
"Mas, kamu kok ngomongnya begitu sama Mama tadi?" ucap Alea seraya berjalan beriringan bersama Ravka dengan bergandengan tangan.
"Kamu ga tau aja. Kalau hobi belanja Mama itu kambuh, dia jadi orang yang super menyebalkan,"
"Kenapa kamau yang sebal, Mas? Kan yang belanja bareng Mama, aku,"
"Iya tapi aku tidak suka setiap hari pulang bekerja kamu tidak ada di rumah. Tau begitu kamu mending kerja. Setidaknya kita bisa makan siang bareng di kantor,"
"Berarti besok aku udah boleh kerja dong?" tanya Alea antusias.
"Tergantung,"
"Tergantung apa?"
"Kalau kamu sudah sembuh, tentu kamu sudah bisa bekerja lagi,"
"Aku sudah sembuh Mas. Jalan-jalan seharian aja aku sanggup, itu artinya aku tidak kenapa-napa. Lagipula dari awal kan dokter bilang aku tidak apa-apa,"
"Baiklah, nanti kita buktikan kamu sudah sembuh atau belum," ucap Ravka penuh janji yang tersirat di dalamnya. "Sudahlah soal kerja kita bahas nanti di rumah. Sekarang kita mau jalan kemana?" tanya Ravka seraya tersenyum manis.
"Kita beneran mau nge-date?" tanya Alea dengan mata berbinar senang.
"Beneran lah, aku sengaja pulang lebih awal karena mau ngajak kamu nge-date. Kita kan belom pernah nge-date,"
"Udah," sambar Alea. "Dulu waktu dinner di restoran?"
"Itukan ga direncanain,"
" Sekarang juga ga direncanain. Orang akunya ga tau,"
"Kamu tu bawel banget sih. Jadi mau nge-date ga nih?" tanya Ravka mulai kesal.
"Mau.... tapi aku capek Mas. Tiga hari ini jalan mulu sama Mama. Kakiku pegel," ucap Alea dengan nada manja.
Spontan Ravka menlongok pada kaki istrinya yang sedang memakai heels. Ravka mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan, seolah mencari sesuatu. Lalu tiba-tiba, Ravka menarik Alea menuju ke sebuah gerai sepatu.
__ADS_1
"Mas belanjaanku udah banyak banget. Ngapain sih kita kesini?" tanya Alea mulai merasa jengah memilih-milih barang belanjaan.
Gadis itu memang bukan tipikal perempuan yang suka berbelanja. Selama ini ia hanya berbelanja apa yang dia butuhkan saja. Tak pernah lebih, apalagi tergiur dengan bujuk rayu diskon gede-gedean. Bukan hanya karena memiliki uang yang pas-pasan, hanya saja belanja bukan menjadi salah satu daftar kegiatan favorite-nya.
"Udah, kamu duduk aja disini," ucap Ravka seraya mendudukkan Alea pada sebuah sofa tanpa lengan dan sandaran di dalam gerai tersebut.
Alea dapat melihat pemuda itu berkeliling kesana kemari seraya melihat deretan sepatu yang tersusun rapi di dalam rak-rak panjang yang menempel pada dinding gerai. Alea mengalihkan pandangannya pada orang-orang yang berlalu lalang di luar gerai melalui dinding kaca lebar. Gadis itu terlonjak kaget saat kakinya disentuh oleh seseorang.
"Mas ngagetin aja sih," ucap Alea saat menyadari Ravka yang sedang menyentuh kakinya. "Mas Ravka ngapain?" tanya Alea heran.
Ravka tak menggubris pertanyaan Alea. dia sibuk membuka tali heels yang dikenakan oleh Alea. Membiarkan kedua kaki putih mulus istrinya telanjang tanpa alas. Hatinya berdesir saat menyentuh kaki Alea. Menumbuhkan nalurinya sebagai seorang pria. Keinginan untuk mendaratkan tangan membelai kulit cantik istrinya sangat sulit dibendung. Cepat-cepat ia menepis kerja otak yang sudah semakin liar. Lalu ia memasangkan sepasang sepatu tanpa tumit ke kaki istrinya.
"Cantik," ucap Ravka seraya memperhatikan sepatu yang sudah menempel di kaki Alea. "Ayo kita jalan," Ravka mengulurkan tangan hendak menggandeng Alea.
Namun, gadis itu masih mematung di tempatnya, tanpa ada niatan untuk bergerak sama sekali.
"Ayo," ucap Ravka sekali lagi.
Pemuda itu heran saat Alea menggelengkan kepalanya. Kerutan didahinya semakin dalam, saat ia melihat gadis itu cemberut dibawah tatapannya.
"Ada apa sih?" tanya Ravka mulai tidak sabar.
"Katanya pegel? Pake flatshoes itu lebih nyaman ketimbang kamu harus berjalan pake heels,"
"Tapi aku akan kelihatan semakin pendek Mas. Udah pake heels aja tinggiku kalah jauh sama Mas Ravka. Kalo aku pake flatshoes, yang ada tar Mas Ravka dikira lagi ngajak jalan ponakannya," ucap Alea mendramatisir.
Alea memang merasa tidak pede dengan tinggi tubuhnya yang mungil dibandingkan sang suami. Pakai heels saja tingginya cuma sebatas dagu suaminya. Kalo dia pake flatshoes yang ada pasti tingginya hanya sebatas bahu sang suami. Orang-orang pasti akan mengira mereka bukan pasangan yang serasi.
Ravka tertawa lepas mendengar alasan gadis itu tak mau bergeming dari duduknya. Dicubitnya hidung Alea gemas. Ravka sama sekali tak menyangka alasan tak masuk akal itu yang membuat istrinya jadi cemberut.
"Mau aku cium kamu disini? Jadi orang-orang tahu kalau kamu itu istri aku, bukan ponakan aku," goda Ravka seraya mengulum senyum.
Wajah Alea memerah seketika saat digoda sepeti itu. Membuat gadis itu tak dapat membalas kata-kata suaminya. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya cepat. Tak bisa membayangkan kalau Ravka serius dengan ucapannya. Apalagi di sebelah Ravka berdiri seorang pramuniaga yang sedari tadi selalu setia mengekori mereka. Ravka menyerahkan sebuah kartu kredit ke tangan pramuniaga itu dan membuat perempuan yang sedari tadi menatap Alea dengan iri berlalu dari sana.
"Jadi kita mau kemana, Mas?"
__ADS_1
"Kamu maunya kemana?"
"Kita nonton aja yuk," ajak Alea menemukan solusi yang tepat. Ia tetap bisa kencan dengan sang suami, tapi tak perlu menambah pegal kakinya dengan berjalan-jalan.
"Ish, masa nonton sih? Udah kaya anak remaja yang lagi pacaran aja sih nonton," ucap Ravka malas mendengar usulan Alea.
"Tapi kan aku emang belom pernah pacaran. Dari dulu kepengen banget bisa nonton bareng pasangan, biar bisa ngerasain kaya yang diceritain temen-temen," gumam Alea yang masih dapat di dengar oleh Ravka.
"Kamu belom pernah pacaran sama sekali?" tanya Ravka yang dijawab gelengan kepala oleh Alea.
"Emang waktu sekolah kamu ngapain sih? masa iya belajar doang?" tanya Ravka beretorika tapi malah dijawab dengan anggukan kepala oleh Alea. "Pinter sih pinter, tapi masa iya ga punya kehidupan lain selain menjadi kutu buku?" tanya Ravka lagi.
Pemuda itu benar-benar heran. Karena meskipun ia juga selalu mencetak prestasi bagus di bidang akademik, tapi ia masih bisa menikmati masa remajanya dengan berkumpul bersama teman. Tentunya tak melewatkan masa-masa yang dipenuhi dengan cinta monyet yang menggelikan jika diingat-ingat lagi sekarang.
"Ya udah, ayuk kita nonton. Aku ajarin kamu pacaran ala remaja deh," ujar Ravka menyelipkan rencana terselubung dibalik ucapannya.
Mereka kemudian berjalan bergandengan tangan menuju lantai enam, tempat bioskop berada. Sesampainya disana, Ravka memesankan dua tiket film horor yang tidak ditolak sama sekali oleh Alea. Gadis itu sepertinya tak masalah menonton film apa saja pilihan Ravka. Saat suaminya sedang mengantre, Alea membeli popcorn dan dua gelas jus jeruk tak jauh dari loket bioskop. Setelah Ravka mendapatkan tiket dan pesanan Alea selesai dibuat, mereka langsung berjalan menuju teater tempat film yang mereka pilih akan diputar. Kebetulan film yang mereka pilih tayang sebentar lagi, merekapun memutuskan untuk langsung memasuki ruang teater.
Belum sampai setengah jalan film diputar, Ravka sudah tampak kesal.
"Kamu kok malah serius gitu nontonnya?" tanya Ravka cemberut.
Pemuda itu sengaja memilih film horor untuk kencan mereka. Berharap gadis itu ketakutan dan akan menyibukkan diri dengan dirinya daripada layar besar di depan sana. Tapi bukannya ketakutan, Alea justru membuatnya hampir mati kebosanan karena istrinya itu tampak menikmati tontonannya. Sementara ia sendiri, sesungguhnya tak menyukai film bergenre horor.
"Namanya juga nonton Mas. Kalo ga serius tar ketinggalan jalan ceritanya," jawab Alea polos.
"Ish, kita tuh lagi nge-date tau. Mana ada orang nge-date malah sibuk sama filmnya?" ucap Ravka jengah.
"Lah emang kalo nge-date di bioskop ngapain lagi selain nonton?" tanya Alea benar-benar tak memahami maksud Ravka.
Seulas senyum Ravka sunggingkan saat mendapat pertanyaan yang sudah ditunggunya keluar dari bibir mungil istrinya itu. Merasa senang karena berhasil menarik perhatian sang istri untuk tak lagi fokus pada layar lebar.
"Mau aku kasih tau apa yang dilakukan orang nge-date di dalam bioskop?" kerling jahil Ravka perlihatkan.
Belum sempat Alea mencerna ucapan Ravka, bibir sang suami sudah mendarat di bibirnya. Ravka memberikan ******* kecil dan bermain-main pada bibirnya yang lembut. Alea tak tahu harus bereaksi seperti apa. Rasa canggung membuat ia bergerak kaku dibawah ******* yang diberikan Ravka. Sejenak ia terdiam dan akhirnya menyerahkan pada naluri dengan memejamkan mata. Menikmati gelenyar yang dikirimkan melalui sentuhan lembut lidah sang suami yang menari-nari mencari pelabuhannya.
__ADS_1
Teriakan-teriakan ketakutan dari para pengunjung bioskop yang lain, tak mampu mengalihkan Ravka dari mencecap rasa manis Alea melalui bibirnya. Saat ini ia sedang memuaskan dahaga dari bibir mungil yang selalu merasuk ke dalam mimpi.
Keduanya hanyut dalam film yang mereka sutradarai sendiri di dalam sana, tanpa menghiraukan gaduh dari para penikmat film yang memenuhi seluruh penjuru ruangan teater akibat teror ketakutan yang berhasil dimainkan oleh para aktor dan aktris dalam film itu. Ravka dan Alea justru tengah menikmati adegan mereka sendiri.