Permaisuri Dewa Kematian

Permaisuri Dewa Kematian
MENUJU KEDIAMAN LI


__ADS_3

Merasakan gerakan kecil istrinya,Huang Zixin kembali memejamkan mata dan berpura-pura masih tidur.


Benar saja,Shuwan membuka matanya dan menyadari mereka masih tidur dalam posisi berpelukan.


Melihat wajah yang sangat rupawan berada dihadapannya,Shuwan tak dapat menahan diri untuk tak menyentuh rahang tegas itu.


melihat bibir pria itu terdapat sedikit luka,dia mengusapnya dengan sangat lembut.


Dia ingat tadi malam dia menggigit bibir pria itu saat merasa kesakitan karena sesuatu yang sangat keras,panjang,dan besar milik pria itu menerobos masuk ke inti tubuhnya.


"Ini pasti sakit." gumamnya sangat pelan sambil terus mengusap bibir itu.Dan tanpa dia sadari, tindakannya itu telah membangunkan kembali pusaka suaminya.


Huang Zixin mengerang sambil menangkap tangan gadis itu yang masih menempel dibibirnya.Dia mengarahkan tangan sang istri ke pusakanya yang telah menegang.


Shuwan membelalakan mata saat tangannya menyentuh pusaka milik suaminya. "Benda ini...sangat besar dan.....pantas saja tadi malam sangat menyakitkan." keluh Shuwan dalam hati.


"Menginginkannya lagi?" tanya pria itu dengan senyum menggoda pada sang istri.Shuwan menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat.


Dia hendak menjauh dari sang suami,namun gerakannya kalah cepat.Pria itu telah lebih dulu menindih tubuhnya dan melebarkan pahanya dengan sangat cepat.


Sekali lagi pergumulan panas keduanya kembali terjadi.Sekitar dua batang dupa kemudian, pergumulan panas itu baru berakhir.


"Ayo bangun,bersihkan diri dulu." ucap pria itu lembut.Namun Shuwan menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan sangat pelan, "Aku lelah".


Sejak tadi malam pria itu terus menyerangnya dan hanya memberikan sedikit waktu untuk beristirahat.


Badannya terasa sangat lelah,bahkan kakinya gemetaran hingga dia merasa tak kan sanggup berdiri.Pria itu benar-benar menyiksanya.


Huang Zixin menggendong Shuwan ke tempat pemandian dan memasukannya ke dalam bak besar untuk berendam.


Pria itu memasukan kelopak bunga dan wewangian ke dalam bak pemandian tersebut. Setelah selesai,dia sendiri memasuki bak besar itu untuk berendam.


Saat menyadari pria itu menatapnya dengan aneh,Shuwan langsung menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan berkata dengan sangat cepat, "Tidak,jangan lakukan lagi."


"Apa kau tidak lelah?Aku bahkan merasa tak sanggup untuk berdiri." Shuwan bertanya dengan heran dan wajah lelahnya sangat terlihat.


"Aku bisa memuaskan Wan'er hingga sore nanti bila menginginkannya." ucap pria itu sambil menatap tubuh sang istri dengan tatapan lapar.


Pria itu hanya bisa menghela napas dan mengeluh dalam hati,kenapa tubuh istrinya sangat menggoda?

__ADS_1


Shuwan yang sedang menggosok tubuhnya membelalakan mata ketika melihat tubuh bagian depannya.


Dari dada,perut,bahkan paha,semuanya dihiasi sangat banyak bercak merah.Tubuhnya sudah seperti orang yang terkena alergi atau ruam kulit, bercak merah tersebar dimana-mana.


"Huang Zixin...Kau?!" Shuwan menggeram kesal pada suaminya itu.Ingin rasanya dia memukul pria itu,namun dia tak berani mendekat karena takut kembali diterkam oleh singa lapar itu.


Setelah berendam beberapa lama,mereka mengakhiri kegiatan mandinya.


Setelah memakaikan kain untuk menutupi dan mengeringkan tubuhnya,Huang Zixin kembali menggendong Shuwan dan membawanya ke kamar.


Pria itu bahkan mengambilkan pakaian sang istri dari lemarinya. "Mana yang akan Wan'er kenakan?" "Ambilkan yang biru saja." jawab sang istri cepat.


Pria itu telah selesai berpakaian dan dia mendekati istrinya yang masih duduk ditempat tidur.


Shuwan menerima pakaian yang diberikan suaminya,namun dia mengernyit heran saat melihat sang suami tetap berdiri dihadapannya.


"Kenapa masih berdiri disitu?Cepat keluar,aku mau berpakaian." "Kenapa aku harus keluar?" Tanya sang suami menaikan sebelah alisnya.


"Ya sudah kalau tidak mau keluar,berbalik saja!" namun pria itu tak bergeming. "Apa kau akan melihatku berpakaian?" tanya Shuwan mulai kesal pada tingkah suaminya.


Pria itu hanya mengangguk dengan santai. "Kenapa?Apa Wan'er malu?Kita sudah saling melihat satu sama lain.Bahkan yang tersembunyipun aku sudah melihatnya." ucapnya santai.


"Baiklah,tapi kau hanya boleh melihat,tidak boleh menyentuh atau menggangguku!" putus gadis itu akhirnya.


"Baiklah,aku janji tak akan menyentuh atau mengganggumu." jawab pria itu yakin.Shuwan pun bangkit dan berdiri dihadapan suaminya.


Dia melepaskan kain yang menutupi tubuhnya,lalu dengan gerakan yang sangat santai,dia mengambil pakaian dalamnya yang terletak diatas tempat tidur.


Glek.Huang Zixin menelan ludah dengan sangat kasar saat pemandangan indah itu terlampang nyata di hadapannya.Wajahnya memerah dan jakunnya naik turun.


Meski dipermukaan dia tampak tenang,namun gairahnya kembali bangkit dan sesuatu dibawah sana terus berdenyut.


"Sial,gadis kecil ini sedang menggodaku!" geramnya dalam hati.Meski dia sangat ingin menerkam gadis itu lagi,tapi dia tidak bisa melakukannya.


Tadi dia sudah berjanji hanya akan melihatnya tanpa menyentuh atau mengganggunya. "Rupanya dia sengaja melakukannya!" rutuknya dalam hati.


"Sudah selesai." ucap Shuwan dengan senyum cerah.Dia sangat senang melihat ekspresi suaminya barusan yang terlihat tertekan karena menahan diri untuk tidak menyentuhnya saat dia berdiri dengan tubuh polos dihadapannya.


"Rasakan!Siapa suruh keras kepala.Bersikeras ingin disini melihat aku berpakaian." ucap Shuwan dalam hati.

__ADS_1


"Ayo sarapan,aku sangat lapar.Bukankah hari ini kita harus ke kwdiaman Li?" tanya Shuwan pada sang suami sambil berjalan keluar dari kamar tersebut.


Setelah selesai sarapan,-di waktu yang sudah sangat terlewat dari waktunya sarapan-pasangan itu bersantai sejenak.


Yuwen mendekat ke arah mereka dan langsung bertanya,"Yang mulia,apa kita akan pergi sekarang?"


"Ya,tunggu sebentar lagi!" jawab sang pangeran setelah melihat istrinya mengangguk.


Mereka berduapun bangkit lalu keluar dari istana tersebut.Kereta kuda mewah telah terparkir didepan istana menunggu mereka sejak tadi.


Huang Zixin mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri menaiki kereta tersebut. Yuwen langsung melajukan kuda setelah kedua majikannya duduk dengan nyaman didalam kereta.


"Saat pulang nanti,bolehkah aku membawa Wei dan Yu zi?" tanya Shuwan pada suaminya. "Yu zi?" Huang Zixin bertanya dengan heran.


"Kelinci coklat itu." beritahu Shuwan. "Oh..peliharaanmu itu?Bawa saja kalau itu membuatmu senang." jawab sang pangeran acuh.


Sebenarnya Yu zi ada diruang dimensi dan bisa keluar kapan saja,namun Shuwan tidak mau orang-orang di istana suaminya curiga bila kelinci itu tiba-tiba muncul disana.Jadi dia harus terlihat membawanya dari kediaman Li.


"Apa Wei bisa beladiri?" Shuwan menggelengkan kepala mendengar pertanyaan suaminya. Meskipun dulu dia sesekali mengajarinya,tapi hasilnya tidak terlalu terlihat,karena frekuensi latihannya yang tak menentu.


"Aku carikan saja pelayan yang ahli beladiri,agar selain melayanimu,dia juga bisa melindungimu." ucap pria itu setelah tahu Wei tidak bisa beladiri.


"Tapi aku ingin Wei tetap ikut." wanita itu bersikukuh dengan keinginannya.Huang Zixin hanya bisa mengangguk pasrah.


"Tidak masalah,lagipula di istana banyak ahli beladiri yang akan melindunginya." Huang Zixin berkompromi dihatinya.


"Bagaimana kondisi pangeran kedua?" Huang Zixin menatap tak suka mendengar pertanyaan sang istri.


"Jangan sampai dia sembuh.Aku akan menambah penderitaannya agar dia tak bisa sembuh." ucap Shuwan sambil menyeringai.


"Aku ingat kau berjanji akan mengajakku menyusup ke istananya untuk memberikan hadiah tambahan pada pria brengsek itu."


"Ya,kita bisa melakukannya nanti.Singkirkan pria itu dari pikiranmu!" ucap Huang Zixin dengan nada pahit dan dia langsung menarik tubuh sang istri kedalam pelukannya.


"Aku sudah mengatakannya,setelah menjadi istriku,kau tidak diizinkan memikirkan pria lain."


"Tapi setelah kembali dari kediaman Li,kita singgah dirumah kakek Wang sebentar ya,aku ingin memeriksa luka Xuemin." ucap Shuwan santai.


"Kau menantangku gadis kecil?" geram Huang Zixin.

__ADS_1


__ADS_2