Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
TIBA DI IBU KOTA


__ADS_3

Pagi harinya,saat kedua tuan muda itu bangun dari tidurnya,mereka melihat sekeliling goa,namun hanya ada mereka berdua. "Kemana nona Shu dan pelayannya itu?"


Tak lama kedua gadis itu memasuki goa membawa beberapa buah liar dan seekor kelinci yang sudah dibersihkan.


"Kalian mencari makananan tanpa mengajak kami?Seharusnya itu tugas kami." Li Minghao merasa malu pada gadis itu


"Kalian sedang terluka,lagipula ini tidak sulit.Wei bantu aku membuat api,aku akan membumbui kelincinya dulu."


Setelah api menyala,Shuwan membakar kelinci yang dia dapat dari hutan itu untuk sarapan mereka.


Selesai sarapan,Shuwan memeriksa kembali luka kedua pria itu,lalu mengoleskan salep dan memberi pil penyembuhan pada mereka.


Setelah beberapa lama beristirahat,mereka berempat berjalan ke tempat pertarungan kemarin.


Karena disana kereta kuda mereka berada. "Semoga kereta kudanya masih ada dan masih bisa digunakan." doa Minghao penuh harap.


Mereka melihat kereta kuda itu masih ada dan kudanya sedang memakan rumput ditempat sekitarnya.


"Untunglah masih ada,kita bisa kembali ke ibu kota." Li Minghao menghela nafas lega.


Saat Li Jingmi akan duduk ditempat kusir,Shuwan melarangnya "Biar aku saja,kalian sedang terluka.Istirahatlah di dalam!"


"Apa kau tahu jalannya?" tanya Li Jingmi ragu. "Kalian bisa mengarahkanku dari dalam." jawab Shuwan santai.


"Nona Shu,maaf telah banyak merepotkanmu." Li Minghao sungguh merasa tak enak pada gadis itu.


"Tak masalah,dan tak perlu sungkan.Panggil saja Shuwan" gadis itu langsung duduk di tempat kusir dan mengendalikan kuda agar berjalan sesuai arahannya.


Gadis itu mengendalikan kuda agar berjalan santai untuk memudahkan dia mengingat tempat-tempat yang dilalui,sesekali mengobrol dengan Wei yang duduk disampingnya.


"Kenapa kau sangat ceroboh,langsung membawa orang yang baru kita kenal ke kediaman kita.Apa kau tidak curiga kalau mereka komplotan penyerang itu?"


Li Jingmi heran pada sepupunya yang biasanya berhati-hati dan teliti itu,sekarang malah melakukan hal yang tidak dipikirkan dulu dengan matang


Pletak..Li Minghao menjitak kepala Jingmi yang membuat Jingmi mengaduh.


"Kalau gadis itu komplotan mereka,untuk apa dia repot-repot menyelamatkan kita dan membunuh mereka dengan sadis?"


"Apakah luka kemarin sudah menghilangkan akal sehatmu?" Li Minghao menggeram kesal pada sepupunya itu


"Aku kan hanya waspada,jangan sampai kita tertipu hanya karena dia seorang gadis dan berwajah cantik."


Tiba-tiba sesuatu melintas dipikiran Li Jingmi saat mengatakan itu."Kau menyukainya Li Minghao?" Jingmi bertanya dengan nada menuduh pada sepupunya itu dan menatapnya dengan penuh curiga


"Ma mana ada.Aku,aku tidak..." Li Minghao kelabakan dan segera memalingkan wajahnya yang sudah memerah agar tak dilihat sepupu laknatnya itu.


"Bisa-bisanya dia menebak dengan tepat " batin Li Minghao


Sore hari,kereta kuda yang digunakan tuan muda Li telah sampai di dekat gerbang kota.Saat semakin mendekat,petugas penjaga gerbang menghentikan kereta.

__ADS_1


"Perlihatkan tanda pengenal kalian!" perintah sang penjaga gerbang.Shuwan dan Wei hanya saling lirik karena mereka tidak punya tanda pengenal


"Mereka bersamaku" Li Minghao membuka tirai kereta dan menunjukkan token identitasnya.


"Tuan muda Li,silahkan!" petugas itu menyerahkan kembali token identitas Li Minghao setelah memeriksanya.Mereka melanjutkan perjalanan menuju kediaman keluarga Li.


Matahari sudah terbenam sejak tadi,namun kereta belum sampai juga ke tempat tujuan.


"Tuan Li,apakah tempat tinggal anda masih jauh?" Shuwan penasaran seberapa jauh lagi tempat yang dia tuju.


"Apa kau lelah dan lapar? Kita cari kedai dan berhenti disana" Li Minghao menjawab dari dalam kereta.


"Aku bertanya apa kau menjawab apa?" gerutu Shuwan tidak puas.


"Oh,tidak lama lagi nona Shu." jawab Li Minghao setelah mendengar gerutuan Shuwan tadi


"Di depan belok kanan nona!" Li Minghao melihat jalan yang dia lalui dari jendela kereta.


Setelah berjalan beberapa puluh meter,mereka sampai di depan gerbang yang lumayan besar. "Apakah ini kediamanmu?" tanya Shuwan memastikan. "Ya."


Ketika penjaga gerbang melihat kereta kuda yang digunakan oleh tuan muda mereka mendekat,


salah seorang penjaga menghampiri kereta tersebut.


Namun dia terkejut melihat dua orang wanita duduk dibangku kusir.


"Siapa kalian?dimana tuan muda kami?" tanya si penjaga sambil menodongkan pedangnya ke arah Shuwan dan Wei.


"Li Minghao,cepat bangun! Kita tak bisa masuk." Shuwan berteriak sambil menggedor kereta yang dia tumpangi.


Kedua pria yanģ sedang tertidur di dalam terperanjat kaget mendengar teriakan dan gedoran dari luar kereta,dia segera melihat keluar dengan menyibakkan tirai kereta


"Tuan muda" sang penjaga yang melihat tuan mudanya ada didalam kereta segera menunduk hormat."Cepat buka pintunya! Kenapa kau menahan kami disini?"


"Tapi mereka?" penjaga itu ragu lalu melihat ke arah Shuwan dan Wei. "Mereka temanku,cepat buka pintunya,dan gantikan mereka!Kalian berdua masuklah kesini."


Kereta melaju kembali menuju kediaman setelah kedua gadis itu memasuki kereta.Ketika sampai di depan sebuah bangunan,kereta berhenti dan si kusir turun dari tempatnya."Sudah sampai tuan muda."


Penjaga yang menjadi kusir dadakan itu melihat sang gadis turun dari kereta,lalu membantu seseorang turun dengan perlahan.


"Tuan muda,apa yang terjadi pada anda?" "Dia terluka,cepat bantu dia masuk!" bukan Li Minghao yang menjawab,tapi Shuwan.


Penjaga itu hanya melihat sekilas ke arah Shuwan lalu kembali menatap Li Minghao.


"Kau bodoh atau telingamu tuli?Kenapa diam saja?" Shuwan mulai kesal,dia tidak tahu kalau si penjaga hanya mematuhi perintah tuannya.


"Bantu Jingmi masuk! Aku bisa masuk bersama nona Shu." Li Minghao memerintah sang penjaga


Shuwan yang mendengar ucapannya memelototkan matanya ke arah Li Minghao,namun pria berakal bulus itu pura-pura tidak melihatnya.

__ADS_1


Mereka memasuki ruangan yang merupakan ruang keluarga,tempat mereka berkumpul diwaktu senggang dan membicarakan banyak hal.


Orang-orang yang ada didalam sana terkejut melihat Li Minghao dan Li Jingmi masuk dipapah oleh seseorang


"Hao'er,apa yang terjadi denganmu?" seorang wanita setengah baya menghampiri Li Minghao dengan raut wajah cemas yang tak bisa disembunyikan.


"Kami tak apa-apa bu." ucap Li Minghao menenangkan wanita paruh baya tersebut yang ternyata adalah ibunya.


"Apanya yang tak apa-apa?bahkan kalian tidak bisa berjalan sendiri."


"Sudahlah Hua'er! Biarkan mereka istirahat dulu!" seorang pria paruh baya menenangkannya. "Pelayan,siapkan minuman dan camilan untuk mereka!" perintah pria tersebut.


"Ayah" Li Minghao memeluk sang ayah. "Makan dan istirahatlah dulu,nanti baru bercerita!" sang ayah berbicara dengan bijak.


Tak lama pelayan datang menyajikan makanan untuk mereka.


Keempat orang yang baru datang itu makan dengan lahap seolah tak pernah menemukan makanan selama beberapa bulan.


Orang-orang yang berada disana hanya saling menatap melihat adegan itu.


"Pelan-pelan! Kalian bisa tersedak kalau makan seperti itu." nyonya Li memperingati mereka.


Mereka memang sangat kelaparan,karena hanya makan ikan bakar tadi pagi,dan sampai sekarang belum makan apa-apa lagi.


Jadi wajar kalau mereka makan seperti orang yang tak pernah makan.


Selesai makan,mereka bersantai dan berbincang hangat. "Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?Dan dimana para pengawal yang kalian bawa?" tuan Li yang merupakan ayah Minghao bertanya dengan penasaran


"Saat melewati hutan dalam perjalanan pulang,kami diserang sekelompok orang berpakaian serba hitam yang memakai penutup kepala dan wajah,ayah."


"Pengawal kita semuanya terbunuh." Minghao menjelaskan kejadian yang dia alami


"Untung saja ada nona Shu membantu kami.Bukan hanya membunuh orang-orang itu,dia juga mengobati kami yang terluka karena senjata beracun orang-orang itu paman." kali ini Li Jingmi yang berbicara dengan antusias.


"Gadis kecil ini membunuh para penyerang itu?apakah mungkin?" tuan Li bergumam di hatinya,namun dia tetap berterimakasih pada gadis itu.


"Terimakasih telah menyelamatkan mereka,nona Shu." ucap tuan Li bersungguh-sungguh.


"Tidak apa-apa tuan.Bukankah manusia harus saling membantu?" Shuwan menatap tuan Li lalu tersenyum.


"Dimana nona Shu tinggal?biarkan penjaga mengantarkan anda besok.Sekarang sudah sangat malam,bermalamlah dulu disini!" tawar tuan Li tulus.


"Ayah,nona Shu tidak punya tempat tinggal,makanya aku mengajaknya kesini.Besok kami akan membantunya mencari rumah yang disewakan untuk tempat tinggalnya."


"Baiklah kalau begitu,kalian istirahatlah! Ayah akan memanggil tabib untuk memeriksa kalian."


"Tidak perlu ayah! Nona Shu sudah mengobati kami.Obatnya juga sangat ampuh dan penyembuhannya sangat cepat." Li Minghao tidak ingin diperiksa oleh tabib,dia ingin Shuwan yang mengobatinya.


"Apakah nona Shu seorang tabib?" "Tidak tuan,saya hanya gadis biasa yang kebetulan menetahui sedikit tentang pengobatan." jawab Shuwan cepat.

__ADS_1


"Apanya yang hanya gadis biasa?kau membunuh beberapa orang hanya dalam sekejap." gerutu Jingmi dalam hati.


"Baiklah kalau kau tidak mau diperiksa oleh tabib.Pelayan antarkan nona Shu ke kamar tamu!" tuan Li segera berlalu setelah melihat kepergian Shuwan bersama pelayan yang tadi dia perintahkan.


__ADS_2