
"Selamat malam, Non," sapa Bi Mimah saat melihat Alea memasuki rumah megah keluarga Dinata.
"Selamat malam, Bi," jawab Alea tak bersemangat.
"Hari ini sepertinya lelah sekali Non,"
"Banget Bi. Al berasa kaya mahasiswa baru yang di plonco senior," ucap Alea dengan wajah masam.
"Bibi siapkan makan malam dulu yah Non," tawar Bi Mimah.
"Ga usah Bi, terimakasih. Nanti Al makan nungguin Mas Ravka pulang. Siapa tau Mas Ravka juga belom makan. Sekarang Al mau mandi dulu Bi," ucap Alea melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
Alea meletakkan tas dan sepatunya di dalam rak yang terletak di sudut kamar. Ia kemudian mengambil pakaian ganti dan membawanya ke kamar mandi. Gadis itu berlama-lama membiarkan air hangat memijat tubuhnya di dalam bath up dengan essence chamomile memenuhi aroma penciumannya. Berendam air hangat dengan ditemani aroma terapi menghadirkan perasaan tenang dan nyaman setelah penat bekerja seharian.
Hari ini sungguh melelahkan bagi gadis itu. Menghadapi rekan kerja yang merasa senior memang membutuhkan kesabaran ekstra. Tak cukup membebani Alea dengan pekerjaan yang menumpuk, perkataan tajam yang menusuk kalbu juga dihadiahkan untuk gadis itu. Bukan tanpa sebab Alea mendengar kasak kusuk rekan kerja yang membicarakannya. Hal itu tak lain karena kedekatan yang diperlihatkan oleh menejer baru divisi analyst business seusai makan siang tadi.
"Ternyata jauh lebih menyenangkan masa kuliah dari pada dunia kerja," gumam Alea sembari menggosok tangan dan kakinya dengan lembut. "Aku tak mengerti apa yang mereka pikirkan dengan mengatakan hal-hal buruk tentangku," imbuh Alea lagi seraya mendesah pasrah.
Ingatannya melayang pada pembicaraan Irma dengan beberapa rekan kerja yang lain saat Farash kembali keruangannya setelah menawarkan Alea untuk mengantarkan gadis itu pulang.
"Gue sama sekali ga nyangka, tampangnya polos gitu tapi ternyata pinter ngerayu juga. Baru mulai kerja udah bisa ngegaet Pak Farash," sindir Irma kala itu.
"Tau aja dia, tu menejer baru masih muda dan single," sahut Firda, rekan kerjanya yang lain.
Alea menggelengkan kepalanya cepat, menghempaskan suara-suara miring tadi siang yang terus terngiang di kepalanya. Ia tak akan membiarkan ucapan para senior itu merusak harinya. Perjalanan karirnya baru saja dimulai. Ia tak akan membiarkan rintangan meski sebesar karang di lautan menghempasnya. Apalagi hanya sekedar suara sumbang, tentu tak akan mampu memukul mundur semangat gadis itu. Alea kemudian bersenandung, memperbaiki suasana hati yang sempat kacau.
__ADS_1
Sementara diluar kamar mandi, Ravka memasuki kamar dengan kening berkerut saat mendengar alunan merdu dari dalam kamar mandi. Selama menikah dengan Alea, baru kali ini ia mendengar gadis itu bersenandung. Tangannya mengepal saat menyadari perempuan di dalam kamar mandi itu menikmati harinya. Padahal ia sendiri harus meredam rasa tak nyaman yang menderanya seharian di kantor. Perasaan yang pemuda itu sangkal habis-habisan saat Nino mengklaimnya sebagai perasaan cemburu.
"Shit," umpat Ravka.
Ia membanting tas kerjanya ke tempat tidur, kemudian menghampiri sofa dan membaringkan tubuhnya di kursi panjang di dalam kamarnya itu. Hari ini rasanya malas sekali ia membuka gadget untuk memeriksa file pekerjaan ataupun email sebelum memutuskan beristirahat.
Matanya tak berpaling dari pintu kamar mandi yang belum juga terbuka setelah menunggu beberapa saat lamanya. Tangannya masih saja terkepal hingga buku jarinya memutih. Baru saja hendak beranjak, pintu kamar mandi itu terbuka dengan Alea yang sedang menggosok rambutnya menggunakan handuk yang menggantung di kepala.
"Kamu sudah pulang, Mas? Sudah makan? Atau kamu mau mandi dulu?" tanya Alea santai tanpa beban.
Ia masih terus menggosok rambutnya yang basah dengan handuk sehabis keramas. Menghampiri lemari yang kebetulan terletak tak jauh dari sofa.
"Kamu mau makan atau mandi dulu Mas?" tanya Alea lagi saat tak kunjung mendapat jawaban dari Ravka.
"Sepertinya kamu senang sekali menghabiskan waktu di kantor. Staf baru tapi sudah lembur?" Ravka mulai mengkonfrontasi.
"Kamu bicara apa Mas?" Alea menautkan alis merasa heran dengan ucapan Ravka.
"Aku hanya heran, staf baru sudah lembur? Perusahaan ku yang terlalu payah atau menejer di divisimu yang kerjanya tidak becus?" sindir Ravka.
"Sekarang kamu mau mengakui kalau itu perusahaan mu Mas? Waktu aku mau interview disana, kenapa kau diam saja dan tidak memberitahu ku bahwa itu adalah perusahaan milik keluarga Dinata?" Alea balas bertanya.
"Kenapa? Apa kamu menyesal sudah menerima pekerjaan dari perusahaan keluargaku? Bukannya kamu senang bisa bekerja bersama dengan laki-laki itu? Bahkan kamu satu divisi dengannya," Ravka menyipitkan mata. Mengunci manik mata hazel terang milik gadis itu, sehingga membuat Alea tak mempunyai pilihan lain selain membalas tatapannya.
Perlahan kaki Ravka membawa tubuhnya semakin mendekat dan mengintimidasi Alea. Namun, pikirannya sendirilah yang semakin dibuat tak karuan. Wangi shampo gadis itu menguar merasuki indra pemciumannya. Wangi manis vanilla dari puncak kepala Alea seolah menghipnotis Ravka hingga mampu menggerakkan tangan pemuda itu menyentuh rambut yang belum sepenuhnya kering. Ravka memperhatikan tetesan air dari ujung rambut istrinya yang jatuh terserap oleh handuk yang disampirkan Alea di pundaknya.
__ADS_1
Ia mengalihkan tatapannya pada bibir Alea yang berwarna pink lembut tanpa lipstik menutupi warna aslinya. Bibir itu terlihat bergetar, membuat Ravka menegang ditempatnya berdiri. Bibir ranum yang sedikit terbuka itu menggoda Ravka untuk menyentuhkan ibu jarinya disana. Mengusapnya perlahan dan membawa bibir itu menyatu dengan bibirnya.
Perlahan tapi pasti wajah pemuda itu kian mendekat ke wajah Alea yang diam terpaku disana. Hampir saja bibirnya menemukan oase di padang pasir yang tandus, sebelum akhirnya Alea memalingkan wajahnya.
"Aku siapkan air panas untuk kamu mandi dulu, Mas," ucap Alea dengan sedikit gemetar. "Setelah itu aku akan menyiapkan makan malam. Aku juga belum makan. Sekarang sudah cukup larut, perutku sudah sangat lapar," racau Alea menutupi kegugupannya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku," ucap Ravka menahan desir yang menghantam dadanya.
"Pertanyaanmu itu seperti suami yang sedang cemburu," ucap Alea sekenanya.
"Jangan pernah bermimpi aku bisa cemburu denganmu," hardik Ravka kasar.
"Aku tahu kalau kamu tidak mungkin merasa cemburu, Mas. Maka dari itu aku tidak menjawab pertanyaanmu. Karena itu pasti tidak penting untukmu," Alea kemudian berlalu dari hadapan Ravka.
Dengan secepat kilat gadis itu menghindari Ravka dengan masuk ke dalam kamar mandi. Alea menutup pintu kamar mandi perlahan. Berdiri di balik pintu seraya memegang dadanya yang berdebar kencang.
Entah apa yang merasuki dirinya hingga berpikir kalau Ravka memperhatikan bibirnya seolah hendak mencium dirinya. Alea menarik nafas panjang, menenangkan detak jantung yang memainkan dentuman keras di dalam sana. Wajahnya mungkin sudah memerah menahan malu. Ia harus membuang jauh angan-angan bahwa suaminya kini mulai memperhatikannya.
"Sadar Alea.... sadar.... Buang jauh-jauh anganmu. Mas Ravka tidak mungkin menyukai wanita sepertimu yang sangat ia benci. Kamu itu hanya wanita tak bernilai di mata Mas Ravka," Alea menepuk kepalanya sendiri, seolah dengan begitu bisa menyadarkannya pada kenyataan yang terpampang jelas di depan mata.
Walau sempat terlintas pertanyaan dibenaknya, kenapa pria itu tiba-tiba menyentuh rambutnya, ia membuang jauh pikiran tak masuk akal itu. Tapi tak dipungkiri bahwa sentuhan Ravka tadi membuat ia merasa gelagapan karena terkejut. Ia sempat terpaku menahan nafas menunggu apa yang akan dilakukan oleh Ravka sebelum akhirnya akal sehat mulai mengambil alih pikirannya. Kalau tidak, ia pasti sudah menjadi bahan tertawaan pria itu yang mungkin mempunyai cara baru untuk menyiksanya.
Gadis itu berjalan perlahan menuju bath up, menyalakan keran air dan menuangkan essence oil ke dalamnya. Ia kemudian memainkan jemarinya di dalam air itu sembari menunggu air di dalam bath up terisi penuh seraya menetralkan desiran yang mulai menyapa hatinya.
Sementara di dalam kamar, Ravka masih tampak terpaku di tempatnya. Wajahnya tampak frustasi mendengar penuturan Alea. Gadis itu benar, untuk apa ia menjawab pertanyaan Ravka yang sama sekali tidak dianggap penting baginya. Namun, hal tersebut justru membuat perasaan Ravka tambah tak menentu. Ia mengusak rambutnya dengan kasar lalu meraup wajah dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1