
"Baiklah,ayo lihat kakak keduamu." merekapun berjalan menuju istana pangeran kedua.
"Apakah semua pangeran istananya berada di wilayah istana kekaisaran ini?" Shuwan penasaran dengan tempat tinggal para pangeran.
"Ya" jawab sang suami singkat. "Tapi kenapa istanamu sangat jauh dari istana kekaisaran?" "Aku tidak suka berkumpul dengan orang-orang yang penuh trik dan kepalsuan." jawab sang suami apa adanya.
Sepasang suami istri baru itu tiba didepan gerbang istana pangeran kedua.Penjaga yang berjaga di gerbang menunduk hormat saat sang pangeran dan istrinya melewati mereka.
"Salam yang mulia pangeran,salam putri Zi." sapa mereka penuh hormat.Pria dingin itu hanya mengangguk dan berjalan melewati mereka, dengan tangan yang tetap bergandengan dengan sang istri.
Seorang pelayan menghampiri mereka lalu berjalan menuntun mereka ke kamar pribadi pangeran kedua.
Penjaga yang berjaga didepan pintu kamar membungkuk hormat lalu membukakan pintu, memepersilahkan sepasang suami istri itu memasuki kamar sang pangeran.
Huang Zixin membawa Shuwan mendekati tempat tidur kakak keduanya itu.
Pangeran kedua melebarkan matanya saat melihat kedua orang itu ada disamping tubuhnya. Deg deg deg deg,jantung pangeran kedua berdegup tak beraturan.
"Salam pangeran" sapa Shuwan namun tanpa membungkukan badannya.Diruangan itu ada seorang tabib yang sedang memberikan obat pada putra kedua kaisar itu.
"Bagaimana keadaannya,tabib?" tanya Huang Zixin seolah dia seorang adik yang sangat perhatian pada kakaknya.Namun bukan itu yang sebenarnya.
"Kondisinya masih sama pangeran,kami belum mengetahui penyakitnya,jadi belum bisa menemukan obat yang tepat." jawab tabib sambil menunduk.
"Apa yang terjadi padanya?" Shuwan penasaran dengan kondisi pangeran kedua. "Pangeran terkena penyakit aneh putri Zi,dan kami belum bisa membuat mengobatinya." terang si tabib.
"Tinggalkan kami!" perintah Huang Zixin pada tabib dan pelayan yang ada dikamar itu.Tanpa menunggu perintah diulangi,mereka langsung meninggalkan kamar itu.
Setelah memastikan tabib dan pelayan itu telah benar-benar pergi dari ruangan itu,Huang Zixin menatap wajah istrinya.
"Periksalah!" bukannya pria itu berbaik hati untuk mengobati sang kakak,tapi ada maksud lain dari perintahnya memeriksa pria tersebut.
Melihat Shuwan menatapnya penuh tanya,Huang Zixin pun kembali bersuara,"Bukan untuk mengobatinya,periksalah!Kau akan mengetahui sesuatu."
Karena dikamar itu hanya ada mereka bertiga, Shuwan pun memeriksa pergelangan tangan kakak iparnya tersebut.
Gadis itu mengerutkan kening saat menemukan hasil pemeriksaannya.Dia mengulangi pemeriksaan untuk memastikah hasilnya.
__ADS_1
Shuwan menatap wajah Huang Zixin sekilas,pria itu mengangkat sebelah alisnya,"Sudah mendapat jawaban?" tanya Huang Zixin pada sang istri.
"Dalam tubuhnya ada racun pelumpuh otot dan satu lagi racun...." Shuwan menghentikan ucapannya.
"Ini adalah dia racun milikku.Jangan bilang dia adalah...?"
"Ya,dia adalah pria brengsek yang menculik dan berusaha menodaimu beberapa malam lalu." jawab Huang Zixin membenarkan spekulasi istrinya.
Shuwan menatap pangeran kedua dengan jijik. "Jadi kau pria brengsek itu?Bagaimana rasanya racunku itu?Apakah kau bersedia membantuku menguji racun-racunku yang lain?" Shuwan menyeringai menatap pria menjijikan itu.
"Aku sangat yakin tidak akan ada yang bisa mengobatimu.Bagaimana kalau aku menambahkan satu lagi racun agar hidupmu lebih berwarna."
"Jangan sekarang!" cegah Huang Zixin cepat,sebelum istri kecilnya itu bertindak lebih jauh.
Dia tak ingin orang-orang curiga,bila sakit pangeran kedua bertambah parah setelah kunjungan mereka ke istana tersebut.
Shuwan cemberut karena dia ingin bersenang- senang dengan beberapa racun racikannya, namun suaminya malah melarangnya.
"Jangan sedih! Aku sudah membunuh masa depannya,juga memotong tangan lancangnya yang telah dia gunakan untuk menyentuhmu." ucap Huang Zixin sambil mengelus kepala Shuwan.
"Kami pergi dulu.Selamat menikmati penderitaanmu,kakak kedua." ucap Huang Zixin mencibir pada sang kakak.
Dia menggenggam tangan sang istri dan berjalan hendak keluar dari kamar itu,namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap tubuh sang kakak.
"Oh ya kakak..." pangeran kedua memandang ke arah adiknya saat mendengar sang adik bicara.
Tanpa mengatakan apapun,Huang Zixin menarik tubuh Shuwan hingga menempel padanya.Tanpa aba-aba,pria itu menyambar bibir sang istri yang berwarna merah muda dan sangat menggoda.
Huang Zixin menyesap bibir sang istri dengan penuh hasrat hingga napasnya memburu.Karena takut sang istri tak bisa bernapas,pria itu melepaskan tautan bibir mereka.
Wajah Shuwan tampak memerah,entah karena malu atau karena gairahnya yang telah terpancing oleh perbuatan sang suami.
Sementara pangeran kedua yang melihat kejadian itu,hanya bisa menggeftakan giginya menahahan amarah.
"Gadis yang sangat kau inginkan ini,adalah istriku.Dan hanya aku yang boleh menyentuhnya. Jangan pernah berpikir untuk mencoba menyentuhnya lagi,atau hidupmu yang tidak berarti itu akan berakhir!" ucap pria itu dingin.
Tanpa bicara lagi,pria itu berbalik dan menggandeng tangan istrinya meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Deg deg deg deg.Jantung Shuwan berdegup kencang.
Beberapa hari lalu,dirinya melakukan hal itu pada Hiang Zixin karena dalam pengaruh ramuan cinta.Tapi pria itu?Dia melakukannya dalam keadaan sadar.
Wajah Shuwan makin gerasa panas dan memerah.
"Kenapa kau melarangku menambhakan racun pada pria brengsek itu?Aku ingin membuatnya lebih menderita." keluh Shuwan kesal pada suaminya itu.
"Kita bisa melakukannya nanti.Merwka akan mencurigai kita bila melakukannya sekarang.Kita bisa menyusup kesana dilain waktu." pria itu menatap istrinya dengan lembut.
Berbeda swkali dengan tatapan tajam yang selalu dia layangkan pada orang lain.Shuwan hanya menghela napas dan mengikuti pengaturan sang suami.
"Memangnya apa yang akan Wan'er berikan padanya?Apakah Wan'er memiliki hantu dikepala?" Huang Zixin penasaran dengan rancana istri kecilnya itu.
"Obat yang menimbulkan halusinasi." jawab Shuwan tak menutupi apapun dari pria itu. Bukankah merwka suami istri?Tak ada hal yang perlu ditutupi.
"Kakak ke empat.Kakak ipar ke empat." tiba-tiba putri Meilan sudah berada dihadapan pasangan suami istri itu dan tersenyum pada mereka.
"Kakak ipar ke empat?Kau pikir aku punya berapa istri." ucap Huang Zixin terdengar tidak senang. Putri Meilan yang mendengar ucapan kakaknya hanya berkedip-kedip lucu.
"Kakak ke empat,kakak ipar ke empat.Apanya yang salah?" tanya putri Meilan menunjuk sang kakak dan kakak iparnya bergantian.
"Jangan panggil kakak ipar ke empat,aku tidak suka mendengarnya! Seolah-olah aku punya empat istri dan dia adalah istri ke empat ku." Huang Zixin menatap tajam adik bungsunya itu.
"Baiklah.Oh...aku hampir lupa.Apa pengawal tampan kakak tidak ikut ke istana?" putri Meilan bertanya dengan senyum malu-malu yang tak bisa dia sembunyikan.
"Ada di kereta." jawab Huang Zixin acuh.Dia melanjutkan perjalanan menuju istana sang ibu setelah adik bungsunya itu pergi ke arah depan istana.
"Kenapa kau begitu acuh pada adikmu sendiri?Bukankah menyenangkan punya banyak saudara?" Shuwan sangat heran pada sang suami.
Bila dia hanya acuh dan dingin pada orang lain, gadis itu bisa memakluminya.Tapi pria dihadapannya itu,pada adik sendiri begitu acuh.
Bahkan diantara para pangeran,mereka seperti tidak akur dan memiliki permusuhan tersembunyi.
Benar kata Yu zi,orang-orang istana sulit ditebak dan sulit dipahami.
"Jangan terlalu dekat dengan mereka,kita tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. Ayo,ibunda mungkin sudah menunggu kita di istananya."
__ADS_1