Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 70#


__ADS_3

"Maaf kalau aku sudah buat kamu salah paham. Tapi hari ini ada beberapa masalah yang harus aku selesaikan sekaligus. Jadi menyita perhatianku sampai tak sempat menghubungi kamu," ucap Ravka lembut.


Dia mengulurkan tangannya, menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya. Melihat wajah cantik merona di bawah belaian tangannya membuat pikiran Ravka melayang. Semua kerumitan urusan kantor menghilang bak ditelan kegelapan malam. Digantikan pendar cahaya dari wajah merona dibawah belaian tangannya. Harum vanila dari rambut Alea menusuk penciuman Ravka, mendorong naluri kelelakiannya untuk menyentuh puncak kepala gadisnya. Memberikan ciuman lembut disana seraya menghirup aroma rambutnya dengan rakus.


"Kamu wangi banget," ucap Ravka bergetar diatas kepala Alea.


Setelah puas mencium aroma vanila yang menguar dari puncak kepala Alea, Ravka menjauhkan kepalanya dari gadis itu. Mengalihkan pandangannya pada wajah istrinya yang tertunduk malu. Dibelainya pipi Alea hingga gadis itu mengangkat kepala menengadah menatap Ravka. Dua pasang mata itu saling bertemu dan mengunci satu sama lain. Sampai keduanya tak menyadari kalau mereka semakin merapatkan diri, mendekatkan kepala satu sama lain hingga tak memberi jarak bagi keduanya.


Ravka mulai mendaratkan bibirnya pada bibir mungil istrinya. Membelai bibir merah merekah itu dengan lembut, hingga Alea memasrahkan diri dibawah pagutan sang suami. Keduanya hanyut dalam suasana malam yang mulai diguyur hujan. Seakan alam sedang memberikan restu bagi Ravka, menjamah tubuh mungil Alea.


Dinginnya udara malam ditambah pendingin ruangan di dalam kamar, seolah tak berarti bagi dua insan yang sedang hanyut dalam alunan cinta yang menghangatkan. Bahkan rintik hujan yang jatuh menghujam bumi terdengar layaknya musik pengiring yang mendayu-dayu ditelinga. Semakin mendukung suasana bagi Ravka untuk mencecap bibir mungil sang istri yang mulai mengikuti naluri, menerima dan memberi dalam pagutan mesra yang semakin melingkupi keduanya.


Alea menikmati belaian cumbu rayu bibir Ravka yang mulai bergerak turun ke dagunya hingga ke ceruk leher gadis itu. Gerakan bibir Ravka menggelitik, menghadirkan hawa panas diatas permukaan kulit Alea. Bibir Ravka bergerak perlahan sehingga terasa begitu lembut. Menghadirkan senyar yang mengirimkan sengatan ke seluruh aliran darahnya.


Pun tangan Ravka mulai ikut bergerilya menjamah setiap inci tubuh istrinya, semakin membawa keduanya hanyut dalam kemesraan yang memabukkan. Tanpa disadari keduanya sudah jatuh dalam pergulatan panas, layaknya pasangan suami istri seutuhnya. Bercumbu rayu menyecap setiap rasa yang dihadirkan oleh gesekan kulit yang mulai berbaur menjadi satu.


*******


Alea tengah menyisir rambut seraya memperhatikan wajahnya sendiri di dalam cermin. Wajah yang dipenuhi guratan senyum penuh kebahagiaan. Ia patut berbahagia karena pada akhirnya, ia bisa menjadi seorang istri seutuhnya.


Seraya tersenyum lebar, Alea meremas dadanya, merasakan debaran jantung yang masih berdetak kencang. Disentuhnya bibir yang masih belum dipoles lipstik, mengingat bagaimana Ravka memagut bibirnya hingga membuat kupu-kupu seolah bergerombol beterbangan diperutnya. Ia juga masih mengingat dengan jelas sentuhan lembut yang dilayangkan Ravka disetiap lekuk tubuhnya. Begitu memabukkan dan membuat gadis itu kecanduan akan setiap belaian tangan dan bibir sang suami yang semakin ia cintai dengan segenap hati.


"Hey, kamu kenapa udah rapi?" ucap Ravka berbisik di telinga Alea.


Alea yang tengah hanyut dalam lamunan, tersentak kaget saat sang suami sudah berdiri di belakangnya. Tangan Ravka sudah terselip dipinggang Alea, memeluk gadis itu erat dari belakang dan menarik tubuh Alea merapat pada tubuh Ravka.


Alea menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Menikmati kedekatan yang menyajikan kemesraan diantara mereka. Semburat merah kembali menjalar di kedua pipi gadis itu, mendapati perlakuan mesra sang suami di pagi hari.


"Udah siang, Mas. Aku ga mau kalau kita sampai terlambat berangkat kerja," jawab Alea sembari memainkan jemarinya di punggung tangan Ravka yang melingkar di perut Alea.

__ADS_1


"Ngapain mikirin kerjaan sih. Kamu ga usah masuk aja hari ini," ucap Ravka sembari melayangkan kecupan-kecupan lembut di leher Alea. Membuat gadis itu menggeliat geli di dada Ravka.


Alea dapat melihat dengan jelas melalui cermin dihadapannya, bagaimana Ravka sudah tenggelam dalam kegiatannya memberi kecupan lembut di area leher di bawah telinga hingga tengkuk gadis itu. Menghadirkan gelenyar di sekujur tubuh Alea, seolah sengatan listrik merambat disetiap aliran darahnya.


"Mas .... ga mungkin kan kalau aku bolos kerja terus," ucap Alea bergetar, menahan geli yang menghanyutkan saat merasakan bibir sang suami terus bermain-main dipermukan kulitnya.


"Memangnya kenapa kalau kamu bolos?" ucap Ravka yang semakin terbakar gairah.


"Aku kan karyawan baru, masa iya bolos terus sih Mas? Lagipula ada banyak pekerjaan di kantor yang harus aku selesaikan," ucap Alea teringat akan ulah Farash yang meminta Vika membuat data manipulasi.


"Masih banyak karyawan lain yang bisa mengurus kantor," ujar Ravka seraya membalikkan tubuh Alea menghadap padanya.


Belum sempat Alea membalas ucapan Ravka, pria itu sudah membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya.


"Kamu ga usah kerja aja yah," ucap Ravka setelah cukup lama mereguk kenikmatan melalui bibir istrinya.


Namun, protes sang istri ditelan oleh bibir Ravka yang sudah kembali melancarkan serangan memabukkan. Beruntung lelaki itu bisa menahan diri hingga tak tenggelam dalam hasrat yang sudah merasuki tubuhnya.


"Memangnya kamu ga kenapa-napa? Udah mau kerja aja. Semalem aja kamu kelihatannya sakit banget," ucap Ravka sendu merasa bersalah karena sudah membuat Alea menjerit kesakitan akibat ulahnya.


"Aku udah ga apa-apa kok Mas. Lagipula semua perempuan yang sudah menikah juga pasti mengalaminya. Jadi itu hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan," ucap Alea dengan wajah bersemu merah.


"Mana mungkin aku tidak menghkawatirkan kamu," ucap Ravka serak, menahan gejolak yang mulai membludak.


Ia masih mengingat jelas bagaimana Alea menahan sakit semalam demi memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Ia tak mungkin memaksakan gairahnya pada gadis di dalam pelukannya itu saat ini. Bagaimanapun itu adalah pengalaman baru bagi mereka berdua. Ia tak ingin kembali menyakiti Alea dan akan membiarkan semuanya berjalan perlahan.


"Tapi aku sungguh ga apa-apa, Mas," ucap Alea berusaha menenangkan Ravka.


"Emangnya udah ga sakit sama sekali?" tanya Ravka seraya menyelisik perubahan raut wajah Alea.

__ADS_1


"Sedikit," ucap Alea tak mau berbohong. "Tapi beneran kok, udah ga apa-apa. Lagipula ada yang harus aku cari tahu di kantor," ucap Alea dengan kening yang berkerut.


"Memangnya kamu mau cari tahu apa di kantor?" tanya Ravka heran melihat istrinya seolah sedang berpikir keras. "Tanya aja sama aku. Aku sudah mengetahui seluk beluk kantor. Jadi kamu ga perlu ke kantor hanya untuk mencari tahu semua yang terjadi dengan perusahaan,"


"Ini soal Mas Alex," ucap Alea ragu.


"Mas Alex?" tanya Ravka heran seraya melepaskan pelukannya di pinggang Alea.


Sudah sejak kemarin ia dipusingkan urusan kantor. Ada yang tidak wajar pada laporan keuangan bulanan yang didapat oleh Nino. Namun, semalam ia melupakan segala urusan kantor. Membuat ia hari ini harus bekerja ekstra. Sekarang Alea sepertinya akan menambah kerumitan baru dari nada bicaranya yang tampak meragu.


"Maaf Mas, tapi aku juga ga tau pasti. Cuma .... " Alea menggantung ucapannya.


"Cuma apa? Ngomong aja Al," ucap Ravka meyakinkan Alea untuk melanjutkan bicaranya.


"Sebenernya kemarin aku ngelihat temen kantor lagi memanipulasi laporan data analisis perusahaan yang berencana menjadi rekan bisnis BeTrust," ucap Alea menghadirkan kerutan dalam di dahi Ravka.


"Memanipulasi laporan," ucap Ravka membeo Alea.


"Iya Mas. Katanya itu atas perintah Kak Farash," ucap Alea takut-takut.


"Apa?!" pekik Ravka mengagetkan Alea.


"Itu sebabnya aku kemarin sampai melupakan untuk mengantarkan makan siang kamu. Aku kemari sempat menghampiri Kak Farash mencari tahu kebenarannya. Tapi Kak Farash bilang, apa yang ia lakukan atas perintah Mas Alex kepada Direktur keuangan. Jadi ia bilang itu di luar kuasanya," jelas Alea panjang lebar.


Sontak Ravka memijat kepalanya yang berdenyut. Rasa sakit menghantam kepala pemuda itu dengan cepat saat mendengar orang yang ia percaya bisa terlibat dalam persekongkolan di tubuh direksi BeTrust. Namun, apa yang disampaikan oleh Alea membuat benang kusut persoalan kantor sepertinya menemukan jalan agar bisa terurai.


**********************************************


sementara slow up date dulu yah.. pokoknya aku usahain curi-curi waktu buat nulis..

__ADS_1


__ADS_2