Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 60# Pagi Ceria


__ADS_3

Alea terjaga dari tidurnya. Setengah sadar ia mengerjapkan mata perlahan, menyesuaikan retina dengan pencahayaan redup di dalam kamar. Tak ada bias cahaya dari jendela kamarnya, menandakan hari masih gelap di luar sana.


Sebuah denyutan menghantam ulu hati saat menyadari sebuah tangan melingkar di perutnya. Alea merasakan seperti dejavu saat terbangun dengan seseorang yang memeluknya. Beruntung ia bisa menahan sebuah teriakan lolos dari mulutnya, saat ujung mata menangkap keberadaan seseorang yang sangat ia kenal terlelap disampingnya. Sebersit senyum di bibir menggantikan kepanikan yang melanda dikala fajar menyingsing. Ia memiringkan tubuh menghadap pria yang begitu tampan dalam tidurnya.


Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih atas segala nikmat yang kau limpahkan padaku. Hanya Engkaulah yang mampu membolak balilkan hati manusia - ucap Alea khikmad seraya memperhatikan setiap detil wajah Ravka yang masih terlelap.


Alea memudian memindahkan tangan itu perlahan. Bergegas ia memulai aktivitasnya seperti biasa. Seusai menghadap Sang khalik, Alea tidak menyegerakan keluar kamar seperti biasanya. Kali ini ia terlebih dahulu menyapu make up di wajah, berupaya menyamarkan lebam yang masih membekas disana.


Ia kemudian memperhatikan sang suami yang masih saja terlelap. Padahal tak lama lagi, Sang Surya akan menampakkan diri. Namun, Ravka seperti tak ada tanda-tanda akan membuka matanya. Suaminya itu pasti betul-betul kelelahan, pikir Alea.


"Mas... Bangun Mas. Ini udah siang," Alea mengguncang pelan tubuh suaminya.


Ini adalah kali pertama Alea mencoba membangunkan Ravka di pagi hari. Karena tak biasanya Ravka bangun sesiang ini. Ia selalu memperhatikan suaminya itu bangun setengah lima pagi setiap harinya, seperti sebuah alarm sudah terpasang ditubuhnya. Pemuda itu tak pernah lalai menjalankan kewajibannya sebagai Makhluk Tuhan. Namun sekarang sudah lewat jam Lima pagi, Ravka masih betah bercumbu rayu dengan alam bawah sadarnya.


"Mas, sudah hampir setengah enam. Ayo bangunlah," Alea mencoba mengguncang tubuh Ravka lebih kencang.


Berharap dengan begitu Ravka cepat terjaga. Betul saja, pemuda itu mengerjapkan kedua matanya. Bibirnya langsung mengulas senyum manakala ia melihat wajah Alea sangat dekat dengan wajahnya.


"Pagi sekali kamu sudah cantik begini. Kamu ingin menggodaku?" ucap Ravka seraya melingkarkan tangannya di pinggang Alea yang masih menunduk membangunkan suaminya itu.


Alea tersentak saat Ravka menariknya hingga ia jatuh menindih tubuh suaminya. Wajah Alea memerah lantaran merasa malu dengan apa yang dilakukan sang suami.


"Mas, lepasin. Sekarang sudah siang. Hampir setengah enam loh. Kamu belum Sholat Subuh," ucap Alea bergetar karena debaran jantung yang berdetak tak beraturan saat Ravka menatapnya intens seraya melemparkan senyuman manis.


"Eh... setengah enam?" Ravka membuka matanya dengan sempurna ketika menyadari ia bangun kesiangan.

__ADS_1


Ravka melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Alea dan membiarkan istrinya itu menggeser tubuhnya yang menindih tubuh Ravka. Pemuda itu kemudian terburu-buru lari ke kamar mandi.


Alea hanya tergelak melihat kelakuan Ravka seraya memegang dada merasakan jantungnya yang masih berdetak kencang. Ia juga masih bisa merasakan hawa panas menjalar di kedua pipinya akibat Ravka yang memeluknya tiba-tiba. Ditepuknya kedua pipinya seraya tersenyum malu-malu. Dengan segera Alea melangkah meninggalkan kamar dengan rona bahagia masih menjalar di wajahnya.


"Selamat pagi Bi," sapa Alea pada Bi Mimah yang tengah sibuk memberikan instruksi kepada dua orang koki yang mulai sibuk di dapur.


"Selamat pagi Non," balas Bi Mimah tersenyum.


Bi Mimah memperhatikan Alea yang tampak berbeda dari biasanya. Bukan hanya kebiasaan menggunakan make up di dalam rumah yang menjadi perhatian utamanya. Melainkan sikap riang gadis itu yang membuat Bi Mimah terheran.


"Tampaknya Non Al, sedang senang," ucap Bi Mimah mengutarakan suara hati.


"Iya Bi? Memang kelihatan banget yah?" tanya Alea tersipu malu.


"Hmm... pasti karena aku pake make up pagi-pagi," jawab Alea sekenanya.


"Kalo cantik bisa diperlihatkan oleh make up Non. Tapi kalau bahagia dari dalam sini," ucap Bi Mimah seraya menepuk dadanya.


Alea hanya membalas ucapan Bi Mimah dengan senyuman. Ia langsung menghambur ke balik meja dapur. Memulai untuk meracik bahan-bahan masakan menjadi sarapan pagi serta bekal makan siang untuk suaminya dan juga dirinya sendiri.


Bi Mimah memperhatikan Alea dengan seksama. Meski wajah gadis itu sudah dibalur make up, tapi conceler yang dipakai Alea sepertinya tak mampu menyamarkan secara sempurna wajahnya yang dipenuhi lebam, serta sudut bibirnya yang masih menyisakan luka. Bi Mimah mendekati Alea. Memastikan dari dekat apa yang mengganggu pikirannya.


"Maaf Non, apa Non Alea tidak apa-apa?" tanya Bi Mimah berbisik pada Alea.


Bi Mimah tidak mau sampai menarik perhatian para koki yang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing, menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga Dinata kecuali Ravka dan Alea.

__ADS_1


"Al, ga apa-apa kok Bi," ucap Alea dengan kerutan di dahinyan merasa aneh dengan pertanyaan kepala asisten rumah tangga di rumah Kakek Bayu.


"Maaf Non, tapi wajah Non Alea kenapa bisa terluka?" tanya Bi Mimah memberanikan diri mencampuri urusan majikannya.


Bi Mimah sangat menyadari bahwa tugasnya disini adalah bekerja dan tidak berhak mencampuri apapun yang menjadi urusan semua anggota keluarga Dinata. Hanya saja beberapa bulan mengenal gadis itu, membuat Bi Mimah menaruh iba pada Alea. Ia bisa merasakan penderitaan gadis itu melalui guratan wajah murungnya setiap hari. Sekelabat pikiran buruk hinggap di kepalanya, membuat ia tak menggubris etika sebagai pekerja di rumah itu.


"Apa Den Ravka....?" tanya Bi Mimah menggantung, tak berani menyuarakan isi kepalanya secara gamblang.


"Tidak Bi... tidak..." sambar Alea cepat memahami kemana arah pertanyaan Bi Mimah. "Ini bukan karena Mas Ravka kok," imbuh Alea lagi.


"Tapi Non..." nada khawatir masih tersemat dalam suara Bi Mimah.


"Al tidak apa-apa kok Bi, tenang saja. Mas Ravka justru sangat baik, jadi tidak mungkin kalau dia sampai berbuat kasar,"


Bi Mimah memperhatikan cara Alea membeicarakan Ravka tampak berbeda dari biasanya. Binar bahagia menggenang di sorot mata Alea, kala membicarakan suaminya. Membuat Bi Mimah menduga kalau hubungan suami istri itu semakin membaik.


"Baiklah Non, kalau begitu Bibi tinggal ke depan dulu," ucap Bi Mimah seraya melempar senyum dan menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormat. "Permisi Non," lanjut Bi Mimah seraya beranjak meninggalkan dapur.


Alea kembali melanjutkan aktivitas memasaknya seraya bersenandung riang, membuat dua orang koki yang juga tengah memasak di dapur saling berpandangan heran. Tak biasanya mereka melihat Alea seriang itu di pagi hari. Suasana hati bahagia yang dipancarkan oleh Alea seolah menular kepada mereka. Namun, mereka tak berani bertanya apa yang menyebabkan gadis muda itu tampak begitu bahagia.


Para koki di dapur jarang terlibat percakapan dengan Alea meski mereka sering memasak dalam satu ruang yang sama disaat bersamaan. Mereka akan terlibat perbincangan kalau Alea yang memulainya terlebih dahulu. Meski Alea adalah nona rumah yang sangat ramah, mereka tetap saja sungkan untuk mengakrabkan diri dengannya. Mereka akhirnya tenggelam dalam kesibukan masing-masing.


**********************************************


InsyaAllah hari ini up dua part yah.. jadi ditunggu aja part selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2