
"No, cari tau semua tentang laki-laki itu," tunjuk Ravka terhadap Farash menggunakan dagunya.
"Laki-laki mana Bos?" tanya Nino tak memahami perintah atasannya itu.
"Yang barusan masuk coffe shop," jawab Ravka dengan tak sabaran.
"Yang tadi masuk bareng kekasihnya?" tanya Nino lagi meyakinkan.
"Maksud lu apaan bareng kekasihnya?" Reflek Ravka menarik kerah baju Nino hendak melampiaskan amarahnya.
"Ya maaf kalau gue salah. Lu kenapa jadi marah-marah ke gue? Nyantai bro, gue cuma nanya doang," Nino semakin dibuat heran dengan tingkah Ravka yang tiba-tiba jadi emosi. "Dia jalan gandengan mesra gitu ama cewek, yah wajar dong kalo gue mikir itu kekasihnya," imbuh Nino lagi setelah Ravka melepaskan cengkramannya.
"Ga usah banyak tanya, lu masih mau kerja ama gue apa ga?" hardik Ravka dengan deru nafas menyiratkan emosi yang ditahan.
"Masihlah Bos, kan gue pengikut setia elu," Nino sengaja menampilkan wajah memelas. Padahal di dalam sana, ia dibuat sangat penasaran siapa pria dan wanita yang membuat Ravka naik pitam. "Tapi siapa sih perempuan sama laki-laki itu sampe ngebuat lu kaya kebakaran jenggot gini?"
"Gue nyuruh lu untuk kerja bukan nanya. Ngerti lu? Kalo lu ga mampu kerja ngomong aja, biar gue cari pengganti yang lebih becus kerja. Bukan cuma nanya terus bisanya" omel Ravka membuat Nino membungkam seribu bahasa.
Pemuda itu tak lagi berani berkomentar. Ia hanya menjawab perintah Ravka dengan anggukan kepalanya. Sepertinya Ravka sedang dalam mood yang tidak bisa di ajak bercanda. Mata Nino mengawasi dengan seksama pria yang masih setia menggandeng wanitanya menuju tempat duduk di pojokan coffe shop itu. Ia menangkap gestur gadis itu seolah tak asing di matanya. Semakin menajamkan penglihatannya, membuat pria itu semakin terpana dengan pemandangan di dalam sana.
Bukannya itu Alea? Apa si Boss cemburu ngeliat Alea ya? - pertanyaan itu hanya bisa Nino utarakan dalam hati. Pemuda itu tak berani menyiramkan bensin pada api yang masih berkobar di mata sahabatnya itu.
"Mau kemana lu?" tanya Ravka yang hendak pergi melanjutkan perjalanannya yang tertunda karena memyaksikan pemandangan yang menyakitkan matanya. Namun, asistennya itu malah berjalan mendekati cofge ahop yang baru saja dimaauki oleh Farash bersama Alea.
"Lah gimana sih Boss? katanya gue disuruh nyari tau tu cowo," tunjuk Nino dengan lirikan matanya. "Mana bisa gue nyari tau tentang dia, kalau gue ga tau orangnya? Gue kan ga punya mata biosonic yang bisa tau dia dari jauh?" Nino beralasan.
"Serah lu deh mau ngapain. Pokoknya gue mau tau semuanya dalam setengah jam," Delik Ravka tajam membuat Nino sedikit bergeming. "Inget lebih dari itu, gaji lu gue potong lima puluh persen. Jangan lupa Satu jam lagi kita ada meeting dengan Mister Handoko. Sebelum jadwal meeting dimulai, lu udah harus balik ke ruangan gue bawa hasil," ucap Ravka tegas.
__ADS_1
Nino mengernyit melihat tingkah Ravka yang menurutnya sangat aneh dan tidak biasa hingga atasan sekaligus temannya itu menghilang dari pandangannya. Pemuda itu kemudian berjalan dengan santai menuju coffe shop dan menghampiri Alea.
"Hai Al," sapa Nino saat sudah berada di dekat kursi yang diduduki Alea bersama Farash.
"Nino," sapa Alea terkejut karena tak menyangka akan bertemu Nino disana.
"Ngapain disini?" tanya Nino santai.
"Aku kerja disini sekarang," jawab Alea santai.
"Oh ya?! Sejak kapan? kok gue ga tau?" tanya Nino ya ng langsung menarik kursi di samping Alea dan dengan santainya menempati kursi tersebut.
"Baru juga berapa hari doang kok. Ini hari pertama aku kerja setelah melewati masa training," jawab Alea.
Bukannya ini Pak Nino asistennya Pak Ravka, Direktur Operasional? - pengetahuan akan siapa Nino, membuat Farash yang tadinya merasa risih akan kehadirannya jadi membungkam. Rasa penasaran menggelitiknya untuk mencari tahu bagaimana Alea bisa mengenal petinggi di perusahaan sebesar BeTrust.
"Oh iya kak, kenalin ini Nino temen aku. Dan No, ini Farash kakak sepupuku," ucap Alea mengenalkan kedua pria yang saling menyelisik satu sama lain.
"Kamu karyawan sini juga?" tanya Nino pada Farash.
"Iya Pak, saya baru dipindahkan dari kantor cabang ke kantor pusat," jawab Farash masih tak dapat menghilangkan kecanggungan yang timbul.
"Oh ya? jadi kamu juga baru ditempatkan disini? di bagian apa?" sambar Nino yang merasa seperti mendapat durian runtuh.
Ia kak perlu usaha keras untuk mencari tahu siapa pria yang sepertinya bisa membuat Ravka gelagapan.
"Saya menejer baru di Analyst Business," jawab Farash.
__ADS_1
"Kak Farash menejer analyst business? Wah pasti aku bisa belajar banyak dari Kak Farash kalau begitu," Alea tampak bersemangat.
"Memangnya kamu bagian Analyst business juga?" tanya Nino semakin tertarik.
"Iya, aku disini bagian analyst business," jawab Alea lagi dengan tak mengurangi semangat yang menggebu.
Tak hanya Nino yang semakin tampak antusias. Farash pun rak dapat menutupi semangatnya mengetahui bahwa Alea akan bekerja bersamanya di bawah naungan satu divisi yang sama. Tentunya hal tersebut bisa memberikan kesempatan bagi Farash untuk sering berjumpa dengan Alea.
Mereka kemudian terlibat perbincangan sebentar sebelum akhirnya Nino pamit undur diri meninggalkan Farash dan Alea menghabiskan sisa istirahatnya lebih lama di coffe shop tersebut.
"Jam istirahat sudah mau habis Kak, aku balik kerja dulu yah Kak," ucap Alea saat menyadari jarum jam yang terus berputar di pergelangan tangannya.
"Kita balik bareng yuk ke atas," ucap Farash yang disetujui oleh Alea.
Selama berjalan bersisian kembali ke ruanv kerja mereka, baik Farash dan Alea tak ada yang membiarkan perjalanan mereka dihiasi kekosongan. Mereka terus membagi kisah satu sama lain seraya melepas rindu karena lama tak bersua.
"Al, nanti pulangnya bareng Aku aja yah," ucap Farash saat Alea sudah sampai dekat meja kerjanya.
"Aku pulang sendiri aja deh Kak," jawab Alea gelapan.
Gadis itu tak mungkin membiarkan Farash mengantarkannya sampai ke rumah keluarga suaminya. Karena sampai detik ini ia sama sekali belum memberitahukan perihal pernikahannya dengan Ravka.
"Loh, ke apa emangnya? biar sekalian aku tau kosan kamu," Farash masih mencoba mendesak Alea.
"Aku ada janji sama temen aku soalnya pulang kerja. Lain kali aja yah Kak," ucap Alea dengan tak enak hati menolak tawaran kakak sepupunya itu.
"Yaudah deh kalau begitu. Tapi lain kali kamu ga boleh alesan lagi yah," ucap Farash seraya melemparkan senyum manis menambah aura ketampanan yang memang sudah kentara disana.
__ADS_1
Alea menganggu dengan senyum yang tak kalah manisnya.