
"Sudahlah Kania, mungkin ini memang takdir yang harus aku jalani,"
"Tapi gimana dengan mimpi-mimpi mu selama ini kak? Kamu selalu bilang ingin menjadi wanita karir. Menabung dan jalan-jalan keliling dunia. Baru setelah itu menemukan seseorang yang bisa berbagi hidup dengan mu," Ucap Kania dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Siapa bilang mimpi ku sudah redup? Aku masih akan terus bermimpi Kania. Status sebagai seorang istri tidak akan menghalangiku mengejar mimpi. Jadi kamu pun teruslah bermimpi," Ucap Alea membelai wajah Kania. Wajah seorang adik yang begitu disayanginya sepenuh hati. Ia tidak punya keluarga lain lagi selain keluarga Kania. Gadia dihadapannya ini bahkan sudah ia anggap seperti adik sendiri. Seorang adik yang bisa ia curahkan segala kasih sayang yang ia miliki.
Kania menganggukkan kepala. Berjanji pada hati kecilnya akan terus bermimpi dan membuat Alea bangga saat melihatnya meraih mimpi. Dipeluknya Alea dengan erat, seorang kakak yang selalu menemani hari-harinya. Yang mencurahkan kasih sayang dengan tulus untuk dirinya yang pernah menjahati Alea semasa kecil. Namun, gadis itu tetap menyayanginya hingga menyadarkan Kania betapa berharganya seorang Alea bagi dirinya.
"Alea.... Kamu ngapain aja sih? Mertuamu sudah menunggu dari tadi. Cepat keluar dan bawa semua barang-barangmu, jangan membuat mereka menunggmu lebih lama lagi," Hardik Elis, Bibi Alea. Dengan wajahnya yang angkuh dia mendelik kepada Alea untuk segera menuruti perintahnya. Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Alea dan juga Kania yang mengeraskan rahang menahan amarah.
Bergegas Alea menarik satu buah koper yang sudah dipersiapkannya sejak semalam saat Bibinya mengatakan ia akan pindah ke rumah suaminya setelah pernikahan dilangsungkan. Tak banyak barang berharga yang bisa ia bawa ke rumah suaminya. Hanya beberapa lembar baju serta satu buah kotak yang di dalamnya berisi kenangan gadis itu bersama orang tuanya semasa kecil.
Dengan tangan mungilnya, Alea menggeret koper keluar kamar diikuti oleh Kania di belakangnya.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu ku terlalu lama," Ucap Alea lirih saat sudah berada di ruang tamu. Alea menunduk dalam, tidak berani menatap wajah yang melihatnya seperti sebuah aib yang harus ditutupi.
Wajah orang tua yang kini berstatus sebagai mertuanya. Alea masih dapat melihat tatapan jijik Ayah mertua kepada dirinya. Serta tatapan kecewa Ibu mertua yang lebih menyayat hati.
Alea pernah berharap akan menemukan sosok orang tua bagi dirinya suatu hari nanti. Sosok orang tua dari laki-laki yang akan ia pilih sebagai suaminya. Namun, semuanya sirna sudah. Dia menikahi seseorang bukan atas dasar cinta dan niat tulus membangun rumah tangga, tapi keterpaksaan yang menjadi latar belakang pernikahannya. Dengan mertua yang tampak dengan jelas tidak menyukainya, hanya dengan melihat raut wajah mereka ketika memandang Alea.
__ADS_1
"Hanya itu barang-barang yang akan kamu bawa?" Tanya Ayah mertua Alea merujuk koper di tangan gadis itu.
"Iya," Jawab Alea canggung.
"Baiklah, saya masih banyak urusan. Kami permisi dulu Pak Niko," Ucap Ayah mertua Alea kepada Paman gadis itu. Tidak ada keramahan sama sekali dalam nada suaranya. Bahkan sekedar berbasa basi pun seolah enggan ia layangkan.
Alea baru berani mengangkat kepalanya saat kedua mertuanya sudah beranjak dari kursi ruang tamu dan bergegas keluar rumah. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dia sama sekali tidak melihat keberadaan laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya. Matanya menangkap dekorasi pesta pernikahannya yang sederhana. Pernikahan yang baru saja berlangsung beberapa jam yang lalu.
Kakinya melangkah ke luar rumah. Di halaman rumah masih berdiri tegak tenda serta pelaminan minimalis yang juga sederhana. Meski Bibinya berkata bahwa suami yang ia nikahi adalah orang kaya raya, tapi mereka tidak menggelar pernikahan mewah. Bahkan yang hadir dalam pernikahannya hanya kerabat dekat Paman dan Bibi serta tetangga sekitar rumah.
Mata Alea mengkap sebuah mobil mewah terparkir di depan rumahnya. Mobil yang menegaskan bahwa pemiliknya benarlah orang yang memang sekaya perkataan Bibinya. Sebelum menaiki mobil, Alea berpamitan dengan Paman dan Bibi yang mengantarnya hingga ke depan rumah. Menyalami dua orang tua yang sama sekali tidak merasa kehilangan akan dirinya yang hendak meninggalkan rumah untuk selamanya.
Hanya satu pasang mata yang meneteskan air mata mengiringi kepergian Alea dari rumah yang sudah ia tempati belasan tahun lamanya.
"Kita masih tinggal di kota yang sama. Kita masih bisa bertemu kapanpun kamu mau," Ucap Alea menahan isak tangis, tidak ingin terlihat lemah di hadapan Kania.
Setelah berpamitan Alea kemudian memasuki mobil mewah itu. Melirik seseorang yang sedari tadi ia cari keberadaannya. Seseorang yang tatapannya begitu dingin menusuk jantung. Desiran dirasakan Alea saat ia duduk disamping lelaki yang sah menjadi suaminya. Membayangkan akan seperti apa pernikahannya kelak bersama lelaki disampingnya ini.
"Kita kemana tuan?" Tanya supir di balik kemudi mobil.
__ADS_1
"Antarkan kami pulang ke rumah. Saya masih harus berganti pakaian terlebih dahulu. Setelah itu kamu antarkan kami ke Hotel tempat resepsi pernikahan Alex," Ucap Derry.
"Nggeh tuan," Jawab sang supir dengan logatnya yang kental.
"Kita enggak langsung ke tempat resepsi aja Pa?" Suara Dilla bertanya lembut di kursi depan Alea.
"Gerah Ma pakai ini seharian. Papa mau ganti baju dulu di rumah,"
"Kita sudah disipkan seragam untuk dikenakan disana. Jadi entar juga Papa tetep ganti baju kok. Mama takut kita terlambat kalau harus pulang terlebih dahulu,"
"Mana mungkin kita bawa mereka ke tempat resepsi dengan pakaian seperti itu," Lirik Derry kepada sepasang pengantin baru di belakangnya. Meski hanya sedikit, gerakan leher Derry dapat ditangkap Alea. Membuat ia menyadari bahwa orang yang dimaksud oleh Ayah mertuanya itu adalah dirinya.
"Yasudah kalau begitu," Jawab Dilla akhirnya menyetujui ucapan sang suami.
Alea kemudian mengalihkan pandangannya menembus kaca jendela mobil. Tidak ambil pusing dengan apa yang dibicarakan oleh kedua mertuanya.
Mobil melaju membelah jalan, membawa mereka menuju sebuah awalan baru bagi seorang gadis belia yang hidupnya berubah hanya dalam seketika.
Perjalanan mereka dihiasi keheningan. Tidak ada suara apalagi canda tawa yang menyertai gadis itu memasuki babak baru kehidupannya. Ketegangan justru menyergap Alea saat tidak sengaja matanya melirik lelaki disampingnya. Lelaki yang menatapnya penuh kebencian.
__ADS_1
Ya Allah, jika ini memang jalan yang sudah Engkau gariskan untuk aku lewati. Aku mohon berikanlah kekuatan pada jiwa yang lemah ini - Rintih Alea dalam hatinya.
Alea mengalihkan pandangannya pada jalanan di luar. Yang melintas begitu cepat menghilang bersama siluet pohon di tepi jalan. Begitupula hidupnya yang berlalu dengan cepat seolah tidak berarti, hanya lewat sekelabat jalan. Tidak ada yang perlu ia ingat akan hidupnya yang telah lalu, kehidupan yang penuh kesuraman. Namun, semua kejadian dalam hidupnya terpatri di memori dalam kepala, yang sewaktu-waktu muncul disaat tak terduga. Mengoyak hati, mengaduk-aduk perasaannya.