
Ravka membuka pintu kamarnya perlahan. Sudah sejak senin kemarin Ravka harus menghabiskan waktu lebih lama berkutat dengan segala urusan kantor yang tiada habisnya. Tengah malam merupakan waktu tercepat bagi Ravka bisa melihat sosok cantik istrinya meringkuk di balik selimut. Tak jarang ia bahkan terpaksa pulang ke rumah saat dini hari. Sesampainya di rumah, ia selalu mendapati Alea sudah hanyut dalam alam bawah sadar. Melihat wajah lelah itu terlelap, membuat Ravka tak tega jika harus mengganggu istirahat sang istri. Ia selalu bergerak perlahan dan hati-hati, agar Alea tak terusik dalam mimpi indahnya.
"Ia sepertinya benar-benar kelelahan," Ucap Ravka memperhatikan wajah Alea dengan seksama.
Disibkanya rambut yang tergerai menutupi wajah cantik bak malaikat tanpa dosa. Begitu menggemaskan dan membangkitkan hasrat kelelakiannya. Sudah beberpa hari ini ia selalu menahan diri untuk menyentuh tubuh mungil yang tak bergeming meski ia belai lembut wajahnya. Dikecupnya sekilas bibir merekah yang melambai minta dijamah.
"Kau benar-benar berubah jadi candu, Al," ucap Ravka seraya mengusak kasar rambutnya.
Ravka meninggalkan Alea yang masih saja terlelap meski pemuda itu sudah meraup bibir gadisnya dengan penuh kerinduan. Lelaki itu membersihkan diri di bawah guyuran shower, kemudian mengambil kaos dan celana pendek dari dalam lemari untuk ia kenakan. Lelaki itu memang tak memilik koleksi piyama tidur. Karena baginya, piyama tidur hanya akan membuatnya tampak seperti Kakek-kakek. Bagi Ravka yang terpenting adalah kenyamanan.
Setelah mengganti pakaiannya, Ravka melesak di samping Alea. Pria itu menelusup di balik selimut seraya merengkuh gadis itu kedalam pelukannya. Aroma vanila dari rambut Alea kali ini tak bisa membuat Ravka memejamkan mata. Sudah berhari-hari ia merindukan sentuhan jemari Alea di tubuhnya, menari dan membelai. Begitupun dengan jemarinya yang sudah mulai membelai lembut bahu Alea yang tengah memakai kaos yang sedikit terbuka di bagian bahu. Dikecupnya bahu putih itu, berusaha mengusir rindu untuk segera menyatu dengan gadis cantik yang selalu mengganggu konsentrasinya saat berjauhan.
Semakin dalam kecupan yang ia benamkan di tubuh gadis itu, semakin membuat kontrolnya hilang kendali. Hingga bibir tak cukup hanya mencecap manis tubuh Alea di satu titik. Ia mulai bergerilya dengan jemari dan bibirnya. Menghadirkan geraman dan erang tertahan dari gadis yang matanya masih terpejam sempurna.
"Mas Ravka," ucap Alea membulatkan mata.
Kedapatan menjamah tubuh sang istri di saat matanya terpejam, membuat Ravka menyeringai malu. Sambil terkekeh, Lelaki itu menengadahkan kepala mentap manik yang terpaku menyadari aksinya yang memalukan.
"Aku ga tahan, Al," cengir Ravka dengan raut wajah malu-malu masih tercetak jelas di wajahnya. "Kamu tidur lagi aja ga apa-apa kok. A-aku bisa sendiri. Kamu cukup diam dan nikmati," tambah lelaki itu terbata.
Apa yang diucapkan sang suami semakin melebarkan mata indah bermanik hazel tersebut. Bibirnya kelu untuk mengungkapkan perasaan yang bersambut. Gadis itu malah tergelak membayangkan ucapan sang suami.
"Gimana caranya aku bisa tidur lagi, Mas? Tangan kamu aja ga mau berhenti," ucap Alea seraya menahan geli saat tangan sang suami menelusup dibalik kaosnya.
Cumbu rayu yang dilancarkan oleh Ravka sudah membuat Kantuk Alea menguap entah kemana. Sebersit rasa terimakasih ia sematkan dihati, terhadap Ibu Mertua yang sudah menyiapkan Mak Ijah untuk memijat tubunya. Dengan begitu ia bisa merasa rileks saat pijatan Mak Ijah melenyapkan penat yang mendera. Hingga kini ia bisa menjalankan tugasnya sebgai istri tanpa berniat menolak keinginan sang suami.
******
__ADS_1
"Makasih yah sayang," ucap Ravka seraya memagut bibir Alea untuk kesekian kalinya.
Seakan hasratnya membuncah tak pernah bisa terpuaskan.
"Hmmm .... " gumam Alea di awah pagutan lembut yang dilayangkan sang suami.
"Maaf, aku udah ganggu tidur kamu," imbuh Ravka lagi sesaat setelah ia melepaskan pagutannya.
"Ga apa-apa kok Mas. Aku yang harusnya minta maaf. Setiap hari aku malah ketiduran, ga nungguin kamu pulang kerja."
"Jam kerjaku sekarang ga jelas. Kasihan kamu kalau harus nungguin aku tiap malem. Kamunya juga capek kan?" tanya Ravka seraya membelai pipi Alea dengan punggung tangannya.
"Lumayan. Tapi tadi untung ada Mak Ijah yang pijitin. Jadi mendinganlah, ga terlalu pegel."
" kursusnya gimana?" tanya Ravka lagi seraya memainkan jemarinya di seluruh tubuh istrinya yang hanya berbalut selimut dan lengannya.
"Ga usah terlalu dibawa beban. Itu hanya pesta resepsi pernikahan layaknya pesta biasa. Kamu tetap bisa menjadi diri sendiri disana. Dan aku tidak akan pernah malu akan dirimu. Aku ingin kita hanya menikmati kebersamaan selama disana tanpa perlu direpotkan dengan segala formalitas yang menyulitkan."
"Baiklah, aku janji hanya akan menikmati liburan kita disana," ucap Alea seraya menggeliat merasakan senyar menggetarkan diterima oleh syarafnya ketika Ravka tak henti memainkan jemarinya. "Kamu sendiri gimana kerjaan, Mas. Tiap hari kamu lembur sampai larut malam," desia Alea masih menggeliat dibawah tangan nakal sang suami.
"Semua sudah beres. Tinggal Nino yang akan mengurus sisanya. Aku sengaja lembur tiap hati agar kita bisa honeymoon di maldives nanti tanpa ada yang mengganggu, termasuk semua urusan kantor." Ravka berbicara di sela-sela bibirnya yang menyusuri leher jenjang Alea.
"Nino ga ikut ke Maldives?" pertanyaan Alea membuat Ravka menghentikan segala aktivitas yang segera ingin ia ulang kembali.
"Enggak. Dia langsung nyusul ke jerman nanti. Ini terakhir kalinya kamu menyebutkan nama lelaki lain saat aku sedang mencumbu," ucap Ravka tegas sembari mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar di kepala dipan.
"Mulai lagi deh posesifnya," desis Alea dalam hati.
__ADS_1
Gadis itu harus mengingat betul untuk berhati-hati saat membicarakan lelaki lain kalau tidak mau berakhir dengan dicemburui oleh sang suami. Alea melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu seraya menjatuhkan kepala diatas perut sixpack yang begitu menggoda. Memainkan jemarinya disana demi meluruhkan amarah suaminya.
"Iya deh, aku minta maaf yah, Mas." Alea menengadahkan kepalanya menatap manik mata Ravka yang mulai meredup.
Melihat wajah polos Alea, dengan senyum tanpa dosa mengembang disana, kembali membuat kelelakiannya tergugah. Ia kembali menerkam tubuh mungil itu demi melancarakan aksi bujuk rayu.
"Baiklah, kamu kumaafkan. Dengan syarat besok kamu harus menemaniku ke kantor. Masih ada beberapa hal kecil yang perlu ditangani langsung olehku."
"Tapi besok aku maaih ada kelas untuk terakhir, Mas. Tadi aku udah buat janji pagi unyuk besok karena besok weekend dan aku tidak harus berangkat ke kantor," ucap Alea dengan sorot mata memohon.
"Tidak. Kamu harus ikut denganku. Cukup dengan segala remeh temeh soal kepribadian itu. Buatku, kepribadianmu sudah sempurna. Jadi kalau kamu masih mau melanjutkan kelas itu, lanjutkan saat kita sudah kembali dari perjalanan dinasku setelah kita berlibur di Maldives nanti," ujar Ravka tegas tak mau menerima bantahan.
"Baiklah, Mas," jawab Alea pasrah.
Tidak ada gunanya ia membantah omongan sang suami. Toh apa yang ia lakukan demi menyenangkan suaminya. Ia tak mau hal itu justru membuat Ravka jadi kesal.
"Itu baru gadisku," ucap Ravka seraya menggigit lembut hidung Alea gemas.
Gigitan itu tak hanya berhenti sampai disitu. Berhari-hari menahan diri, membuat lelaki itu frustrasi. Kali ini ia akan membayar semua penantiannya.
**********************************************
sambil nunggu up yah.. silahkan mampir...
__ADS_1