Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 18# Lembayung Senja


__ADS_3

"Kakek tidak pernah ada masalah kefika ferdi memberi syarat orang yang menjadi suami Sherly lah yang harus mewarisi tampuk kepemimpinan Dinata Group setelah Kakek mundur. Karena saat itu Kakek meyakini kamu akan menikah dengan Sherly. Namun, takdir berkata lain, sehingga mau tidak mau Kakek harus mengumumkan Alex sebagai CEO baru Dinata Group," Ucap Bayu dengan sorot mata kecewa.


Hati Ravka mencelos, bukan karena ia tidak akan menjadi CEO Dinata Group, melainkan lebih karena melihat kekecewaan menggenang di pelupuk mata lelaki sepuh itu.


"Kakek tidak usah khawatir. Ravka dapat mengerti keputusan yang sudah Kakek ambil. Lagipula Mas Alex adalah cucu tertua di keluarga ini, jadi seharusnya itu tidak akan menjadi masalah besar di dalam menejemen perusahaan,"


"Tapi Kakek tahu bahwa kemampuan Alex masih sangat kurang untuk memegang jabatan sepenting itu. Di masa krisis seperti sekarang, perusahaan membutuhkan orang yang tidak hanya smart tapi juga berdidaksi tinggi terhadap perusahaan. Kakek yakin kamu memiliki keduanya untuk menjaga perusahaan yang sudah Kakek bangun Lebih dari lima puluh tahun lamanya,"


"Aku yakin Mas Alex juga akan melakukan hal yang sama Kek, dia pasti akan berdedikasi penuh terhadap kemajuan perusahaan,"


"Tapi ini tidak hanya menyangkut kemajuan perusahaan Rav. Di dalamnya juga berkaitan erat dengan kesejahteraan ratusan ribu karyawan yang menggantungkan hidup keluarganya pada keberlangsungan Dinata Group," Bayu mengunci manik mata Cucu kebanggannya. Mengirimkan sinyal permohonan yang tersirat di dalamnya.


"Untuk itu Kakek berharap kamu akan selalu ada di belakang Alex. Menjadi bayang-bayangnya dalam mengarahkan perusahaan serta menentukan kebijakan yang krusial di saat-saat genting. Meski itu akan melambungkan nama Alex dan membuatnya semakin bersinar untuk kemudian hari, dan mungkin akan membuat namamu semakin meredup. Tapi Kakek harap kamu akan bertahan untuk menyokong Alex. Tidak hanya demi perusahaan yang Kakek bangun tapi juga demi seratus delapan puluh ribu karyawan beserta keluarganya,"


Ravka mengangguk dengan mantap. Mengirimkan sinyal ketenangan yang mampu menyelubungi tubuh renta Kakeknya. Ravka menyadari bahwa egonya harus dia tekan sedalam mungkin. Seperti yang Kakek selalu katakan bahwa menjadi seorang pemimpin haruslah bijaksana dalam mengambil keputusan. Dia sangat yakin keputusan Kakeknya sudah dipertimbangkan dengan sangat bijaksana.


"Ravka berjanji akan selalu ada di belakang Mas Alex apapun yang terjadi. Jadi Kakek tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting,"

__ADS_1


"Mana bisa Kakek menganggap perasaanmu tidak penting Ravka. Tapi Kakek tidak bisa berbuat banyak untuk kamu. Kakek hanya bisa mengatakan kalau kamu masih punya waktu untuk membuktikan kebenaran tentang kejadian malam itu. Dalam acara kali ini Kakek hanya akan mengumumkan Pernikahan Alex, dan tidak akan mengungkit pernikahanmu. Sampai kamu bisa membuktikan kebenaran ucapanmu, baru kita akan kembali membahas persoalan ini,"


Ucapan Bayu menghadirkan binar kebahagian di mata Ravka. Setidaknya Kakek masih mempercayai semua perkataannya dan masih mau memberi kesempatan bagi Ravka untuk kembali merangkai masa depan sesuai dengan kehendak hatinya. Spontan Ravka langsung memeluk Kakeknya, karena baru kali ini seseorang di dalam keluarganya menaruh kepercayaan kepada pemuda itu. Ia tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu, apalagi dengan dukungan Kakek di tangannya.


"Sudahlah, kamu istirahat saja dulu sebelum acara di mulai. Kamu pasti lelah setelah melakukan perjalanan tadi. Masih ada waktu satu jam sebelum acara dimulai," Ucap Bayu sembari menepuk-nepuk punggung Ravka. Memberikan suntikan semangat melalui tepukan yang ia layangkan.


"Baiklah Kakek, Ravka pamit undur diri dulu," Seru Ravka sembari melepaskan pelukannya pada tubuh renta Kakeknya. "Kakek juga sebaiknya istirahat. Jangan terlalu banyak fikiran. Ravka yakin semuanya akan baik-baik saja," Senyum Ravka sunggingkan di bibirnya yang tipis untuk menenangkan Kakeknya. Menyatakan bahwa kondisinya juga akan baik-baik saja melalui senyuman itu.


"Oia Ravka, ada satu hal lagi yang ingin Kakek sampaikan. Sesungguhnya Kakek bersyukur kamu tidak jadi menikah dengan Sherly. Karena dia tidak cukup baik untuk menjadi pendampingmu," Ucap Bayu membuat Ravka keheranan. Namun, pemuda itu tidak mau memperpanjang segala pembicaraan yang berkaitan dengan mantan tunangannya itu. Ia kembali melayangkan senyuman tipis kepada Kakeknya sebelum benar-benar berlalu dari privat room.


***********


Entah mengapa, Ravka sangat menyukai senja yang memancarkan cahaya indah. Memberikan kesejukan sejauh mata memandang hingga meresap ke dalam relung jiwanya. Tak terkecuali saat-saat seperti sekarang ini. Dimana jiwanya yang kosong membutuhkan sinar lembut menembus ke hatinya. Memberikan warna di dalam sana yang sudah mulai memudar karena kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri, juga kecewa pada jalan takdirnya.


Saat senja menekan Sang Surya semakin merendah di ufuk barat, Ravka membelokkan langkah kakinya berniat kembali ke dalam resor meninggalkan segala kenangan pahit bersamaan dengan terbenamnya Matahari. Namun, kehadiran seseorang menghentikan ayunan kakinya.


"Ternyata kamu disini? Aku sudah mencarimu kemana-mana seharian ini. Tapi tidak melihat kamu sama sekali. Untung aku yakin kamu akan berada disini saat senja," Ucap perempuan itu menyapa Ravka.

__ADS_1


"Untuk apalagi kamu mencariku? Sudah tidak ada yang bisa kita bicarakan," Ucap Ravka berusaha acuh, meski di dalam sana hatinya bergetar hebat.


"Aku hanya ingin menyapamu, sudah beberapa hari kita tidak bertemu. Aku merindukanmu,"


"Sudah tak pantas kata rindu terucap dari bibirmu yang sudah menjadi milik orang lain,"


"Apa salah aku merindukanmu? Bagaimanapun aku masih mencintaimu,"


"Sudah terlambat kamu ucapkan kata itu. Kamu lebih memilih untuk tidak mempercayaiku,"


"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana kamu berharap aku tidak mempercayai penglihatanku?"


"Setidaknya kamu seharusnya beri kesempatan bagiku untuk menjelaskan dan membuktikan kebenarannya. Kalau saja kamu sedikit memberiku kepercayaan sebagai pasanganmu, Aku yakin kita pasti bisa melewati masalah ini dan mencari jalan keluar yang terbaik. Tapi ini sudah menjadi pilihanmu, kita tinggal menjalaninya,"


"Tapi aku tidak bisa melupakanmu begitu saja Ravka," Tangan Sherly menggapai lengan Ravka. Menahan pemuda itu ketika hendak beranjak dari tempatnya.


"Kamu bisa melupakanku seperti aku yang sekarang sudah menghapus namamu dari dalam hatiku. Kita sudah sampai dipersimpangan jalan dan kamu memilih jalan yang berbeda dengan yang aku pilih. Jadi aku harap setelah ini kita hanya akan menjadi adik ipar dan kakak ipar. Tidak lebih dari itu," Ucap Ravka menepis genggaman tangan Sherly di lengannya. Meninggalkan perempuan itu begitu saja dengan air mata yang mulai menggenangi kelopaknya.

__ADS_1


Ravka nerjalam sembari menguatkan hatinya yang kembali hancur berkeping saat mendengar pengakuan Sherly. Pengakuan yang sangat terlambat dan tidak lagi bisa memberikan kekuatan baginya untuk memperjuangkan Gadis itu.


Seandainya sejak awal kamu berbicara seperti itu mungkin akan lain ceritanya. Tapi sekarang semua ucapanmu tidak lagi memiliki makna bagiku - Ravka memejamkan matanya. Mencoba meninggalkan kenangan di dalam sana agar tidak lagi membayanginya saat membuka mata.


__ADS_2