dengan sangat cepat.


Wang Xuemin yang masih mencerna ucapan sang pangeran terkejut melihat pria itu telah melesat menunggangi kuda perangnya.


Tanpa membuang waktu,Wang Xuemin pun langsung mengambil kuda perang miliknya yang tak kalah gagah dan kuat dari Heima.Hanya saja kuda Wang Xuemin berwarna coklat.

__ADS_1


Dia juga langsung memacu kudanya dengan sangat cepat mengejar sang pangeran yang sudah tak terlihat dari jangkauan pandangannya.


"Perjalanan ke ibu kota tidak sebentar.Entah apa yang terjadi pada keluargaku saat kami tiba disana nanti."


Wang Xuemin tidak memiliki pikiran yang tenang sepanjang perjalanan karena memikirkan nasib keluarganya.


Suara kuda yang berlari dengan kecepatan maksimal terus menghiasi perjalanan mereka menuju ibu kota.


***


Sementara di kediaman Wang


Kediaman itu sudah tak berbentuk.Bangunan banyak yang telah rusak,mayat bergelimpangan dimana-mana.Bau anyir darah tercium disetiap tempat.


Selain para penyerang yang bertumbangan, pasukan di pihak jendral Wang Haocun pun sudah banyak yang terluka,bahkan banyak yang tewas.


Beberapa orang pasukan zie shen pun sudah terluka.


Penyerangan ini bukan main-main.Orang-orang yang diutuspun bukan orang sembarangan.Sepertinya mereka bukan pasukan biasa.


Mereka tampak terampil dan terlatih dalam pertarungan.


Jendral Wang Haocun dan jendral Wang Xingsheng yang sudah terbiasa bertempur di medan perang pun merasa kerepotan menghadapi mereka.


Meskipun kelompok penyerang sudah banyak yang mati,namun yang masih bertahan adalah orang-orang yang sangat merepotkan.


Jendral Wang Haocun telah mendapat beberapa goresan pedang ditubuhnya.Tubuhnya yang tak sekuat dan selincah dulu karena faktor usia,tak bisa mengimbangi kekuatan para penyerang itu.


Apalagi jumlah mereka yang tak sedikit.


Seseorang dengan tubuh tinggi besar mendekati jendral Wang Haocun yang sudah terluka dan tampak melemah.


Orang itu mengayunkan pedangnya,berniat menebas tubuh jendral Wang Haocun.


Namun sebelum pedangnya menyentuh sasaran,sebuah pedang yang dilempar seseorang telah bersarang didadanya,tepat dijantung orang tersebut dan langsung membuatnya ambruk.


"Kakek!" Wang Xuemin langsung mendekati sang kakek yang beberapa saat lalu hampir menemui ajalnya.


Untunglah sepupunya yang hebat itu langsung bergerak cepat.Kalau tidak....


Huang Zixin hanya melirik sekilas pada sang kakek yang sudah terluka itu.Dia menghela napas lega karena kakeknya bisa diselamatkan.


Dia langsung mendekati tubuh pria yang tadi hampir membunuh kakeknya.Dia menarik pedang yang tertancap di dada pria tersebut lalu menebaskannya ke leher pria yang masih bernapas itu.


Sraing.Sekali tebas,kepala itu langsung terpisah dari badannya.


Huang Zixin langsung mendekati sang paman,Jendral Wang Xingsheng yang sedang dikepung oleh beberapa orang.

__ADS_1


"Xuemin,lindungi kakek!" perintahnya dingin.Sementara tangannya sibuk menebas para musuh yang berada dalam jangkauannya.


Tubuhnya terus bergerak mendekati sang paman.Banyak musuh yang telah menemui ajal melalui pedangnya.


Dimatanya,mereka tak lebih dari sekelompok semut yang mencoba membunuh harimau.


Suhu ditempat itu tiba-tiba turun dengan drastis. Aura dingin dan kematian yang terpancar dari tububnya sangat mengintimidasi.


Srak srak srak.Pedangnya terus saja mengoyak tubuh lawannya tanpa lelah.Bahkan warnanya telah berubah menjadi merah.


Beberapa orang dari pasukan Zie shen dan Ying yang masih bisa bertarung membantu sang pangeran menyingkirkan para penyerang itu.


Tersisa sepuluh orang yang sepertinya merupakan orang-orang pilihan dalam kelompok itu.


"Bagaimana bisa kau ada disini?Bukankah kau berada di perbatasan?" tanya salah satu pria itu heran.


"Oh...Kalian sudah mengaturnya?Menyerang saat aku telah pergi dari ibu kota?Tapi kalian salah perhitungan." dengusnya dingin.


Walaupun dia tampak dingin dan acuh pada keluarganya,namun dia tak akan mengizinkan bahaya menyentuh mereka.


Kesepuluh orang itu mendekat pada Huang Zixin dan mengabaikan yang lain.Target mereka seketika berubah.


Pria itu seperti magnet besar yang langsung menarik seluruh besi agar menempel padanya.


Para penyerang itu tentu akan menargetkan Huang Zixin yang merupakan halangan terbesar dalam menghabisi seluruh keluarga Wang.


Setelah pria itu binasa,mereka dapat dengan leluasa menghabisi seluruh target.Itulah pemikiran para pembunuh itu.


Huang Zixin melirik pada orang-orang disekitarnya. "Bantu teman kalian yang terluka, dan menjauh dari sini!"


Mereka langsung paham dan segera melakukan perintah sang pangeran.


Setelah area sekitar bersih dari orang-orangnya,Huang Zixin memasang kuda-kuda dan langsung menyerang dua orang yang berada dihadapannya.


Trang trang srak..jleb.Hanya dengan empat gerakan saja dua nyawa telah direnggut oleh pedangnya.


Satu tebasan di leher dan satu tusukan di jantung lawannya membuat mereka langsung menghadap dewa Yama.


Merasakan ada bahaya dari belakang tubuhnya,sang pangeran langsung memutar tubuhnya dan menebaskan pedangnya dengan sangat kuat.


Sreeet.Tebasan itu menggores dada musuhnya dan menghasilkan luka memanjang yang cukup dalam didadanya.


Huang Zixin langsung memutar tubuhnya sambil melakukan tebasan ke leher orang tersebut.


Sraing...pluk.Sebuah kepala jatuh menggelinding ke dekat kaki salah satu penyerang itu.


__ADS_1


__ADS_2