Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 72# Nyamuk Pengganggu


__ADS_3

"Lagi ngapain sih? Sibuk bener kayanya?" ucap Nino, membuat orang yang disapa Nino mendongak melihat sang pemilik suara yang menyapanya.


"Eh, No? Ada apa? Pake nyamperin segala?"


"Nah lu, di telp dari tadi ga di angkat,"


"Eh .... masa sih?" Alea mengerutkan dahinya seraya membuka tas mencari ponselnya yang masih tersimpan rapi di dalam tas.


Gadis itu mendelik kaget melihat panggilan tak terjawab dari suaminya hingga beberapa kali.


"Eh iya .... Kayanya kepencet silent deh dering hp aku. Jadi ga ngeh kalo ada telp masuk," jawab Alea tak enak hati.


"Boss nyuruh lu ke ruangannya," sambar Nino langsung.


"Emang mau ngapain? Tumben jam segini aku diminta kesana?"


"Mana gue tau. Kangen kali," ucap Nino datar.


Sementara Alea justru salah tingkah dengan ucapan Nino karena menyadari Vika disebelahnya sedang mencuri dengar.


"Ngaco kamu, No,"


"Kok ngaco? Wajarlah kalau dia kangen elu. Kalau gue yang ngomong kangen sama lu, bolehlah lu bilang ngaco,"


"Kalo kamu yang kangen aku, bukan ngaco lagi namanya. Tapi gelo," Alea langsung bangkit dari duduknya.


Dengan secepat kilat gadis itu berniat berlalu dari sana. Meninggalkan meja kerjanya begitu saja, berantakan tanpa dirapihkan. Semakin lama dia pergi dari sana, maka Nino akan semakin melantur bicaranya. Sementara diantara mereka masih ada Vika yang menyimpan rasa penasaran yang teramat sangat.


"Emang ga boleh apa kangen sama temen sendiri? Kita masih jadi temen kan?!" kekeh Nino sembari berjalan di belakang Alea.


Beberapa pasang mata di dalam ruangan divisi analys memperhatikan kedekatan Alea dan juga Nino, menghadirkan tanya yang menggelitik jiwa bagi para penggosip di ruangan itu.


******


"Kenapa Mas Ravka minta aku kesini?" tanya Alea sesaat setelah menemui Ravka di ruangannya.

__ADS_1


"Aku mau minta kamu ngelihat rekaman CCTV kantor. Kamu masih ingat kapan persisnya kamu ngelihat perempuan yang kamu katakan tadi pagi?" tanya Ravka tanpa basa-basi.


Pemuda itu seolah tengah diburu waktu. Ia sangat yakin, apa yang terjadi dengannya beberapa bulan lalu erat kaitannya dengan segala yang terjadi di kantor setelah Kakek Bayu memutuskan pensiun.


"Tentu saja aku ingat Mas. Soalnya hari itu adalah hari pertama aku bekerja setelah masa training,"


"Kamu juga ingat posisi persis wanita itu saat kamu melihatnya?"


Alea mengaduk-aduk memorinya. Membayangkan posisinya waktu itu sebelum bertabrakan dengan Sherly dan mendapati wanita yang tengah ia kejar menghilang begitu saja. Ia mencoba mendeskripsikan ingatannya pada seorang mecanic CCTV yang juga sudah berada di ruangan Ravka.


"Mendengar penuturan dari Bu Alea, Saya rasa ada dua CCTV yang bisa kita periksa. Kemungkinan salah satu CCTV itu menangkap dengan jelas wajah perempuan yang dimaksud oleh Bu Alea," jelas Mecanic yang bernama Damar


tersebut. "Saya akan menyiapkan rekaman CCTV yang menyorot ke arah lift, serta rekaman CCTV di dekat meja security. Kita bisa memeriksa dua rekaman CCTV itu untuk kurun waktu yang tadi disebutkan oleh Bu Alea," imbuh Damar lagi.


"Berapa lama kamu bisa menyiapkan rekaman itu?" tanya Ravka datar.


"Tidak butuh waktu lama Pak. Pengarsipan rekaman CCTV kantor kita sangat rapi, jadi hanya butuh beberapa menit saja, kita sudah bisa memutar dan memeriksanya,"


"Yasudah, kalau begitu segera bawa kemari rekamannya. Tapi ingat, tidak boleh ada seorangpun yang tahu saya memeriksa CCTV kantor. Bahkan Pak Alex sekalipun," ucap Ravka tegas.


"Saya permisi untuk menyiapkan rekamannya dulu, Pak," ucap Damar kemudian.


Setelah kepergian Damar, Alea tampak bingung harus melakukan apa di dalam ruangan Ravka. Suaminya itu sudah kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Sementara Nino sudah tak tampak batang hidungnya.


"Ngapain berdiri disitu?" tanya Ravka dengan tatapan tak lepas dari layar laptop dihadapannya.


"Terus aku harus ngapain Mas?" tanya Alea balik, seraya menaikkan alisnya melihat suaminya yang berbicara sambil fokus pada pekerjaannya.


"Kemarilah," perinta Ravka masih tak mengalihkan pandangannya.


Alea mengikuti perintah Ravka, menghampiri sang suami yang masih asuk memainkan tools laptop.


Tiba-tiba lengan Alea ditarik oleh Ravka hingga membuat gadis itu terhuyung. Untung saja sang suami dengan sigap menahan Alea hingga jatuh ke pangkuan Ravka yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


"Kamu ngagetin ih," ucap Alea manja.

__ADS_1


"Kamu gemesin ih," ucap Ravka membuat rona merah muda memenuhi tulang pipi Alea.


"Apa sih Mas, gombal banget,"


"Emang kalau kita muji istri sendiri itu gombal?" tanya Ravka seraya melingkarkan kedua lengannya pada tubuh mungil Alea.


"Mas, lepasin ah. Ini tuh di kantor. Gimana kalau ada yang lihat?" seru Alea seraya mencoba melepaskan lengan Ravka yang sedang memeluknya erat.


"Biarin aja," ucap Ravka cuek.


Sedari awal Alea melangkahkan kaki ke dalam ruangannya, Ravka sudah merasa gelisah. Tak sabar ingin segera merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Diciumnya tengkuk Alea seraya menghirup aroma vanila yang sudah menjadi candu bagi Ravka. Alea sepertinya memang menyukai aroma vanila. Tak hanya shampoonya saja yang beraroma vanila. Sabun, lotion, bahkan parfum istrinya itu juga beraroma vanila. Membuat Ravka ikut ketagihan akan aroma manis dan menyegarkan itu.


Ravka semakin memperdalam ciumannya di leher Alea hingga ke telinga gadis itu. Menggelitik daun telinga Alea dengan bibir dan lidahnya. Alea menggeliat di dalam rengkuhannya seraya mendesah geli dengan apa yang dilakukan oleh sang suami. Membuat Ravka semakin terbakar gairah.


"Woi .... bisa liat-liat tempat ga sih kalau mau mesra-mesraan?" hardik Nino keki saat melangkahkan kakinya ke dalam ruangan Ravka.


"Ganggu aja lu," ucap Ravka seraya menjauhkan kepalanya dari leher sang istri.


"Turunin Mas, malu ah diliatin orang" ucap Alea risih dengan wajah yang sudah bersemu merah menahan malu pada Nino karena kepergok bermesraan di dalam kantor.


"Udah diem aja," ucap Ravka lembut di telinga Alea. "Lagian ga ada orang juga disini. Ngapain malu?" ucap Ravka acuh.


"Woi .... gue denger yah kalian ngomong. Lu pikir gue apa kalau bukan orang?"


"Jelangkung. Udah sana keluar, ngapain kek lu di luar sana. Beliin gue kopi atau apa kek serah lu lah," usir Ravka.


Dia emang merasa kesal karena interupsi Nino. Harusnya Nino lebih peka dan pura-pura tidak tahu saat melihatnya tengah menikmati harum tubuh istrinya. Namun, pemuda itu malah dengan santainya masuk ke dalam ruangan dan menjadi obat nyamuk.


"Sory Boss bukan maksud gue mau ganggu waktu lu mesra-mesraan yah. Tapi ini tuh masih jam kantor. Lagipula itu tumpukan di atas meja harus gue selesain sekarang juga. Kalau ga, lu bakalan lebih murka sama gue," Nino melenggang santai melewati meja kerja Ravka menuju tumpukan berkas di atas meja dekat sofa.


"Mas, aku ga enak sama Nino. Lepasin dong," rintih Alea seraya berusaha melepaskan kekangan lengan Ravka yang memeluknya kencang.


"Udah anggep aja dia nyamuk," ucap Ravka acuh. "Jangan turun sebelum aku izinkan," ucap Ravka merujuk posisi tubuh Alea yang masih berada dipangkuannya.


Disandarkannya dagu pada bahu Alea. Kemudian kembali tenggelam dengan pekerjaannya. Kedua tangannya bebas bergerak menekan tools laptop dengan Alea berada dalam kungkungan lengannya yang kokoh. Alea hanya menarik nafas pasrah karena tak berani membantah titah sang suami sembari tertunduk malu menghindari pandangannya dari Nino.

__ADS_1


Sekarang aja lu bisa bilang gue nyamuk. Kemaren kemana aja bro? punya istri cantik dianggurin. Sekalinya sadar, kelakuan udah kayak budak cinta. Amit-amit deh gue. Jangan sampe kaya elu deh boss - rutuk Nino dalam hati.


__ADS_2