
Setelah menerima kunci kamar yang akan ditempatinya dari resepsionis hotel, Alea bergegas menuju lantai dimana kamarnya berada. Setelah keluar dari lift, Alea berjalan disepanjang lorong hotel. Melongok ke kiri dan kanan, mencari letak kamar hotel yang akan ditempatinya. Hingga ia menemukan letak kamar yang ia cari. Gadis itu segera membuka pintu setelah menyesuaikan nomor kamar yang tertera di pintu dengan kunci kamar yang ia pegang.
"Huhhh.... akhirnya bisa istirahat juga," ucap Alea seraya mengganti sepatu yang dia kenakan dengan sandal kamar yang disediakan oleh pihak hotel.
Diletakkannya tas berisi pakaiannya secara sembarang di dalam lemari, kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Tanpa terasa gadis itu terlelap dalam tidurnya. Ia terlalu lelah karena beban pikiran yang terus mengusik hingga membuat tubuhnya ikut kelelahan.
Tak terasa waktu berlalu hingga sebuah suara ketukan pintu membuat Alea terjaga. Gadis itu mengucek matanya, memaksa dua bola mata indah itu membelalak sadar dari rasa kantuk yang masih menyergapnya.
"Kania," ucap Alea mengintip dari dalam kamar melalui sebuah lubang kecil tertutupi kaca cembung di pintu kamar.
Gadis itu kemudian membuka kunci kamarnya dan mempersilahkan adik sepupunya itu untuk turut masuk menempati kamar hotel yang sudah ia sewa.
"Kak Al, kok lama banget sih buka pintunya. Aku sampe ngirain salah kamar loh. Mana di telpon ga angkat-angkat lagi. Di wa juga ga dibaca," cerocos Kania yang langsung meraih air mineral diatas meja dan meneguknya hingga tandas tak bersisa.
"Maaf, aku ketiduran Kan," ucap Alea dengan rasa bersalah.
"Kakak kenapa tiba-tiba pengen nginep di hotel sih?" tanya Kania heran.
Kania sudah merebahkan tubuhnya diatas kasur. Meraih remot TV dan mengutak atik remot tersebut mencari tayangan yang menghibur untuk disaksikan.
Pertanyaan Kania membuat Alea tertegun, kepalanya kembali melayang pada ucapan Ravka yang terus terngiang ditelinganya. Sebeginikan rasanya mencinta. Tak pernah menghadirkan bahagia. Saat dulu ia jatuh cinta untuk pertama kalinya, ia bisa dengan ikhlas mencoba membuang perasaannya. Membuat hatinya menerima bahwa rasa sayang dan cinta itu hanyalah antara kakak dan adik bukan selayaknya perasaan cinta antara pria dan wanita.
Namun, kali ini entah sejak kapan ia mulai menyadari bahwa ia jatuh hati pada suaminya sendiri. Perasaan yang berusaha ia tumbuhkan demi melayani sang suami dengan tulus dan ikhlas justru berakar dihatinya, hingga menghadirkan perih saat menyadari sang suami hanya mengasihani dirinya.
"Kakak, kenapa?" tanya Kania ketika melihat raut wajah murung yang tercetak jelas diwajah Alea. Gadis itu mematikan televisi yang sempat dinyalakan. Ia memfokuskan diri kepada kakak sepupunya yang sedang diterpa gundah gulana.
"Entahlah Kan, aku rasa ini karena mood ku yang lagi jelek aja,"
__ADS_1
"Mood jelek juga ada sebabnya. Ayolah cerita saja padaku, siapa tahu aku bisa membuat mood Kak Al jadi baik lagi,"
Kania memperhatikan Alea yang hanya termangu tanpa berniat menjawab pertanyaannya. Gadis itu seolah terbang jauh meninggalkan raganya yang sudah melesak disebelah Kania.
"Apa masalah dengan suamimu lagi?" tanya Kania menarik Alea kembali ke alam sadar.
"Hmm?" wajah terperangah Alea menyatakan dengan jelas bahwa tebakan Kania sangat tepat.
"Ada apa lagi dengan suamimu, Kak?" desak Kania.
"Aku rasa Mas Ravka berniat menceraikanku," ucap Alea terbata.
"Memang kenapa dia tiba-tiba mau menceraikan kamu? Memangnya kamu melakukan apa sampai dia merasa berhak menyakiti perempuan sebaik kamu?" tanya Kania dengan menahan emosi yang mulai membanjiri hatinya.
"Tidak... tidak... justru sebaliknya. Dia menyadari kalau telah salah menuduhku. Dan menyadari kalau aku sama sekali tidak bersalah atas kejadian yang menimpa kami waktu itu. Jadi dia berniat melepaskan aku,"
"Tapi aku justru merasa sedih, Kan. Aku...." Alea menggantung kalimatnya. Tak berani meneruskan kalimat yang tersangkut ditenggorokannya.
"Kamu kenapa?" tanya Kania menyelisik gadis dihadapannya. Gadis yang dilingkupi kesedihan terpatri di wajahnya, dengan binar meredup di kedua matanya. "Jangan-jangan kamu udah jatuh cinta sama suami kamu, Kak?" desis Kania dengan nada tak percaya. "Bagaimana bisa kamu menyukai pria jahat seperti dia? pria yang sama sekali tidak punya hati macam dia, tidak berhak mendapat hati kamu yang tulus,"
"Dia sebetulnya ga jahat Kania. Dia sebetulnya pria yang baik. Pria yang penuh dengan kehangatan. Hanya saja dia sudah salah menilai aku sehingga di bersikap dingin seperti itu," Alea tak membenarkan atau mengenyahkan pertanyaan Kania. Namun, dengan pembelaannya atas pemuda itu meyakinkan kania bahwa tebakannya tidaklah meleset.
"Oh damn, kamu bener-bener suka sama dia Kak?" wajah Kania memperlihatkan empati yang mendalam.
Kania sama sekali tak menyangka bahwa Alea bisa terpuruk semakin dalam pada pernikahannya. Dia berharap suatu hari nanti Alea bisa meraih kebebasannya. Namun, saat itu sungguh terjadi, gadis itu sudah terjerat semakin kencang dengan ikatan yang sudah terjalin dengan suaminya. Ikatan dengan simpul sembarang yang sewaktu-waktu bisa putus begitu saja. Namun, saat terlepas dari ikatan itu justru akan membuat Alea tak mungkin bebas tanpa menyakiti perasaannya.
"Lantas sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Kania lagi.
__ADS_1
"Entahlah. Aku hanya ingin menata hatiku kembali, supaya tak merasa tersakiti jika semua itu benar terjadi," jawab Alea berupaya menyusun kepingan hatinya yang mulai berantakan.
"Kakak," Kania secara tiba-tiba memeluk Alea.
Meski sesungguhnya ia kesal dengan Alea. Namun, ia akan mengunci rapat mulutnya. Tak ada gunanya ia menyalahkan Alea yang luruh pada pesona pria yang harus ia akui tak mudah untuk ditolak. Saat ini yang Alea butuh hanya pelukan untuk mendukung gadis itu melewati masa sulitnya.
"Bagaimana kalau besok kamu ikut aku aja?" Kania memberi ide. Siapa tahu Alea bisa melupakan sejenak kegalauan hatinya dengan berjalan menikmati udara pedesaan.
"Ikut kamu kemana?" tanya Alea melepaskan pelukan Kania.
"Besok aku ada acara kampus ke cisarua. Kamu ikut aja yah. Sekalian cari udara seger buat nenangin pikiran. Dari pada di hotel. Emang mau ngapain kamu disini?"
"Entahlah," Alea mengedikkan bahu. "Aku hanya tak tempat yang bisa kutuju. Makanya aku kemari,"
"Yasudah kalau begitu Kak Al ikit aku aja,"
"Tapi itukan acara kampus kamu, dek. Masa aku ikut. Ga enak ah," jawab Alea merasa tak nyaman.
"Initu bukan acara reami kampusku, Kak. Ini acara club kampus. Banyak dari temanku yang mengajak orang dari luar kampus untuk mengikuti kami kesana. Bahkan ku dengar Rama juga akan mengajak adik iparmu," ucap Kania santai.
"Adik iparku?" Alea menautkan alisnya bingung.
"Iyah adik iparmu, Sandra. Aku bukannya sudah mengatakan kalau dia sedang dekat dengan teman kampusku Rama?!" Kania memgingatkan Alea akan perkataannya waktu gadis itu pertama kali berkunjung ke rumah keluarga Dinata.
"Kak Al sekalian bisa mengawasi mereka. Aku khawatir kesempatan kali ini akan digunakan oleh Rama untuk memgerjai adik iparmu itu," ucap Kania merujuk pada pelecehan saat memgucapkan kata mengerjai. "Sementara aku disana sebagai panitia, jadi tidak bisa mengawasi mereka sepenuhnya," imbuh Kania.
"Baiklah kalau begitu. Tidak ada salahnya aku ikut kamu. Lagipula aku memang butuh berjalan-jalan mencari udara segar untuk menenangkan pikiranku," ucap Alea seraya mengurai senyum.
__ADS_1