Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
KEDATANGAN TAMU ASING


__ADS_3

Saat Huang Zixin dan Shuwan keluar dari pintu istana kekaisaran dan hendak berjalan ke kereta kuda miliknya,mereka melihat sebuah kereta kuda mewah namun tampak asing memasuki halaman istana.


Setelah kereta kuda asing itu berhenti,dua orang pria berpakaian seperti pengawal pribadi turun dari kereta tersebut.


Kedua orang tamu asing itu memasuki aula istana dipimpin oleh seorang penjaga yang sejak tadi berjaga didepan pintu aula istana.


Dari kereta dan pakaian mereka,Huang Zixin tahu bahwa orang itu bukanlah penduduk negara Hansui.Dia pun mengajak istri dan pengawalnya kembali memasuki istana untuk mengetahui tujuan kedatangan mereka.


Kedua tamu asing itu menghadap kaisar dan seluruh anggota keluarga kekaisaran yang masih berada diruangan tersebut.


"Salam yang mulia kaisar Huang." kedua tamu itu memberi hormat dan menyapa kaisar.


"Perkenalkan kami dari kekaisaran Wei dari negara Tianzun yang berada di sebelah barat negara Hansui ini."


"Kami datang atas perintah kaisar Wei Tian menyampaikan lamaran dari kaisar untuk putra mahkota Wei Ziyu pada putri kaisar Huang."


Semua orang yang berada di aula itu menatap putri Meilan,karena hanya dia satu-satunya putri kaisar Huang.


Sementara sang putri yang ditatap oleh semua orang,malah memfokuskan tatapannya pada satu sosok yang berdiri di belakang kakak ke empatnya.


Siapa lagi kalau bukan pengawal pribadi sang kakak,Yuwen.


Shuwan yang melihat tatapan putri Meilan tertuju ke tempatnya,menatap sang suami lalu mengerdarkan pandangannya.


Saat melihat Yuwen berdiri dibelakang sang suami,Shuwan mengerti kemana arah tatapan sang putri.


Bukan dirinya atau suaminya yang ditatap oleh putri Meilan,melakinkan pengawal setia sang suami,Yuwen.


"Putri zen memang tahun ini akan menginjak usia lima belas tahun dan sudah memasuki usia menikah.Namun kami baru saja selesai melakukan upacara pemakaman pangeran kedua dan dalam suasana berkabung."


"Dan selama masa masa berkabung ini,dalam waktu satu tahun kami tidak diperbolehkan melakukan pernikahan.Tolong sampaikan pada kaisar Wei Tian."


Kaisar Huang sangat menyesalkan kedatangan utusan itu yang tidak tepat waktu.


Sebagai orang yang haus akan kekkuasaan,dia tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memperluas wilayah kekuasaannya.


Apalagi lamaran itu berasal bukan dari pangeran biasa,tapi putra mahkota,calon kaisar selanjutnya.

__ADS_1


Dengan mengendalikan menantunya yang suatu saat menjadi kaisar,bukankah kekuasaannya akan semakin luas?Itulah yang dipikirkan kaisar Huang saat ini.


"Silahkan untuk kedua tamu beristirahat sejenak." kemudian sang kaisar memerintahkan beberapa pelayan dan penjaga menyiapkan tempat serta beberapa minuman dan camilan untuk kedua utusan tersebut.


Sementara kaisar masih berusan dengan kedua tamunya,putri Meilan menghampiri kakak keempatnya yang sedang bersama dengan istrinya.


"Kakak,kakak harus membantuku!Aku tidak mau menikah dengan putra mahkota kekaisaran Wei itu." putri Meilan menghiba pada sang kakak, namun matanya terus menatap Yuwen, berharap sang pria pujaan mengerti arti tatapannya.


"Tentang hal ini,ayahanda kaisar yang memutuskan.Apa kau mengenalnya atau mengetahui sesuatu tentangnya hingga tidak mau menikah dengannya?" putri Meilan menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan sang kakak.


"Aku akan mencari informasi tentangnya agar Lan'er sedikit mengetahui tentang dia." putus Huang Zixin


Sebagai seorang kakak,dia juga harus mengetahui pria seperti apa yang akan menjadi suami bagi adiknya itu.


"Tidak perlu!Aku sudah memutuskan aku tidak mau menikah dengannya." sang putri bersikukuh dengan keputusannya itu.


"Memangnya kenapa putri tidak mau menikah dengan putra mahkota itu?" Shuwan yang sudah menebak sesuatu,bertanya hanya untuk memastikan apakah tebakannya benar atau tidak.


"Aku menyukai pria lain." jawab putri Meilan dengan wajah malu-malu,namun pandangannya tetap fokus pada satu titik yang berada dibelakang Shuwan dan suaminya.


Shuwan yang sudah mendapatkan jawaban atas tebakannya,tidak menanyakan tentang siapa pria yang disukai oleh adik iparnya tersebut.


"Putri,apa yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita.Lagipula orang yang kita inginkan belum tentu menginginkan kita.Kalau dia tidak merespon,maka jangan berharap banyak."


Entah mengapa. Ucapan Shuwan tiba-tiba seperti memberi pencerahan bagi sang putri. "Jadi menurut kakak ipar,aku tidak perlu mengejar pria yang aku sukai?" Shuwan mengangguk dengan mantap pada adik iparnya itu.


"Jangan menurunkan derajatmu dengan mengejar pria yang tidak ingin memperjuangkanmu!"


Shuwan melirik pada pengawal pribadi yang selalu setia mendampingi tuannya itu.Tentu saja semua kalimat yang dia ucapkan barusan dia tujukan untuk pria itu.


"Jadi aku harus menerima lamaran itu?" putri Meilan tidak puas dengan keadaan seperti itu. "Apakah kau bisa menolaknya?"


Putri Meilan menggelengkan kepalanya lalu menjawab dengan lesu, "Ayahanda kaisar tidak akan membiarkan aku menolaknya."


"Tenanglah! Bukankah tadi kaisar mengatakan selama satu tahun masa berkabung tidak boleh ada pernikahan?"


"Artinya pernikahanmu masih lama,dan tidak ada yang tahu masa depan akan seperti apa." Shuwan menenangkan adik iparnya itu.

__ADS_1


"Lagipula kau belum melihatnya.Siapa yang tahu dia lebih tampan dan lebih hebat dari pria yang kau sukai?" sambung Shuwan sambil tersenyum.


"Benar juga." jawab putri Meilan sambil tertawa. "Hah...dasar plin plan,cepat sekali berubahnya." keluh Shuwan dalam hati.


"Kakak ipar menginaplah di paviliunku." ajak putri Meilan sambil terus bergelayut di lengan Shuwan.


"Tidak boleh!" sela Huang Zixin cepat.Putri Meilan mendelik pada sang kakak. "Aku meminta kakak ipar menginap,bukan kakak keempat."


"Dia tidak boleh menginap." Huang Zixin menegaskan pada adik bungsunya itu. "Memangnya kenapa?Hanya menginap." putri Meilan mencibir pada sang kakak.


"Besok aku berangkat ke barak." jawab Huang Zixin singkat. "Berangkat ya berangkat saja. Kakak kan berangkat dengan pengawal kakak, bukan dengan kakak ipar."


Entah mendapat keberanian dari mana,putri Meilan berani berdebat dengan kakak keempatnya yang terkenal dingin dan kejam itu, hanya karena memperebutkan Shuwan.


"Tentu saja aku ingin melewati malam panjang bersama istriku,gadis kecil sepertimu mana mengerti."


Namun kalimat itu hanya Huang Zixin ucapkan dalam hatinya,dan hanya bisa menghela napas menghadapi adik bungsunya itu.


"Ini sudah sore,ayo kita pulang." ajak Huang Zixin pada sang istri sambil menggenggam tangannya.


"Setelah aku pergi ke barak,kau bebas menginap dan tinggal bersama kakak iparmu di istanaku semaumu." ucapnya pada adik bungsunya lalu keluar menuju kereta.


"Benarkah?Kakak keempat memang yang terbaik." ucapnya dengan wajah sumringah. "Tapi..kalau kakak kembali ke barak,itu artinya pengawalmu juga tidak ada di istana mu." keluh sang putri dalam hati dengan raut kesedihan.


Pangeran ke empat bersama istrinya langsung memasuki kereta,sedangkan Yuwen langsung duduk ditempat kusir lalu melajukan mereta.


"A Zi,apakah gunung Shuyun jauh?" tiba-tiba Shuwan menanyakan letak gunung Shuyun.


"Ya,lumayan jauh.Butuh waktu dua hari untuk sampai disana dengan berkuda.Kenapa menanyakan ini hm?Berniat pergi kesana?"


Huang Zixin menarik Shuwan kedalam pelukannya,sementara satu tangannya menggenggam jemari sang istri.


Shuwan yang berada dalam pelukan suaminya menggelengkan kepala.


"Betapa menyenangkannya bila terus seperti ini. Sayangnya besok aku harus kembali ke barak dan akan kehilangan momen manis seperti ini. Harusnya kaisar memberiku cuti satu tahun." keluh sang raja perang dalam hati.


Pria yang selalu menghabiskan waktunya di barak dan sangat malas berasa di ibu kota itu, baru kali ini merasakan ingin tinggal di ibu kota lebih lama.

__ADS_1


Dan ini karena kehadiran gadis kecil yang kini berada dalam pelukannya itu.


__ADS_2