
"Besok pagi kita berangkat ke ibu kota.Sudah malam,kalau tidak berjaga maka istirahatlah!" perintah sang pangeran pada Wang Xuemin.
Wang Xuemin segera keluar dari tenda sang pangeran,karena mengira pemilik tenda tersebut ingin beristirahat.
Setelah kepergian Wang Xuemin,Huang Zixin merebahkan tubuhnya ditempat tidur yang agak keras,sangat berbeda dengan tempat tidur di istananya yang nyaman dan empuk.
Pria itu memejamkan matanya.Namun bukannya tertidur,dia malah melihat adegan ketika dia duduk berdua bersama Shuwan diatas satu kuda saat menuju istana ibunya.
Pria itu langsung membuka matanya dan melihat ke sekeliling tempat.Dia ada didalam tendanya dan belum tertidur.
Dia kembali memejamkan mata,namun kejadian itu lagi yang tampak dalam pandangannya.
"Ada apa ini?Kenapa kejadian itu selalu muncul saat aku memejamkan mata?"
Karena kejadian itu terus berulang,Huang Zixin bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar dari tenda.
"Yang mulia,anda belum tidur?" dang pengawal setia langsung menghampiri begitu melihat sang pangeran berada diluar.
"Aku tak bisa tidur,Yuwen." "Apakah yang mulia sakit?" tanya Yuwen penuh kekhawatiran.
"Tidak.Aku baik-baik saja.Tapi...entah kenapa, setiap aku memejamkan mata,selalu ada sebuah kejadian yang terlihat."
"Apakah yang mulia masih terbayang penyerangan di kediaman Wang beberapa waktu lalu?" tebak sang pengawal.
"Bukan.Bukan kejadian itu." sanggah sang pangeran cepat.
"Lalu apa?" Yuwen menjadi penasaran,kejadian apa yang terus terbayang hingga membuat sang pangeran tak bisa tidur.
Yuwen menatap sang pangeran meminta penjelasan.
"Setiap aku memejamkan mata,kejadian aku duduk bersama nona Shu dalam satu kuda saat ke istana ibu,terus terlihat." jawab sang pangeran setelah beberapa lama terdiam.
"Apa yang mulia mengalami kecelakaan dalam perjalanan itu?" pangeran menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan pengawal setianya itu.
"Apa nona Shu mengacau?" Huang Zixin kembali menggelengkan kepalanya. "Lalu kenapa?" sang pengawal menatap bingung pada pangerannya itu.
"Entahlah." jawab sang pangeran menghela napas.
Aih....dua pria yang hanya tahu senjata dan bertarung di medan perang itu,sama-sama tak memahami apa yang terjadi pada sang pangeran.
"Besok pagi aku dan Wang Xuemin akan kembali ke ibu kota,ibu memanggil kami.Aku serahkan barak padamu untuk sementara."
"Hamba tidak ikut pergi yang mulia?" Yuwen merasa heran karena sang majikan meninggalkannya di barak.Biasanya mereka selalu bersama-sama kemanapun pergi.
"Tidak perlu.Mungkin hanya satu atau dua hari, jadi kau tetap disini dan berjaga."
"Baik yang mulia." Yuwen hanya bisa patuh pada perintah sang pangeran.
"Lalu siapa yang menjadi kusir yang mulia?" sang pengawal bertanya lagi.
"Aku berkuda saja." jawab sang pangeran singkat
__ADS_1
Hingga matahari pagi menyebarkan sinar hangatnya,Huang Zixin dan Yuwen masih berada ditempat mereka duduk sejak tadi malam.
Sepertinya Huang Zixin benar-benar tak bisa tidur karena kejadian tadi malam.
Wang Xuemin yang baru keluar dari tenda dan melihat sang pangeran telah berada diluar langsung menghampirinya.
"Yang mulia,apakah kita akan berangkat sekarang?" pria dingin itu hanya mengangguk lalu bangkit dari duduknya.
Yuwen telah menyiapkan Heima disamping sang pangeran,yang akan digunakan sebagai tunggangannya menuju ibu kota.
"Aku pergi dulu" ucapnya pada sang pengawal.Yiwen membungkuk sebelum sang pangeran berbalik lalu menjauh dari barak bersama sepupunya.
Apa yang terjadi di ibu kota hingga yang mulia diminta kembali kesana?Semoga yang mulia selir dan keluarga Wang baik-baik saja." doa tulus Yuwen dalam hatinya.
Meskipun dirinya hanya pengawal sang pangeran,namun selir Xuangqi dan keluarga Wang selalu memperlakukannya dengan baik.Bahkan seperti keluarga sendiri.
****
Matahari telah berada tepat diatas kepala.Selir Xuangqi yang berada di istana pangeran ke empat tengah gelisah dan mondar-mandir kesana kemari.
Sang ayah yang melihatnya merasa mata dan kepalanya sakit.
"Kenapa kau terus mondar-mandir seperti itu?Apa kau tak lelah?Aku saja yang melihatmu seperti itu sakit mata dan kepalaku."
"Ayah,sudah tengah hari begini,tapi Xin'er belum juga datang.Sebenarnya anak itu mau pulang atau tidak?"
"Kenapa kau jadi tidak sabaran begitu?Perbatasan utara bukanlah tempat yang dekat.
Tiba-tiba terdengar suara kuda mendekat ke arah istana.Selir Xuangqi langsung berlari ke halaman istana dan melihat putra serta keponakannya itu sedang mendekat ke arahnya diatas punggung kuda yang larinya semakin melambat.
Senyum merekah menghiasi wajah cantiknya. Hatinya merasa sangat bahagia melihat kedatangan putranya yang sejak tadi dia tunggu.
Seolah-olah mereka sudah bertahun-tahun tak bertemu.Padahal baru beberapa hari saja mereka berpisah.
Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu langsung menggandeng tangan sang putra dan membawanya memasuki istana begitu pria itu turun dari kudanya.
Wajah cantiknya terus berseri-seri memancarkan kebahagiaan yang sangat besar.
Sambil berjalan,Huang Zixin terus melirik pada sang ibu yang terlihat agak aneh hari ini.Namun disatu sisi dia juga merasa senang.Sudah sangat lama dia tidak melihat sang ibu sebahagia itu.
"Mungkin berkumpul bersama keluarganya membuat ibu merasa sangat bahagia." gumam sang pangeran dalam hati.
Hatinya yang awalnya cemas karena mendapat surat agar segera kembali ke ibu kota,seketika berubah tenang begitu melihat binar bahagia diwajah cantik ibunya.
Apalagi setelah tiba didalam istana,seluruh anggota keluarga Wang juga terlihat baik-baik saja.
"Duduklah dulu.Min'er kau juga duduk disini!" kedua pria itupun duduk sesuai perintah.
"Yang mulia selir,biarkan mereka istirahat dulu." nyonya tua Wang,yang merupakan ibunda dari selir Xuangqi,menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya itu.
"Mereka pasti lelah telah menempuh perjalanan yang sangat jauh.Apalagi mereka berkuda sendiri,tidak menggunakan kereta." lanjut sang ibu.
__ADS_1
Selir Xuangqi hanya cemberut mendengar ucapan ibu tercintanya itu.
Meskipun mereka keluarga,namun aturan istana tetaplah aturan.Mereka tetap harus memanggil putri mereka dengan panggilan hormat yang mulia selir.
Apalagi bila ditempat umum,mereka bahkan harus menunduk hormat.Bahkan pada cucu dan keponakan tersayang mereka,mereka tetap harus memanggil yang mulia pangeran.
Kecuali bila diruangan pribadi tanpa pelayan dan pengawal,baru mereka bisa memanggil intim sebagai keluarga.
Setelah merasa cukup beristirahat dan melepas lelah,Huang Zixin bertanya pada sang ibu dan keluarga besarnya.
"Bu,sebenarnya ada hal mendesak apa hingga kami dipanggil kembali ke ibu kota,padahal baru beberapa hari di barak?"
"Satu hari setelah kalian kembali ke barak, keluarga Li datang kesini untuk berkunjung dan melihat kondisi keluarga Wang pasca penyerangan yang terjadi di kediaman."
"Kami sangat menyukai nona Li,jadi kami mengajukan lamaran padanya." Selir Xuangqi menjeda ucapannya dan melihat reaksi kedua pria muda keturunan Wang itu.
"Lamaran?Nona muda Li?" Huang Zixin mengulang ucapan sang ibu.
"Ya nona muda Li,Li Shuwan.Kalian tidak mengenalnya?" selir Xuangqi menaikkan satu alisnya memandang kedua pria muda itu.
"Tentu saja kenal." jawab keduanya kompak.
"Lamaran ini atas namamu pangeran."
"Aku?Kenapa....?"
"Kalau kau keberatan,maka Min'er yang akan mengambilnya." ucap selir Xuangqi cepat karena putranya hanya terbengong.
"Tidak bisa" "Baiklah." ucap kedua pria itu bersamaan dengan jawaban yang berbeda.Kedua pria itu saling memandang dengan aura permusuhan yang kentara.
"Apa maksud jawaban kalian?" tanya selir Xuangqi pura-pura tak mengerti.
"Aku bersedia menikahinya." ucap Wang Xuemin dengan wajah berseri-seri.Bukankah ini keinginannya sejak lama? "Akhirnya dewa memudahkan jalanku" ucap Wang Xuemin dalam hati.
"Tidak bisa!" Huang Zixin menyela dengan cepat. Tiba-tiba aura dingin menyebar di ruangan itu.
"Bukankah tadi kau tidak bersedia?Aku bersedia,lalu kenapa kau melarang?" Wang Xuemin tidak mengerti dengan sepupunya itu.
"Kapan aku mengatakan tidak bersedia?" tanya sang pangeran dengan wajah datar dan dingin.
"Tadi kau bilang 'aku?kenapa aku' berarti kau tidak bersedia." Wang Xuemin menjawab dengan tegas.
"Yang mulia bibi selir,aku sudah menyukai nona Shu sejak pertama bertemu.Aku juga sudah mengatakan padanya bahwa aku ingin menikahinya." Wang Xuemin mengungkapkan isi hatinya.
"Dia juga menyukai gadis itu?" sang pangeran terkejut mendengar pernyataan sepupunya itu.
Note:
mau tanya dong sama para reader.
waktu aku mendeskripsikan pangeran ke empat Huang Zixin sebagai pria tampan,rambut hitamnya panjang,hidung mancung,mata yang tajam dengan alis yang melengkung seperti pedang.Berwajah datar dan dingin.
__ADS_1
Siapa yang terlintas di pikiran reader yang menjadi Huang Zixin??? oppa drakor atau gege dracin??😁😁😁