Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 10# Bersyukur dan ikhlas


__ADS_3

Ketika tengah menapaki anak tangga menuju dapur, Alea dan Bi Mimah berpapasan dengan salah satu asisten rumah tangga. Bi Mimah kemudian meminta asisten rumah tangga itu untuk mengumpulkan semua para pekerja di dapur saat ini juga.


Mata Alea seolah disuguhi pemandangan eksotik yang sudah lama menjadi salah satu impiannya, ketika menginjakkan kakinua di dapur. Ia selalu menginginkan memiliki rumah dengan peralatan masak yang lengkap seperti yang tengah ia lihat saat ini. Dapur dengan segala perlengkapannya seperti sebuah galeri chef dalam acara kompetisi memasak di televisi. Disana yerdapat banyak perlengkapan yang menunjang untuk menyulap bahan masakan menjadi hidangan yang menggiurkan layaknya restoran kelas atas.


"Wah Bi, Peralatannya lengkap sekali yah. Dapurnya juga luas. Pasti menyenangkan kalau bisa berkreasi disini," Ucap Alea spontan dengan ketertarikan yang amat kentara memancar dari kedua matanya.


"Tentu saja Non Alea bisa menggunakan dapur ini kapanpun Non Alea menginginkannya," Ucap Bi Mimah membuat Alea mengukir senyum sumringah diwajahnya.


Bi Mimah kemudian memberikan instruksi kepada salah seorang koki di dapur untuk membuatkan makan malam untuk Alea. Setelah itu ia mengenalkan Alea kepada seluruh pekerja di dalam rumah yang sudah berkumpul di dapur. Alea mencoba mematri nama-nama dan tugas mereka di rumah itu di dalam kepalanya.


"Tapi jika Non Alea butuh sesuatu, Non Alea bisa sampaikan kepada saya," Ucap wanita paruh baya itu yang ternyata adalah kepala asisten rumah tangga disana.


Setelah itu Bi Mimah mengajak Alea menuju ruang keluarga yang dipenuhi berbagai barang-barang antik dan mewah.


Mata Alea meneliti seluruh sudut ruangan. Matanya terpaku pada pigura besar yang menempel pada dinding, sebuah pigura yang memuat banyak wajah tidak dikenal Alea di dalamnya.


"Ini seluruh anggota keluarga Den Ravka Non," Ucap Bi Mimah menunjuk pigura yang diperhatikan oleh Alea. "Yang sudah non Alea kenal siapa saja?"


"Cuma Ravka dan kedua orang tuanya saja Bi," Jawab Alea membuat Bi Mimah terperangah. Namun, dengan cepat ia merubah air wajahnya seolah tidak perduli.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu kemudian memberi tahu Alea satu persatu wajah-wajah yang ada di dalam foto keluarga tersebut.


"Ada banyak yang tinggal di rumah ini yah Bi. Tapi kok Al tidak melihat siapapun dari tadi?" Tanya Alea menyadari bahwa sedari tadi yang dilihatnya mondar mandir di dalam rumah hanyalah para pekerja di rumah itu.


"Memangnya Non Alea tidak tahu kalau Den Alex, anaknya Nyonya Erika hari ini menikah?"


"Menikah? hari ini?" Gumam Alea sembari menggelengkan kepalanya. Meski hanya gumaman yang keluar dari mulutnya, tapi Bi Mimah dapat menangkap apa yang Alea pertanyakan.


"Iya Non, Sore ini Den Alex menikah dengan Non Sherly," Ucap Bi Mimah ragu saat menyebut nama Sherly. Akan tetapi, mengingat Alea tidak tahu apa-apa soal keluarga majikannya ini, wanita paruh baya itu menebak bahwa gadis dihadapannya ini tentu juga tidak mengetahui soal Sherly.


"Karena itu, semua orang sekarang pergi untuk menghadiri acara pernikahan Den Alex, sekaligus resepsinya yang diadakan malam ini," Lanjut Bi Mimah menjelaskan.


Wajah Alea pias seketika menyadari bahwa bukan hanya dirinya saja yang akan memasuki hidup baru menjadi bagian dari keluarga ini, tapi akan ada wanita lain yang sepertinya jauh lebih diterima dalam keluarga ini.


Apa semua ini hukuman atas kesalahan yang tidak disengaja ini? Atau karena mereka memang tidak menyukaiku? Tapi kenapa mereka memaksaku menikah dengan Ravka, kalau mereka tidak menerima kehadiranku dalam keluarga mereka? - Pikiran Alea berkecamuk. Dia harus mulai menyiapkan hatinya untuk keadaan yang bahkan lebih buruk dari dugaannya.


"Non Alea kenapa?" Tanya Bi Mimah khawatir saat melihat tatapan kosong Alea.


"Eh tidak Bi, tidak apa-apa," Ucap Alea tersadar dari lamunannya. Ia memaksakan senyum menghiasi bibirnya, berusaha menutupi kegelisahan yang timbul saat menyadari posisinya di rumah ini.

__ADS_1


"Non Alea betul tidak apa-apa?" Tanya Bi Mimah prihatin. Ia seperti dapat merasakan kekecawaan Alea yang tergambar jelas di wajah gadis itu yang berusaha ia tutupi.


Ia merasa terpikat dengan gadis yang tampak lugu dan sederhana ini. Bi Mimah bisa menyadari bahwa ia merasa kecewa dan terabaikan, tapi ia berusaha untuk tidak mengeluh dan tetap mengulas senyum yang tampak janggal di bibirnya.


Meski tidak mengetahui permasalahan yang terjadi pada gadis ini dengan keluarga Tuan Dinata, tapi dia merasa terpanggil untuk bisa memberikan dukungan kepada gadis muda dihadapannya.


"Iya Bi, Al tidak apa-apa kok," Jawab Alea setelah dapat menguasai dirinya. Menutup kekecewaan yang menyergap dengan senyum ceria yang ia suguhkan. Ia harus tetap bersemangat menghadapi harinya di rumah ini.


"Ingatlah Al, selalu lakukan kebaikan dan tanamkan kebaikan itu dalah hatimu. Karena kebaikan itu akan kembali kepadamu"


Kata-kata dari Ibunya itu yang menjadi pegangan Alea dalam menjalani kehidupannya setelah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Dan selama ini ia baik-baik saja melewati hidupnya berpegang pada nasihat Ibunya.


"Dan jangan lupa untuk selalu bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan kepadamu. Lakukanlah apapun dengan ikhlas sebagai wujud rasa syukurmu," Ucap Ayahnya sebelum meninggalkannya untuk selamanya.


Kali inipun itulah yang akan ia lakukan di rumah ini. Bersyukur atas apapun yang terjadi dalam hidupnya. Masih banyak yang jauh lebih tidak beruntung daripada dirinya. Dia harus mensyukuri dan ikhlas menjalani semua yang Maha Kuasa sudah gariskan untuk hidupnya.


"Sepertinya Koki sudah selesai menyiapkan makan malam. Non Alea mau makan sekarang? Biar saya siapkan," Tanya Bi Mimah kemudian.


"Boleh Bi. Kita makan bareng yah. Bi Mimah temani saya makan," Ucap Alea. Ia menolehkan wajahnya sekali lagi pada wajah-wajah di dalam pigura. Wajah-wajah yang akan menjadi bagian hidupnya setelah ini. Meski tidak terpikirkan olehnya kehidupan yang seperti apa yang akan ia jalani.

__ADS_1


Alea kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur beriringan bersama Bi Mimah di sampinya. Menikamti makan malam di tempat tinggalnya yang baru dalam balutan kemewahan, namun kesepian. Disini bahkan lebih membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari pada saat pertama kali Paman dan Bibi membawanya pulang ke rumah mereka, untuk tinggal disana setelah pemakaman kedua orang tuanya.


Di hirupnya nafas dalam-dalam. Sekali lagi dia harus beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dari awal kembali.


__ADS_2