
"Dia putrimu, Mas. Putri kandungmu, darah dagingmu sendiri. Sampai kapan kamu akan memanfaatkannya untuk menjalankan segala rencana busukmu?"
"Jaga bicaramu di depan suami mu!" hardik Ferdi kasar.
"Aku selama ini sudah menjaga sikapku. Tapi tidak untuk kali ini. Aku tidak akan lagi membiarkan segala ketidak adilan yang kamu lakukan terhadap Sherly. Sudah cukup kamu membuatnya terlibat dalam balas dendam dan ambisi gila mu itu," cerca Shinta.
"Dasar kurang ajar," Ferdi menghampiri istrinya seraya mengangkat tangannya ke udara.
"Kamu mau menamparku? Tampar Mas. Apapun yang akan kamu lakukan terhadapku, aku tidak lagi perduli. Aku sudah muak melihat kamu mempermainkan kehidupan putriku."
Ferdi menghempaskan tangannya dengan kasar. Bagaimanapun ia tak mau sampai lepas kendali dihadapan anaknya.
"Kamu hanya bangga dan memanjakan anak lelakimu, tapi kamu memanfaatkan anak perempuanmu. Serendah itukah kami sebagai perempuan di mata kamu, Mas?" lanjut Shinta dengan mata berkaca-kaca.
Cukup sudah dia menahan derita hati puluhan tahun lamanya demi masa depan anak-anaknya. Ia bahkan rela direndahkan oleh pria yang menjadi suaminya, hanya demi kebahagian dua buah hati yang menguatkan dirinya untuk bertahan dalam keadaan terburuk sekalipun selama menjadi seorang Nyonya Ferdi Adijaya.
Namun, semua yang ia korbankan sia-sia. Bahkan putrinya juga harus mengorbankan kehidupannya demi memenuhi ambisi sang suami. Ia tak akan memaafkan dirinya jika sampai Sherly harus merasakan penderitaan yang selama ini ia rasakan. Tidak lagi, tidak untuk kali ini. Wajah memelas putrinya membuat ia bangkit untuk melawan ketidak adilan yang sudah mencengkramnya bertahun-tahun.
"Aku tidak ingin putriku menjadi gila karena ambisimu. Sudah cukup Elia yang menjadi gila karena obsesinya pada seorang pria. Aku tidak ingin anakku turut menjadi gila karena memenuhi obsesimu menguasai kekayaan keluarga Dinata," Shinta menjeda kalimatnya. Ia menarik nafas panjang sebelum mulai menguak kisah lalu yang tak pernah berani diungkitnya, "Elia seharusnya bersyukur ditinggalkan sebelum menikah. Daripada disakiti terus menerus dalam ikatan pernikahan yang dipaksakan," sindir Shinta dengan tawa yang mengejek dirinya sendiri.
__ADS_1
"Jangan bicara sembarangan. Atau aku akan .... "
"Apa? Menceraikan ku?" Shinta menyunggingkan senyum mengejek seraya mendesah kasar. "Aku akan merasa menjadi wanita yang beruntung jika kamu bersedia melepaskanku dengan suka rela. Anak-anak sudah dewasa. Tidak ada lagi yang perlu aku takutkan. Tidak ada gunanya lagi kamu mengancam akan memisahkan ku dari anak-anakku," ucapa Shinta membuat dua orang lainnya di dalam ruangan itu tersentak dan disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing.
Sherly tak mengira bahwa selama ini Ibunya juga berjuang demi dirinya. Mempertahankan pernikahan dengan segala sikap kasar Ayahnya hanya agar tak dipisahkan dari ia dan kakak lelakinya.
"Mama .... " gumam Sherly yang sudah meneteskan air mata.
Shinta menepiskan senyum diwajah melihat putrinya hingga mampu memberikan kekuatan berkali lipat untuk ia bisa mempertahankan harga diri yang sudah tak lagi memiliki wujud.
"Kalau itu yang kau inginkan, angkat kakimu sekarang juga dari rumah ini tanpa sepeserpun yang bisa kamu bawa dari dalam rumah ini. Kau masuk ke rumah ini membawa selembar baju di badan. Aku izinkan kau pergi dengan selembar baju di badanmu," ucap Ferdi dengan sarkas. Tawa mengejek ia sampirkan di akhir perkataanya, meremehkan istrinya yang ia yakini akan gentar terhadap ancamannya.
"Aku akan angkat kaki dari rumah ini tanpa sepeserpun uangmu. Aku tidak butuh segala kekayaan melimpahmu yang tidak ada artinya untukku. Aku tidak akan menuntut sepeserpun harta gono gini walaupun itu adalah hak ku, asal kamu bebaskan Sherly memilih jalan hidupnya sendiri. Biarkan ia meraih kebahagiannya." Shinta berucap dengan keyakinan penuh tersirat dalam nada suaranya.
shinta bersiap melangkahkan kaki keluar dari rumah yang hanya menyimpan banyak luka batin seenjang pernikahannya. Sudah saatnya ia benar-benar angkat kaki dari rumah ini.
"Tunggu, Ma .... Sherly ikut," ucap Sherly seraya meraih tangan Ibunya.
"Tidak ada masa depan untukmu jika ikut dengan, Mama." Shinta membelai lembut pipi putrinya yang sudah beranjak dewasa.
__ADS_1
Namun, ia masih melihat wajah sendu itu sebagai gadis mungilnya.
"Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi nanti, Ma. Tapi setidaknya aku yakin, Mama tidak akan menjadikan ku sebuah boneka yang tak ada harganya," sindir Sherly tajam.
Shinta mengangguk dengan penuh keyakinan. Setidaknya mereka bisa mencoba. Mencari kebahagiaan yang lebih kayak mereka dapatkan. Tak ada gunanya bertahan dalam kebahagiaan semu. Bergelimang materi, tapi tak punya harga diri. Bahkan setiap derap langkahpun sudah diatur.
"Sherly, apa yang Papa katakan pada Mama mu juga berlaku untukmu. Sekali kamu menginjakkan kakimu di luar rumah ini, Papa akan mencoret namamu dari daftar waris."
Sherly menolehkan wajahnya sekilas pada wajah tampan nan rupawan yang semakin gagah di usia senja. Laki-laki yang tampak sempurna di mata setiap orang yang memandang. Pun dengan kekayaan yang melimpah ruah. Namun, tidak bagi Sherly, wajah itu tak lagi mampu membuat ia terkesima semenjak ia beranjak dewasa.
"Aku tak membutuhkan harta, Pa. Aku hanya menginginkan cinta. Dan sayangnya, kini aku menyadari. Aku terlalu mengemis cinta dari Papa, hingga aku memenuhi semua permintaan Papa yang bahkan tidak masuk akal. Tapi aku sadar sekarang, bahkan cintamu pun tidak tulus padaku, Pa."
Setelah mengeluarkan isi hatinya, Sherly mengikuti Ibunya keluar dari sangkar emas yang memenjarakannya tanpa ia sadari. Beban hatinya kini berkurang, kakinya melangkah ringan.
"Kamu yakin, Sher?" tanya Ibunya saat mereka sudah berada di depan pintu yang diangguki Sherly dengan pasti.
"Aku akan membuat kalian berdua kembali ke rumah ini dan memohon pengampunanku," teriak Ferdi saat melihat kedua wanita itu melangkah keluar dari pintu rumahnya dengan geraman yang tertahan.
Sherly sempat mengjentikan langkahnya mendengar ucapan Ayahnya. Jantung gadis yang bertubuh sintal tersebut bergemuruh hingga membuat dadanya perih. Matanya tak henti meluruhkan tangis yang menderas di pipi. Ia kini sadar, sejak kecil ia selalu berusaha memenuhi segala keinginan Ayahnya hanya demi pengakuan dan cinta dari lelaki yang selalu ia puja. Namun, ia tak pernah bisa membanggakan Ayahnya. Tak ada cinta dimata lelaki itu sebesar cinta saat Ayahnya menatap Kakak lelaki satu-satunya dengan penuh kebanggaan.
__ADS_1
Selama ini ia berusah mencari cinta di luar. Sayangnya yang ia dapatkan justru cinta yang salah ia artikan. Cinta yang ia anggap tulus ternyata hanya menginginkan tubuh dan juga kekayaan yang selalu ia banggakan. Saat ia menyadari keaalahannya, semua sudah terlambat.
Ketika ia benar-benar menemukan cinta, ia sudah tak layak mendapatkannya. Semua hidupnya hancur hanya karena dirinya yang haus akan cinta. Namun, kini ia yakin bahwa ada satu cinta yang selama ini tak pernah ia sadari. Cinta dari Ibunya yang kini akan membuat ia bertahan melewati segala rintangan. Ia masih punya masa depan yang bisa ia tata kembali dengan dukungan cinta seorang Ibu. Memulai kembali setelah semuanya lebur tak bersisa.