
"Bila kau belum mau mengambil istri,ambilah seorang selir!" ucap selir Xuangqi dengan nada memaksa.
Huang Zixin sangat ingin membantah ucapan sang ibu,namun dia berusaha menahan diri
"Bu,berhentilah membicarakan pasangan.Apa ibu tidak merindukanku?"
"Dasar anak bodoh! Mana mungkin aku tidak merindukanmu?Kau sangat jarang menemuiku.Aku pikir kau sudah lupa pada ibumu ini."
Wanita itu memeluk sang putra lalu menyuruhnya duduk disampingnya.Tak lama pelayan datang membawa minuman dan camilan untuk sang pangeran.
"Kenapa kau selalu menghindari pembicaraan tentang pasangan?Jangan-jangan kau...pangeran,apa kau tidak menyukai wanita?"
"Uhuk uhuk" Huang Zixin yang sedang meminum teh seketika tersedak mendengar ucapan frontal sang ibu.
Dia sangat terkejut dengan pemikiran liar wanita yang sudah melahirkannya itu
"Ibu,bagaimana kau bisa berfikir seburuk itu pada putramu ini?Sungguh kejam."
Sang ibu tersenyum mendengar ucapan putranya itu.
Walaupun diluaran sana putranya terkenal kejam,dingin dan tak tersentuh,namun saat bersamanya,dia adalah pria yang hangat dan penuh perhatian.
"Apakah sikapnya akan sehangat ini juga pada pasangannya kelak?" ucap sang ibu dalam hatinya.
"Nona pertama keluarga Hong sangat cantik dan berbudi luhur." Wanita paruh baya itu masih berusaha menjodohkan sang putra
"Bu..." Huang Zixin sudah tak tahu harus berkata apalagi menghadapi sang ibu. "Menghadapi satu wanita saja sangat merepotkan membuat kepalaku sakit" keluhnya dalam hati.
"Xin'er,kau sudah menemui ayahanda mu?"
"Aku baru tiba di istana dan langsung kesini bu" wanita itu hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban putranya
"Temuilah dia nak! Kenapa kau seperti menjauh dari ayahmu?"
"Ibu sudah tahu jawabannya,kenapa masih bertanya?". Hubungannya dengan sang ayah memang tak terlalu baik sejak beberapa tahun terakhir
Tak terasa waktu telah banyak berlalu.Hari sudah sore ketika pria dingin itu keluar dari paviliun ibunya.
"Ayo ke ruang kerja kaisar!" ajaknya pada Yuwen yang sejak tadi hanya berdiri di dekat gazebo.Mereka berjalan ke tempat yang dituju yang letaknya lumayan jauh dari paviliun sang ibu
Mereka berdua telah sampai di depan ruang kerja kaisar.Penjaga menunduk hormat saat melihat kedatangannya.
"Apakah ayahanda ada di dalam?"
"Ada pangeran." jawab penjaga yang berada didekat pintu,lalu dia membukakan pintu tersebut dan mempersilahkannya masuk
__ADS_1
"Salam kaisar.Semoga kaisar diberikan umur panjang." ucapnya formal sambil menunduk hormat.
Pria paruh baya yang sedang memeriksa laporan itu menghentikan kegiatannya dan mengalihkan pandangannya pada sang putra
"Kau sudah kembali dari perbatasan timur?Bagaimana keadaan disana?" ucap sang kaisar begitu pandangannya bertemu dengan mata sang putra
"Anda lebih tertarik menanyakan kabar perbatasan daripada menanyakan kabar putramu, yang mulia.Sungguh tidak berbelas kasih." ucapnya tajam.
"Tak bisakah kau bicara lebih sopan padaku pangeran ke empat?Inikah hasil didikan ibu selirmu?" pria paruh baya itu langsung bangkit dari duduknya.
"Ini bukan didikan ibu selirku,yang mulia.Tapi cerminan dari sikap ayahandaku terhadapku"
"Seorang ayah yang tidak memiliki kasih sayang untuk satu putranya,tapi begitu penuh kasih pada putra yang lain,aku merasa tidak perlu menghormatinya."
"Kau datang kesini hanya untuk mengatakan itu?" tanya sang kaisar dengan emosi tertahan.
"Aku datang kesini hanya untuk menyenangkan hati ibuku.Dia sangat ingin aku menghadap suaminya.Sekarang aku sudah memenuhi keinginannya.Permisi yang mulia."
Dia menunduk lalu keluar dari ruangan tersebut tanpa mempedulikan ekspresi kaisar yang sangat kesal terhadapnya.
Pernikahan ibunya dengan sang kaisar yang terjadi karena perjodohan yang didasari keuntungan politik,telah membuat kebahagiaan ibunya perlahan sirna.
Ayah kaisarnya yang hanya mencintai selir agung serta putra mereka,membuat istri serta anak-anaknya yang lain seperti tidak ada dimata kaisar.
Para istri dan anak-anaknya hanya dijadikan alat untuk memperluas dan mempertahankan kekuasaannya sebagai kaisar.
Bahkan Huang Zixin merasa telah dibuang oleh ayahnya sendiri saat dia dikirim ke barak militer di perbatasan timur,dan memasuki medan perang saat usianya lima belas tahun.
Bahkan perekrutan prajurit kekaisaran tidak menerima perserta yang usianya baru lima belas tahun.
Apakah ayahnya ingin dia mati di medan perang?Sejak saat itu,dia kehilangan hormat dan cintanya pada sang ayah.
Namun tak dapat dipungkiri,dia juga mendapatkan keuntungan dari tindakan ayahnya itu.
Sekarang dia mengendalikan 50.000 pasukan, 25 orang jendral besar yang sangat hebat,dan 25 orang jendral muda yang sangat berbakat dan memiliki kemampuan diatas rata-rata.
Ditambah seribu orang pasukan khusus dan rahasia yang direkrut dan dilatih oleh dia sendiri,yang kemampuannya setara dengan pengawal pribadi nya,Yuwen.
Dengan jumlah pasukan dan kekuatan yang pria itu miliki,dia bisa menggulingkan kaisar dan menduduki tahta bila dia menginginkannya.
Pertemuannya dengan sang ayah menghasilkan mood buruk bagi sang pangeran.Dia menghampiri kereta kudanya dan duduk di tempat kusir,di samping Yuwen.
"Eh?Pangeran,anda salah..."
"Jalan!" perintahnya singkat pada sang pengawal. Mereka berdua akhirnya duduk berdampingan ditempat kusir.
__ADS_1
"Pangeran,ini sudah petang dan hampir malam.Kita pasti kemalaman di jalan.Apakah...?" "Kau bukan anak gadis!Tidak akan ada yang memep*rk*s*mu.!" ucap sang pangeran frontal sebelum Yuwen menyelesaikan pertanyaannya.
"Aih,pangeranku ini.Pedang dan mulutnya sama-sama tajam dan menyakitkan." Yuwen hanya bisa mengeluh di dalam hati dan ingin menangis namun tak ada air mata.
****
Kediaman Li
Li Minghao sedang disidang oleh ayah dan ibunya perihal hubungannya dengan Shuwan. "Jadi kapan kita akan melamar nona Shuwan?" tanya sang ibu yang sudah sangat tak sabar ingin memiliki menantu.
"Bu,dia tidak mau menikah dengan ku.Dia selalu bilang aku dan Jingmi adalah teman baiknya.Bagaimana mau melamar?" jawab Li Minghao lesu.
"Percuma kau punya wajah tampan,beberapa toko kain dan pakaian yang sangat besar,tael yang banyak,tapi tidak bisa memikat wanita!" cecar sang ibu penuh kekesalan.
"Apa gadis itu menyukai Xuemin?" tanya sang ibu lagi dengan nada menyelidik. "Dia bilang Xuemin juga hanya teman." jawab Li Minghao pelan.
"Kalau begitu,aku angkat saja dia jadi putriku.Bagaimana suamiku,kau setuju?" ucap nyonya Li bersemangat
"Terserah kau saja.Belum tentu juga gadis itu mau jadi putri angkat kita." jawab tuan Li pasrah.Menolak atau mendebat istrinya adalah hal merepotkan dan percuma.
"Setidaknya aku tetap bisa memiliki dia,meskipun bukan sebagai menantu ku.Aku sudah terlanjur menyayanginya." ucap nyonya Li lagi.
"Bu,aku akan pergi ke rumah Shu." pamit Li Minghao pada ibunya. "Hei tunggu! Mau apa kau ke rumah Shu?" tanya sang ibu penasaran.
"Aku mau mengajaknya pergi ke pasar malam.Jingmi dan Xuemin juga akan ikut." jawab Li Minghao pada sang ibu.
"Bagus.Jangan lupa belikan dia gaun dan perhiasan yang bagus.Katakan padanya,lusa ibu akan mengajaknya ke pesta ulang tahun kaisar!" nyonya tampak bersemangat saat mengatakan itu.
"Kau mengajak Shuwan ke pesta ulang tahun kaisar?" tanya tuan Li terkejut.
"Ya,tentu saja.Kau sudah menyetujui aku mengangkat Shuwan menjadi putriku.Jadi aku akan mengajaknya juga."
"Tapi dia belum menyetujui hal itu,istriku."
Dia tidak akan menolak keinginanku.Percayalah!" ucap nyonya Li penuh keyakinan.
Li Minghao dan Li Jingmi akhirnya pergi ke rumah Shuwan setelah Xuemin datang menjemput mereka.
Wang Xuemin benar-benar memanfaatkan waktunya yang hanya sebentar di ibu kota,untuk bersenang-senang dengan para sahabatnya.
Tiga hari setelah ulang tahun kaisar,dia harus kembali ke barak militer.Dan saat itulah hidupnya yang damai dan menyenangkan berakhir.
Begitu juga dengan kebersamaannya bersama dua sahabat dan satu gadis cantik yang telah mencuri hatinya itu akan berakhir pula.
Dia dan pangeran ke empat beserta beberapa jendral besar mendapatkan libur sepuluh hari karena akan ada acara besar di istana kekaisaran,yaitu perayaan ulang tahun kaisar.
__ADS_1