Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
BERKELILING DI IBU KOTA


__ADS_3

Pagi menjelang siang,Shuwan dan Wei sedang diajak berkeliling di kediaman Li oleh kedua tuan muda nya.


"Tuan muda,kapan kita pergi mencari rumah untuk tempat tinggalku?" Shuwan merasa risih terus berada di kediaman keluarga Li.


"Ini masih pagi,bersantailah dulu.Nanti siang kita akan mencarinya,sekalian aku akan mengajakmu berkeliling." "Ya,bukan ide yang buruk" Shuwan antusias mendengar dirinya akan diajak berkeliling.


"Apa kalian sudah meminum pil dan mengoleskan salep pada luka kalian?" Shuwan ingat kedua pria itu masih harus meminum obat


"Sudah." jawab mereka kompak. "Sudah mulai mengering dan tidak berdenyut lagi" jawab Li Minghao


"Oh ya,kau mau tempat tinggal yang bagaimana nona Su?yang besar dan berada di pusat kota atau?" "Jangan yang terlalu besar,kami hanya tinggal berdua.Kalau bisa jangan di pusat kota.Aku suka ketenangan." Shuwan tak ingin tinggal di pusat kota.


"Minghao,aku dengar Xuemin pulang hari ini."


"Oh ya?kau tahu dari siapa?" Li Minghao balik bertanya pada si pembawa berita yang tak lain adalah sepupunya sendir,Li Jingmi


"Dari ayah.Sekarang ayah dan paman Hongli akan ke istana untuk menyambut kedatangan mereka.Apa kita akan kesana juga?"


"Hari ini kita akan menemani nona Shu dulu mencari tempat tinggal,besok kita ke rumah Xuemin mengunjunginya." Minghao memutuskan.


"Ayo kita pergi sekarang!" Minghao mengajak mereka keluar,ternyata di luar sudah ada kereta yang menunggu."Naiklah!" Li Minghao meminta Shuwan dan Wei naik lebih dulu,baru dia dan Jingmi menyusul.


"Siapa Xuemin?" tanya Shuwan penasaran. "Dia sahabat kami sejak kecil.Dia adalah jendral muda yang bertugas di perbatasan utara.Dia adalah putra dari jendral besar Wang Xingsheng." terang Li Minghao


"Oh." jawab Shuwan singkat. Jingmi terkejut mendengar jawaban singkat dari gadis itu. "Hanya Oh?" tanya nya heran.


"Memangnya aku harus bilang apa..?" tanya Shuwan heran.


"Jendral besar Wang Xingsheng adalah kakak dari salah satu selir kaisar,dan dia adalah paman dari pangeran ke empat." jelas Jingmi semangat


"Lalu?" Shuwan makin bingung dengan Jingmi


"Hahaha sudahlah Jingmi! Mungkin nona Shuwan bukan berasal dari negeri ini,jadi dia tidak tahu tentang semua yang ada disini.Kau ingin dia terkagum-kagum saat kau menyebut nama seseorang yang tidak dia tahu?"


Li Jingmi menepuk jidatnya dengan dramatis. "Aku kira kau berasal dari wilayah lain di negeri ini,ternyata dari negeri lain.Kenapa nyasar mu jauh sekali nona?" Li Jingmi tak habis pikir dengan keadaan Shuwan

__ADS_1


"Tuan muda,kita sudah sampai di pasar." suara kusir dari luar mengintrupsi obrolan mereka.


"Pasar?Kenapa kita ke pasar? Bukankah kita sedang mencari tempat tinggal?" Shuwan menatap Li Jingmi dengan curiga


"Aku rasa kau dan pelayanmu membutuhkan beberapa pakaian,jadi beli lah pakaian dulu disini." jawab Li Minghao santai. "Tapi aku punya banyak pakaian di ruang dimensi." ucapnya dalam hati.


"Ya,Wei memang membutuhkan banyak pakaian." ucap Shuwan akhirnya.Dia ingat Wei hanya memiliki pakaian yang dia kenakan kemarin.Sekarang saja dia memakai pakaian pelayan keluarga Li.


Merekapun akhirnya turun dari kereta dan Li Minghao membawa mereka memasuki sebuah bangunan berlantai dua yang ternyata adalah toko pakaian.


Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian para gadis yang berada di toko tersebut. "Siapa gadis yang bersama tuan muda Li itu?" "Apakah gadis itu kekasih tuan muda Li?"


Banyak yang bertanya-tanya tentang status gadis itu karena tuan muda Li yang terus berjalan mendampinginya.Hal itu tentu membuat para gadis yang ada disana merasa kesal dan cemburu.


Tuan muda Li adalah salah satu pria dambaan banyak gadis di ibu kota.Bukan hanya tampan dan kaya,tuan muda Li juga berakhlak baik dan suka menolong siapa pun,namun dia sangat sulit digapai.Li Minghao selalu acuh dan dingin pada gadis-gadis yang memujanya.


"Tuan dan nona muda,ada yang bisa saya bantu?" seorang pelayan menghampiri mereka .


"Carikan beberapa pakaian bagus untuk mereka berdua!" pelayan itu langsung mengangguk dan membawa mereka ke lantai dua.


"Wei,pilihlah beberapa pakaian untukmu! Bukankah kau tidak memilikinya?" "Tapi nona,saya tidak pantas membeli pakaian yang bagus dan mahal ini." jawab Wei pelan.


"Lalu kau hanya akan memakai satu pakaian seumur hidupmu?" ucap Shuwan tak suka.


"Aku yang akan membayarnya,bukan tuan muda Li jadi kau tak perlu sungkan." lanjut Shuwan lagi.


Melihat Wei diam saja,akhirnya Shuwan mengambil beberapa pakaian sederhana Wei dan untuk dirinya sendiri.Dia juga mengambil beberapa hiasan rambut yang dia sukai.Bukankah dia punya banyak tael dan emas yang tak kan habis di ruang dimensi?jadi gunakan saja untuk belanja.


Saat Li Minghao hendak membayar barang-barang yang diambil Shuwan,pelayan tersebut mengatakan belanjaan tersebut sudah dibayar oleh gadis itu.


Li Minghao hanya menarik napas dan menatap Shuwan."Kau punya tael?" " Ya,sedikit" jawab Shuwan berbohong.Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia punya harta yang tak terhingga di ruang dimensi.Bisa-bisa dia dirampok orang.


"Ayo kita ke tempat lain." Li Minghao mengajak mereka keluar dari toko pakaian itu dan menuju sebuah bangunan berlantai dua lainnya tak jauh dari toko paakian tadi yang ternyata itu adalah restoran


Li Minghao langsung membawa rombongannya ke lantai dua,tempat yang biasa ditempati oleh para bangsawan

__ADS_1


"Tuan muda mau pesan apa?" seorang pelayan menghampiri mereka setelah mereka mendapatkan tempat duduk.


Shuwan tak tahu apa yang harus dia pesan saat teman-temannya melihat daftar menu yang diberikan oleh pelayan tadi. "Aku tidak tahu makanan seperti apa yang ada disini" batin Shuwan.


Tak lama makanan yang mereka pesan pun datang,meja sampai penuh oleh pesanan mereka.Sebenarnya hanya Li Minghao dan Li Jingmi yang memesan makanannya,karena Shuwan dan Wei hanya menurut saja.


"Nona Shu,aku rasa ikan bakarnya lebih enak buatanmu." Li Jingmi mengungkapkan perasaanya. "Oh ya?" tanya gadis itu penasaran. Dia langsung menyicipi ikan bakar yang ada di hadapnnya. "Benarkan?" Li Jingmi memastiakan yang dia rasakan.


"Ya,bumbunya sedikit berbeda,wajar rasanya juga berbeda." jawab Shuwan acuh.Dia juga merasakan hal itu.Masakan itu memang berbeda dengan yang biasa dia makan ditempat kakeknya dulu.Ini agak hambar dan sepertinya tidak menggunakan beberapa bumbu rempah.


Selesai makan mereka tidak langsung pergi dari tempat itu,Li Minghao malah mengajaknya ngobrol hal-hal yang tidak penting. "Tuan Li,kapan mencari rumah sewa nya?waktu semakin siang tapi kita masih disini."


Mendengar pertanyaan gadis itu,Li Jingmi memicingkan matanya pada sang sepupu."Kau sengaja melakukan ini agar nona Shu tinggal di kediaman kita ?" "Tidak! Tidak.Mana ada hal seperti itu." Li Minghao tergagap dengan ucapan sepupunya itu.


"Nona shu,tidak seperti itu.Jingmi kau bicara sembarangan." geram Li Minghao pada sepupunya itu.


Saat dia melihat ke arah Shuwan,gadis itu sedang memainkan belati dengan pandangan yang sangat tajam ke arahnya.


Deg deg deg.Jantung Li Minghao berdegup kencang,keringat dingin menetes dipunggungnya.Tiba-tiba terlintas di ingatannya adegan gadis itu membunuh para penyerang di hutan dengan kejam,yang membuat tubuhnya merinding.


"Nona Shu,setelah dari sini kita akan segera mencari rumah yang cocok untukmu." Li Minghao tidak ingin gadis itu marah padanya.


Li Minghao segera mengajak mereka keluar untuk mencari rumah yang diinginkan Shuwan.Setelah beberapa lama menaiki kereta,Shuwan melihat sebuah rumah yang tidak terlalu besar,namun terlihat rapi dan terawat,dengan halaman yang memiliki beberapa tumbuhan dan bunga.


"Aku suka rumah itu.Ayo kesana dan cari tahu." Shuwan menarik tangan Wei mendekati rumah itu,sedangkan kedua tuan muda Li mengikuutinya dari belakang.


Melihat ada seseorang keluar dari rumah itu,mereka segera menghampirinya.


"Permisi paman,apakah rumah ini milik paman?" "Ya tuan muda,ada apa?" jawab pria setengah baya itu sopan.


"Sepertinya rumah ini kosong,apakah tidak berpenghuni?" "Rumah ini memang sengaja dibangun untuk disewakan,dan sekarang masih belum berpenghuni."


"Kebetulan sekali paman,teman saya sedang mencari rumah untuk ditinggali." "Ayo kita bicarakan di dalam tuan muda." pria paruh baya itu membuka pintu dan mengajak mereka masuk.


Setelah mencapai kesepakatan,mereka berpamitan pada pemilik rumah itu. "Besok saya akan pindah ke rumah ini paman." Shuwan memberitahu pemilik rumah, "Baiklah nona,bawalah kuncinya,besok anda bisa langsung menempatinya."

__ADS_1


"Terimakasih paman,kami pamit"


__ADS_2