
"Maaf Kakek, saya terlambat," ucap Alex dengan mata merah dan penampilan yang sedikit berantakan.
Saat Alex sampai di ruangannya, sekretarisnya menyampaikan bahwa sejak dari tadi Ravka mencarinya, bahkan Tuan Bayu juga sudah menunggunya di ruang kerja Ravka. Membuat Alex bergegas menghampiri ruang kerja Ravka. Kakek Bayu memperhatikan Alex yang masih terengah-engah dan berusaha mengatur nafasnya.
"Syukurlah kalau kamu sudah datang. Kita harus membahas strategi menghadapi direksi pagi ini," ucap Bayu santai.
"Aku membawa ini," ucap Alex menyerahkan sebuah flash disk ke atas meja.
"Duduklah dulu, baru jelaskan apa ini," ucap Bayu kemudian.
Alex duduk tepat di sebelah Kakek bayu, berhadapan dengan Ravka. Ia dapat menyadari tatapan tak enak hati yang dilayangkan oleh Ravka.
"Ini rekaman pengakuan Derryl, orang yang berniat bekerjasama dengan BeTrust. Dia mengakui kalau Sherly yang memintanya untuk menipuku, tentunya dengan imbalan yang cukup besar. Aku sudah memeriksa aliran dananya. Transferan itu berasal dari rekening atas nama Hugo, Kakak Sherly. Jadi aku rasa, keluarga Sherly terlibat dalam semua hal yang terjadi dengan perusahaan," jelas Alex tergesa-gesa.
Pergaulan bebas Alex yang lekat dengan dunia malam membawanya pada pertemenan dengan kelompok hitam jalanan di Ibukota. Kelompok yang memiliki pengaruh besar pada bisnis gelap di jalanan dan juga bawah tanah. Sehingga tak sulit bagi Alex untuk mencari keberadaan pria yang sudah membuat darahnya mendidih. Dengan dukungan para gengster terkenal di Jakarta, menghadapi seorang Max bukanlah hal yang sulit. Hingga dengan mudahnya ia mengorek informasi dari pria tersebut hanya dalam satu malam.
"Maaf Mas, aku kemarin sudah keterlaluan. Aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan," ucap Ravka tertunduk lesu.
"Kamu tidak sepenuhnya salah dalam hal ini. Akulah yang terlalu bodoh sehingga mudah dipermainkan, kita bicarakan itu nanti. Ada hal yang lebih penting yang harus kita selesaikan sekarang," ucap Alex menenangkan hati Ravka.
Ravka kemudian menceritakan kembali secara sekilas apa yang baru saja ia dengar dari Kakek Bayu. Sementara Alex menggertakkan rahangnya dengan keras saat mendengar cerita yang mengalir dari mulut adik sepupunya itu. Termasuk menghilangnya Bambang sejak tadi malam,"
"Aku rasa dia tidak mungkin lari kluar negeri secepat ini. Kita bisa melakukan pencekalan ia keluar negeri melalui imigrasi. Akan lebih mudah mencari Bambang jika di dalam Negeri. Kenalanku akan mudah kengatasinya jika di dalam negeri," ucap Alex dengan aura membunuh.
"Kamu bisa melakukan apa saja untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi ingat Lex, Kakek tidak mau ada pertumpahan darah. Seberapa banyakpun kita dirugikan tidak akan sebanding dengan nyawa manusia,"
"Alex mengerti Kek. Alex tidak akan melewati batas dalam menangani masalah ini," ucap Alex seraya menundukan kepalanya sebagai tanda persetujuan.
__ADS_1
"Maaf, Kek. Waktu kita tinggal setengah jam lagi untuk memulai meeting," ingat Nino pada semua yang ada di dalam ruang kerja Alex agar mereka kembali fokus untuk menghadapi rapat kali ini.
"Aku akan mengundurkan diri menjadi CEO pada meeting kali ini," ucap Alex kemudian."Dengan begini direksi akan menyalahkanku yang tidak becus mengurus perusahaan. Sehingga menimbulkan guncangan yang cukup besar pada perusahaan,"
"Aku rasa tidak harus sampai seperti itu Mas. Segala sesuatunya sudah bisa di handle. Kita hanya memerlukan sedikit waktu untuk menyelesaikan segala masalah yang timbul. Kita cukup limpahkan kesalahan pada Pak Bambang yang saat ini sedang menghilang. Kita sudah tau akar masalahnya, jadi akan lebih mudah menyelesaikannya," sambar Ravka kemudian.
"Beberapa Direksi dibawah kenadil kita akan mudah diatasi. Bagaimana dengan direksi yang bersebrangan dan sedang mencari celah untuk menghancurkan kita?" tanya Alex kemudian.
"Saat ini pemetaan membagi dua kubu besar direksi, Mas. Antara keluarga Dinata serta keluarga Hambali, keluarga Sherly. Tapi kita masih menguasai lima puluh tujuh persen saham, sementara mereka hanya menguasai tiga puluh persen. Dengan bukti yang kamu miliki atas keterlibatan Hugo dalam kasus ini, kita bisa menekan direksi dibawah kenadali Hambali. Sementar para pemegang saham sisa akan sangat mudah diatasi, karena mereka pasti akan mengikuti suara mayoritas terbanyak," ucap Ravka menjelaskan.
Otak encer Ravka memang tak perlu dipertanyaakn lagi. Sebagai lulisan cumlaude dari universites bergengsi di Dunia, Ravka dengan sangat mudah membaca situasi dan mencari aokusi yang tepat.
"Jadi kamu tidak perlu sampai mundur dari kursi CEO. Justru jika kamu mundur akan ada riak kecil yang akan timbul. Untuk saat ini kita harus menghalau riak-riak sekecil apapun," tegas Ravka lagi.
"Kakek sependapat dengan Ravka. Sekarang, kamu temui beberapa direksi yang condong pada keluarga Hambali, Lex. Lakukan dengan sangat cantik agar mereka bisa kita giring pada permainan kita. Kakek bisa memberi waktu lebih lama dan memundurkan meeting. Lakukanlah yang terbaik, Lex. Kakek mengandalkanmu," ucap Kakek Bayu seraya menepuk pundak Alex perlahan.
Ada perasaan haru menggelayut di hati Alex. Ia tak menyangka bahwa Kakeknya ternyata masih mau mempercayainya setelah apa yang terjadi pada perusahaan karena keteledorannya. Ia juga selama ini mengira bahwa Kakek Bayu hanya terpaksa mengangkatnya sebagai CEO dan akan menyingkirkannya secepat kilat ketika ia melakukan kesalahan sekecil apapun. Namun, kenyataannya baik Ravka dan Kakek Bayu memperlihatkan kebaikan tulus padanya. Membuat Alex bertekad untuk lebih serius menangani perusahaan.
*******
"Kita mau kemana Bos?" tanya Nino heran.
"Bukan kita, tapi gue," ucap Ravka acuh tak acuh.
"Terus meeting-nya gimana?"
"Yah lu duluan lah kesana. Meeting-nya juga belom bakalan mulai. Tadi kan Kakek udah bilang, dia mau nunda meeting sampai Mas Alex selesai dengan para direksinya hambali itu. Udah, lu ke ruang konference duluan dan siapin segala yang dibutuhkan untuk meeting nanti. Gue bakalan kesana sebelum meeting mulai," ucap Ravka tak sabaran.
__ADS_1
"Terus ngapain gue ikut ke bawah? Kan ruang meeting cuma satu lantai di bawah ruangan lu, Boss," oceh Nino kesal.
"Bawel lu. Salah sendiri, siapa suruh lu ga mencet tombol tadi?!" jawab Ravka membuat Nino semakin kesal.
"Ya mana gue tau juga lu mau ngapain? Ngomong kaga. Nyusahin emang. Untung lu Boss," Nino negdumel saat melihat angka di layar kecil dalam lift tersebut sudah mencetak angka delapan belas.
Nino jadi terpaksa harus menahan rasa tak nyaman yang menekan bagian bawah perutnya saat lift berjalan cepat turun dan naik. Turun dua puluh lantai tanpa berhenti, kemudian naik sembilan belas lantai dalam kurun waktu singkat. Lift tersebut memang di khususkan untuk direksi kantor. Jadi lift tersebut tidak akan berjalan perlahan dan berhenti di tiap lantai.
"Jangan ngedumel mulu, kerja yang bener," ucap Ravka pada Nino yang sudah ditekuk.
Nino semakin menekuk wajahnya saat Ravka berbicara dengan seringai lebar menghiasi bibirnya.
"Anak orang lagi kerja. Ga usah digangguin Boss. Ga puas apa ketemu di rumah? Kekepin kalo ga bisa jauh," celetuk Nino sewot.
"Suka-suka gue lah. Bini-bini gue. Makanya kawin, jadi ga ngerusuhin bini orang,"
"Ih .... siapa yang ngerusuhin bini elu. Lagian gue kawin ngapain ngomong-ngomong sama lu?" balas Nino tak mau kalah.
"Heh .... ga usah ngeres otak lu. Nikah dulu, sah, baru kawin," oceh Ravka seraya mendelik tajam.
"Udah dia tadi yang ngomong kawin, malah gue yang disalahin sih,"
"Bodo amat .... " ucap Ravka seraya keluar lift dengan begitu riangnya membuat Nino semakin keki.
**********************************************
sambil nunggu up bisa kepoin karya ini yah...
__ADS_1