
"Kamu ga bareng Nino?" tanya Zai santai.
"Kayanya Nino ga ikut deh," jawab Alea salah tingkah.
"Oh ya? Bagus dong kalau begitu," sambar Zai dengan wajah sumringah.
Hati lelaki itu mengembang merasa mendapat kesempatan. Sejak pertama melihat Alea, entah kenapa hatinya sudah kepincut dengan perempuan berparas manis dan sederhana ini. Namun, ia tak pernah mendapat kesempatan mendekati sosok gadis di sebelahnya ini karena ulah Nino yang selalu menghalangi. Kali ini ia akan memancarkan segala pesona yang dimiliki demi memikat gadis cantik ini.
"Hei curang lu, cewek cantik di embat sendiri. Kenalin napa?" celoteh Rifzan yang menggeser duduknya di kursi yang tadi ditempati oleh Zai.
"Jangan mau Al, dia playboy."
"Nah, kalo gue aja bisa lu bilang playboy, Elu namanya apa? Elu kan gurunya gue," kekeh Rifzan menyerang balik.
"Beni," ucap Beni seraya meyodorkan tangannya ke hadapan Alea.
Lelaki itu langsung menyambar kesempatan untuk berkenalan dengan Alea, saat Rifzan dan Zai saling serang kata.
"Alea," ucap Alea menyambut uluran tangan Beni dengan ragu-ragu.
"Gue Rifzan." Rifzan berucap dengan sedikit meninggikan suara lantaran duduk di meja yang berbeda dengan Alea sembari melambaikan tangan.
Sementara di hadapan Rifzan, Fiki hanya membungkam mulutnya rapat lantaran tak mau cari masalah dengan Rizka, sang tunangan yang tengah meliriknya. Begitupula Dandi yang mengkerut di tempatnya, mendapati pelototan Ines, kekasih hati yang duduk di meja sebelah bersama ketiga wanita lainnya yang juga memasang raut tak suka akan kehadiran Alea.
Ke empat wanita itu memperlihatkan ketidaksukaan mereka dengan sangat kentara. Terutama Hesty dan Diva yang pernah punya pengalaman tak menyenangkan saat bertemu dengan Alea beberapa bulan lalu.
"Kamu bareng siapa, Al?" tanya Zai menarik perhatian Alea dari Beni.
"Oh ini adik aku, Kania."
"Hallo Kania, aku Zai," Zainal mengulurkan tangannya dihadapan Kania, diikuti oleh Beni. Lagi-lagi Rifzan turut meneriakan namanya kepada Kania.
__ADS_1
Ketiga pria yang memang berstatus jomblo tersebut, saling berebut perhatian dari Alea juga Kania. Hingga membuat jantung Alea berlompatan karena khawatir akan reaksi Ravka. Kania yang duduk diseberang Alea dapat merasakan Kegelisahan yang terpancar di kedua manik mata Alea.
"Tu cewek yang ngajak siapa sih?" celetuk Diva kesal karena pria incarannya memperlihatkan ketertarikan pada Alea.
"Tau gue juga. Caper banget sih jadi cewek," sambar Hesty.
"Emang Lu ada yang ngajak?!" sindir Rifzan seraya menoleh para wanita yang bersungut-sungut dengan suara kencang.
Tentu saja suara para wanita itu dapat ditangkap oleh mereka semua yang duduknya saling berdekatan. Alea melirik sekilas dua wanita yang memang sejak awal tak pernah mendapat simpati yang layak ia berikan. Gadis itu menarik nafas perlahan, menenangkan hati saat sekelabat ingatan akan bibir merah itu yang pernah mencaplok bibir suaminya dengan begitu enteng tanpa sebuah status.
"Lah kita kan diajak sama Lu yah, Nes," ucap Hesty dengan percaya diri. "Lagian gue juga udah telpon Nino kok. Dia ga masalah tuh gue ikut."
"Tapi yang bikin acara, Ravka bukan Nino. Lu yakin Ravka juga ga masalah lu ikut?" serang Rifzan lagi. "Jangan samain Nino yang suka ga tegaan sama orang. Ravka itu kejam asal lu tau."
Lelaki itu memang sangat tak menyukai kedua wanita yang selalu mencari celah untuk mendekati Ravka. Berkali-kali Ravka menolak kehadiran mereka, berkali-kali pula mereka mencari cara baru. Siapa yang tak tahu dengan sepak terjang kedua wanita itu yang bersedia melemparkan tubuhnya pada pria-pria kaya hidung belang demi memenuhi hasrat menjadi bagian dari para sosialita kalangan atas.
Sikap mereka bahkan mencerminkan status mereka sesungguhnya, meski mereka selalu berpenampilan layaknya wanita-wanita terhormat dari kalangan atas. Pakaian dan tas branded yang mereka kenakan tak mampu menutupi jati diri mereka sesungguhnya. Ia juga tak mengira bagaimana bisa wanita terhormat seperti Ines dan Rizka bisa berteman dengan kedua wanita berbisa itu.
"Ga ada salah, sih. Cuma mata gue sakit liat Lu. Eh ternyata sakitnya nular ke kuping."
"Lah kan Gue cuma nanya, dia itu yang ngajak siapa? Kok tiba-tiba bisa nongol disini?" sambar Diva dengan lirikan sinis ke Alea. "Kita semua udah kenal Ravka sama Nino lama kan? Emang ada yang kenal dia siapa?" tunjuk Diva pada Alea dengan senyum mengejek.
"Gue kenal dia siapa, Nino dan Ravka juga kenal dia siapa," bela Zainal.
Baru saja Alea hendak membuka mukut memberi tahu statusnya, Zai sudah menyambar terlebih dahulu untuk membelanya.
"Udah biaran aja mereka. Dari dulu emang begitu. Ga jelas," ucap Beni membuat wajah Hesty dan Diva memerah menahan kesal.
"Kalian berdua bisa ga sih, ga cari ribut? Kalian kita ajak ikut bukan untuk ajak orang lain ribut," tegur Rizka mulai merasa risih dengan sikap Hesty dan Diva.
Ia tak enak hati dengan sang tunangan yang telah mengajaknya turut serta berlibur bersama teman-temannya. Ia tak mau dua wanita itu merusak liburannya.
__ADS_1
"Kalian berdua masih kelihatan muda, mungkin karena itu, Hesty dan Diva merasa minder sama umurnya," kekeh Ines membuat wajah dua temannya itu semakin memerah menahan geram telah menjadi bulan-bulanan. "Kamu udah kerja?" tanya Ines seraya melemparkan tatapan pada Kania.
Meski Ines mendapati dua gadis yang tampak belia itu cantik dan menarik perhatian, tapi ia tak sampai berniat memusuhinya seperti yang dilakukan oleh Hesty dan Diva.
"Aku masih kuliah kok, Kak," jawab Kania dengan senyum malu-malu.
"Masih kecil Rif, bisa-bisa lu di cap pedofil yang ada," ledek Dandi seraya tergelak.
"Anak kecil yang udah bisa bikin anak kecil," sindir Hesty tak melewati kesempatan untuk menjatuhkan dua gadis yang menjadi saingannya. "Hati-hati loh, Dan. Kecil-kecil cabe rawitz."
"Masih kecil bisa-bisanya ikut liburan bareng kita yang udah pada dewasa. Apa ga bikin curiga tuh?" sambar Diva. "Riz, Nes, jagain cowok kalian masing-masing. Tar disabet lagi sama mereka."
"Tolong yah, Mbak, mulutnya di jaga. Pernah sekolahkan?!" Alea mulai kesal saat Kania di seret-seret ke dalam masalah yang ia tidak ketahui.
Alea sendiri bingung dengan dua wanita yang seolah menabuh genderang perang pada ia dan Kania. Padahal mereka bahkan belum pernah berkenalan secara langsung. Jadi ia tak dapat menerka apa yang membuat kedua wanita itu seolah mengajak perang.
"Heh, maksud lu apa nanya gue pernah sekolah apa enggak?" Diva memanas mendapat sindiran dari Alea yang mengusik gengsinya, "Keluarga gue masih mampu nyekolahin gue sampe lulus kuliah. Emang elu, boro-boro kuliah, buat bertahan hidup aja palingan elu ngandelin tubuh kerempeng lu itu. Itupun kalau ada yang mau," ejek Diva sarkas.
"Heh Mbak, kelakuan lu jangan sama-samain ke orang lain dong." Kania menggebrak meja seraya berdiri siap memasang kuda-kuda perang. "Kalo lu biasa jual diri, jangan lu kira orang lain juga ngelakuin hal rendah sama kaya Lu," hardik Kania dengan wajah menggeram.
"Istighfar Kania," ucap Alea mengingatkan adik sepupunya itu. "Maaf yah Zai, aku rasa kami berdua cari tempat duduk yang lain saja," ucap Alea seraya berdiri.
Gadis itu meraih koper yang ia letakkan persis di sebalh kursi yang tadi di dudukinya seraya beranjak dari sana. Baru berjakan beberapa langkah, Zainal meraih tangan Alea menghentikan langkah gadis itu. Dengan cepat Alea menghentakkan tangan Zainal dengan kasar.
"Maaf Al, aku ga maksud pegang-pegang kamu. Tapi kamu ga perlu pergi dari sini, mereka berdua yang udah keterlaluan. Mereka yang seharusnya pergi."
"Tidak perlu. Kami yang baru sampai dan mengusik kalian. Ruangan ini masih menyediakan banyak kursi kosong untuk kami tempati. Permisi," ucap Alea ketus seraya berbalik badan membelakangi Zainal.
Wajah Alea pias saat ia melihat Ravka berjalan tergesa-gesa ke arahnya dengan tampang menakutkan menahan amarah.
"Ada apa ini?" Hardik Ravka menggelegar di telinga Alea.
__ADS_1