Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 116# Kebon Binatang


__ADS_3

"Katanya mau lari pagi? kok malah diem?" Nino menghentikan larinya saat melihat dua gadis di belakangnya berdiri membungkuk setengah badan sembari memegang pinggang mereka terengah-engah.


Peluh membanjiri kedua gadis itu yang tampak bersungut-sungut. Nino menahan senyum yang hampir saja lolos di bibir saat melihat tatapan tajam yang dilemparkan kedua gadis itu.


"Ayo dong, jangan lemah. Harus fight," imbuh Nino lagi sebelum ia berbalik dan melanjutkan larinya.


Sandra berdecak sebal melihat Nino yang melanjutkan lari tanpa sedikitpun berniat menghampiri mereka. Pemuda itu bahkan tak sedikitpun menunjukkan rasa empati pada ia dan kakaknya yang sudah hampir terkapar kelelahan.


"Aku ga nyangka, Kak Nino kejam banget sih?" decih Sandra kesal yang sudah mulai menegakkan punggungnya.


"Baru sadar kamu kalau dia itu kejam?" Tiara mendelik pada Sandra. "Masih naksir cowok kaya begitu? Masih niat mau ngejar-ngejar cowok ga peka begitu?" sambung Tiara berapi-api.


"Justru di situ Kak tantangannya. Cowok kaya begitu sekalinya bertekuk lutut bakalan bucin abis. Berani taruhan aku," balas Sandra tak kalah semangat.


Tiara hanya dapat menghela nafas pasrah seraya mengikuti langkah Sandra yang sudah mulai berlari mengejar Nino. "Serah kamu deh," ucap Tiara yang tak mau ambil pusing dengan teori adiknya yang tak masuk akal.


Dalam benak Tiara, lelaki seperti Nino tak akan pernah bisa menghargai perasaan perempuan. Mana mungkin ia bisa bersikap manis dan lembut pada seorang perempuan?


"Semangat .... semangat ...." Sandra berucap sembari terus menggerakkan kaki meski wajahnya mulai memerah kelelahan.


"Ini sih namanya kamu bukan lagi ngedetin itu si kutu loncat. Tapi lagi dikerjain sama dia," gerutu Tiara menemani lari mereka.


"Cowok seganteng itu masa kamu samain sama kebon binatang sih, Kak? Dari tadi jukukanmu ga ada habisnya buat Kak Nino," balaa Sandra sambil ngos-ngosan.


"Ah, bodo lah. Kamu yang mau ngedetin dia, kenapa aku jadi ikutan susah begini sih?" Tiara menghentikan langkahnya.


Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas pedestrian yang dibangun mengelilingi taman komplek. Ia kemudian menyelonjorkan kakinya dengan deru nafas yang tak beraturan. Dadanya terlihat turun naik dengan peluh yang mulai menetes dari dahi melewati kelopak matanya. Tiara mengelap peluh itu sembarang menggunakan punggung tangannya.


"Kak, kok berenti disini sih?" tanya Sandra dengan nafas pendek-pendek.


Sandra ikut menghentikan langkah, tapi matanya tak berpaling dari punggung Nino yang masih berlari tanpa menyadari mereka tak lagi mengikuti pemuda itu di belakangnya.


"Ayolah Kak, lanjut lagi. Kak Nino makin jauh tuh," rengek Sandra.

__ADS_1


"Bodo amat. Kalau kamu mau, yah kamu aja yang kejar," ucap Tiara masih ngos-ngosan.


"Kak Tiara ih, gitu," ucap Sandra dengan wajah memelas.


Namun, tak urung Sandra ikut menjatuhkan dirinya di sebelah Tiara. Ia ikut menyelonjorkan kaki seraya mengipas-ngipas wajahnya menggunakan telapak tangan.


"Dari pada kamu ngejar pangeran kodokmu itu, mending kamu beliin aku minum gih. Haus nih."


"Sekarang malah pangeran kodok," kekeh Sandra sambil mengelap peluhnya menggunakan lengan baju yang dikenakannya.


"Udah sana beliin minum," Tiara mendorong adiknya supaya bangkit berdiri menghampiri pedagang minuman keliling yang nangkring di sudut taman.


"Ogah. Aku aja capek kok. Udah duduk, males kalau harus jalan lagi," tolak Sandra terang-terangan.


"Haus Sandra ...."


"Minum?" tawar seorang pria yang melintas dihadapan mereka.


Sesosok pria muda seumuran Tiara menyodorkan satu botol air mineral tepat dihadapan wajah Tiara. Gadis itu mendongak seraya mengerutkan dahi menatap lelaki yang wajahnya bisa dikategorikan layaknya pentolan band korea. Putih, mulus, dan cantik. Itu istilah menurut ia dan Alea setiap kali Sandra membicarakan para personil K-Pop.


"Permisi tuan, anda ada keperluan apa dengan Nona kami?" sambar si lelaki berperawakan tinggi tegap dengan rambut cepaknya yang tak lain adalah bodyguard Tiara.


Si lelaki cantik menoleh ke arah bodyguard yang mencekal lengannya. Matanya menyorot tajam, mempertanyakan arah datangnya dua pria bertubuh tegap dengan perawakan keras layaknya tukang pukul tersebut.


"Siapa lu?" tanya si Lelaki cantik.


"Saya pengawal Nona ini," ucap sang Bodyguard merujuk Tiara yang tampak cuek di pedestrian yang tengah didudukinya.


"Emang dia pengawal kamu?" tanya si lelaki cantik pada Tiara.


Tiara hanya menjawab dengan kedikan bahu seolah tak mengenal keduanya. Ia tak perduli dengan kehadiran dua lelaki yang berniat ribut tersebut. Tak mau ambil pusing dengan kelakuan keduanya.


"Tuh, dia aja ga ngakuin kalau lu pengawalnya. Jadi ga usah sok ngehalangin gue buat ngedektin Nona cantik ini," jawab si lelaki cantik ngotot.

__ADS_1


"Ada masalah apa?" tanya Nino yang sudah berdiri di balik bodyguard Tiara dan si lelaki cantik.


"Maaf tuan, orang ini mau mendekati Nona Tiara," ucap si bodyguard seraya tertunduk takut.


"Maaf, dua gadis cantik ini sudah ada yang punya. Jadi sebaiknya anda pergi dari sini," ucap Nino dengan tatapan mengintimidasi pria berkulit putih mulus tersebut.


Si lelaki yang berniat mendekati Tiara bergeming. Ia meninggalkan Tiara dan Sandra begitu saja tanpa menoleh lagi seraya meminum air mineral yang tadi ditawarkan kepada Tiara.


"Kamu tahu ga bahayanya meladeni pria asing tak dikenal?" seru Nino dengan nada naik satu oktaf.


"Siapa yang ngeladenin? Tanya nih Sandra, aku ngeladenin apa enggak?" ucap Tiara kesal.


"Enggak kok Kak, kita ga ladenin dia. Orang dia tiba-tiba nyamperin. Tapi Kak Nino ga usah khawatirlah. Kita aja belom nyadar sama datengnya dia kesini, tuh dua anak buah Kak Nino udah ngejegal duluan kok," ucap Sandra mendukung ucapan Tiara.


"By the way, tadi Kak Nino bilang kita udah ada yang punya. Siapa? Kak Nino yah?" lanjut Sandra seraya memasang tampang sok innocent.


"Yah orang tua kalian lah," jawab Nino asal meghadirkan kecewa dimata Sandra. "Udah yuk, mending kita nyamperin kakak kalian aja," imbuh Nino seraya menunjuk tukang bubur Ayam di ujung taman komplek.


Tampak disana Alea dan Ravka tengah menikmati bubur Ayam disana. Sepasang suami istri itu ternyata juga tengah memperhatikan mereka saat Nino menunjuk ke arah Ravka dan Alea. Membuat dua pasang mata itu bersirobok dengan mereka. Tiara mengangkat tangannya melambai pada Kakak serta Kakak iparnya.


"Bantuin napa?" sergah Tiara pada bodyguard di hadapannya. "Biar lu ada gunanya, ga cuma siap ngehajar orang doang," lanjut Tiara seraya mengangkat tangannya agar ditarik oleh sang bodyguard.


Namun, tanpa disangka, Nino justru mengulurkan tangannya membantu Tiara untuk bangkit berdiri. Membuat jantung Tiara bertalu-talu. Pun wajah gadis itu bersemu merah seketika. Beruntung kelelahan karena berlari mengelilingi taman komplek hingga tiga putaran, membuat wajahnya memerah karena lelah hingga menutupi rona malu yang menjalari pipi.


"Aku ga dibantuin nih?!" sambar Sandra seraya mengerucutkan bibir.


"Ayo sini," Nino mengulurkan tangannya membantu Sandra berdiri.


Mereka bertiga kemudian beriringan menghampiri Ravka dan Alea. Sementara dua bodyguard yang selalu setia mengekor di belakang Tiara dan Sandra, kembali menjaga jarak kurang lebih dua ratus meter.


**********************************************


jangan lupa intip2 yang ini juga.. siapa tau suka...

__ADS_1




__ADS_2