
Alea terkapar di ranjang berukuran king di dalam kamarnya. Tangan dan Kakinya ia rentangkan selebar-lebarnya lantaran penat yang menghujam seluruh sendi. Sudah hampir lima hari terakhir ia dipadatkan dengan aktivitas kantor serta mengikuti program pengembangan diri melalui kursus kilat kepribadian.
Tak tanggung-tanggung, yang melatihnya adalah consuler senior dari sebuah sekolah kepribadian terkemuka di dunia yang sudah berdiri di Indonesia lebih dari tiga puluh tahun lamanya. Meski awalnya sang consuler sempat menolak untuk melatih Alea hanya dalam kurun waktu enam hari, tapi ia tak mungkin menolak permintaan langsung dari pemilik perusahaan ternama yang sudah sering bekerja sama dengan Sekolah Kepribadian tempatnya mengajar sejak belasan tahun lamanya.
Alhasil Alea setiap pulang kerja akan disibukkan dengan berbagai pelajaran dasar pendidikan karakter mulai dari sikap tubuh, etika makan, etika berkomunikasi serta etika berbusana. Untuk yang terakhir, Alea tak terlalu fokus lantaran sudah ada Revi yang ia mintai tolong untuk menyiapkan pakaian terbaik dan pantas digunakan untuk resepsi pernikahan megah kolega bisnis Ravka.
"Permisi Non, emak ijah sudah datang. Apa Non Alea mau dipijat sekarang?" tanya Bi Mimah dari luar kamar.
"Boleh, Bi. Udah pegel banget ini badan ku," ucap Alea meninggikan suaranya agar bisa di dengar oleh Kepala Asisten Rumah Tangganya itu.
Bi Mimah lantas membuka pintu kamar Alea dan menuntun seorang nenek berusia lanjut memasuki kamar majikannya. Di dalam kamar, Alea sudah memposisikan tubuhnya siap dipijat.
Ini kali kedua Mak Ijah mendatangi kediaman keluarga Dinata dalam satu minggu ini, guna memijat Alea. Ide mendatangi Mak Ijah untuk memijat Alea tercetus dari sang Ibu Mertua yang tidak tega melihat Alea bersusah payah tampil mempesona demi menjaga marwah sang suami. Membuat Dilla semaki jatuh hati dengan menantunya itu.
"Capek Non?" tanya Bi Mimah mengisi kesenyapan yang mengaung di kamar Alea.
"Lumayan, Bi. Pegel aku," ucap Aleq dengan nada suara yang lemah.
"Itu karena Non Alea terlalu memforsir tubuh. Bukannya Nyonya Dilla dan Den Ravka mengatakan Non Al tidak perlu datang ke kantor?" tanya Bi Mimah mengingatkan Alea.
"Yah mau gimana lagi, Bi. Aku kaya orang ga punya tanggung jawab kalau bolos terus dari kantor. Baru dua bulan kerja aja, aku udah berapa kali bolos ngantor. Mana minggu depan juga bakalan ga ngantor lagi," desah Alea pasrah.
Sesekali Alea meringis saat Mak Ijah menekan otot tubuh yang terasa kaku, hingga menimbulkan nyeri.
"Kan Non Al memang belum pernah pergi berbulan madu, selama menikah. Saya rasa orang kantor juga bakalan mengerti Non Al mengambil cuti."
"Iya sih. Tapi tetap saja aku ngerasa ga enak sama temen-temen kantor yang lain karena suka bekerja seenak sendiri."
"Ga usah terlalu dipikirkan Non. Kan Non Al kerja diperusahaan keluarga. Jadi tidak akan ada yang berani mengomeli Non Al."
"Iya sih Bi, aku memang beruntung. Apalagi yang menjadi atasanku adalah Kakak sepupu ku sendiri," ujar Alea tergelak.
"Oh ya, kebetulan yang baik itu Non. Non Al sudah didukung alam untuk bisa menikmati hidup ini. Jadi tidak perlu berpikir terlalu jauh."
__ADS_1
"Tetap saja, Bi. Rasanya aku benar-benar tak punya muka menghadapi teman-teman kantorku nanti. Mas Ravka bilang, setelah dari Maldives, dia ingin mewujudkan mimpiku jalan-jalan keliling dunia." ucap Alea dengan mata berbinar.
"Wah pasti menyenangkan berjalan-jalan keliling dunia tanpa memikirkan apapun. Non Al harus menikmatinya."
"Tapi aku jalan-jalan keliling Dunia sambil menemani Mas Ravka bekerja. Dia akan mengunjungi semua anak cabang perusahaan di luar negeri. Dan itu bisa memakan waktu satu bulan. Tidak mungkin aku cuti bekerja satu bulan. Itu terasa aneh."
"Kalau begitu kamu ajukan saja surat pengunduran diri, Al," ungkap Dilla yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Alea.
"Mama .... " sapa Alea seraya memiringkan kepala menghadap ke arah datangnya Ibu Mertuanya.
Dilla berjalan perlahan kemudian melesak di tepi tempat tidur.
Tepat setelah Dilla mendaratkan tubuhnya di tempat tidur, Bi Mimah pamit undur diri. Sebagai pelayan yang sudah lama mengijuti keluarga Dinata, Bi Mimah selalu bisa menempatkan diri. Kapan ia bisa bercengkrama dengan sang majikan, kapan ia harus menarik diri dari urusan pribadi majikannya.
"Mama kesini sebetulnya mau minta tolong sama kamu, Al," ujar Dilla.
"Mau minta tolong apa, Ma?" tanya Alea seketika.
"Mama mau minta tolong kamu bantu Mama di Yayasan. Mama mulai keteteran mengurus Yayasan yang sudah semakin berkembang."
"Yayasan butuh generasi muda yang masih punya tenaga ekstra. Sekarang Yayasan sudah semakin berkembang. Semakin banyak orang-orang yang berkecimpung di dalam Yayasan. Tentunya semakin banyak pula harapan yang menggantung disana. Kami para orang tua, tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Sementara yayasan butuh inovasi-inovasi baru mengikuti perkembangan Zaman. Generasi muda seperti kalian lah yang lebih cocok untuk mengurus Yayasan agar lebih memberikan manfaat bagi masyarakat luas khususnya kalangan menengah ke bawah," Jelas Dilla panjang lebar.
"Tapi, Ma .... " Alea menggantungkan ucapannya.
Bibirnya kelu untuk mengungkapkan segala yang menggumpal di hati. Ia bukannya tak ingin memenuhi permintaan Ibu Mertuanya itu. Hanya saja, Alea masih berharap bisa punya penghasilan dengan kemampuannya sendiri. Bukan karena tak percaya kalau sang suami akan dengan suka rela memenuhi segala kebutuhannya. Hanya saja, berdikari bisa memberinya rasa percaya diri.
"Mama mengerti kalau kamu mungkin masih mau berkarir," ucap Dilla dengan sorot mata penuh pengertian.
"Bukan begitu, Ma. Aku hanya ingin bisa menjadi wanita yang mandiri. Ma-maaf, Ma. Aku bukannya tidak percaya .... "
"Mama mengerti Al. Wajar kok kalau kamu masih mau memcari jati diri dan ingin berdiri di atas kaki sendiri. Justru perempuan yang tangguh seperti kamu yang dibutuhkan untuk memdampingi Ravka dengan segala tanggung jawab yang dipikulnya," Dilla memotong ucapan Alea.
Ia bisa mengerti apa tang dirasakan oleh menantunya itu. Ia juga tak mau permintaannya malah membuat gadia itu jadi tidak enak hati.
__ADS_1
"A-aku, aku tidak masalah kok kalau harus membantu Mama mengurus Yayasan." Alea berucap ragu sembari mengalihkan pandangan agar tak bertemu dengan netra Ibu Mertuanya.
Agar wanita paruh baya itu tak bisa membaca keraguan dari ucapan yang dilontarkannya. Namun, Dilla dengan segala pengalamannya tentu bisa menebak keraguan Alea hanya dari getaran suara saat gadia itu berbicara.
"Begini saja. Bagaimana kalau sekarang kamu fokus terlebih dahulu dengan acara kalian di Maldives. Setelah itu ambil waktu sebanyak mungkin untuk menikmati balun madu kalian. Setelah kamu pulang kita bisa membahas ini lagi." Dilla meraih tangan Alea dan meneouk punghung tangan gadis itu intuk menenangkannya agar tidak terlalu memikirkan permintaannya.
"Aku rasa, aku akan tetap mengundurkan diri dari kantor, Ma," ucap Alea terbata.
"Kenapa? bukannya kamu maaih mau bekerja?" tanya Dilla lembut.
"Aku rasa mungkin aku akan membuka toko kue. Toko kue kecil-kecilan dan meminta bantuan pegawai untuk menjalankannya. Jadi, aku masih punya waktu luang untuk membantu Mama di Yayasan. Aku juga masih bisa fokus mendampingi Mas Ravka saat dia membutuhkanku," ucap Alea mengemukakan pendapatnya.
Sejak Ravka memintanya menemani sang suami berkeliling lebih dari dua puluh negara untuk urusan bisnis setelah pulang dari Maldives nanti, membuat Alea terus memikirkannya setiap hari.
Selintas rencana untuk membuka toko kue kecil dengan tabungan yang dia punya memenuhi kepalanya beberapa hari terakhir. Toko kue yang tidak membutuhkan perhatian khusus, hingga ia bisa mencurahkan seluruh waktunya untuk mendampingi sang suami.
"Mama rasa itu ide yang bagus. Kalau begitu kamu sekarang jangan memikirkan yang macem-macem. Take your time, nikmati kebersamaan mu dengan Ravka. Setelah kembali ke indonesia, baru kita bahas lagi. Okay?" Dilla mengusap rambut Alea dengan penuh sayang seraya mengucap syukur dalam hati diberikan menantu berhati samudra untuk mendampingi anak lelaki satu-satunya.
"Terimakasih, Ma." ucap Alea tulus.
"Mama yang harusnya berterimakasih, karena kamu sudah mau mempertimbangkan permintaan Mama. Sekarang istirahatlah. Biar kamu tidak terlalu capek untuk lusa nanti."
"Iya Ma."
"Kalau begitu Mama tinggal dulu yah. Jangan terlalu difirsir belajarnya. Nanti pas bulan madu malah ga punya tenaga. Penganten baru kan butuh tenaga ekstra," ucap dilla seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda Alea.
"Mama .... " ucap Alea tersipu malu.
Dilla hanya tergelak seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Alea menikmati pijatan Mak Ijah hingga ia jatuh tertidur.
**********************************************
sambil nunggu up bisa intip ini yah...
__ADS_1