
"Alea, tumben kamu sudah rapi sepagi ini? Mau kemana?" tanya Dilla yang baru saja memasuki ruang makan.
Dilla memperhatikan menantunya yang sudah rapi dalam balutan blazer berwarna pastel dan rok span berwarna hitam. Disebelahnya Ravka tengah menyantap pasta yang sudah dibuatkan oleh Alea. Disana juga sudah tersedia segelas jus mix berry dan secangkir kopi mendampingi menu sarapan pemuda itu.
"Al ada interview kerja Ma," jawab Alea tak enak hati karena belum memberitahu mertuanya itu perihal niatannya untuk bekerja.
"Interview kerja? Kamu mau kerja?" tanya Dilla heran.
"Sayang Ma kalau ilmu yang sudah Al pelajari semasa kuliah kalau tidak dipakai sama sekali," Alea beralasan.
"Kalau kamu mau bekerja, kenapa repot-repot mencari pekerjaan di luar? Kamu kerja saja di perusahaan keluarga kita," ucap Dilla seraya menyiapkan sarapan untuk suaminya. "Mama yakin, Ravka pasti bisa menemukan posisi yang cocok untuk kamu tempati," lanjut Dilla.
"Siapa yang mau kerja, Ma?" tanya Derry yang baru saja memasuki ruang makan menyusul istrinya.
Derry merebahkan diri di kursi sebelah Ravka. Menyambut piring berisi sarapan yang diserahkan oleh istrinya.
"Alea, Pa. Katanya ia hari ini mau interview kerja," jawab Dilla yang ikut sarapan setelah melayani suaminya.
"Maaf Ma, bukannya Alea tidak mau bergabung di perusahaan keluarga. Hanya saja Al kan belum punya pengalaman. Al khawatir orang-orang akan menilai, kalau Al tidak pantas ada disana," sambar Alea.
"Ngapain denger kata orang sih. Lagi pula kamu memang anaknya cerdas. Tidak ada salahnya kalau kamu berkontribusi untuk membantu suamimu," oceh Dilla.
"Sebetulnya kalau Mama dan Papa mengizinkan, Alea ingin mencari pengalaman terlebih dahulu. Menguji batas kemapuan Al dalam meniti karir," Alea berusaha meyakinkan mertuanya. "Kalaupun nantinya Al akan membantu Mas Ravka di perusahaan keluarga, Al berharap orang akan menilai kalau memang Al layak di posisi itu,"
"Papa setuju dengan Alea, Ma. Biarkan dia mencari banyak pengalaman dulu di luar. Nanti setelah satu atau dua tahun, dia bisa bergabung di perusahaan milik Papa Bayu, membantu Ravka dan Alex. Atau bisa juga membangun perusahaan Papa bersama Tiara," ucap Derry santai.
Ayah mertua Alea itu sekarang juga sudah mulai menerima kehadiran Alea. Laki-laki paruh baya itu kini sudah tak lagi mengabaikan menantunya semenjak istrinya mendengar percakapan Alea dengan Kania tempo hari. Sepasang suami istri itu mulai membuka matanya melihat ketulusan gadis yang kini mulai mereka anggap bagian dari keluarga.
"Bisa juga membantu Mama mengelola yayasan," ucap Dilla tak mau kalah. "Papa Bayu sudah ada Ravka dan Alex yang membantu. Sementara Tiara lebih tertarik meneruskan usaha Papa. Aku siapa yang bantu?" imbuh Dilla.
__ADS_1
"Memangnya Papa tidak kerja bareng Mas Ravka?" tanya Alea heran.
"Ravka sekarang mengelola perusahaan yang di bangun kakek bayu, Sementara Papamu membangun perusahaan transportasi miliknya sendiri," Dilla memberi penjelasan.
Banyak banget sih usaha keluarga Mas Ravka, pantas saja kalau mereka punya kekayaan yang melimpah - Alea membatin.
Dia tak pernah mengetahui sebelumnya apa saja usaha keluarga suaminya itu. Kehadirannya yang sempat tak diinginkan berada dalam keluarga ini, membuat Alea hampir tak mengetahui apapun mengenai keluarga Dinata. Ia hanya menyadari bahwa keluarga suaminya merupakan salah satu keluarga yang cukup terpandang. Itupun baru ia ketahui setelah menikah dengan Ravka selama beberapa waktu.
"Kamu yakin Al mau melamar kerja saja?" tanya Dilla lagi.
"Iya Ma, Alea yakin kok,"
"Yasudah kalau kamu memang maunya seperti itu. Kamu berangkatnya bareng sama Ravka kan?!" imbuh Dilla lagi.
"Alea bisa berangkat sendiri kok, Ma. Khawatir Mas Ravka terlambat ke kantor kalau harus mengantar Alea terlebih dahulu," jawab Alea.
"Ravka?" ucap Dilla lembut tapi syarat dengan penekanan. Mata Dilla menatap tajam Ravka seolah ucapannya tak mau dibantah.
"Baik Mas," ucap Alea seraya menyelesaikan sarapannya dengan segera.
Gadis itu kemudian berpamitan kepada kedua mertuanya dengan mencium punggung tangan pasangan suami istri yang masih asik menyantap sarapan mereka.
***********
"Kamu mau interview dimana?" tanya Ravka saat sudah berada di dalam mobil.
Pemuda itu berniat memperhitungkan perjalanan yang harus ia tempuh agar bisa mengantar Alea dengan cepat, kemudian sesegera mungkin menuju kantornya sendiri agar tak terlambat. Pagi ini ia ada meeting dengan klien penting yang mengaharuskan ia datang tepat waktu ke kantornya.
"Di daerah Gatot Subroto, Mas," jawab Alea canggung.
__ADS_1
Gadis itu sesungguhnya tak dapat menutupi rasa gugup yang menggerayanginya. Cuaca cerah di luar sana tak mampu membuat hatinya ikut ceria. Meskipun ia mendapat tawaran interview tanpa melamar ke perusahaan yang hendak didatanginya pagi ini, tak membuat kekhawatiran memudar dalam diri Alea.
Bagaimanapun perusahaan yang hendak didatanginya ini merupakan salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia bahkan Asia. Lebih dari dua ratus brand yang beredar dipasaran di bawah naungan perusahaan yang meminangnya untuk bergabung.
"Gatot Subroto?" Ravka tampak berpikir mendengar jawaban Alea. "Kamu mendapat tawaran kerja dari perusahaan apa?" tanya Ravka lagi.
"BeTrust," jawab Alea.
Ravka menyunggingkan senyum miring di bibirnya. Hampir saja ia tergelak saat Alea menyebutkan nama perusahaan yang hendak didatanginya. Namun, penguasaan emosi yang sudah terlatih selama bertahun-tahun mampu menahan suara yang dapat keluar dari bibirnya melalui tawa.
"Kamu tahu itu perusahaan apa?" tanya Ravka lagi.
"Perusahaan multinasional yang bergerak pada Fast Moving Consumer Goods. lebih dari dua ratus brand kebutuhan rumah tangga di produksi oleh BeTrust,"
Ravka menaikkan dua alisnya mendengar jawaban Alea. Gadis itu sepertinya hanya mengetahui informasi permukaan saja mengenai perusahaan yang ia sebutkan tadi.
"Memangnya kamu ditawari posisi apa disana?"
"Analys Bussines. Mereka menawariku pekerjaan ini karena tertarik pada skripsi yang aku buat mengenai Consumer Goods,"
Ravka hanya melemparkan senyuman dengan kerlingan mata yang tak dapat Alea jabarkan makna tersirat di dalam sana. Ia memperhatikan Ravka dari balik kemudi. Memperhatikan wajah tampan nan rupawan yang mampu membuat banyak wanita terjerat dalam pesonanya. Namun, menyadari sikap dingin Ravka yang kerap kali ditunjukan oleh pemuda itu membuat desiran di hati Alea membeku seketika. Ia tidak boleh membiarkankan hatinya jatuh pada kekayaan fisik yang menaungi diri Ravka, jika tak mau hatinya semakin terluka. Tak menyimpan rasapun bisa membuat Alea terluka dengan sikap dinginnya. Apalagi kalau ia berani melibatkan hati di dalamnya.
"Sudah sampai. Turunlah disini," ucap Ravka membuyarkan lamunan Alea.
Keasikan menyelam dalam angannya, membuat Alea tak menyadari saat mobil yang dikendarai Ravka sudah berhenti dengan sempurna. Dengan segera gadis itu menyodorkan tangannya kepada Ravka berniat menyalami pemuda itu. Lama tangan Alea menggantung hingga hampir saja ia mengurungkan niatnya untuk menyalami suaminya itu. Meskipun lama, Ravka akhirnya menyerahkan tangannya untuk diciumi oleh bibir lembut istrinya.
Baru kali ini Ravka merasakan sentuhan lembut bibir gadis itu selama mereka menikah. Menciptakan kehangatan yang mengalir di dalam dada.
"Terimakasih Mas, sudah mengantarkan aku. Maaf sudah merepotkan kamu," ucap Alea sebelum membawa tubuhnya pergi dari mobil.
__ADS_1
Tanpa menunggu mobil Ravka berlalu, Alea masuk ke dalam lobby gedung kantor yang menjulang tinggi mencakar langit, setelah sempat melemparkan senyum kepada suaminya di balik kaca mobil. Dibalik kecemasan yang mendera, Alea menyiapkan mental menghadapi kesempatan yang mampu menerbitkan harapan dalam hati terdalam.