
"Kata suster, senin besok perban di wajahku sudah bisa di lepas. Lukanya sudah mengering dan sembuh sepenuhnya. Cuma .... " Alea menggantungkan kalimatnya.
Ravka mulai memahami apa yang membuat gadisnya menjadi murung.
"Cuma?" Ravka seolah tak memahami kegusaran sang istri. Ravka hanya ingin Alea mengatakan apa yang ada di hatinya tanpa takut dan ragu.
"Cuma mungkin lukanya masih membekas. Luka ini pasti butuh waktu untuk sembuh sepenuhnya. Mungkin juga tetap akan meninggalkan jejak meski samar," ungkap Alea kemudian.
"Berapa kali harus aku katakan Alea. Aku sama sekali tidak perduli dengan luka itu. Bagiku kamu sudah sempurna."
"Tapi belum tentu teman-teman kamu akan berpikiran hal yang sama, Mas. Aku hanya tidak ingin kamu dipermalukan karena kehadiranku."
"Dengerkan aku baik-baik Al. Sikap orang lain tergantung pada diri kita sendiri. Jika kita menghargai diri kita sendiri, tentu orang lain akan segan untuk meremehkan kita. Sebaliknya, jika kita sendiri saja sudah tak menghargai diri sendiri, orang lain akan dengan senang hati menjadikan kita bulan-bulanan mereka," seru Ravka tegas.
Dia sangat menyadari kelemahan Alea yang tak pernah bisa percaya diri. Gadis itu selalu bersembunyi dibalik kelemahannya. Hingga tak menyadari sebebrapa besar potensi yang ia miliki.
"Bagiku, kamu wanita yang sempurna. Tak hanya kesempurnaan fisik yang melekat pada dirimu, tapi kesempurnaan itu juga menempel di hatimu, juga cara berpikirmu. Aku bangga memiliki istri sepertimu. Jadi mulai sekarang jangan pernah menundukkan pandanganmu di hadapan orang lain. Tegakkan kepalamu dan tak usah perdulikan apa yang orang lain pikirkan," lanjut Ravka menguatkan hati Alea.
Alea masih diam membisu. Membiarkan rangkaian kata yang dilontarkan oleh Ravka meresap ke dalam sanubari. Meski ia selalu berusaha melakukan segala sesuatunya sepenuh hati dan semaksimal yang ia bisa, tetap rasa tidak percaya diri selalu menghinggapi. Ia tumbuh besar tanpa orang tua yang mendampingi, justru paman dan bibi sebagai tempatnya bergantung selalu menghujat dan mencaci. Meninggalkan kepahitan yang mengakar di lubuk hati.
"Kemarilah," seru Ravka seraya mengukirkan tangan agar Alea mendekatinya.
Alea mengikuti titah sang suami. Mengangkat tubuhnya hingga bersandar pada dada bidang Ravka seraya memeganh selimut yang membalut. Ravka melingkarkan kedua tangan pada tubuh istrinya seraya meletakkan dagu di puncak kepala Alea.
"Sekarang katakan saja, apalagi yang mengganggu pikiranmu?" desis Ravka
"Aku tidak terbiasa bergaul dengan kaum jetset. Aku bahkan hampir tidak tahu bagaimana harus bersikap diantara orang-orang itu. Teman-teman mu yang diundang kesana pastilah bagian dari kaum jetset seperti keluargamu, Mas. Jujur saja, bahkan di rumah ini pun aku terkadang masih merasa seperti gadis kampungan yang udik," jelas Alea dengan pandangan nanar.
Ravka menghela nafas menyadari bahwa tak hanya sikapnya yang sudah membuat Alea tertekan selama ini. Ravka memiringkan kepalanya mencium pipi Alea seraya mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Cukuplah menjadi dirimu sendiri, Sayang. Karena itu yang aku suka dari dirimu. Tekadmu yang sekeras baja, dibalut kelembutan hati seperti sutera, membuat aku tergila-gila. Aku tak butuh wanita sempurna untuk dipamerkan."
Perkataan Ravka menghangatkan hati Alea. Ia membalikkan tubuh menghadap Ravka dan membalas pelukannya dengan segenap hati.
"Terimakasih Mas untuk segala pengertianmu."
"Berarti kita jadi pergi kan minggu depan?"
Alea mengangguk di dalam pelukan sang suami. "Tapi bolehkah aku minta sesuatu?" tanya Alea ragu.
"Tentu saja, Al. Katakan apa yang kamu inginkan. Aku akan berusaha memenuhi semua kebutuhanmu," ucap Ravka bersungguh-sungguh.
"Aku dengar Sandra akan menggunakan Lifestyle Concierge saat prom night nya nanti. Tiara juga bercerita dia pernah menggunakan jasa mereka saat pesta kelulusan sarjananya," Alea menjeda ucapannya sebelum ia menyampaikan apa yang ada di benaknya. "Apa aku boleh memakai jasa mereka juga?"
"Untuk apa kamu memerlukan jasa mereka? Apa kamu berubah pikiran soal resepsi pernikahan kita? Kamu ingin mengadakan resepsi meriah yang berkesan dan tak terlupakan? Kalau itu yang kamu inginkan tentu aku sangat bersedia mewujudkan mimpi mu." Ravka membelai rambut hitam bergelombang milik Alea yang terasa lembut di tangan.
"Bukan begitu, Mas. Kata Tiara sama Sandra, M&E yang biasa melayani keluarga Dinata itu profesional dan bisa diandalkan," ucap Alea menyebutkan sebuah agency yang menjadi penyedia layanan premium Lifestyle Concierge bagi lebih dari lima puluh satu ribu orang Indonesia yang termasuk dalam enam juta lebih kaum jetset se-Asia.
"Sebetulnya permintaanku tidak terlalu aneh. Hanya saja aku malu kalau harus mengikuti kelas umum."
"Mengikuti kelas? Kamu mau belajar apa memangnya?"
"Etika dan kepribadian. Termasuk table manner yang membingungkan itu," jawab Alea seraya menggigit bibir.
"Untuk apa kamu mempelajari hal-hal seperti itu? Selama ini kamu memiliki attitude yang baik, Al. Kenapa kamu harus dipusingkan hal-hal remeh begitu?" Ravka menarik tubuh Alea agar bisa melihat wajahnya dengan seksama.
"Setidaknya aku tidak canggung saat bertemu dengan teman-teman mu, Mas. Aku hanya tidak mau tampak bodoh hanya karena hal-hal kecil yang remeh," ucap Alea dengan penuh keseriusan. "Jika aku sudah mempelajarinya, aku bisa menempatkan diri dihadapan kolegamu. Aku tidak mau sampai mempermalukan kamu karena sikapku yang tidak semestinya, hanya karena aku tidak tahu," lanjut Alea penuh keyakinan.
Ravka melebarkan senyum yang menghiasi wajahnya. Ia tak menyangka istri kecilnya bisa berpikir sejauh itu. Tentu saja Ravka senang, karena apa yang dilakukan oleh Alea tidak lain demi untuk memantaskan diri bersanding dengannya. Dikecupnya kening gadis itu sebagai ungkapan rasa syukurnya memiliki istri seperti Alea. Perempuan cerdas yang selalu haus akan ilmu dan pengembangan diri. Berusaha menjadi seseorang yang layak dan bisa dibanggakan sebagai seorang istri.
__ADS_1
"Kalau itu membuatmu nyaman maka lakukan saja. Aku pasti akan mendukung apapun keputusanmu selama itu baik untukmu. Asal kamu berjanji, semua itu tidak sampai menyusahkanmu. Aku lebih suka punya istri yang bahagia daripada istri sempurna tapi hidupnya penuh tekanan."
"Aku berjanji aku tidak akan kesulitan dengan semua ini. Lagipula apa kamu tahu kalau Revi, personal fashion stylish-nya Mama pernah bilang gaya yang aku pake ga berkelas," ucap Alea seraya mengerucutkan bibirnya. "Al hasil setelah aku dipermak habis-habisan sama dia, hampir semua koleksi baju, tas dan sepatuku diganti sama dia."
Ravka hanya bergumam menanggapi celoteh Alea. Dia ingat betul bagaimana istrinya itu tampak kesal karena hampir seminggu penuh Revi mendatangi rumahnya, demi mengubah semua koleksi lemari istrinya. Alea juga tak luput dari wejangan pangan lebar hingga harus mengikuti semua titah Revi untuk menunjang penampilan gadis itu.
"Revi menyadarkan aku, Mas. Kalau yang aku nikahi bukanlah lelaki sembarangan. Jadi sebagai istrimu, aku juga harus menjaga wibawa dan nama baik kamu. Aku tak mau memberi celah bagi orang lain untuk menggunjingkan ku. Walaupun aku tahu hal itu tak bisa ku hindari. Tapi setidaknya aku sudah berusaha melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan," imbuh Alea lagi.
"Kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan selama itu tidak untuk menggoda pria lain," ucap Ravka kemudian.
"Untuk apa aku menggoda pria lain? sementara aku sudah punya pria sempurna yang bersedia memenuhi semua keinginanku," jawab Alea dengan seringai lebar.
Senyum Alea terlihat begitu menggemaskan bagi Ravka. Dengan segera dikecupnya bibir merekah milik gadis manis yang kini selalu mewarnai hari-harinya. Bibir yang membuat lelaki itu tak pernah bosan untuk mereguk rasanya saat menyatu dengan bibirnya.
"Mas, sepertinya sudah larut malam. Kalau kita tidak tidur sekarang, kita pasti akan terlihat seperti zombie karena kurang tidur," ucap Alea terengah-engah setelah Ravka membebaskan bibirnya.
"Aku rasa kali ini kamu benar. Aku tidak mau kita sampai bangun kesiangan besok. Aku sudah lama tidak menikmati udara pagi. Besok kita lari pagi bareng yah. Udah lama kamu ga nemenin aku lari pagi," ucap Ravka seraya melepas pelukan yang mengungkung tubuh Alea.
"Aku juga udah lama ga menghirup udara pagi," ucap Alea ikut merebahkan kepalanya diatas bantal.
Namun, tiba-tiba gadis itu mengangkat kepalanya lagi. Ia mendekati Ravka hingga wajah mereka tak berjarak lalu mendaratkan bibirnya di pipi Ravka.
"Aku senang sekali malam ini. Bisa ngobrol sama kamu sesantai ini rasanya menyenangkan," ucap Alea setelah menghadiahkan ciuman di pipi Ravka.
"Kita bisa melakukannya setiap hari. Kamu bisa kapan saja mengatakan isi hatimu kepadaku. Disini atau dimana saja yang kamu inginkan."
"Seperti ini juga tidak apa-apa, Mas. Lagipula aku dengar pillow talk bisa mempererat hubungan suami istri," ujar Alea kembali merebahkan kepala diatas bantal.
"Pillow talk?! Ada-ada saja," kekeh Ravka yang terdengar merdu ditelinga Alea.
__ADS_1
Ravka kembali menarik Alea kepelukannya kemudian mendaratkan bibirnya di pucuk kepala Alea sebelum benar-benar memejamkan mata.